Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Dua Puluh Tokoh Dunia Persilatan


__ADS_3

Si Kakek Kipas Badai tidak bicara lagi. Dia hanya melotot, sepasang matanya seperti mau keluar dari rongga kepalanya.


Pendekar Tanpa Nama mencabut Pedang Naga dan Harimau. Saat itu juga si Kakek Kipas Badai langsung ambruk ke tanah. Dia telah mampus. Mampus dengan perasaan takut yang tidak bisa dilukiskan lagi.


Suasana sepi kembali. Malam itu sunyi lagi. Semuanya hilang. Semuanya lenyap. Termasuk juga Pendekar Tanpa Nama. Pemuda itu sudah tidak lagi ada di sana. Entah ke mana perginya. Yang jelas, kepergiannya seperti setan yang mampu menghilang dalam sesaat saja.


Tidak berapa lama kemudian, sekelompok orang yang berjumlah sekitar dua puluhan mendadak muncul dari balik semak-semak. Pakaian mereka berbeda warna. Setiap orang mempunyai perbedaan dengan orang lainnya.


Wajahnya beda. Senjatanya berbeda. Julukannya juga berbeda. Tidak ada yang sama dari mereka semua.


Tentu saja, sebab dua puluh orang tersebut sejatinya bukanlah sebuah kelompok. Bukan pula sebuah murid perguruan. Mereka adalah tokoh dunia persilatan yang berdiri sendiri di jalannya masing-masing.


Orang-orang itu sebenarnya tidak pernah bersama seperti malam ini. Mereka juga tidak pernah sekompak ini.


Hanya saja, sekarang merupakan pengecualian. Orang-orang tersebut sudi bersatu karena mereka mempunyai satu tujuan. Tujuanh yang sama. Tekad yang sama pula.


Selain menginginkan kematian Pendekar Tanpa Nama, memangnya apa lagi yang mereka inginkan?


"Pemuda itu benar-benar berbahaya," kata seorang wanita tua. Usianya hampir mencapai tujuh puluhan, walaupun sudah setengah abad lebih, tetapi raut wajahnya masih bisa dibilang cantik. Kerutan di wajahnya juga tidak sebanyak orang-orang yang seusia dengannya.


"Dia memang berbahaya, karena itulah kita harus segera menghabisinya," jawab seorang pria yang paling pendek di antara yang lainnya.


Orang itu biasa disebut si Kerdil Secepat Kilat. Meskipun tubuhnya sedikit unik, tapi kemampuannya tidak bisa dipandang remeh. Si Kerdil Secepat Kilat bahkan disejajarkan sebagai tokoh kelas atas.


Semua orang-orang yang satu aliran dengannya merasa sedikit segan kepada orang kerdil itu.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya yang lainnya.


"Kita harus bisa menjebaknya. Sebentar lagi waktu untuk para tokoh berkumpul hampir tiba, saat itu kita harus bersatu untuk membunuhnya,"

__ADS_1


"Apakah waktu yang kau maksudkan itu hari di mana perebutan dua buah pusaka itu?" tanya si Kerdil Secepat Kilat kepada yang bicara barusan.


"Tentu saja, kalau bukan hari itu, memangnya hari apa lagi?" timpal orang tadi.


"Kita tidak bisa sembarangan bergerak. Aku dengar dia merupakan sahabat baik Huang Pangcu, semua orang tahu siapa dan bagaimana kekuatan tua bangka itu," ucap si nenek tua tadi yang mempunyai julukan Wanita Awet Muda.


Dua puluh tokoh kelas atas dunia persilatan yang ada di sana termenung untuk sesaat. Meskipun mereka aliran hitam, tapi mereka juga masih manusia.


Mereka sedang membayangkan suatu kejadian luar biasa jika benar hal yang mereka bicarakan terjadi nantinya.


Kalau sampai Huang Pangcu turun tangan membela Pendekar Tanpa Nama, sudah pasti tokoh kelas atas lainnya dari aliran putih juga tidak akan tinggal diam. Apalagi semua orang tahu bahwa Huang Pangcu merupakan salah satu datuk dunia persilatan.


"Kalian tenang saja. Masalah Huang Pangcu biar aku yang mengurusnya, aku yakin tua bangka itu masih memandangku. Asalkan kita bertindak sedikit jantan, dia pasti bisa mempertimbangkan segalanya," kata seorang kakek tua yang sejak tadi membungkam mulut.


Saat kakek tua itu bicara, tidak seorang pun ada yang membantahnya. Semua orang terdiam. Bahkan alam semesta juga seperti membungkam. Semuanya seperti tunduk. Wibawa kakek tua yang mempunyai postur tubuh kurus kering itu benar-benar mengagumkan.


Siapakah kakek tua itu? Apa kedudukannya dalam dunia persilatan? Kenapa pula puluhan tokoh yang hadir di sana terlihat sangat takut kepadanya?


Si kakek yang sangat berwibawa itu mengangguk sambil tertawa terbahak-bahak. Dia selalu bangga dengan apa yang telah dia capai hingga seperti sekarang ini.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya seorang tokoh lainnya.


"Bereskan mayat mereka," jawab si kakek tua sambil menunjuk ke arah mayat yang berserakan itu.


"Tapi kita tidak terlalu mengenal mereka,"


"Walaupun tidak kenal, tapi toh mereka masih satu aliran dengan kita,"


Setelah si kakek tua menegaskan demikian. Semua tokoh langsung terbungkam. Tidak ada yang bicara lagi di antara mereka.

__ADS_1


Serentak puluhan tokoh itu langsung membereskan mayat-mayat tersebut. Mereka membuat satu lubang besar lalu menguburkan semua mayat tersebut.


Setelah itu, dua puluhan tokoh kelas atas dunia persilatan tersebut langsung melesat pergi entah ke mana. Hanya sesaat, suasana di sana langsung hening seketika.


###


Saat ini pagi hari. Suasana alam di sekitar hutan masih asri. Semilir angin pagi bertiup sepoi-sepoi membelai tubuh. Decitan burung terdengar riang. Para warga mulai keluar untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.


Cakra Buana sedang berjalan seorang diri. Tubuhnya berada di antara kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di pasar yang ada di kota tersebut.


Tujuanya saat ini adalah mencari gedung Bulim Bengcu (pemimpin dunia persilatan). Pendekar Tanpa Nama baru menyadari bahwa dirinya sudah terlambat tiga hari dari waktu yang telah dijanjikan sebelumnya.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, Pendekar Tanpa Nama bersama Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya dan Huang Pangcu telah mengadakan perjanjian bahwa mereka akan bertemu seminggu kemudian di gedung Bulim Bengcu.


Sayangnya, entah bagaimana, Cakra Buana justru tiba-tiba sampai di Perguruan Rajawali Sakti tanpa disengaja. Lebih parahnya lagi, dia malah lupa bahwa dirinya telah mengadakan perjanjian sebelumnya.


Cakra Buana baru ingat setelah tiga hari kemudian, karena itulah, begitu dia teringat, Pendekar Tanpa Nama langsung mempunyai niat untuk segera mencari gedung Bulim Bengcu.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama dan menanyakan kepada orang-orang yang dia temui di jalanan, akhirnya Cakra Buana berhasil mengetahui letak gedung tujuannya tersebut.


Saat pemuda itu tiba di gedung Bulim Bengcu, waktu telah menunjukkan sore hari.


Cahaya merah memancar ke seluruh bumi. Hamparan rumput berubah warna menjadi sedikit kemerahan.


Suasana di sana masih ramai. Ternyata gedung Bulim Bengcu itu terletak di tengah-tengah perkotaan. Bangunannya sangat megah. Di kota tersebut, rasanya tidak ada lagi gedung yang melebihi megahnya Bulim Bengcu.


Seluruh bangunan itu diliputi oleh benteng yang tingginya hampir dua tombak. Benteng itu sangat kokoh. Sekokoh bangunan gedungnya sendiri.


Puluhan penjaga berdiri di tempatnya masing-masing. Seluruh tempat di gedung Bulim Bengcu ini dijaga ketat oleh para penjaga tersebut.

__ADS_1


Penjaga yang ada di sini bukan penjaga sembarangan. Semuanya merupakan orang-orang pilihan. Bahkan kalau diceritakan lebih jauh lagi, puluhan penjaga itu setara dengan pendekar kelas satu dunia persilatan.


Cakra Buana berjalan santai. Dia berdiri di depan pintu gerbang gedung tersebut. Empat orang penjaga langsung menghadang langkah kakinya.


__ADS_2