
"Kembalikan padaku sekarang juga sebelum aku bertindak kejam," ujar Cakra Buana mulai marah.
Ou Lin malah tertawa terbahak-bahak sambil bertolak pinggang. Tawanya ternyata menyeramkan, mirip seperti tawa hantu di tengah hutan.
"Boleh kau ambil kalau memang mampu," katanya mengejek Pendekar Tanpa Nama.
"Kalau begitu kau memaksaku supaya menggunakan kekerasan," ucap Cakra Buana lalu mengambil sikap kuda-kuda.
"Ku akui kau memang mempunyai bekal. Sayangnya belum cukup jika bekalmu dipakai di sini," kata Ou Lin angkuh.
"Jangan terlalu sombong di hadapanku. Kau boleh mencobanya,"
"Baik, siapkan Barisan Sepuluh Pedang," teriak Ou Lin kepada sepuluh anak buahnya.
Serentak sepuluh orang tersebut membentuk lingkaran untuk mengepung Pendekar Tanpa Nama. Pedang yang mengkilap tajam sudah di acungkan oleh orang-orang itu.
Cakra Buana tidak gentar. Dia sudah terbiasa berada dalam keadaan seperti ini. Senyuman sinis dia lontarkan dari sudut bibirnya sehingga terkesan meremehkan.
"Serang!!!" kata Ou Lin memberikan perintah kepada sepuluh anggotanya.
Tiga penyerang langsung mengayunkan pedangnya ke arah Pendekar Tanpa Nama. Satu ke arah paha kanan. Satu ke arah pinggang kiri dan satu lagi ke arah leher.
Tiga serangan tersebut dilakukan secara serempak dan lumayan cepat.
Tetapi gerakan Pendekar Tanpa Nama lebih cepat lagi. Kedua tangannya segera dibenturkan dengan batang pedang sehingga menimbulkan bunyi nyaring. Kaki kanannya menendang pergelangan tangan seorang penyerang sehingga penyerangnya merasakan betapa sakitnya tangan itu.
Tiga serangan berhasil digagalkan. Pendekar Tanpa Nama segera melancarkan serangan berikutnya. Kaki dan tangan bergerak secara serentak. Dua hantaman dia layangkan lalu disusul kemudian dengan satu tendangan yang mengarah ke iga sebelah kiri.
Mereka langsung terpental karena serangan barusan. Ketiganya muntah darah, jelas hal itu menggambarkan mereka terluka dalam.
__ADS_1
Tujuh orang merasa sangat geram. Barisan Sepuluh Pedang telah berkurang kekuatannya. Tujuh orang langsung menyerang dengan formasi tertentu.
Tujuh sinar pedang datang secara bersamaan mengincar titik penting di tubuh Pendekar Tanpa Nama. Serangan tujuh orang ini cukup lumayan merepotkan sehingga membuat Cakra Buana hanya bisa mengelak untuk beberapa saat.
Sinar pedang semakin banyak. Bentakan nyaring mulai terdengar. Tujuh orang semakin bersemangat saat melihat lawan mereka tidak mampu membalas. Orang-orang tersebut yakin bahwa lawannya kewalahan. Sebab walaupun barisan ini terlihat sederhana, tetapi caranya dalam melancarkan serangan sungguh cepat dan tak terduga. Belum lagi ada tipuan dalam setiap serangannya.
Sayangnya tujuh orang itu telah salah perhitungan. Walaupun sekarang sedang berada di negeri orang lain, tetapi Cakra Buana telah banyak melewati berbagai macam pertempuran. Sehingga dia punya kelebihan, yaitu bisa membaca arah serangan musuh.
Dia bergerak. Tubuhnya berkelebat di bawah tarian pedang milik lawan. Benturan pedang mulai terdengar hingga menimbulkan bunga api yang berpijar.
Kedua tangannya melancarkan beberapa kali pukulan dan serangan tapak yang cukup dahsyat. Satu persatu dari tujuh orang itu terpental karena terkena serangan balasan yang dilontarkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
Setiap kali mereka terpental sudah pasti tidak bisa melanjutkan pertarungan lagi karena terluka dalam. Hawa dingin dan hawa panas segera terasa. Empat orang sisanya mulai merasa jeri saat melihat rekan-rekan mereka roboh dalam satu gebrakan saja.
Pendekar Tanpa Nama tidak memberikan kesempatan kepada empat lawannya yang tersisa. Secepat kilat dia bergerak, setelah itu pula satu orang kembali terpental lalu muntah darah. Bahkan kali ini langsung tewas seketika.
Tiga orang yang masih berdiri merasakan lutut mereka bergetar dan lemas. Bagaimana tidak? Jurus Barisan Sepuluh Pedang yang selalu mereka banggakan, ternyata rontok hanya dalam beberapa gebrakan saja.
Tiga orang tersebut berniat untuk kabur secara bersamaan. Mereka sudah tahu tidak ada lagi cara untuk menang menghadapi pendekar asing itu.
Hanya saja sebelum kakinya melangkah lebih jauh, mendadak punggung mereka terasa dingin dan panas. Beberapa saat berikutnya, tiga orang tersebut langsung terkapar di tanah. Yang satu tubuhnya membeku sehingga nampak agak kebiru-biruan.
Sedangkan yang dua merasakan seluruh tubuh mereka panas. Dua orang itu merasa dipanggang di atas bara api. Kulit mereka sebagian melepuh karena tkdak kuat menahan rasa panas.
Barisan Sepuluh Pedang hanya dalam waktu singkat saja telah musnah. Hal ini membuat Ou Lin sedikit terkejut juga. Walaupun Cakra Buana merupakan orang asing, namun jurus silatnya seperti perpaduan antara Pasundan dan Tiongkok.
Ou Lin tidak tahu bahwa guru pendekar muda itu adalah Pendekar Tanpa Nama. Seorang tokoh tenar di zamannya, bahkan di Negeri Tiongkok sendiri yang merupakan negeri asalnya, dia pernah digosipkan sebagai pendekar terkuat di rimba hijau.
Namun Ou Lin sendiri termasuk ke dalam salah satu tokoh yang mempunyai nama. Keraguan dan keterkejutan dalam hatinya hanya sebentar singgap lalu kemudian lenyap tanpa bekas.
__ADS_1
Keduanya sudah berhadapan satu sama lain. Belum ada yang bergerak di antara mereka.
"Jurus Barisan Sepuluh Pedang milikmu memang sangat dahsyat. Aku sendiri hampir mati di tangan barisan itu," kata Cakra Buana yang jelas bicaranya mengandung nada ejekan.
Ou Lin juga sadar bahwa pemuda itu sedang mengejeknya. Sehingga amarahnya tidak bisa dibendung lagi.
"Bangsta busuk. Biar Tuanmu mencoba merobek mulutmu itu," bentak Ou Lin lalu segera melancarkan serangan pertama ke arah Cakra Buana.
"Kalau memang kau mampu, lakukan dengan segera," jawab Cakra Buana sambil tersenyum simpul.
Mendengar jawaban anak muda itu, Ou Lin bertambah gusar. Tenaga yang tadinya dia keluarkan hanya tiga bagian saja, kini dinaikkan menjadi lima bagian.
Pendekar Tanpa Nama tahu betul bahwa serangan pukulan tersebut bukanlah pukulan sembarangn. Pukulan itu mengandung kekuatan dahsyat.
Satu gulung angin menyambar Pendekar Tanpa Nama. Sangat cepat, sangat tepat, dan tentunya sangat berbahaya pula.
Cakra Buana tidak mau memandang remeh lawan. Apalagi setelah mendengar cerita dari Biksu Fu Tang bahwa si Ou Lin ini merupakan kepala perampok.
Dengan gerakan sederhana, Pendekar Tanpa Nama mendorong kedua tangannya untuk dibenturkan sengan jurus serangan Ou Lin.
"Blarrr …" ledakan keras terjadi. Dua tokoh itu terpental masing-masing empat langkah.
Ternyata Ou Lin memang sudah berniat untuk menghabisi Pendekar Tanpa Nama. Begitu dia terpental, mendadak orang tua tersebut meloncat bangun lagi lalu menerjang Cakra Buana dengan jurus berbahaya.
Pendekar Tanpa Nama juga langsung mengambil tindakan keras. Tangan kanan dia hentakkan ke depan untuk menghalau serangan Ou Lin.
Benturan terjadi lagi, namun kali ini baik Pendekar Tanpa Nama maupun Ou Lin langsung melanjutkan pertarungan mereka.
Jurus demi jurus langsung mereka keluarkan. Walaupun pertarungan baru berjalan sebentar, tetapi keduanya telah melancarkan pukulan dan tendangan yang kapan saja bisa mencabut nyawa mereka.
__ADS_1
Semakin lama, Ou Lin semakin terkejut karena pemuda asing itu mampu menahan semua serangan hebatnya.