Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Ketakutan


__ADS_3

Meskipun dua korban sudah berjatuhan di depan mereka, namun para tokoh itu tidak ambil perduli. Mereka tetap melanjutkan pertempuran yang semakin lama semakin hebat ini.


Dua puluhan jurus sudah kembali lewat. Musuh Pendekar Tanpa Nama yang tersisa tinggal tiga orang saja. Itupun sudah dalam keadaan yang terdesak.


Dua orang pengguna pedang terlihat sudah mulai putus asa dengan semua kenyataan yang terjadi di depan mata mereka. Keduanya pasrah. Tapi masih berusaha melawan sebisa mungkin.


Hanya saja, jurus pedang yang dia keluarkan tidak sehebat san sedahsyat tadi. Posisi dua orang itu tak ubahnya seperti dua ekor domba yang melihat seekor harimau jantan sedang mengamuk.


Keduanya sudah sangat takut. Mereka mencari cara untuk meloloskan diri dari amukan sang Raja Hutan itu. Naas, segala macam usaha yang dilakukannya hanya sia-sia semata.


Trangg!!! Trangg!!!


Ujung mata pedang yang tajam tiba-tiba terlempar ke samping kanan dan samping kiri. Masing-masing kutungan itu menancap tepat pada daun jendela hingga amblas seluruhnya.


Kedua orang tersebut semakin jeri. Keringat dingin sudah membasahi seluruh jiwa dan raganya..


Wutt!!! Crashh!!! Crashh!!!


Sekelebat sinar merah mendadak menerjang ke arah mereka. Belum sempat keduanya tahu apa yang telah terjadi, nyawanya malah melayang lebih dulu.


Leher dua orang tokoh persilatan itu hampir putus. Suara seperti ayam disembelih terdengar sangat memilukan. Sepasang matanya melotot seperti ingin keluar. Lidahnya terjulur ke depan. Darah pun membanjir.


Setelah itu, keduanya langsung tewas.


Mimpi pun kedua tokoh itu tidak pernah, kalau dirinya bakal mampus di tangan seorang pemuda seperti Cakra Buana.


Sementara itu, orang yang bersenjata tombak berantai masih tetap bertarung dengan Pendekar Tanpa Nama. Sejauh ini, memang orang inilah yang merupakan lawan paling tangguh.


Menurut penglihatan Cakra Buana, setidaknya dia setara dengan pendekar pilih tanding. Kemampuanya sangat tinggi. Arah serangannya juga sulit dibaca.


Namun meskipun benar dia sanggup bertahan hingga saat ini, tapi toh sekarang dia sudah kelabakan di bawah serangan Pendekar Tanpa Nama.


Semua jurus tombak berantai miliknya tidak dapat membantu lagi. Sebab sekarang, Pendekar Tanpa Nama sudah mulai bosan. Pemuda itu menyerang dalam jarak dekat sehingga menyulitkan lawannya.


Tebasan dan tusukan pedang dilayangkan secara beruntun. Tak tanggung-tanggung, dua belas tusukan maut yang mengarah ke seluruh bagian tubuh sudah dilancarkan.


Mulai dari tusukan pertama hingga tusukan kesebelas, orang itu memang sanggup bertahan meski kewalahan. Tapi pada saat tusukan kedua belas datang, akhirnya pertahanannya jebol.


Ujung Pedang Naga dan Harimau dengan telak menusuk tepat di tenggorokannya. Segumpal darah segar keluar dari mulutnya. Begitu pedang dicabut, orang tersebut langsung ambruk ke lantak menyusul sepuluh orang rekannya yang telah mampus lebih dulu.


Suasana diliputi hawa kematian. Sepi. Sunyi. Tiada orang bersuara. Yang terdengar hanyalah helaan nafas si Tangan Berbisa yang semakin berat.

__ADS_1


Keringat sebesar biji kacang kedelai telah membasahi seluruh keningnya. Keringat itu jatuh ke pelipis secara perlahan. Lalu akhirnya jatuh ke lantai setetes demi setetes.


Dari tanda ini saja, semua orang bakal tahu kalau si Tangan Berbisa sangat ketakutan setengah mati.


Wushh!!!


Tiba-tiba orang itu membalikkan tubuhnya lalu segera meluncur dengan cepat. Dia berniat untuk melarikan diri lewat daun jendela yang terbuka.


Namun secepat apapun gerakannya, si Tangan Berbisa tetap tidak bisa lebih cepat dari Pendekar Tanpa Nama.


Wushh!!!


Cakra Buana meluncur ke depan. Tangan kirinya segera meraih pundak lawan. Sekali tarik, tubuh orang tersebut langsung membalik.


Namun tepat pada saat itu, dua buah serangan tapak maha dahsyat sudah dilancarkan dengan gerakan yang tidak disangka sebelumnya.


Sebelum telapak tangannya tiba, hawa serangannya sudah terasa. Angin tajam berdesir. Pakaian Pendekar Tanpa Nama berkibar. Hawa panas menyeruak ke seluruh ruangan jtu.


Kiranya si Tangan Berbisa langsung melayangkan jurus mautnya pada saat dirinya tertangkap tadi.


Wutt!!!


Wushh!!!


Pedang Naga dan Harimau dilemparkan ke depan.


Crapp!!!


Pusaka tersebut menancap dengan kuat pada dinding ruangan. Saking keras dan kuatnya tenaga yang dikeluarkan, sampai-sampai pedang itu amblas hampir setengahnya.


Seluruh batang pedang bergetar hebat hingga menimbulkan suara getaran tersendiri.


Berbarengan dengan kejadian tersebut, Cakra Buana juga sudah melayangkan serangan tapak yang tidak kalah hebatnya lagi.


Blarr!!!


Benturan hawa sakti menggelegar bagaikan suara guntur. Si Tangan Berbisa terdorong mundur ke belakang. Hampir saja dia menubruk dinding ruangan, untunglah pada saat itu kaki kanannya tepat menotol ke dinding.


Tubuhnya meluncur kembali sambil berjumpalitan di tengah udara.


Cakra Buana juga mengalami hal yang sama. Hanya saja, pemuda itu cuma terdorong dua langkah. Itupun masih tetap dalam posisinya.

__ADS_1


"Kau sudah mengundangku kemari. Sebagai tuan rumah, bagaimana mungkin mau boleh pergi begitu saja?" kata Cakra Buana.


Suaranya dalam. Nadanya datar. Datar seperti wajahnya saat ini. Jelas, dia sedang menahan amarah yang meluap-luap itu.


"Hemm … lihat serangan!!!" teriak si Tangan Berbisa.


Wushh!!!


Tubuhnya melayang ke depan secepat anak panah. Tiga serangan tapak sudah dilancarkan. Bau busuk langsung tercium dengan jelas. Bahkan seluruh ruangan pun segera diselimuti oleh bau tak sedap itu.


Pendekar Tanpa Nama tahu kalau dia adalah orang yang pandai dalam ilmu racun. Sudah tentu serangan itupun mengandung racun. Karena alasan tersebutlah, dia segera menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh lalu menahan nafasnya selama mungkin.


Plakk!!! Plakk!!! Plakk!!!


Tiga serangan tapak itu dengan nekad ditahan oleh Cakra Buana. Tubuhnya sedikit tergetar, ternyata tiga serangan tersebut mengandung tenaga dalam bercampur racun yang sangat ganas.


Untung bahwa pemuda itu sudah kebal terhadap sebagian jenis racun. Kalau tidak, mungkin saat ini dia hanya seorang mayat yang bernasib malang.


Wushh!!!


Cahaya merah memenuhi seisi ruangan. Cahaya itu bagaikan kabut malam yang sangat pekat dan gelap.


Plakk!!! Bukk!!! Prak!!!


Pertarungan langsung terhenti. Cakra Buana kembali ke tempat dan posisinya semula.


Pertarungan baru berlangsung, tapi kenapa sudah berhenti?


Alasannya tentu saja karena si Tangan Berbisa sudah tewas. Kepalanya pecah. Jeroan kepala memenuhi lantai yang sudah dibanjiri oleh darah itu.


Kalau Jurus Tanpa Bentuk sudah keluar, bagaimana mungkin dia bisa menahannya?


Tentu saja tidak akan bisa. Sebab si Tangan Berbisa bukanlah orang yang terhitung dapat bertahan dari jurus maha dahsyat tersebut.


Di antara sepuluh orang tadi, memang hanya dialah yang paling tangguh. Paling matang. Dan paling sempurna.


Kalau begitu, kenapa pertarungan melawan si Tangan Berbisa dapat lebih cepat daripada pertarungan pada saat melawan tokoh bersenjata tombak berantai tadi?


Jawabannya hanya ada satu.


Kalau tadi Pendekar Tanpa Nama hanya bercanda, maka barusan dia sangat berlaku serius. Bahkan dia sudah mengeluarkan tenaga dalam hingga delapan bagian.

__ADS_1


__ADS_2