
Wushh!!!
Kedua tokoh tanpa tanding tersebut terdorong mundur ke belakang. Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi terdorong hingga sepuluh langkah ke belakang. Dia sendiri tidak percaya dengan kejadian ini, padahal dirinya sudah mengeluarkan delapan bagian tenaga dalamnya selama pertarungan ini. Tak disangka, hasilnya benar-benar diluar dugaan siapapun.
Sedangkan si Dewi Cantik Tujuh Nyawa hanya terdorong mundur lima langkah saja. Tubuhnya masih tegak berdiri. Sedikitpun kuda-kudanya tidak goyah. Wanita maha cantik itu seolah tidak merasakan apapun kecuali hanya tempat berdirinya mundur sedikit.
Sebenarnya setiap tokoh kelas pilih tanding atau tanpa tanding, mereka akan merasa bahagia kalau berhasil menemukan lawan yang setimpal dengannya. Setidaknya, dia bisa mengukur sampai di mana kemampuannya.
Tetapi sepertinya yang sekarang merupakan pengecualian. Sebab saat ini, kalah menang bukan menyangkut nyawa diri sendiri. Melainkan menyangkut puluhan atau bahkan ratusan nyawa orang.
Tian Hoa tidak tahu apakah saat ini dia harus tertawa, atau harus menangis. Yang pasti, dirinya benar-benar sedang sial. Sial sesial-sialnya.
Wushh!!!!
Bayangan merah muda melesat ke depan. Segulung angin dingin tiba-tiba terasa menerpa tubuh kakek tua itu dengan telak.
Prakk!!!
Tahu-tahu tubuh Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi terlempar hingga menabrak pohon besar yang berada di belakangnya. Pohon itu cukup besar, lagi pula jaraknya terpaut sekitar delapan tombak. Tapi nyatanya, sekarang pohon tersebut telah tumbang. Bahkan tubuh tua itu pun dengan telak jatuh di bawahnya.
Semua orang membelalakkan matanya. Semua mata hampir keluar atas kejadian tersebut.
Ternyata pada saat Dewi Cantik Tubuh Nyawa bergerak, dia turut mengibaskan kipas merah muda yang sejak awal telah digenggam olehnya. Kibasan itu tidak kencang. Sama sekali tidak. Bahkan kasarnya seperti tidak memakai tenaga.
Namun siapa sangka? Hasilnya justru sangat mengejutkan.
Kibasan yang amat pelan, kibasan yang terlihat begitu lemah, ternyata sudah cukup untuk melemparkan seorang datuk dunia persilatan.
Kalau sampai seorang datuk saja sanggup dibuat demikian dengan mudahnya, apalagi para tokoh kelas atas yang hadir?
Membayangkan hal tersebut, mau tidak mau mereka pun merasa ngeri. Orang-orang itu tidak berani membayangkan lagi bagaimana jadinya kalau kejadian barusan menimpa dirinya sendiri.
Seperti biasanya, Ming Tian Bao kembali melompat ke arena pertarungan. Setelah menghela nafas dalam-dalam, akhirnya dia mengumumkan lagi hasil pertarungan tersebut.
"Iblis Tua Langit Bumi kalah. Pemenangnya Dewi Cantik Tujuh Nyawa," katanya dengan suara lantang.
__ADS_1
Yang menghela nafas ternyata bukan hanya dia seorang. Bahkan yang lain pun turut melakukan hal serupa.
"Ternyata kemampuan seorang datuk dunia persilatan Tionggoan hanya seperti ini saja. Hemm, rendahan," gumam Dewi Cantik Tujuh Nyawa.
Meskipun suaranya terbilang pelan, tapi setiap orang yang hadir di sana dapat mendengar jelas perkataan tersebut.
Orang-orang yang hadir merasa sangat geram. Apalagi jauh sebelumnya mereka memang sudah merasakan hal demikian. Namun apa daya, kecuali hanya bisa pasrah menerima cacian itu, memangnya apalagi yang dapat mereka lakukan?
"Terlalu sombong. Aku kalau karena hanya mengeluarkan enam bagian tenaga dalam saja," gerutu Tian Hoa tidak mau kalah.
Sambil berkata, kakek tua itu sambil terus berjalan ke arah para sahabat lainnya.
Lima pertarungan sudah selesai dilangsungkan. Untuk sementara ini, kedudukan dimenangkan oleh Organisasi Naga Terbang. Di pihak mereka, sudah ada tiga orang yang menang, yaitu si Naga Terbang Kedua, Naga Terbang Ketiga dan juga Dewi Cantik Tujuh Nyawa.
Sedangkan di pihak pendekar Tionggoan, yang menang baru dua orang saja. Pertama adalah Tiang Bengcu, kedua adalah si Buta Yang Tahu Segalanya.
Itu artinya, yang tersisa tinggal dua pertarungan saja. Keduanya ini secara tidak langsung menentukan kedudukan apakah bakal unggul atau sebaliknya.
Di gelanggang arena pertempuran sana, ada satu sosok pemuda berjubah merah darah. Pemuda itu sedang menghindari setiap serangan dari lawannya.
Pemuda serba merah. Pedang di punggungnya juga merah.
Kalau bukan Pendekar Tanpa Nama, siapa lagi?
Pemuda yang dimaksud memang dirinya. Sekarang dia sedang bertarung melawan Naga Terbang Kelima. Mereka berdua sudah melangsungkan pertarungan hingga dua belas jurus.
Sejauh ini, setiap jurus yang diperlihatkan oleh Naga Terbang Kelima terhitung jurus yang ganas dan berbahaya. Selain itu, setiap jurusnya pun beraliran keras.
Namun terlepas apapun itu, Pendekar Tanpa Nama tidak berbeda jauh dengan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Dia pun sedang mempermainkan lawannya agar tenaganya terkuras. Baik itu tenaga dalam maupun tenaga luar.
Wushh!!!
Si Naga Terbang Kelima memakai sebilah pedang. Pedang panjang bersarung hijau tua dengan gagang tengkorak. Panjang pedang tersebut kira-kira sekitar satu depa lebih sedikit. Pedang yang unik, karena selain agak besar, pedang itupun memiliki lebar lebih besar dari pada pedang pada umumnya.
__ADS_1
Tusukan pedang datang secepat kilat menyambar di tengah malam yang gelap. Cahaya keperakan tampak menyilaukan mata setiap orang yang memandangnya.
Tusukan yang sederhana. Tapi efek yang luar biasa.
Hawa panas terasa menyeruak ke area sekitar pertarungan. Hanya dalam waktu satu kedipan mata, serangan telah tiba di depan mata.
Trangg!!!
Bukk!!!
"Hoekk …"
Benturan benda keras tiba-tiba terdengar sangat nyaring. Ternyata tepat sebelum pedang bergagang tengkorak itu menusuk jantung Pendekar Tanpa Nama, sarung pedang dari Pedang Naga dan Harimau telah menghalaunya dengan telak.
Bunga api memercik tinggi ke atas. Pedang yang digenggam oleh si Naga Terbang Kelima mendadak terpental ke atas lalu berputar dengan cepatnya.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, sosok Pendekar Tanpa Nama telah lenyap dari pandangan mata setiap manusia yang hadir di padang rumput Gunung Hua Sun.
Tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya sudah terjadi. Namun yang pasti, secara tiba-tiba, satu sosok terlempar jauh ke belakang bahkan sampai muntah darah sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Percikan darah merah yang masih segar terlihat sangat pekat.
Brugg!!!
Tubuh Naga Terbang Kelima ambruk ke tanah lalu bergulingan lima kali. Dia baru berhenti setelah luncuran tenaga dari hentakan tadi benar-benar habis.
Mulutnya dipenuhi oleh darah segar. Si Naga Terbang Kelima merasakan kepalanya berkunang-kunang dan tatapan matanya mukai rabun. Wajahnya pun pucat pasi. Kalau tidak bisa mempertahankan diri, mungkin saat ini dia sudah jatuh pingsan.
Untungnya dengan segera anggota Organisasi Naga Terbang itu menghimpun hawa murni ke seluruh tubuhnya agar daya tahannya tidak menurun. Setelah beberapa saat menyalurkan hawa murni, dia menghela nafas dalam-dalam kemudian maju beberapa langkah ke depan.
"Itukah Jurus Tanpa Nama?" tanyanya kalem.
"Benar," jawab Cakra Buana sambil mengangguk.
"Aii, sebuah jurus yang sangat bagus. Aku mengaku kalah," kata si Naga Terbang Kelima dengan santainya.
__ADS_1