
Mereka kembali tertawa dengan riang gembira. Ruangan utama gedung Bulim Bengcu terasa bergetar karena suara tawa dari para tokoh pilih tanding itu.
Mereka benar-benar bahagia. Sedikitpun tidak nampak dari mereka yang merasa sedih. Padahal setiap orang yang hadir tahu bahwa mungkin hanya hari ini saja mereka masih dapat melihat Cakra Buana. Atau setidaknya, esok hari adalah hari terakhir.
Tapi kenapa mereka tidak terlihat bersedih? Bukankah orang-orang itu merupakan sahabat dekat Pendekar Tanpa Nama?
Andai kata ada seorang sahabat yang akan pergi jauh lalu kemungkinan besar tidak akan pernah bertemu lagi, benarkah kau tidak akan sedih?
Tentu saja siapapun pasti sedih. Sebab sedikit banyak, orang itu bakal kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Tapi kenapa para tokoh yang hadir di gedung Bulim Bengcu tidak demikian? Benarkah mereka tidak merasa sedih?
"Kalau pun iya, toh tidak akan ada yang melarang. Bahkan kita semua pasti akan merasa senang sekali, kalian berdua itu sangat cocok, sangat serasi. Betul tidak?" tanya Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi sambil memandang ke arah yang lainnya.
"Hahaha, betul, betul sekali. Aii, aku jadi ingin melihat kalian berdua menikah lalu segera punya momongan," ujar Cio Hong turut bercanda.
Cakra Buana hanya tersenyum menanggapi para sahabatnya yang mentertawakan dirinya. Dia tahu mereka hanya bercanda. Tapi di balik candaan itu, dia pun mengerti ada suatu harapan di dalamnya.
Lain Cakra Buana, lain juga Ling Ling. Gadis yang tampil sangat cantik itu benar-benar merasa malu. Sepasang pipinya yang sudah sedikit merah karena dipoles, sekarang bertambah merah lagi.
Dia menundukkan kepalanya serendah mungkin. Sedikitpun tidak mau bicara. Karena pada dasarnya Ling Ling tidak tahu harus bicara apa.
Namun dalam hati kecilnya, dia sendiri merasakan suatu perasaan aneh. Tapi gadis itu tidak mau mengungkapkannya.
Perasaan apakah itu? Cinta? Atau benci? Senang, atau sedih?
Cakra Buana akhirnya ikut tertawa. Kemudian dia segera mendekati tempat duduk si Buta Yang Tahu Segalanya yang berdekatan dengan Huang Mei Lan.
"Bagaimana? Kau percaya sekarang bahwa aku memenangkan persaingan waktu itu?"
Sebelum Cakra Buana bicara, ternyata Li Guan malah bicara lebih dulu.
Waktu itu kedua sahabat tersebut memang pernah mengatakan perjanjian untuk bersaing. Mereka bersaing mendapatkan cinta Huang Mei Lan.
__ADS_1
Cakra Buana dan Li Guan bersaing secara sehat. Masing-masing dari mereka berusaha keras untuk mendapatkan cinta kasih dari cucu Huang Pangcu tersebut.
Padahal belakangan ini yang tampak berjuang keras adalah Cakra Buana. Siapa tahu, ternyata pada akhirnya malah si buta yang mendapatkan cintanya.
Apakah cinta seperti itu? Tidak bisa ditentukan siapa yang bakal mendapatkan dan meraihnya?
Ternyata cinta itu seperti jalannya kehidupan.
Kita hanya bisa berusaha keras tanpa bisa memberikan sebuah kepastian. Selain berusaha dan berdoa, memangnya apa lagi yang bisa dilakukan oleh manusia?
"Baik, baik. Aku mengaku kalah darimu," kata Cakra Buana sambil tersenyum getir.
Apakah pemuda itu meras sakit hati? Apakah dia bakal benci Li Guan seperti orang lain pada saat gagal dalam bercinta?
Tentu saja tidak. Hal itu tidak mungkin terjadi dalam hidupnya. Sebab hakikatnya, dia sendiri sudah mengerti tentang cinta.
Dia tahu bahwa cinta itu bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan. Sekuat apapun dirimu, sekeras apapun kau berjuang, kalau cinta itu tidak berpihak kepadamu, maka sampai kapanpun hasilnya akan tetap sama.
"Hahaha, karena kau kalah, maka kau harus minum lima cawan arak untukku," kata Li Guan kembali tertawa.
Tanpa banyak berkata lagi, Pendekar Tanpa Nama langsung meneguk lima cawan arak dengan riang gembira.
Pada saat demikian, tiba-tiba Huang Pangcu berbisik ke telinganya.
"Makanya jangan menjadi penjahat wanita. Lihat sahabatmu, dia tidak berjuang secara terbuka, tapi akhirnya bisa mendapatkan cinta cucuku yang cantik jelita, hahaha …" ejek Huang Pangcu kepadanya.
Suara tawa itu sangat senang, sangat bahagia. Tanpa sadar Cakra Buana juga tertawa. Tawanya tidak kalah lantang dan bahagia.
"Aii, kami sudah mempunyai pasangan masing-masing, lalu kau sendiri kapan? Mungkinkah kau sudah punya istri di Tanah Pasundan?" tanya Liu Bing yang selama ini diam, secara tiba-tiba jadi ikut bicara.
"Mana mungkin. Kalau pun benar, toh selama istrinya menerima, rasanya tidak ada masalah kalau pemuda keparat itu punya istri lagi. Selaku pria kan bisa mempunyai dua atau tiga istri," jawab Tian Hoa dengan cepat.
"Cihh, menyesal aku kemari. Rupanya kalian hanya mengejekku sejak tadi, aku pikir kalian akan bersedih karena kepulanganku. Tapi kenyataannya malah sebaliknya," ucap Cakra Buana pura-pura marah.
__ADS_1
"Hahaha … heh anak bodoh, kau jangan pura-pura marah seperti itu. Thian sudah menentukan bahwa nasibmu memang jadi bahan tertawaan sahabat-sahabatmu," ejek Orang Tua Menyebalkan
Pesta itu berjalan dengan riang gembira. Pada akhirnya Ling Ling juga ikut bergabung bersama mereka.
Di saat-saat terakhir seperti sekarang ini, di saat seorang sahabat mau pergi, rasanya tidak ada suatu hal yang lebih menyenangkan dan lebih menggembirakan selain berkumpul bersama sahabat lalu bercanda ria hingga lupa semua duka lara.
"Ahh iya, perkenalkan, dia ini anak tunggal Paman, namanya Cio Bun Ho, si Rajawali Muda Pencakar Langit," kata Cio Hong memperkenalkan pria yang duduk bersama Liu Bang kepada Cakra Buana.
"Salam hormat untuk Pendekar Tanpa Nama," kata Cio Bun Ho sambil menjura.
"Salam hormat kembali," jawabnya dengan senyuman ramah.
Sepertinya Liu Bing mendapatkan pria yang sangat cocok. Dia murid tunggal dari Nenek Tua Bungkuk, sedangkan Cio Bun Ho sendiri merupakan anak tunggal dari Cio Hong, guru besar Perguruan Rajawali Sakti.
Kalau seperti itu, maka hubungan antara mereka saudara seperguruan bakal lebih erat lagi.
"Ngomong-ngomong bagaimana, apakah sekarang dunia persilatan mulai aman kembali?" tanya Cakra Buana di sela candaan bersama para sahabatnya.
"Tuan Cakra tidak perlu khawatir tentang masalah itu. Dunia persilatan memang tidak akan pernah aman, namun setidaknya masalah ini bisa diselesaikan dengan mudah oleh mereka para tokoh kelas atas," jawab Tiang Bengcu sambil tersenyum hangat.
Di antara para sahabatnya, mungkin hanya Tiang Bengcu sendiri yang tidak pernah mengejek dirinya.
"Syukurlah kalau begitu,"
"Memangnya kalau adalah masalah besar lagi kau mau apa? Mau ikut nimbrung lagi?" tanya si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Tidak, justru aku akan menambah besar masalahnya lagi. Aku akan berubah menjadi orang yang jahat dan kejam. Selepas itu maka aku akan memotong-motong tubuhmu atau setidaknya lidahmu agar kau tidak banyak bicara," jawabnya sengit.
Si Buta Yang Tahu Segalanya tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu.
Walaupun tampang mereka terlihat serius, tapi sebenarnya hanya candaan belaka.
Hal seperti ini hanya berlaku bagi sahabat yang sudah mengerti luar dalam sahabatnya sendiri.
__ADS_1