Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Penyerangan Dimulai


__ADS_3

Puluhan pasang mata yang hadir di padang rumput Gunung Hua Sun terbelalak. Tidak ada yang tidak kaget. Semuanya merasa kaget.


Meskipun kebanyakan para tokoh tidak mengenal sosok Dua Setan Dari Selatan, tapi mereka juga tahu bahwa dua manusia itu termasuk ke dalam jajaran tokoh kelas atas dunia persilatan. Diduga mereka sejajar dengan pendekar kelas satu.


Untuk membunuh pendekar kelas satu bukanlah hal yang mudah. Apalagi kalau di lihat dari segi kekuatan dan segi pengalaman. Jelas, Dua Setan Dari Selatan termasuk daftar musuh yang tangguh.


Jangankan para tokoh yang hadir di sana, bahkan empat datuk dunia persilatan pun tidak yakin dapat membunuh keduanya dengan mudah. Apalagi dalam waktu yang sangat singkat dan secara bersamaan.


Tapi sekarang si Buta Yang Tahu Segalanya mampu melakukan hal itu. Pemuda serba putih itu sanggup membunuh Dua Setan Dari Selatan dalam waktu sekejap mata. Bahkan dia sanggup membunuh mereka hanya sekali gebrakan saja.


Kalau tidak menyaksikannya secara langsung, niscaya siapapun tidak akan ada yang dapat mempercayainya.


Sekarang mau tidak mau semua tokoh yang hadir merasa sangat kagum kepada pemuda bernama Li Guan itu. Si Buta Yang Tahu Segalanya memang lain dari yang lain.


Di balik kekurangannya, ternyata dia mempunyai kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Baik itu dari segi kemampuan, maupun dari segi pengetahuan.


Para tokoh tersebut merasa ngeri. Mereka jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau hantaman tadi mengenai dirinya.


Kalau sampai hal itu benar-benar terjadi, niscaya mereka pun bakal mengalami hal yang sama seperti apa yang dialami oleh si Pedang Maut dan Ruyung Emas.


Di balik rasa terkejut semua orang, si Buta Yang Tahu Segalanya malah tampak tenang dan santai. Pemuda itu terlihat seolah tidak melakukan apapun.


"Apakah sekarang kalian percaya tentang keberadaan Organisasi Naga Terbang?" tanya Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya sambil mengedarkan pandangan ke arah semua tokoh.


Para tokoh tersebut hanya mengangguk perlahan. Tidak ada yang menjawab di antara mereka kecuali hanya berani mengiyakan dengan suara yang lirih.


Empat datuk dunia persilatan masih tertegun. Terlebih lagi mereka datuk sesat, sampai sekarang mereka belum bergerak sedikitpun.


Sedangkan Huang Pangcu hanya tersenyum penuh arti sambil melirik kepada sahabat mudanya tersebut.


Ketua Kay Pang Pek itu sudah tidak asing dengan kejadian seperti barusan. Entah sudah berapa kali dia menyaksikan kejadian si Buta Yang Tahu Segalanya.


Dalam hatinya, dia semakin kagum terhadap pemuda itu. Huang Pangcu hanya menghela nafas dalam-dalam.


Wutt!!! Blarr!!! Blarr!!!


Ledakan demi ledakan tiba-tiba terdengar sangat keras di sekitar area tersebut. Beberapa pohon besar tumbang. Suara ambruknya pohon sedikit menggetarkan bumi. Belum lagi kilatan cahaya di kedalaman hutan lalu disusul kemudian dengan suara ranting patah tiada hentinya.

__ADS_1


Hawa kematian tiba-tiba terasa sangat pekat. Hawa pembunuhan pun bisa dirasakan dengan jelas oleh semua orang.


Para tokoh bersikap semakin waspada. Empat datuk memandang ke daerah sekeliling. Begitu juga dengan Pendekar Tanpa Nama dan para sahabat-sahabatnya.


Semua orang melakukan siaga satu. Meskipun belum mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi, namun sedikit banyaknya setiap insan dunia persilatan itu telah mengetahui bahwa sesuatu yang tidak diinginkan mulai terjadi.


Keadaan di padang rumput Gunung Hua Sun mendadak ramai oleh berbagai macam suara menyeramkan. Suara pohon roboh, suara ranting patah, ledakan keras dan lain sebagainya terus meramaikan malam yang dingin ini.


Bau gosong tercium oleh setiap orang.


Wutt!!!


Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba melesat ke kedalaman hutan. Gerakannya itu sangat tiba-tiba. Siapapun tidak ada yang menyangka sebelumnya. Namun meskipun begitu, tiada seorangpun di antara mereka yang berniat untuk mengejarnya.


Cakra Buana telah berada di tengah-tengah hutan.


Pemuda itu berdiri mematung. Tubuhnya tegak. Wajahnya tenang dan santai.


"Keluarlah. Aku datang seorang diri," kata Pendekar Tanpa Nama dengan suaranya yang lantang.


Awalnya di dalam hutan tersebut hanya ada dirinya seorang. Selain Cakra Buana, tidak ada orang lain lagi. Bahkan bayangannya saja pun tidak ada.


Wajahnya tidak terlihat kecuali hanya sepasang mata yang bening saja. Orang tersebut berdiri tepat di hadapan Pendekar Tanpa Nama. Sepasang matanya tiba-tiba menyipit, sepertinya di balik cadar hitam itu, orang tersebut sedang tersenyum hangat kepada Cakra Buana.


Pendekar Tanpa Nama membalas senyuman orang itu.


Meskipun orang itu memakai cadar dan wajahnya tertutup, tapi pemuda tampan tahu siapa dirinya.


Dia bukan lain adalah Sian-li Bwee Hua.


"Bagaimana kau bisa tahu ada di sini?" tanya Sian-li Bwee Hua kepada Pendekar Tanla Nama.


"Karena hatiku mengatakan ada kau di sini," jawab pemuda bertubuh kekar itu.


Ling Ling si Dewi Bunga Bwee langsung terdiam. Entah kenapa, kalau pemuda tersebut bicara demikian, dirinya selalu merasakan hal lain dalam hatinya.


Anehnya, sampai sekarang Ling Ling tidak tahu terkait perasaan tersebut.

__ADS_1


"Apakah ada yang ingin kau sampaikan kepadaku?"


"Ada,"


"Apa itu?"


"Semuanya sudah dimulai. Organisasi Naga Terbang mulai bergerak. Mereka telah ada di sekitar kalian,"


Cakra Buana terdiam tanpa jawaban.


Setelah menghirup nafas beberapa kali, Ling Ling segera melanjutkan bicaranya kembali.


"Suara ledakan yang sejak tadi terdengar diakibatkan oleh mereka. Termasuk ranting pohon yang patah juga karenanya,"


"Aku tahu,"


"Oleh sebab itulah aku memberitahumu agar selalu bersikap hati-hati dan selalu waspada. Beritahukan juga kepada orang-orangmu bahwa penyerangan Organisasi Naga Terbang akan dilakukan saat ini juga. Kau harus ingat bahwa meskipun jumlahnya hanya tujuh orang, namun kekuatannya jauh lebih hebat. Untuk itu aku sarankan kepadamu agar selalu bekerja sama dengan sangat baik. Aku tidak bisa menjamin jika malam ini tidak ada yang mati,"


"Aku tahu,"


"Namun kau jangan khawatir. Meskipun banyak orang yang mati, tapi aku pastikan bahwa dirimu tidak akan mati. Sahabat-sahabatmu juga tidak bakal menjadi korban,"


"Kenapa hal itu bisa terjadi?" tanya Cakra Buana sedikir keheranan.


"Karena aku akan menjagamu dan orang-orang yang berarti bagimu," kata Dewi Bunga Bwee dengan lembut.


Suaranya penuh rasa percaya diri. Suara itupun mengandung arti tersendiri.


Meskipun wanita tersebut tidak mengatakan atas dasar alasan apa dirinya melindungi Pendekar Tanpa Nama dan para sahabatnya, namun siapapun mengerti bahwa gadis itu melakukannya karena dasar perasaan.


Perasaan.


Dia melakukannya memang karena perasaan. Tapi perasaan apa? Apakah perasaan kasih sayang? Cinta? Atau apa?


"Baik. Terimakasih sebelumnya, jaga dirimu. Aku tidak ingin kau mati, akupun sama sepertimu. Semua rekanmu pasti akan mati, tapi aku jamin kau tidak mati," kata Cakra Buana serius.


"Kenapa demikian?"

__ADS_1


"Karena aku tidak akan membiarkanmu mati,"


__ADS_2