Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Huang Mei Lan Terpukau


__ADS_3

Enam orang tersebut merasa tercekat. Mereka memandangi seorang pendekar berjubah merah yang memakai caping dari anyaman bambu tersebut. Wajahnya tertutup karena caping itu lebar.


Namun meskipun begitu, sosok berjubah merah itu justru malah terlihat semakin angker. Aura kematian yang keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya terasa pekat.


Sebagai pendekar kelas satu dunia persilatan, orang-orang itu jelas mempunyai banyak pengalaman dan pengetahuan.


Hawa kematian yang teramat pekat biasanya hanya berasal dari tubuh para pendekar yang telah membunuh nyawa banyak orang. Yang mempunyai aura seperti itu biasanya adalah mereka para tokoh kelas atas rimba hijau.


Semakin banyak nyawa manusia yang dicabut olehnya, maka semakin pekat juga hawa kematian yang bisa dikeluarkannya. Sedangkan untuk pendekar berjubah merah itu, hawa kematian yang tercipta terasa sangat-sangat pekat sekali.


Kalau begitu, lantas berapa banyak manusia yang telah tewas di tangannya?


"Siapa kau sebenarnya?" tanya salah seorang di antara mereka setelah sekian lama terdiam.


Cakra Buana tersenyum sinis. Dia mengangkat caping lebar yang dipakai olehnya secara perlahan.


"Bukankah kau mencari Pendekar Tanpa Nama dan ingin membunuhnya? Sekarang orang itu sudah ada di hadapan kalian," ujarnya dingin.


"Maksudmu?"


"Apakah maksudku kurang jelas? Akulah orang yang kalian cari. Akulah Pendekar Tanpa Nama,"


Enam orang tersebut terkejut setengah mati. Tanpa sadar mereka terperanjat. Masing-masing dari mereka juga memundurkan diri satu langkah ke belakang.


"Kenapa? Apakah kalian terkejut? Atau takut? Hemm, percuma saja. Kalian tidak akan bisa kabur dari sini," tegas Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum sinis.


Huang Mei Lan terbengong memandangi apa yang sekarang sedang terjadi di depannya. Gadis itu tidak menyangka sama sekali bahwa pemuda yang mendampingi dirinya, ternyata benar-benar ditakuti oleh orang-orang kalangan dunia persilatan.


"Sombong. Kata siapa kami takut kepadamu? Sedikitpun tidak takut. Jadi jangan merasa terlalu percaya diri," katanya setelah mengumpulkan keberanian.


"Bagus. Memang itu yang aku inginkan, kalau begitu, sekarang kita bertarung sampai ada yang mampus,"


Enam orang itu saling pandang. Mereka sedikit ragu setelah ditantang demikian. Jumlahnya memang jauh lebih banyak, namun jika bicara tentang kekuatan, benarkah mereka lebih unggul?


Orang tua berpakaian kuning terang maju satu langkah ke belakang. Dia adalah orang terkuat di antara lima orang lainnya. Usianya merupakan yang paling tua, namun meskipun begitu, kemampuannya jangan diragukan lagi.


Orang tua itu merupakan pendekar pedang. Julukannya Pendekar Pedang Hitam.


Orang-orang dunia persilatan yang seangkatan dengannya, pasti pernah mendengar kebesaran dan ketenaran namanya.


"Kalau kau menjual, maka terpaksa kami akan membeli. Siapa yang ingin kau lawan lebih dulu?" tanya Pendekar Pedang Hitam berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Semuanya," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan singkat.


"Semuanya?" Pendekar Pedang Hitam tampak ragu untuk sesaat.


Benarkah pemuda itu ingin melawan mereka berenam sekaligus? Benarkah kemampuannya sudah sangat tinggi sehingga dia mampu berkata angkuh?


"Benar, semuanya,"


"Kau yakin?"


"Aku tidak pernah ragu atas apa yang aku ucapkan,"


"Baik. Kalau begitu, kita mulai …"


Wushh!!!


Pendekar Pedang Hitam langsung menyerang menggunakan pedang pusaka miliknya. Begitu juga dengan lima orang lainnya.


Kalau menyerang secara seorang-seorang, mereka memang merasa jeri kepada Pendekar Tanpa Nama. Apalagi kalau bicara tentang kelihaiannya dalam bermain pedang. Tapi kalau disuruh menyerang secara bersamaan, maka ceritanya beda lagi.


Lima batang senjata tajam telah menembus udara hampa. Huang Mei Lan telah berada di pinggir arena untuk menyaksikan pertarungan yang akan berlangsung dengan dahsyat tersebut.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Nama memandangi satu persatu serangan dari masing-masing lawannya.


Trangg!!!


Cahaya merah pekat mendadak terlihat. Pedang Naga dan Harimau langsung menunjukkan taringnya saat itu juga. Tanpa banyak menunda waktu lebih lama, pedang itu segera bergerak membalas serangan yang diberikan oleh semua lawan.


Dentingan nyaring terdengar sangat keras. Percikan cahaya api membumbung tinggi ke udara.


Seorang di antara lawan Pendekar Tanpa Nama memberikan tusukan hebat dan cepat yang mengarah ke dadanya.


Serangan itu amat ganas dan keji. Sebab di dalamnya terkandung hawa kegelapan yang mengandung racun tingkat tinggi.


Kalau lawannya orang lain, mungkin dia sudah ketakutan. Untungnya yang diserang adalah Pendekar Tanpa Nama. Gerakan yang diperlihtkan oleh pemuda lebih cepat dari datangnya serangan lawan.


Wushh!!! Crashh!!!


Darah segar menyembur lalu menciprat ke segala arah. Satu orang lawan Cakra Buana telah mampus karena lehernya hampir putus.

__ADS_1


Lima orang lainnya kaget. Mereka tidak melihat bagaimana pemuda itu melancarkan serangan. Yang mereka lihat hanyalah cahaya merah berkelebat satu kali.


Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti dalam melancarkan serangannya. Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang telah dia keluarkan dengan pengerahan delapan bagian tenaga dalam.


Wushh!!!


Lima orang lawan Pendekar Tanpa Nama langsung merasa kewalahan. Telinga mereka sedikit terganggu karena selalu mendengar ledakan halilintar.


Dalam pandangan orang-orang itu, mereka merasa seakan dikejar-kejar oleh halilintar. Ke mana pun mereka pergi, ke situ pula halilintar menyambar.


Trangg!!! Trangg!!!


Benturan senjata keras terjadi lagi. Dua orang lawan Pendekar Tanpa Nama menjadi sasaran utama. Keduanya bersatu padu untuk membalas semua serangan pemuda itu. Masing-masing senjatanya bergerak, tubuhnya dimiringkan sehingga tercipta satu serangan hebat.


Wushh!!! Slebb!!!


Ujung Pedang Naga dan Harimau telah menusuk ke dalam jantung seorang lawan. Orang itu langsung ambruk ke tanah saat pedang pusaka itu di cabut.


Satu orang lainnya merasa semakin ngeri melihat sepak terjang Pendekar Tanpa Nama. Bagaimana tidak, lawannya terbunuh hanya dalam beberapa belas jurus saja. Padahal dia tahu sampai di mana tingginya kemampuan rekannya tersebut.


Pedang Naga dan Harimau mendadak dimiringkan. Tubuh Cakra Buana doyong ke depan. Satu serangan yang amat cepat dan dahsyat dilancarkan.


Slebb!!!


Pedang itu kembali menelan korban. Satu nyawa kembali melayang. Pusaka legenda tersebut menembus tenggorokan lawannya dengan telak.


Tiga nyawa melayang. Tinggal tiga orang lain yang tersisa.


Pertarungan semakin lama semakin dahsyat. Selama ini, Pendekar Tanpa Nama selalu berada dalam posisi menyerang dengan ganas. Sedikitpun dia tidak pernah memundurkan dirinya.


Sekalipun semua lawannya selalu menyerang secara bersamaan, tapi pemuda itu tidak pernah takut. Dia selalu bisa membebaskan dirinya dari kurungan serangan lawan.


Trangg!!!


Tiga orang lawan Pendekar Tanpa Nama yang tersisa terdorong delapan langkah ke belakang.


Suasana mendadak hening. Orang yang baru saja beradu senjatanya terbengong setengah mati. Seumur hidupnya, dia baru merasakan kejadian seperti barusan.


Sepanjang jalannya pertarungan, Huang Mei Lan memperhatikan tanpa berkedip sedikitpun. Gadis itu amat terpukau, dia amat sangat kagum. Terlebih lagi kepada sepak terjang Pendekar Tanpa Nama.


Selama berpetualang bersama, baru kali ini dia melihat bagaimana kemampuan pemuda Tanah Pasundan itu.

__ADS_1


__ADS_2