Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tersipu Malu


__ADS_3

Senja hari. Pendekar Tanpa Nama sedang duduk dengan santai di sebuah saung pinggir sungai yang ada di kawasan Gunung Hua Sun. Semilir angin meniup dedaunan dengan tenang. Air sungai mengalir dengan perlahan, airnya jernih. Buih-buih air tercipta karena tidak jauh dari sana kebetulan ada air terjun cukup tinggi.


Dedaunan kering yang menguning mengambang terbawa arus air. Ikan-ikan besar tampak berenang ke sana kemari dengan tenang.


Musim semi sudah tiba. Bau semerbak bunga sakura dan bunga-bunga lainnya tercium sehingga mampu menggugah selera.


Cakra Buana sedang duduk seorang diri. Seperti biasa, di tangan kanannya ada seguci arak wangi yang dia beli di kedai sebelum berangkat ke tempat tersebut.


Diskusi di kedai sebelumnya telah usai sejak siang tadi. Oleh sebab itulah sekarang dia berada di sini. Para sahabat yang lainnya masih di sana, tapi Cakra Buana memutuskan untuk pergi seorang diri.


Terkait apa tujuannya, seorangpun tiada yang tahu karena memang pemuda itu tidak mengatakan apapun kepada mereka.


Pemuda Tanah Pasundan itu tiba-tiba mengeluarkan seruling bambu yang selalu ada di pinggangnya. Seruling yang sudah lama. Seruling sederhana yang dia dapat saat akan berangkat ke Tanah Tionggoan ini.


Alunan suara merdu segera terdengar keluar dari seruling tersebut. Nada itu melengking tinggi, lalu perlahan, kemudian berganti lagi.


Suasana yang tenang, suara seruling yang indah.


Lagu yang dinyanyikan pun lagu indah. Sebuah lagu kerinduan.


Apakah dia sedang rindu? Kalau iya, kepada siapakah rindu itu ditujukan?


Sepasang matanya mulai terpejam rapat. Tapi permainan serulingnya belum usai. Semakin lama, permainan Cakra Buana justru semakin merdu. Dia sendiri sudah menyatu di dalamnya.


Pada saat seperti itu, tiba-tiba telinganya mendengar sebuah suara. Tak lama kemudian, sebuah suara manusia terdengar di sisinya.


"Permainan seruling yang indah,"


Sebuah suara lembut terdengar jelas di telinga kanannya.


Permainan seruling seketika langsung berhenti. Sepasang mata yang sempat terpejam itupun langsung terbuka kembali.


Sian-li Bwee Hua.


Di lihatnya wanita cantik itu sedang memandangi wajah Cakra Buana dengan lembut. Sebuah senyuman manis dilemparkan begitu saja. Tatapan matanya teduh dan hangat. Seperti hangatnya matahari di senja ini.


"Aku hanya baru belajar saja. Jadi tidak mungkin kalau permainan serulingku indah," kata Cakra Buana menampik pujian wanita itu.


"Tapi menurutku memang indah," jawab Ling Ling tetap bersikeras.


"Tapi belum seindah senyumanmu," ujar pemuda itu menggodanya.

__ADS_1


Dewi Bunga Bwee langsung membungkam mulutnya. Dia tersipu malu. Sepasang pipi yang lembut seperti salju itu seketika memerah layaknya buah tomat.


Cakra Buana sendiri langsung tertawa nyaring. Dia paling suka kalau melihat seorang wanita tersipu malu seperti halnya Ling Ling saat ini.


"Tidak kusangka kau akan membantuku lagi," ucap pemuda itu setelah menghentikan suara tawanya.


"Membantu? Maksudmu?" tanya Ling Ling sambil mengerutkan keningnya. Wanita maha cantik itu bersikap seolah tidak mengerti.


"Kau jangan berpura-pura tidak tahu di depanku. Aku tahu bahwa nenek tua misterius yang tadi tiba-tiba muncul itu adalah dirimu sendiri," ujar Cakra Buana mulai serius.


Sian-li Bwee Hua terdiam sesaat lalu kemudian tertawa nyaring. Suara tawanya merdu. Semerdu nyanyian burung di sore ini. Sepasang lesung pipi nampak menggoda.


"Sepertinya setelah kau berhasil meminum air rebusan Ginseng Seribu Tahun, bukan hanya tenaga dalammu saja yang meningkat. Bahkan insting dan kepekaanmu pun juga sama meningkat,"


"Tidak sepenuhnya benar. Aku bisa mengetahui bahwa nenek tua itu adalah dirimu bukan karena air rebusan Ginseng Seribu Tahun,"


"Lalu?" tanya Ling Ling semakin penasaran.


"Karena dirimu sendiri,"


Ling Ling semakin tidak mengerti dengan ucapan Pendekar Tanpa Nama. Dia masih diam menunggu pemuda itu bicara lebih lanjut lagi.


"Saat pertama datang, kau sudah memandang wajahku lebih dulu. Padahal orang-orang yang saat itu ada di sana bukan hanya aku seorang. Lagi pula, saat itu posisiku berada di tengah-tengah orang-orang tersebut. Dan yang ada di paling pinggir adalah Mei Lan, cucu dari Huang Pangcu. Kalau dipikir lebih lanjut, hal ini justru ganjil. Kenapa kau justru memandangku lebih dulu? Kenapa bukan Mei Lan saja? Artinya, secara tidak langsung, hal tersebut menandakan bahwa kau mengenalku. Apalagi pancaran sinar matamu mengandung arti demikian,"


"Lanjutkan,"


"Lanjutkan,"


"Dan yang terkahir, saat kau akan pergi, kau memandangku untuk yang kedua kalinya. Bahkan pada saat itu kau justru memberikan senyuman hangat. Sehangat pancaran sinar matamu, sekarang kau mengerti bukan?"


Dewi Bunga Bwee mengangguk perlahan beberapa kali. Semua penjelasan Cakra Buana masuk akal, dia sendiri baru menyadari hal tersebut.


"Berarti aku sudah melakukan kesalahan?"


"Kurang lebih seperti itu,"


"Kalau aku tidak memandangmu terlebih dahulu, atau tidak melakukan seperti apa yang kau katakan barusan, apakah kau akan tetap dapat mengetahui?"


"Tentu saja,"


Wanita itu mengerutkan keningnya kembali. Dia semakin bertambah penasaran.

__ADS_1


"Dengan cara apa kau akan mengetahui bahwa nenek tua itu adalah aku?"


"Hati," jawab Cakra Buana singkat.


Jawaban yang sangat singkat. Sangat sederhana. Tapi juga sangat mengejutkan Dewi Bunga Sakura.


Jantungnya seketika berdetak semakin kencang. Pipinya kembali memerah.


Apa yang sedang dia rasakan saat ini? Pemuda itu hanya bicara sepatah kata, tapi kenapa yang sepatah kata justru malah membuatnya salah tingkah?


Apakah wanita selalu merasakan demikian jika seorang pria bicara seperti Cakra Buana barusan?


"Hati?" tanyanya sambil menegaskan.


"Benar," Cakra Buana mengangguk. "Hatiku pasti akan memberitahu bahwa itu adalah dirimu,"


Ling Ling kembali terdiam. Sepasang matanya langsung dialihkan memandang mega di atas sana. Tangan kanannya meraih rumput lalu dia tarik perlahan-lahan.


"Menurutmu, apakah rencana si Buta Yang Tahu Segalanya akan berhasil?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Seorang wanita, kalau sedang merasa malu, biasanya dia akan langsung mengalihkan pembicaraan. Entah apa tujuannya. Yang jelas, hal seperti ini sudah sering terjadi di muka bumi ini.


"Pasti berhasil," tegas Cakra Buana.


"Kau yakin?"


"Sangat yakin,"


"Kenapa?"


"Karena dia adalah sahabatku,"


Seorang sahabat sejati adalah dia yang selalu percaya kepada sahabatnya sendiri. Seperti apa yang dilakukan oleh Cakra Buana saat ini.


"Dia beruntung bisa mendapatkan sahabat sepertimu," kata Ling Ling sambil menghela nafas.


"Justru malah sebaliknya. Aku yang beruntung karena bisa menjadi sahabatnya," tukas Pendekar Tanpa Nama.


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena dia adalah sahabat yang tidak pernah mengecewakan sahabatnya sendiri,"

__ADS_1


Seorang sahabat terhebat adalah dia yang tidak pernah membuat sahabatnya kecewa. Meskipun itu hanya sedikit.


"Kau benar, sekali lagi aku keliru," keluh Sian-li Bwee Hua.


__ADS_2