
Cakra Buana semakin merasa heran ketika dia melihat perubahan wajah Huang Yang Qing berubah hebat. Wajah kakek tua itu seakan sedang mengenang masa lalunya.
Kenangan pahit. Kenangan yang penuh dengan kesedihan mendalam. Beberapa kali dia menghela nafas. Jelas, kakek tua itu sedang merasakan sesuatu yang tidak ringan.
"Pangcu, apakah ada sesuatu yang sedang kau rasakan?" tanya Cakra Buana sambil terus memperhatikan wajah tua tersebut.
Setelah sekian lama berdiam, pada akhirnya Kakek Tua Tongkat Hijau itu berkata dengan nada penuh kesedihan.
"Benar, memang aku sedang mengenang kejadian puluhan tahun lalu. Bersama gurumu …" kata Huang Yang Qing.
Nadanya semakin sedih. Wajahnya menjadi terlihat tua beberapa tahun.
Cakra Buana tentu saja sangat terkejut mendengar perkataan kakek tua itu. Berarti dia mengenal gurunya? Apakah mereka merupakan saudara seperguruan, ataukah sahabat lama?
Cakra Buana belum bisa memastikan soal itu. Karena dia sendiri masih diliputi oleh rasa penasaran.
"Maaf Pangcu, apakah kau juga mengenal guruku?"
"Aii, Cakra, aku bukan hanya mengenalnya. Dia adalah sahabat seperjuanganku dulu. Waktu itu kami masih berusia muda. Mungkin sepantaran dirimu,"
Cakra Buana semakin penasaran. Kalau kakek itu mau menceritakan masa mudanya dulu, tentu sedikit banyak dia akan lebih mengenal siapa gurunya. Pula, dia pasti bisa mendapatkan keterangan pasti kenapa gurunya hingga kabur ke Tanah Jawa.
"Apakah Pangcu sudi untuk menceritakan kisah lalu bersama guru?"
"Dengan senang hati …"
"Puluhan tahun lalu, mungkin sekitar lima puluh satu tahunan lebih tepatnya. Kami para pendekar Tionggoan bersatu untuk meruntuhkan Kerajaan Liu yang sedang berdiri. Kerajaan Liu merupakan penjajah bangsa pribumi. Orang-orang yang ada dalam pemerintahan adalah bangsa penjajah. Mereka memimpin puluhan tahun. Sayangnya selama memimpin, rakyat Tionggoan tidak pernah merasa sejahtera,"
__ADS_1
"Mereka hanya bisa memeras rakyat. Merampas hak-hak rakyat Tionggoan. Kalau ada orang yang berani melawan atau mengkritik, bisa dipastikan seminggu kemudian orang itu akan ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan,"
"Nah akhirnya, pada suatu ketika kami selaku pendekar Tanah Tionggoan mengadakan pertemuan besar-besaran bersama para pendekar yang berjiwa ksatria. Ratusan pendekar hadir dalam pertemuan tersebut. Kami sepakat untuk menggabungkan diri dan menggulingkan pemerintahan yang otoriter,"
"Singkat cerita, kami para pendekar sudah setuju dengan rencana penggabungan diri tersebut. Namun sayangnya, belum sempat rencana itu dijalankan seluruhnya, pihak Kerajaan telah mengetahui lebih dulu. Akibatnya para pendekar yang bergabung mulai diburu dan dibunuh. Siapapun itu. Hanya dalam waktu yang terbilang singkat, puluhan nyawa telah melayang. Namun kami masih tetap berusaha untuk memberikan perlawanan,"
"Hingga perjuangan akhirnya tidak sia-sia. Walaupun Kerajaan Liu masih berdiri, setidaknya keadaan sudah porak poranda. Kekuatan mereka melemah. Saat itulah pihak Kerajaan mengundang berbagai pendekar dari negara terdekat untuk bergabung dengan Kerajaan. Parahnya lagi, ada juga pendekar Tionggoan yang ikut menggabungkan diri karena iming-iming uang dan kekuasaan,"
"Karena perjuangan sudah dilakukan, tentu kami tidak mau menyerah begitu saja. Dengan kekuatan yang ada, kami berjuang sekuat tenaga untuk melawan mereka. Sayangnya karena kalah dalam jumlah, peristiwa lalu kembali terulang. Kami justru dikejar-kejar oleh pemerintah. Termasuk aku dan juga gurumu. Tak nyana gurumu akan lari ke Tanah Jawa. Sayangnya karena kepergian dia diketahui, pihak pemerintah turut mengejarnya juga sebab dia sangat berbahaya sekali. Aku juga sama, untungnya aku terperosok masuk ke dalam ruang bawah tanah yang entah di mana tepatnya,"
"Bersyukur thian (langit) masih memberi kesempatan hidup kepadaku. Setelah sekian lama di bawah tanah dan belajar serta menciptakan beberapa ilmu silat, akhirnya aku kembali ke permukaan lalu berguru kepada seseorang dan menjalani hidup hingga saat ini. Tetapi sayangnya, gurumu itu … aiii, aku tidak sanggup menceritakan pengorbanan dia," kata Huang Yang Qing menghentikan ceritanya.
Raut wajah kesedihan terlihat kembali. Dia benar-benar merasa pedih jika mengingat kenangan itu. Bagaimana saat berjuang bersama, bagaimana saat melihat sadisnya pembantaian. Semua itu masih terpampang jelas di depan matanya jingga saat ini.
"Aihh, ternyata begitu ceritanya. Pantas saja guru bisa sampai di Tanah Jawa. Pangcu, apakah orang-orang yang dulu sempat mengejar guru dan engkau masih hidup?" tanya Cakra Buana.
"Aku akan mencari mereka untuk membalaskan dendam guru dan juga dirimu. Sebagai murid, sudah menjadi kewajiban bahwa dendam gurunya dituntaskan oleh sang murid,"
Dalam hatinya Pangcu Kay Pang Pek itu merasa terharu. Sahabatnya, Pendekar Tanpa Nama, benar-benar beruntung bisa mendapatkan seorang murid seperti Cakra Buana.
"Masalah itu gampang. Sekarang kau segera selesaikan saja tugasmu itu lebih dulu. Baru kita bicara ke depan, berarti kitab dan pusaka Pendekar Tanpa Nama ada padamu sekarang?"
"Terkait kitabnya sudah aku bakar hingga hancur seperti wasiat guru. Sedangkan pedang pusakanya ada bersamaku," kata Cakra Buana menjawab pertanyaan Huang Yang Qing.
"Kalau tidak salah pedang gurumu bernama Pedang Naga dan Harimau, benar?"
"Begitulah guru menyebutnya dalam kitab wasiat,"
__ADS_1
"Bagus, bagus. Kau sungguh beruntung nak, dengan kepandaianmu yang merupakan warisan dari Pendekar Tanpa Nama, pastinya kau sudah mempunyai bekal yang cukup,"
"Terimakasih atas pujian Pangcu. Mohon kiranya sebutkan satu atau dua orang yang dulu ikut mengejar kalian orang tua. Kalau bisa mereka yang tempatnya sama dengan arah yang akan aku tempuh,"
Kakek Tua Tongkat Hijau termenung sebentar. Dia mengingat kembali daftar pelaku yang dulu sempat membuatnya hampir mampus.
"Ada, jumlahnya dua orang. Kekuatan mereka masih bisa dibilang tidak terlalu tinggi, namun tidak juga terlalu rendah. Kedua orang itu menetap di hutan dekat Gunung Tian Shan. Kau bisa pergi ke sana sambil menuju ke Perguruan Rajawali Putih,"
"Baik Pangcu, terimakasih atas informasinya,"
Huang Yang Qing semakin kagum terhadap Cakra Buana. Dia sendiri bukannya tidak ingin atau tidak sanggup untuk membalas dendam. Dia tidak membalas dendam karena sekarang sudah menjadi Pangcu sebuah partai besar.
Karena itulah kakek tua itu menyuruh dua cucunya untuk berlatih seluruh ilmu yang dia turunkan sampai taraf sempurna. Sehingga dendam mendiang anaknya dan dendam dirinya bisa dibalaskan lewat cucunya.
Tinggal menunggu waktu yang tepat, maka orang-orang itu harus siap menghadapi amukan di suatu hari nanti.
"Kau harus hati-hati sekarang. Apalagi kau memakai julukan gurumu di masa lalu. Sudah pasti akan banyak orang yang mengincar nyawamu. Apalagi mereka yang merupakan keluarga orang-orang yang telah dibunuh gurumu,"
"Terimakasih atas nasihat Pangcu. Aku pasti akan mengingatnya,"
Cakra Buana ingin melanjutkan kembali bicaranya. Namun sebelum dia berkata lebih jauh, Huang Yang Qing memberikan isyarat untuk diam.
"Siapa yang sudah berani menguping pembicaraan orang?"
Sambil berkata demikian, dia meluncur keluar menuju ke tempat yang diduga ada orang menguping. Cakra Buana juga langsung ikut bertindak, dia menyusul ke arah perginya Pangcu itu.
"Siapa orang itu Pangcu?"
__ADS_1
"Tidak tahu. Tapi kemungkinan dia berilmu cukup lumayan sebab bisa tidak ketahuan oleh penjaga,"