Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Perubahan


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama dan semua sahabatnya sedikit terkejut melihat semua kenyataan ini. Dua datuk yang sebelumnya bicara penuh dengan nada sombong dan angkuh, kenapa sekarang mereka tiba-tiba bicara serendah itu? Apa yang membuat mereka berubah menjadi demikian? Apakah karena kekalahan yang baru saja mereka terima? Ataukah karena hal lainnya?


Tiada seorangpun yang dapat mengetahui secara pasti. Namun yang jelas, para tokoh kelas atas dari golongan putih dan merdeka itu merasa sangat bersyukur karena perubahan datuk tersebut.


Tiang Bengcu mengangguk, tidak lupa juga dengan senyuman hangat yang selalu menghiasi mulutnya.


"Baiklah kalau begitu. Harap saudara sekalian dengarkan baik-baik, sebenarnya benda pusaka yang dikabarkan itu tidak ada di sini. Benda pusaka tersebut hanyalah sebuah isapan jempol belaka. Kalau pun ada, bukan merupakan benda pusaka asli seperti apa yang sudah kalian duga. Benda pusaka itu palsu. Hanya barang tiruan, itupun sampai sekarang belum diketahui pasti di mana senjata asli tersebut," ujar Tiang Bengcu mulai menjelaskan kepada seluruh tokoh hang hadir dengan penuh keseriusan.


"Bengcu, maaf sebelumnya, kalau benar benda pusaka yang sedang kita perebutkan adalah barang palsu, lantas di mana yang aslinya?" tanya Ming Tian Bao si Raja racun Tiada Obat.


Suaranya dalam, tapi dari suara itu dapat diketahui jelas bahwa dia pun mulai berubah. Tidak angkuh seperti sebelumnya.


Ekspresi wajahnya menggambarkan rasa penasaran yang mendalam. Begitu juga dengan para tokoh lainnya.


"Benda pusaka yang asli memang benar ada. Tapi keberadaannya sendiri entah berada di mana. Cuma yang pasti, benda pusaka yang dikabarkan di sini merupakan barang palsu,"


"Barang palsu? Siapa yang sudah membuat barang palsu itu?" tanya kakek tua itu lebih lanjut lagi.


Tiang Bengcu si Naga Kebenaran Dari Nirwana tidak menjawab dengan segera, dia melirik kepada Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya sambil tersenyum.


Pemuda serba putih itu seakan mengerti maksud dari sang Bengcu, dia tersenyum hangat sambil mengangguk perlahan. Li Guan segera melangkah berjalan ke depan.


Cara berjalannya masih sama. Masih tenang dan santai. Dia berhenti tepat pada saat berada di pinggir Tiang Bengcu.


"Terkait masalah itu, untuk lebih jelasnya lagi, silahkan kalian tanyakan saja kepada sahabatku Li Guan ini. Dia lebih tahu dari pada aku sendiri," katanya sambil menepuk pelan pundak si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Kenapa harus bertanya kepadanya?" tanya si Ruyung Halilintar.


"Karena dia adalah si Buta Yang Tahu Segalanya,"


Pemuda yang merupakan generasi ketiga dari Pendekar Tanpa Nama itu hanya melemparkan senyuman, dia kembali melangkah satu langkah ke depan.


"Apakah Tuan Li bisa menjelaskan terkait persoalan barusan?" sela Tian Hoa yang mempunyai julukan Iblis Tua Langit Bumi.

__ADS_1


Si Buta Yang Tahu Segalanya hanya mengangguk tanda mengiyakan.


"Kalau begitu, tolong ceritakan dengan detail," pintanya.


Semua tokoh mengangguk tanda setuju. Mereka pun ingin mengetahui persoalan yang sebenarnya. Sepertinya orang-orang tersebut mulai tertarik dan mulai percaya akan ucapan Tiang Bengcu.


"Yang telah membuat benda pusaka palsu itu adalah anggota Organisasi Naga Terbang,"


"Organisasi Naga Terbang?" tanya datuk Timur dan datuk Utara hampir secara bersamaan.


"Benar. Kalian pasti tidak akan pernah mendengar namanya. Sebab organisasi tersebut sangat rahasia. Lebih rahasia dari mata-mata Kerajaan sendiri," jelas Li Guan.


"Kalau begitu, kenapa Tuan Li bisa tahu?" tanya si Pedang Kelam kembali.


"Karena aku si Buta Yang Tahu Segalanya,"


Orang yang selalu dingin itu seketika terdiam. Meskipun jawaban pemuda tersebut kurang memuaskan, namun siapapun bakal mengerti maksud dari ucapannya.


"Organisasi Naga Terbang sengaja menyebarkan berita tentang adanya benda pusaka di tempat ini pada beberapa bulan yang lalu. Jauh sebelum pertemuan sekarang terjadi, mereka sudah menyiapkan segala langkah. Oleh sebab itulah semua rencananya berjalan dengan mulus,"


"Mereka ingin mengadu domba kita menggunakan berbagai macam persoalan dengan meminjam nama orang atau nama suatu perkumpulan, organisasi, bahkan perguruan. Tujuannya agar kita menjadi bermusuhan, bahkan dengan rekan sejalan sekalipun,"


"Apa tujuan mereka sebenarnya?" tanya Tian Hoa.


"Mereka ingin menguasai dunia persilatan Tionggoan ini,"


"Memangnya mereka berasal dari mana?"


"Sebagian dari mereka berasa dari Tibet dan orang-orang suku yang ada di dekat daratan tengah ini,"


"Hemm, berapa jumlah Organisasi Naga Terbang itu?"


"Tujuh orang,"

__ADS_1


Semua orang langsung melotot tak percaya. Mereka semua terkejut hingga tanpa sadar matanya melotot seperti ingin keluar dan mulutnya hampir membentuk huruf O.


Jangankan para tokoh kelas atas, bahkan tiga datuk dunia persilatan sekalipun tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya barusan.


Sayangnya untuk saat ini orang-orang tersebut mau tak mau harus percaya. Sebab siapapun dapat melihat bahwa wajah pemuda tampan yang biasa memakai pakaian serba putih itu sedikitpun tidak memperlihatkan ekspresi bercanda.


Dia serius. Bahkan sangat serius.


"Tujuh orang ingin menghancurkan dunia persilatan Tionggoan? Hahaha … memangnya mereka siapa? Dengan jumlah kita yang jauh lebih banyak ini, rasanya mustahil kalau kita tidak bisa mengalahkannya," kata seorang tokoh kelas atas lalu kemudian tertawa dengan sangat lantang.


"Organisasi Naga Terbang berbeda dengan organisasi lainnya. Jumlah kita memang lebih banyak, tapi kekuatan mereka jauh lebih hebat. Setiap orang-orangnya mempunyai ilmu silat yang sudah tidak terukur," tegas si Buta Yang Tahu Segalanya.


Orang tadi langsung memandangi Li Guan dengan tatapan penuh selidik. Dia merasa sangsi dengan ucapan pemuda itu.


"Kau pasti berbohong," bentaknya.


"Aku tidak suka berbohong. Lagi pula tidak ada untungnya kalau aku bohong kepada kalian,"


"Hemm …" orang tersebut hanya mendengus perlahan.


Dia tidak berani membuka mulutnya lagi, sebab pada saat itu ada Huang Pangcu yang sedang melotot garang kepadanya.


"Apakah kami para datuk juga masih belum cukup untuk menghadapi tujuh anggota Organisasi Naga Terbang?" tanya Poh Kuan Tao.


"Kalau satu persatu, tujuh puluh lima persen bisa menang. Tapi kalau bertempur dengan jumlah yang langsung banyak, aku tidak berani menjamin bahwa kita bakal menang,"


"Sehebat itukah jurus-jurus anggota Organisasi Naga Terbang?"


"Bahkan mungkin jauh lebih hebat lagi dari apa yang sudah aku perkirakan," tegas si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Hemm, seperti keadaan dunia persilatan sedang dilanda guncangan dahsyat," gumam Ming Tian Bao.


"Memang benar seperti itu. Dan pergerakan mereka sangat patut diacungi jempol. Seumur hidup, aku jamin kalian tidak akan menemukan kejadian seperti ini lagi. Mereka menyebarkan propaganda agar dengan mudah bisa mencapai tujuannya,"

__ADS_1


"Jadi sebenarnya banyak kejadian yang terjadi di tanah air kita serta kematian tokoh aliran hitam maupun putih, sebenarnya perbuatan mereka? Hanya saja mereka meminjam tangan orang lain?" tanya Tian Hoa dengan kening berkerut.


"Benar, memang itu yang terjadi," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.


__ADS_2