
Cakra Buana bersama kakek tua itu sudah tiba di sebuah pasar. Pasar yang sebelumnya sempat dia lewati sambil terus memberikan sumbangan kepada para pengemis.
Kakek tua itu terus berjalan ke dalam pasar tanpa menengok ke belakang. Alasannya karena dia tahu bahwa anak muda tersebut pasti akan mengikuti ke mana langkah kakinya.
Dan memang benar. Pendekar Tanpa Nama tetap mengikuti ke mana kakek itu melangkah. Walaupun dalam hatinya bertanya-tanya akan di bawa ke mana dan siapa sosok kakek tua itu, tetapi Cakra Buana masih saja mengikutinya tanpa rasa curiga.
Jalan yang di ambil si kakek tua cukup berliku-liku. Setelah beberapa kali memasuki gang di pasar, akhirnya mereka telah sampai di sebuah tempat.
Tempat itu letaknya persis di belakang pasar tadi. Ternyata di sana ada sebuah halaman luas dan bangunan kuno yang cukup besar.
Di halaman luas bangunan tersebut terdapat cukup banyak pengemis berbaju putih. Begitu melihat si kakek tua menuju ke sana, serentak puluhan pengemis langsung berlutut hormat.
Mereka belum kembali berdiri jika si kakek tua belum melewatinya.
Cakra Buana mulai bingung.
Sebenarnya siapa sosok kakek tua itu? Dan kenapa para pengemis memberikan hormat kepadanya?
Ketika hampir tiba di depan pintu pun begitu juga. Semua pengemis berlutut memberikan hormatnya.
Si kakek tua kemudian membawa Cakra Buana masuk ke dalam bangunan.
Dan di sana dia mengalami kejadian yang sama kembali. Semua pengemis berlutut.
Di depan ada sebuah kursi yang kosong. Terlihat sederhana, tapi sangat antik dan bernilai tinggi.
Kakek tua itu kemudian duduk di kursi tersebut.
"Duduk anak muda," katanya kepada Cakra Buana mempersilakan duduk bersama para pengemis lainnya.
Tanpa menjawab, Pendekar Tanpa Nama langsung duduk di sana.
"Apakah kau merasa heran?" tanyanya seperti telah mengetahui apa yang dirasakan oleh Cakra Buana.
Pemuda itu hanya mengangguk sambil memperlihatkan ekspresi kebingungan.
__ADS_1
"Jangan kaget. Mereka adalah anggotaku,"
"Anggota?" tanya Cakra Buana semakin bingung.
"Benar, mereka anggota cabang di kota ini. Dan ini adalah Ketua Cabang di sini," katanya sambil menunjuk seorang pengemis.
"Maaf orang tua, apakah ini adalah sebuah perkumpulan?"
"Benar, supaya kau tidak bingung, biarlah aku menceritakannya kepadamu,"
Cakra Buana hanya diam sambil menunggu si kakek tua itu bercerita.
"Ini adalah Perkumpulan Pengemis Putih, atau kalau dalam bahasa Tiongkok biasa disebut Kay Pang Pek. Partai ini terbentuk karena pada awalnya banyak sekali pengemis di sini karena efek dari penjajahan. Selain itu, para pengemis ini sering mendapatkan gangguan dari luar. Entah itu di aniaya, di rebut paksa hasil meminta-mintanya. Dan sebagainya. Pada akhirnya leluhur Kay Pang Pek yang pertama memutuskan untuk membuat partai pengemis. Tujuannya adalah untuk bersilahturahmi, membuat solidaritas antar pengemis menjadi lebih kental. Kalau ada anggota yang diganggu, yang lainnya wajib membantu. Terus seperti itu hingga turun temurun dari generasi ke generasi sampai detik ini,"
"Orang-orang yang masuk ke dalam partai ini tidak ada motivasi apapun. Mereka hanya ingin mempunyai keluarga dan wadah untuk perlindungan diri. Di sini ada juga jabatan-jabatan seperti pada organisasi atau perkumpulan lainnya. Jadi wajar kalau mereka sangat hormat kepadaku, sebab aku adalah Pangcu Kay Pang Pek (Ketua Perkumpulan Partai Pengemis Putih)," jelas kakek tua itu.
Tersentak Cakra Buana mendengarnya. Berarti saat ini dia sedang berhadapan dengan seorang tokoh besar. Dia ingin berlutut, tetapi kakek tua itu segera menahannya.
"Maaf Tuan, kalau boleh tahu, apa tujuanmu mengajakku kemari?"
"Maaf Pangcu Huang, aku membagikan sumbangan atas dasar kemanusiaan. Aku mendapatkan pesan dari guruku bahwa sesama manusia harus saling membantu. Jika aku telah melakukan kesalahan, aku minta maaf,"
"Aiii, sungguh pemuda yang gagah dan bermoral. Tidak anak muda, tidak sama sekali,"
"Terimakasih Pangcu. Apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
"Silahkan,"
"Tadi selain menemukan pengemis berbaju putih, aku juga banyak sekali menemukan pengemis berbaju hitam, kalau boleh tahu, siapa mereka itu?"
"Kau sama sekali tidak tahu siapa mereka?"
"Tidak Pangcu,"
"Hemm, wajar saja. Sebab kau bukan asli sini. Mereka yang berbaju hitam adalah anggota Kay Pang Hek (Perkumpulan Pengemis Hitam). Mereka tadinya satu partai dengan Kay Pang Pek, hanya saja ada seorang pengacau yang berkhianat lalu merekrut para anggota untuk bergabung dengannya dan membuat partai baru," jelasnya kepada Cakra Buana.
__ADS_1
Dalam hatinya, Cakra Buana sedikit geli. Ternyata pengkhianat bukan hanya terjadi di pemerintahan saja. Bahkan di dalam perkumpulan pengemis sekalipun, terdapat juga pengkhianat.
'Memangnya apa tujuan mereka melakukan semua itu?' batin Cakra Buana.
Hatinya sungguh bingung. Dia sendiri tidak tahu bahwa sebenarnya Kay Pang Pek ini merupakan salah satu partai terbesar di Tiongkok. Bahkan seluruh anggotanya mencapai ratusan ribu. Di seluruh Daratan Tengah (China), pasti ada anggota Kay Pang Pek.
Dulunya partai ini hanya bernama Kay Pang. Namun semenjak ada pengkhianat itulah ditambahkan menjadi Kay Pang Pek. Tujuannya untuk membedakan mana Kay Pang lurus dan mana Kay Pang sesat.
"Hemm, pantas saja mereka berniat mencoba untuk mengambil uangku,"
"Mereka mengganggumu?"
"Benar Pangcu. Untungnya aku berhasil membunuh beberapa anggota mereka sehingga bisa membebaskan diri. Tapi mungkin orang-orang itu akan melaporkan kejadiannya kepada ketua mereka,"
"Aii, kau tenang saja anak muda. Kalau ada apa-apa, kami siap membantumu,"
"Terimakasih Pangcu. Kalau boleh tahu, di mana markas pusat Kay Pang Pek ini?"
"Di Kotaraja. Kau ingin bertanya kenapa aku ada di sini bukan?"
Cakra Buana hanya mengangguk pelan. Agak tidak enak hati juga karena dia berani bertanya hingga hal-hal seperti ini. Padahal berjumpa saja baru kali sekarang.
"Kau tidak perlu merasa tidak enak hati. Tanyakan saja apa yang ingin kau tahu, anggap saja kita sahabat lama. Nah, aku memang Pangcu Kay Pang Pek, hanya saja aku lebih gemar mengembara. Apalagi beberapa bulan nanti akan ada pertemuan para tokoh kangouw (dunia persilatan), sudah pasti akan seru sekali kalau aku hadir di sana,"
Cakra Buana semakin penasaran dengan pertemuan itu. Sedemikian berharganya kah barang yang diperebutkan hingga para tokoh akan hadir?
Huang Yang Qing melihat adanya gelagat penasaran dalam diri Cakra Buana. Karena itulah dia bertanya kepadanya. "Cakra, kau ingin juga pergi ke sana?"
"Tentu Pangcu, tetapi aku masih ragu. Sebab aku belum mempunyai kenalan sama sekali,"
"Bagaimana kalau kau pergi dengan cucuku? Nanti kita bertemu saja di sana. Aku masih ada urusan sehingga tidak bisa pergi bersamamu,"
###
Note: Nama partai pengemis memang saya ambil dari novel Wuxia karya suhu-suhu dulu. Tetapi terkait sejarahnya, itu hanya imajinasi saja.
__ADS_1
Mohon jangan salah menafsirkan. Semua ini hanya bentuk persembahan untuk para suhu saya seperti Khu Lung, KPL, NT, dll.