Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Orang Yang Dicari-cari


__ADS_3

"Amitabha … Budha maha pengasih. Menginaplah di sini barang semalam anak muda. Besok saja kau menuju ke sana," ucap Biksu Fu Tang.


Cakra Buana berpikir sebentar. Sebenarnya dia ingin sekarang juga berangkat ke sana. Tetapi karena hari sudah mulai larut malam, maka ada baiknya dia menyetujui perkataan biksu tua itu.


"Kalau biksu tidak keberatan,"


"Tentu saja tidak. Sesama manusia, memang kita harus saling mengasihi. Nanti ada murid kuil yang akan mengantarkanmu ke kamar tamu,"


"Baik biksu terimakasih,"


Biksu tua itu segera pergi dari sama setelah permisi terlebih dahulu. Cakra Buana di antarkan ke kamar yang khusus untuk tamu oleh seorang murid kuil.


Kamar itu tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Isi kamarnya tampak sederhana namun mampu membuat nyaman.


Cakra Buana segera melanjutkan tidurnya kembali.


Pagi harinya, dia pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan sekaligus mencari Ou Lin. Dia telah memutuskan untuk tetap menuju ke pasar besar yang kemarin di ceritakan oleh Biksu Fu Tang.


Apapun yang terjadi, dia harus tetap ke sana. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa merebut kembali bekalnya dari Ou Lin.


Biksu Fu Tang memberikan Cakra Buana beberapa keping emas sebagai bekal sementara di perjalanan. Awalnya dia terus menolak pemberian tersebut, tetapi karena dipaksa, akhirnya dia mau menerima kepingan emas itu.


"Terimakasih biksu. Kalau begitu, aku pamit unsur diri,"


"Amitabha … Budha maha pengasih. Semoga kau selalu dalam lindungannya," kata Biksu Fu Tang sambil memberikan hormatnya dengan satu tangan seperti menyembah lalu membungkukkan badannya.


Cakra Buana membalas hormat si biksu tua, setelah itu dia segera pergi ke arah Selatan sesuai petunjuk dari Biksu Fu Tang.


Dia melesat cepat seperti angin. Hanya dalam beberapa saat saja, Cakra Buana telah tiba di tempat tujuan utama.


Sebuah pasar besar berada sekitar seratus meter di depan matanya. Orang-orang berlalu-lalang hilir mudik. Para pedagang berjejer menjajalkan dagangan mereka.


Cakra Buana mulai memasuki barisan orang-orang yang berdesak-desakan tersebut. Dia tidak mencari barang. Dia juga tidak mencari restoran. Yang dia cari adalah orang.


Orang yang sudah membuatnya kelimpungan karena tidak mempunyai perbekalan lagi.

__ADS_1


Mata Cakra Buana terpaku pada ujung pasar. Di sana ada bangunan tua yang kecil dan nampak sudah bobrok. Sambil berjalan, dia terus memandangi bangunan tersebut. Alasannya karena dia merasa curiga.


Beberapa kali dia melihat ada orang berpakaian hitam dan bercadar yang keluar masuk bangunan tua itu. Dia mengendap-endap untuk mencoba mendekati bangunan tersebut.


Kecurigaan pertama semakin kuat ketika dia melihat ada seorang bercadar hitam masuk dengan terburu-buru ke dalam bangunan tua itu.


Pemuda itu tidak langsung masuk ke sana. Sebab selain suasana sangat ramai, untuk menuju ke tempat itu juga tampak sempit. Karena ada satu gang yang menghubungkannya. Untuk langsung naik ke atas, apalagi. Kondisinya masih siang hari, kalau dia nekad, hal itu sama saja dengan mencari mati.


Dia menunggu malam hari.


Ya, benar. Malam hari adalah waktu yang tempat untuk bergerak. Biarlah untuk sekarang dia sabar menunggu. Toh perbekalan sudah ada meskipun tidak terlalu banyak.


Cakra Buana menunggu malam tiba di sebuah restoran sambil minum arak.


Saat waktu yang ditunggu sudah tiba, dia langsung membayar biaya minum lalu pergi keluar untuk menuju ke bangunan tua yang dia curigai saat siang tadi.


Suasana di pasar tidak seramai tadi. Meskipun masih tampak orang-orang yang berlalu-lalang, tetapi tidak sepenuh saat siang hari.


Cakra Buana melompat ke atas atap bangunan pasar. Dia mulai mengendap-endap di atasnya. Walaupun di atas wuwungan tetapi nyatanya dia dapat berjalan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Di bawah sana, terlihat ada sepuluh orang berpakaian serba hitam sedang minum arak bersama rekan-rekannya. Di pinggir guci arak ada juga beberapa potong daging.


Ternyata mereka sedang pesta arak. Semua orang yang ada di dalam sana tertawa terbahak-bahak. Tumpukan koin emas telah digelar di sebuah meja untuk diserahkan kepada pemimpin mereka.


Cakra Buana masih mengintai. Dia belum menunjukkan pergerakan sama sekali.


"Hahaha, dalam waktu beberapa hari ini, sepertinya kita memang sedang bernasib mujur. Ayo kumpulkan hasil kalian hari ini," kata seseorang.


Cakra Buana merasa kenal sekali dengan suara barusan. Dia merasa sempat mendengar suara tersebut. Dan memang itulah suara orang yang sedang dia cari saat ni.


Ou Lin.


Orang itu masih memakai pakaian yang sama seperti sebelumnya. Dia sedang membagikan bayaran kepada sepuluh orang anggotanya. Dia sendiri memamerkan hasilnya.


Satu kantong kulit berisi banyak sekali kepingan emas. Cakra Buana tentu mengenali sekali kantong kulit itu. Sebab itu adalah kantongnya sendiri.

__ADS_1


"Kurang ajar. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Biksu Fu Tang. Ternyata dia adalah gembong perampok. Hemm, tidak peduli di mana enam kepala perampok lainnya. Yang jelas, aku harus mengambil kembali apa yang sudah menjadi hakku," gumam Cakra Buana sangat geram sekali.


Saat harimau sudah mendapatkan mangsanya, maka sudah pasti dia tidak akan melepaskannya. Begitu juga dengan Cakra Buana. Dia sudah menemukan orang yang dicari-cari, mana mungkin dia akan melepaskan begitu saja?


Segera tubuhnya lompat ke bawah menjebol wuwungan.


"Brakk …"


Dia turun tepat di hadapan sepuluh orang anggota Ou Lin.


Semua orang yang ada di sana merasa sangat terkejut sekali. Terlebih lagi Ou Lin, dia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang sudah dia curi uangnya, ternyata mengetahui markasnya.


Sepuluh orang anggota serba hitam langsung mengepung Cakra Buana dari segala penjuru.


"Kita bertemu lagi Ou Lin," kata Cakra Buana dingin.


"Ah, saudara Cakra. Aku kira siapa, untuk apa kau menjebol atap? Kan bisa datang baik-baik lewat pintu depan," ujarnya sambil tersenyum.


Lagaknya seperti seorang sahabat yang baru bertemu dengan sahabatnya. Terkesan akrab dan bersahabat. Padahal dalam hatinya, dia merasa sangat geram. Bahkan orang itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk membunuh Cakra Buana.


"Tentu saja, karena aku memang ada keperluan denganmu," jawab Cakra Buana masih tetap dingin.


"Hemm, ada urusan apakah saudara datang ke tempatku ini,"


"Aku ingin mencabut nyawamu sekarang juga,"


"Ehh, tunggu sebentar, tunggu. Semua pasti mengandung alasan bukan. Nah, apa alasanmu ingin membunuhku? Bukankah kemarin kita masih bersahabat," ujar Ou Lin tetap tenang.


"Benar, alasanku datang kemari karena ingin mencabut nyawamu. Bukankah kau sendiri yang telah mengambil kantong emasku?"


"Kantong yang mana?"


"Tidak usah berpura-pura lagi. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau yang mengambilnya," tegas Cakra Buana sedikit membentak.


"Hemm, maksudmu kantong yang ini?" tanyanya sambil memperlihatkan kantong emas yang memang miliknya.

__ADS_1


Seketika merah padam wajah Cakra Buana. Kedua tangannya mengepal keras sehingga urat-uratnya menonjol.


__ADS_2