
Suasana di luar ternyata jauh lebih sepi lagi. Orang-orang tidak nampak batang hidungnya. Padahal biasanya kota yang dekat dengan gedung Bulim Bengcu itu selalu ramai.
Kentongan kedua telah lewat beberapa saat yang lalu. Bulan semakin menggeser ke sebelah barat.
Cakra Buana diam di atas sebuah dahan pohon sejak beberapa saat lalu. Entah apa yang sedang dia tunggu. Tidak seorangpun yang mengetahuinya. Namun yang pasti, dia memang sedang menunggu sesuatu.
Arak dalam guci sudah habis lebih dari setengahnya. Pendekar Tanpa Nama masih duduk dengan satu kaki menopang tangan kanannya. Dia duduk dengan santai. Hatinya juga tenang.
Dalam keadaan seperti ini, segalanya harus diperhitungkan. Jangan sampai ada satu kesalahan sekecil apapun.
Suara kereta kuda sayup-sayup mulai terdengar di kejauhan sana. Derap langkah kaki kuda menggema meramaikan malam yang sepi.
Beberapa lentera menerangi jalan yang dilewati. Ternyata ada satu kereta kuda lewat. Kereta itu sangat mewah. Empat kuda bertugas menariknya, si kusir mempunyai postur tubuh yang tinggi serta berwajah garang.
Kereta sudah terlihat lelah. Nafas mereka memburu. Begitu juga dengan kusirnya sendiri. Kereta dan kusir sama-sama merasa lelah.
"Apakah perjalanannya masih jauh lagi?" sebuah suara mendadak terdengar dari dalam kereta kuda mewah itu.
"Sebentar lagi akan sampai Nona, mohon bersabar sedikit," jawab si kusir penuh rasa hormat.
"Apakah dia sudah datang?"
"Kemungkinan sudah, tapi entahlah,"
"Bagus. Kalau begitu terus jalankan keretanya,"
Si kusir tidak menjawab lagi. Dia langsung menuruti perkataan orang yang dipanggil Nona tadi. Empat ekor kuda jempolan dilarikan kembali dengan cepat. Suara cambuk menggelegar di tengah malam.
Cakra Buana masih diam di atas dahan pohon. Sekarang kepalanya bersender. Dalam hatinya, pemuda itu merasa sedikit kebingungan.
Ke mana suara tadi yang dia dengar saat di gedung Bulim Bengcu? Kenapa sesuatu tadi tidak terdengar lagi?
Sebetulnya alasan Cakra Buana memutuskan untuk pergi karena dirinya mendengar suara keributan di belakang gedung megah tersebut. Meskipun suara itu terdengar kecil, namun dia yakin di sana telah terjadi pertarungan.
Tapi setelah mencari ke beberapa penjuru, tidak ada sesuatu apapun yang dapat dia temukan. Semuanya berjalan normal. Semuanya tampak baik-baik saja.
Apakah telinganya tidak berfungsi dengan baik lagi? Ataukah ada sesuatu di balik ini semua?
Cakra Buana tidak bisa memberikan jawaban apapun.
Karena setelah mencari tetapi tidak membuahkan hasil, pada akhirnya dia memilih untuk duduk di atas dahan pohon dengan harapan bisa mendengar lagi suara keributan tadi.
Siapa sangka, yang dia dengar selanjutnya bukan suara pertarungan. Melainkan malah suara kereta kuda yang barusan lewat.
Setelah dipikir kembali, timbul lagi satu pertanyaan ganjil dalam benaknya.
__ADS_1
Siapa wanita dalam kereta kuda mewah itu? Dan kenapa mereka lewat tengah malam begini? Ke mana tujuannya?
Cakra Buana memutuskan untuk mengikuti kereta tersebut. Tapi belum sempat mengikuti lebih jauh, kereta kuda mendadak berhenti.
"Siapa di sana?" bentak sang kusir kereta.
Pendekar Tanpa Nama berdebar keras saat mendengar suara itu. Kusir yang terlihat biasa saja, ternyata dia mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi sehingga mampu menggetarkan gendang telinganya.
Pemuda itu berpikir keras, apakah dia ketahuan?
Cakra Buana berniat untuk memunculkan diri, tapi sebelum itu, ada tiga orang lain yang mendadak muncul dari balik semak belukar.
"Ternyata bukan aku yang dia maksud," gumamnya perlahan.
Di depan sana, tiga orang mendadak menghalangi jalannya kereta kuda. Mereka tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Ketiganya berdiri dalam diam.
Wushh!!!
Tiba-tiba seorang di antara mereka menerjang ke depan. Satu batang golok berkelebat cepat membelah malam.
Crappp!!!
Sebelum si kusir menangkis, Cakra Buana telah lebih dulu menangkap ujung golok yang tajam itu.
Wushh!!!
"Siapa kau?" tanyanya kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Cakra Buana,"
"Kau kah yang disebut Pendekar Tanpa Nama?"
"Benar, tak kusangka kalian mengenalku,"
"Bagus. Kalau begitu kau harus mampus,"
Wushh!!!
Tiga batang golok kembali menerjang dengan cepat. Sabetan dan tusukan tiba dengan kecepatan tinggi.
Trakk!!!
Cakra Buana menangkis semua serangan golok dengan cekatan. Gerakannya sangat cepat dan sangat mendadak.
Trakk!!!
__ADS_1
Tiga kali suara yang sama terdengar, tiga batang golok telah patah menjadi dua bagian.
Bukk!!!
Hantaman hebat langsung dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Nama. Tiga orang asing itu terlempar sepuluh langkah ke belakang.
Semua kejadian itu berjalan dengan singkat. Pertarungan langsung berhenti saat itu juga. Cakra Buana sangat yakin hantaman telapak tangannya mampu membunuh mereka bertiga.
Siapa sangka, begitu dia menghampiri tempat ketiga lawannya terlempar, ternyata di sana sudah tidak ada siapa-siapa. Tiga orang itu menghilang entah ke mana.
Pendekar Tanpa Nama tidak mau ambil pusing. Dia berniat untuk langsung pergi dari sana. Tapi sebelum itu, si kusir telah menahannya.
"Tunggu dulu,"
"Ada apa lagi? Maaf kalau aku sudah bertindak lancang," jawab Cakra Buana sambil memberikan hormat.
"Ah, tidak, tidak. Justru aku sangat senang. Apakah benar bahwa Tuan ini adalah Pendekar Tanpa Nama?"
"Hemm, benar. Memangnya kenapa?"
"Kalau begitu, apakah Tuan bisa menjagaku hingga ke tempat tujuan?" suara yang amat merdu kembali terdengar dari dalam kereta kuda.
Suara itu sangat merdu. Seolah dunia pun terbuai oleh suaranya yang halus itu.
Cakra Buana mengerutkan kening. Dia tidak tahu siapa wanita itu, dia juga tidak mengenal suaranya. Tapi kenapa wanita itu meminta dirinya untuk menjaga?
"Siapa Nona? Apakah kau mau menunjukkan diri?"
"Hihihi, boleh saja. Mari silahkan masuk, temani aku bicara,"
Sebuah tangan terjulur keluar kereta. Tangan itu terlihat sangat halus, sangat lembut, dan sangat indah. Saat tangan putih mulus itu melambai, Cakra Buana merasakan seolah ada satu kekuatan yang membetot sukmanya keluar.
"Baiklah," jawab pemuda itu dengan tegas.
Dia langsung berjalan lalu masuk ke dalam kereta kuda mewah.
Si kusir sudah kembali di tempatnya. Dia segera menjalankan kuda dengan cepat.
Di dalam kereta, Cakra Buana terbengong. Ternyata yang halus bukan hanya tangan dan suaranya saja, yang lembut dan indah juga bukan hanya itu saja, wajah pemilik tangan dan suara itu juga sama.
Wajah itu sangat cantik sekali. Dia memakai pakaian berwarna hijau muda. Pakaiannya sederhana, tapi bahannya terbuat dari kain sutera bernilai tinggi. Sepasang matanya bulat, bola matanya hitam dan bening. Rambutnya harum semampai. Meskipun dia memakai cadar, tapi kecantikannya tetap tidak bisa ditutupi.
Untuk beberapa saatnya, Cakra Buana tidak bisa bicara. Dia masih betah untuk menikmati keindahan yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, apakah aku jelek?" tanya wanita itu tiba-tiba bicara.
__ADS_1
"Ti-tidak, kau justru sangat cantik," jawab Cakra Buana gelagapan.