Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama tersenyum lembut. Sedangkan si orang tua meringis menahan sakit yang tiada taranya.


Mereka masih berdiri. Berdiri berhadapan dengan berbagai macam perasaan.


Jika Cakra Buana terlihat tenang, maka si orang tua terlihat mengkhawatirkan. Jika Pendekar Tanpa Nama merasa bahagia, maka si orang tua merasa sangat berduka.


Dia memang sedang berduka. Berduka karena kematian yang menghampiri dirinya.


Ujung Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama telah bersarang dengan telak di tenggorokannya. Pedang itu terasa amat dingin sekali. Lebih dingin dari gunung es. Pedang itu pun terasa sangat tajam, lebih tajam dari mulut seorang manusia.


Darah segar telah memenuhi rongga mulutnya. Orang tua itu ingin bicara, tetapi dia tidak bisa. Lebih tepatnya tidak mampu.


Orang tua itu mendadak muntah darah. Begitu ujung pedang dicabut, dia langsung ambruk ke tanah dalam kondisi telungkup.


Darah segar masih mengucur deras membasahi tubuhnya. Si orang tua tidak bergerak lagi karena nyawanya telah tercabut di ujung Pedang Naga dan Harimau.


Untuk yang kesekian kalinya, pedang pusaka itu merenggut nyawa manusia tanpa kenal ampun.


Semua orang melongo. Bedanya, sekarang mereka benar-benar melongo. Sekarang mereka percaya bahwa kemampuan Pendekar Tanpa Nama, sungguh bukan isapan jempol belaka.


Para murid Perguruan Bawah Tanah hanya bisa menelan ludah mereka sendiri. Bagaimana tidak? Gurunya saja bisa dibunuh dengan mudah, apalagi mereka?


Puluhan murid yang tersisa itu bukan tidak ingin balas dendam. Murid mana yang tidak ingin membalaskan dendam kematian guru sendiri? Apalagi jika gurunya mampus di depan mata. Siapapun pasti ingin.


Hanya saja, mereka juga bukan sekumpulan orang bodoh yang rela menempuh bahaya tanpa mempersiapkan segalanya. Bicara balas dendam memang mudah, tapi apakah semuanya sudah siap? Apakah semuanya sudah cukup?


Sekarang keadaan di sana tidak berbeda jauh dengan keadaan di tengah kuburan. Sepi. Sunyi. Tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Semua orang membungkam mulutnya. Seolah mereka takut bahwa sedikit bicara saja, Pendekar Tanpa Nama akan mencabut nyawanya.


Yiu Fang menggertak giginya. Tatapan matanya kepada Cakra Buana berubah menjadi benci. Dia marah kepada pemuda itu. Ayahnya tewas mengenaskan di depan mata, anak mana yang tidak benci sekaligus tidak marah jika mengalami kejadian seperti itu?


"Semua murid Perguruan Bawah Tanah tidak ada yang bernyali kecil. Semua murid Ayah adalah orang-orang yang mengedepankan solidaritas dan persaudaraan, karena itulah, aku menyuruh kalian untuk membunuh pemuda keparat itu," kata Yiu Fang dengan lantang kepada para murid perguruan.


Suaranya berapi-api. Kobaran api seakan terlihat dari kedua bola matanya. Wajahnya merah padan seperti dibakar di atas tungku bara api.


Para murid yang mendengar ucapan barusan langsung berteriak lantang. Mereka seperti dipecut oleh sesuatu yang keras. Semangatnya kembali berkobar. Rasa takut dan jeri yang sebelumnya sempat menyelimuti, sekarang telah sirna entah ke mana.


Yang ada hanyalah keberanian. Yang ada hanyalah tekad untuk membalas dendam.


"Serang!!!"

__ADS_1


Suara lantang itu keluar dari mulut tunangan Yiu Fang sendiri. Orang itu langsung mencabut golok yang agak besar lalu segera melompat ke depan.


Yiu Fang tidak tinggal diam, dia juga turut serta dalam pertempuran ini.


Puluhan orang menerjang ke depan. Mereka menyerbu Pendekar Tanpa Nama dengan brutal.


"Orang-orang yang tidak tahu diri," gumam Pendekar Tanpa Nama.


Pemuda itu menarik nafas perlahan kemudian menghembuskannya dengan perlahan pula.


"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"


Jurus ketiga langsung dia keluarkan. Ternyata Cakra Buana tidak mau berlama-lama lagi. Dia langsung melesat menyambar semua murid yang berusaha untuk membunuhnya.


Pedang Naga dan Harimau kembali bergerak.


Pedang itu mengeluarkan suara seperti raungan seekor naga yang sedang marah. Pedang itu berkelebat di tengah malam yang sunyi.


Cahaya merah menyeruak dengan indah. Seindah bianglala. Seindah senyuman seorang kekasih.


Namun di balik semua keindahan itu, terdapat sebuah keseraman yang tiada tandingannya.


Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan delapan bagian tenaga dalamnya. Hal ini menyebabkan jurus yang dikeluarkan semakin dahsyat lagi.


Semua murid yang menyerangnya tanpa henti mendengar ledakan guntur yang mengerikan. Sepasang mata mereka juga seperti melihat kilat yang terus mengejar dirinya. Kilat dan guntur seperti hujan di tengah malam.


Membawa rasa dingin mencekam dan membawa perasaan ngeri tersendiri.


Dua puluh jurus berlalu. Puluhan nyawa telah melayang dari raganya. Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti walau sesaat. Dia terus bergerak. Dan setiap tubuh serta pedangnya bergerak, pasti akan ada nyawa yang melayang.


Crashh!!!


Cahaya merah berhenti saat itu juga. Lima kepala terlempar dari tempatnya hampir secara bersamaan. Sebagian darah segar membasahi pakaian Pendekar Tanpa Nama.


Pertarungan berhenti. Semua gerakan juga berhenti.


Semua murid Perguruan Bawah Tanah telah mampus. Tidak ada yang tersisa walau satu orang sekalipun.


Yang masih hidup hanya Yiu Fang serta tunangannya. Cakra Buana memang sengaja, dia tidak mau membunuh semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Keadaan sepasang kekasih itu benar-benar mengkhawatirkan. Mereka seperti dua ekor anak ayam yang kehilangan induknya. Keduanya tampak kebingungan. Mereka juga terlihat ketakutan.


Senjata mereka masih tergenggam di tangan kanannya masing-masing. Tapi keberanian mereka telah lari terkencing-kencing.


Tubuhnya bergetar cukup hebat. Wajah mereka lucat pasi, persis seperti mayat yang telah seharian dibiarkan begitu saja.


Trangg!!!


Dua kali bunyi yang sama terdengar.


Senjata Yiu Fang dan tunangannya jatuh sebagian. Ternyata senjata mereka patah.


Dan pelakunya tentu saja Cakra Buana.


Tapi kapan Pendekar Tanpa Nama melakukannya?


Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena semua orang tidak ada yang tahu bagaimana dia melakukannya.


"Kau benar-benar kejam," ucap Yiu Fang setelah berhasil mengumpulkan keberanian untuk angkat bicara.


"Aku memang kejam, tapi aku tidak sekejam mereka yang mengorbankan orang-orangnya sendiri," jawab Cakra Buana sambil menyindir wanita itu.


"Aku tidak mengorbankan mereka. Mereka sendiri yang ingin membalaskan dendam kematian Ayahku,"


"Mereka memang ingin membalas dendam. Tapi tidak ada yang berani melakukannya karena mereka sadar terhadap kemampuan sendiri,"


"Karena itulah aku membakar semangat mereka,"


"Dan karena itu juga sekarang mereka mati. Itu artinya, secara tidak langsung, kau telah membunuh banyak orang,"


"Bagaimana bisa aku yang membunuh mereka? Sudah jelas mereka mati di ujung pedangmu,"


"Pedangku tidak akan membunuh jika tidak dimulai. Kalau kau tidak berkata konyol, tidak mungkin mereka akan mati di ujung pedangku. Sekarang kau paham maksudku?"


"Aku mengerti,"


"Bagus. Jika kau ingin membalas dendam kematian Ayahmu, siapkan dulu semuanya. Jangan pernah menjadi orang bodoh yang tidak pernah menyiapkan segala sesuatunya sebelum bergerak," kata Cakra Buana mengingatkan.


Yiu Fang dan tunangannya tidak menjawab. Kedua orang itu membungkam mulutnya seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2