Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kabar Buruk


__ADS_3

Hari sudah pagi.


Sinar mentari menyorot ke bumi dengan lemah lembut. Cahaya keemasan membuat segala yang ada di muka bumi tampak bersinar indah.


Embun masih menetes dari dedaunan jatuh ke tanah. Suara cicit burung terdengar merdu dan ramai. Mereka menyambut pagi ini dengan riang.


Semua kedai yang ada di kawasan Gunung Hua Sun sudah buka. Orang-orang dari berbagai macam kalangan sudah memenuhi kedai-kedai tersebut.


Setiap pendekar telah melangsungkan sarapan pagi bersama rekannya masing-masing.


Pagi ini sangat cerah. Semua orang menyambut dengan gembira.


Tapi hal itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang merupakan orang awam. Sedangkan bagi para pendekar justru malah sebaliknya.


Mereka merasa pagi ini sangat suram. Sesuram dunia persilatan saat ini. Mereka pun merasa kelam. Sekelam bencana yang mulai melanda ke rimba hijau.


Di sebuah kedai, Cakra Buana sudah berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang lain.


Mereka adalah Huang Pangcu, Orang Tua Menyebalkan, Nenek Tua Bungkuk, Mei Lan, Liu Bing, Cio Hong, Tiang Bengcu dan tentunya si Buta Yang Tahu Segalanya.


Semua tokoh itu bertemu belum lama ini, semuanya membawa kabar masing-masing yang mereka dapatkan setelah melakukan penyelidikan di seluruh kawasan Gunung Hua Sun.


Tapi dari semua kabar yang didapat tersebut, kabar yang paling menggemparkan adalah kabar yang dibawa oleh Tiang Bengcu, Huang Pangcu dan si Buta Yang Tahu Segalanya.


Ketiga orang tersebut membawa kabar yang hampir sama. Yaitu kabar yang tidak baik. Kabar buruk. Setiap kabar dari mereka mampu membuat amarah dalam tubuh langsung bergolak seketika.


Suasana di meja makan orang-orang itu hening. Siapapun tidak ada yang bicara. Mereka sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing. Orang-orang itu sedang tenggelam bersama angan-angannya sendiri.


"Apakah yang kau katakan itu benar adanya?" tanya Huang Pangcu kepada si Buta Yang Tahu Segalanya.

__ADS_1


Saat bertanya demikian, ekspresi Huang Pangcu benar-benar serius. Selama bersama, belum pernah sahabat-sahabatnya melihat ekspresinya yang seserius itu. Sepasang matanya menatap tajam kepada pemuda tersebut.


"Untuk apa aku berbohong? Kalau tidak percaya, coba saja tanyakan kepada dia sendiri," jawab Li Guan sambil melirik kepada Cakra Buana.


"Apakah kau bicara yang sebenarnya?" tanya si kakek tua itu kepada Cakra Buana.


"Aku bicara sejujurnya. Benda pusaka itu tidak ada padaku. Lagi pula, benda pusaka yang konon katanya berada di sini hanyalah kabar bohong belaka. Benda pusaka itu barang palsu. Sedangkan yang asli ada di tempat lain," kata Pendekar Tanpa Nama dengan ekspresi wajah yang tidak kalah seriusnya.


"Bagaimana bisa begitu?" tanyanya lebih lanjut.


"Karena yang sebenarnya memang seperti itu. Organisasi Naga Terbang sengaja memancing semua tokoh persilatan kemari hanya untuk diadu domba. Akan rasa kau juga tahu akan hal itu. Dan aku yang dikambing hitamkan oleh mereka. Aku yang menjadi sasaran, mereka menyangka bahwa kedua benda pusaka itu berada padaku. Padahal aku sendiri tidak tahu, sampai sekarang, barang palsu tersebut entah berada di tangan siapa,"


"Tapi barang yang asli bagaimana?"


Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam sebelum dia menjawab pertanyaan Huang Pangcu tersebut. Setelah merasa sedikit tenang, baru kemudian pemuda itu menjawabnya.


"Benda pusaka yang satu sudah berhasil aku miliki. Aku sudah minum air rebusan Ginseng Seribu Tahun. Tapi untuk kitab pusaka itu, aku sendiri tidak berhasil menemukannya,"


Hanya saja yang menjadi pertanyaan sekarang adalah di mana kitab pusaka itu? Dan di tangan siapa pula barang palsu tersebut?


"Kita sampingkan dulu masalah itu. Selama sahabat kita ini sudah berhasil mencapai tujuannya, aku rasa semuanya bisa dihadapi dengan mudah. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana agar semua orang percaya bahwa benda pusaka yang mereka rebutkan adalah barang palsu? Selain itu, bagaimana pula membuat mereka percaya bahwa kedua benda itu tidak ada di tangan Pendekar Tanpa Nama?" tanya Tiang Bengcu tiba-tiba angkat suara setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan saja.


"Aku rasa hal ini menjadi urusan yang sangat sulit. Apalagi tidak semua pendekar berada di jalan yang sama," kata Cio Hong, maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti sambil menghela nafas.


"Benar, hal ini tentunya sangat sulit. Mereka tidak mungkin percaya terhadap apa yang kita ucapkan," ucap Orang Tua Menyebalkan ikut nimbrung.


Semua orang turut menganggukkan kepalanya pula. Untuk menyampaikan sesuatu terhadap orang yang berbeda aliran, pastinya hal itu sangat sulit. Apalagi jika kita tidak mempunyai bukti sama sekali.


"Kalian tenang saja. Aku mempunyai cara tersendiri untuk keluar dari masalah ini," kata Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya dengan tenang.

__ADS_1


"Rencana apa yang kau maksudkan?" tanya Huang Pangcu penuh rasa penasaran.


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Yang jelas, aku ingin meminta bantuan kepada kalian,"


"Kami siap membantu," tegas Huang Pangcu dengan serius.


"Tolong sampaikan kepada semua pendekar yang hadir kemari agar mereka mau berkumpul di padang rumput Gunung Hua Sun,"


"Kapan waktunya?" sela Nenek Tua Bungkuk.


"Saat bulan purnama nanti,"


Bulan purnama tidak lama lagi akan muncul. Menurut perhitungan, sekitar tiga harian lagi waktu itu akan segera tiba. Oleh sebab itulah semua orang yang ada di sana mengangguk sebagai tanda setuju.


Pada saat demikian, tiba-tiba saja ada seorang nenek tua yang menghampiri Pendekar Tanpa Nama dan yang lainnya. Nenek tua itu setengah bungkuk. Dia pun berjalan dengan terbungkuk-bungkuk, di tangan kanannya ada sebatang tongkat yang terbuat dari kayu hitam.


Wajahnya sudah penuh oleh keriput. Rambutnya disanggul, rambut itu hampir putih seluruhnya. Pakaiannya kumal, dia datang sambil melirik ke arah Pendekar Tanpa Nama.


"Lakukan saja apa yang sudah dikatakan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya. Masalah para pendekar itu akan percaya atau tidak, yakinlah bahwa mereka bakal percaya," kata nenek tua tersebut secara tiba-tiba.


Semua orang menatapnya curiga. Tapi tidak ada yang bicara di antara mereka, semuanya mengunci mulut.


"Baik Nek, terimakasih atas saranmu," jawab Cakra Buana sambil tersenyum ke arahnya.


Si nenek tua juga tersenyum. Deretan giginya sedikit terlihat. Meskipun sudah tua, tapi senyumannya masih manis. Senyuman itu masih anggun. Dan yang terpenting, senyuman tersebut ditujukan kepada Pendekar Tanpa Nama.


Tanpa berkata apapun lagi, si nenek tua yang aneh dan misterius itu langsung pergi begitu saja.


Siapa nenek tua itu sebenarnya? Dari mana asalnya dan siapa pula namanya?

__ADS_1


Tiada yang tahu akan hal tersebut. Semua orang yang hadir di sana merasa asing kepada nenek tua itu. Semuanya menampilkan ekspresi wajah yang sama, kecuali itu hanya ekspresi wajah Cakra Buana saja yang terlihat berbeda.


Ekspresi wajah pemuda itu tampak tenang dan santai. Sedikitpun tidak memperlihatkan rasa penasaran terhadap siapakah sosok tua tadi.


__ADS_2