Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Surat Dari Tiang Bengcu


__ADS_3

Selang lima belas menit kemudian, pemuda serba merah itu sudah kembali lagi. Masing-masing tangannya membawa sesuatu.


Yanh satu membawa satu guci arak. Satu lagi membawa satu ekor ayam hutan.


Ling Ling masih berada di sana. Gadis itu ternyata sedang menatap ribuan bintang berkelip di atas langit sana.


Hawa sejuk seperti malam ini, rembulan dan bintang yang bersinar terang seperti saat ini, sebetulnya adalah suasana yang sangat cocok untuk menikmati segala keindahan yang disediakan oleh alam.


"Kau sudah kembali?" tanyanya sambil melirik ke arah Cakra Buana .


"Sudah, aku bawa arak sekaligus ayam hutan. Malam ini kita akan makan ayam bakar," katanya penuh semangat.


Cakra Buana kemudian memberikan satu guci arak kepada gadis cantik itu.


Dia sendiri segera mengurusi ayam hutan tersebut.


"Kau dari kota?" tanya Ling Ling.


"Iya, sekalian beli arak,"


"Sedangkan ayam hutan itu?"


"Aku tangkap di perjalanan menuju kemari,"


"Kalau dari kota, kenapa tidak membeli makan di sana saja?"


Benar juga, jika Cakra Buana dari sana, kenapa pemuda itu tidak sekalian membeli makanan? Kalau beli, tentunya mereka bisa makan enak saat ini.


"Aku ingin menikmati makanan yang disediakan oleh alam. Oleh sebab itu aku sengaja tidak membelinya. Alam sudah menyediakan semuanya, kenapa kita tidak memanfaatkannya?"


"Hemm, masuk akal juga," jawab Ling Ling yang ternyata setuju dengan jawaban pemuda itu.


"Sebentar lagi aku selesai,"


"Baik, aku akan mencari kayu bakar," jawab gadis itu kemudian mulai mencari bahan bakar di dalam hutan.


###


Sekarang Cakra Buana dan Ling Ling sedang membakar ayam hutan itu. Kehangatan langsung menghilangkan rasa dingin yang sebelumnya sempat menusuk tulang mereka.


Keduanya bercanda ria. Mereka tampak senang, senyuman dan suara tawa selalu dilukiskan oleh keduanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ayam sudah matang.


Ling Ling mengambil arak untuk dinikmati bersama ayam bakar tersebut.


Mereka duduk berhadapan. Secuil demi secuil daging ayam itu mulai dimasukkan ke mulutnya masing-masing. Sesekali Cakra Buana menyuapi Ling Ling hingga gadis itu terus dibuat malu.


Pemuda itu sangat gemar membuat wajah seorang wanita merah padam karena saking malunya.


Lantas apakah setiap pria suka seperti itu kepada seorang wanita?


Saat ayam bakar sudah habis, maka arak pun habis pula.


Sekarang perut mereka sudah kenyang. Tidak ada lagi suara cacing kelaparan.


Kalau sudah seperti ini, saatnya untuk tidur.


Cakra Buana malah sudah tidur dengan pulas. Dia tidur pada saat keduanya berbincang-bincang. Ling Ling merasa gemas, hampir saja dia memukul wajah pemuda itu saking gemasnya.


Pemuda serba merah itu tidur sambil bersandar kepada sebuah pohon cukup besar.


Ling Ling kemudian mendekatinya. "Kau itu sebenarnya pemuda yang tampan. Sayangnya kau suka menyebalkan," katanya dengan lirih.


Selesai Sian-li Bwee Hua berkata demikian, dia langsung tidur bersandar ke Puncak Cakra Buana. Hanya beberapa saat kemudian, gadis itu sudah pulas.


Meskipun kejadian itu terlihat seperti sederhana, tapi sebenarnya sangat romantis. Siapapun yang melihatnya, pasti akan merasa iri.


Bahkan sekarang rembulan dan bintang pun mulai menghilang dari peraduannya. Entah karena tertutup awan, atau karena apa.


Apakah mereka pun merasa iri dengan Sian-li Bwee Hua dan Pendekar Tanpa Nama?


###


Gedung Bulim Bengcu masih tampak megah. Tampak kokoh. Dan tampak angker seperti sebelumnya. Ternyata tidak ada yang berubah dari gedung itu. Semuanya masih tampak sama.


Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua berada beberapa puluh tombak di depan gedung tersebut.


Sekarang, mungkin bisa dikatakan sebagai hari terakhir bagi Cakra Buana berada di Tionggoan. Sebab esok hari, dirinya akan berencana untuk kembali ke Tanah Pasundan.


Selama tiga hari belakangan ini, Cakra Buana telah menghabiskan waktu bersama Ling Ling. Tanpa sadar, hubungan keduanya semakin akrab saja sebab selama di hutan dekat Gunung Hua Sun, mereka sering melakukan berbagai macam hal secara bersama-sama.


"Mari kita ke sana," ucap Cakra Buana sambil mengajak kepada Ling Ling.

__ADS_1


"Mari,"


Keduanya segera berjalan bersama, para penjaga pintu gerbang Bulim Bengcu langsung menghormat saat melihat kedatangan pemuda tampan itu. Mereka betul-betul memberikan hormat.


Alasannya karena sekarang semua orang tahu siapa itu Cakra Buana. Khususnya orang-orang dunia persilatan, mereka telah mengetahui bagaimana sepak terjang Pendekar Tanpa Nama.


Pemuda itu melemparkan senyuman sambil membalas hormat para penjaga gerbang itu.


"Silahkan Tuan, Bengcu bersama yang lainnya sudah menunggu Anda di dalam sana," kata salah seorang di antara mereka.


"Baik, terimakasih,"


Keduanya segera melanjutkan langkah kakinya. Mereka mulai masuk ke dalam gedung Bulim Bengcu.


Wushh!!!


Sebuah benda kehitaman meluncur sangat deras begitu dirinya tiba di depan pintu masuk ke dalam ruangan utama. Dengan sigap, Pendekar Tanpa Nama menangkap benda hitam tersebut menggunakan tangan kanannya.


Guci arak. Benda hitam yang baru saja meluncur ternyata satu guci arak wangi yang masih tersegel.


"Kupikir setelah seminggu lebih tidak menampakkan diri, kecepatanmu sudah berkurang. Ternyata tidak … hahaha," Orang Tua Menyebalkan tertawa lantang. Ternyata kakek tua itulah yang baru saja melemparkan guci arak tersebut.


"Baru seminggu, belum sepuluh tahun," jawab pemuda itu sambil tertawa lantang pula.


Dia dan Ling Ling kemudian segera menghampiri para sahabatnya yang sejak tadi sudah menunggunya di sana.


"Apa kabar semuanya?" tanyanya begitu jaraknya sudah dekat.


"Kami semua baik, kalian sendiri?" tanya balik Huang Pangcu.


"Kami juga baik,"


Cakra Buana dan Ling Ling segera duduk di tempat yang sudah disediakan. Semua sahabat Pendekar Tanpa Nama telah hadir. Sepertinya mereka sudah berpesta arak, hal itu bisa diketahui karena sekarang di atas meja banyak sekali guci arak yang sudah kosong.


Pemuda itu tidak merasa heran. Justru dirinya heran saat melihat si Buta Yang Tahu Segalanya duduk berdekatan dengan Huang Mei Lan. Dan dia lebih heran lagi ketika melihat Liu Bing juga duduk dengan satu orang murid dari Perguruan Rajawali Sakti.


Apa yang sudah terjadi? Apakah mereka …? Ah, entahlah. Rasanya Cakra Buana tidak mau memikirkan suatu hal terlalu mendalam sebelum dia mengetahui alasan pastinya dari yang bersangkutan.


"Kenapa kalian bisa datang bersamaan?" tanya Huang Pangcu sambil memandang heran kepada Cakra Buana dan Ling Ling.


"Huang Pangcu menitipkan sepucuk surat untuk Pendekar Tanpa Nama, aku mencarinya hingga ketemu. Setelah itu, kami memutuskan untuk kemari bersamaan," jawab Ling Ling dengan cepat.

__ADS_1


"Oh, aku kira kalian sudah menikah sehingga datang bersama, hahaha …" Huang Pangcu tertawa lantang, disusul kemudian oleh para sahabatnya.


Hal tersebut membuat Ling Ling merasa malu, kulit mukanya segera berubah kemerahan. Setelah suara tawa mereda, gadis itu langsung bicara, "Mana mungkin kami menikah. Aii, Huang Pangcu suka bicara ngawur,"


__ADS_2