Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Menolong Seorang Gadis


__ADS_3

Batu saja Cakra Buana berkata demikian, bahkan lidahnya juga belum kering, terlihat beberapa tombak dari depan sana, delapan orang berwajah angker sedang berjalan mendekat ke arahnya.


Mereka berjalan seperti lambat. Jalannya juga terkesan berat. Seolah setiap mereka melangkah, bumi bergetar oleh keangkuhannya. Tapi dalam waktu singkat sudah hampir tiba di depannya.


Hanya melihat dari sini saja, Pendekar Tanpa Nama dapat membaca bahwa mereka tentu bukan orang-orang sembarangan. Bisa saja orang-orang itu merupakan tokoh kelas dua atau bahkan kelas satu dunia persilatan. Tapi ini baru perkiraan, entah pada kenyataannya nanti.


Gadis yang tadi menghampirinya sangat terkejut setengah mati. Tanpa sadar, dia langsung menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Cakra Buana.


Ujung pakaian Cakra Buana bahkan sampai dia pegang erat dan digulung-gulung di jari telunjuknya. Wajahnya sedikit pucat.


Keringat panas dan keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Sepertinya gadis itu mempunyai masalah yang lumayan rumit. Sehingga dia sampai begitu ketakutan seperti melihat hantu gentayangan.


Delapan orang tersebut berhenti sekitar jarak satu tombak di depan Cakra Buana. Mereka tidak langsung bicara. Orang-orang tersebut justru malah memandangnya dengan sinis dan terkesan merendahkan.


Pemuda Tanah Pasundan itu juga tidak mau bicara. Toh dia merasa tidak pernah bertemu dan tidak pernah mempunyai masalah dengan mereka.


Dia tidak takut. Karena, untuk apa pula harus harus takut?


"Siapa kau?" tanya salah seorang kepada Pendekar Tanpa Nama.


"Untuk apa kalian menanyakan namaku?"


"Hemm, apa hubunganmu dengan gadis itu?" tanyanya sambil menunjuk gadis yang ada di belakang Cakra Buana.


"Tidak ada hubungan apapun. Bahkan bertemu pun baru kali ini saja,"


"Kenapa dia bisa begitu dekat denganmu?"


"Entahlah. Mungkin dia merasa ketakutan karena melihat kalian,"


Pemuda itu bicara dengan tenang dan santai. Menghadapi orang-orang seperti mereka, harus tidak panik sedikitpun. Apapun yang terjadi, dalam situasi bagaimanapun, diharuskan menghadapinya dengan ketenangan.


"Karena tampang kami seram?"


"Mungkin," jawab Cakra Buana.


Dia kemudian mengambil guci arak lalu meminumnya dengan perlahan.


"Siapa suruh minum arak?" bentak seseorang.


"Mulutku yang memintanya. Memangnya kenapa?"


"Saat bicara dengan kami, kau harus sopan. Tahu?"


"Memangnya kalian siapa? Kaisar? Raja? Atau siapa? Sebenarnya kalian mempunyai masalah dengan gadis ini atau denganku? Kenapa malah marah-marah tidak karuan,"


Ditanya seperti itu, delapan orang tersebut langsung membungkam mulutnya. Meraka terlihat geram menyaksikan ada seorang pemuda yang berani lancang kepadanya.

__ADS_1


"Serahkan gadis itu!!!"


"Kalau dia mau, silahkan saja,"


Seseorang kemudian menarik paksa si gadis. Tapi dengan cepat dia menarik diri ke belakang.


"Tuan, tolong aku Tuan. Aku tidak mau ikut dengan mereka," ujar si gadis tampak ketakutan.


"Kau tenang saja. Selama ada aku, mereka tidak akan bisa menyentuhmu,"


Walaupun perkataan Cakra Buana diucapkan pelan, namun karena jarak mereka berdekatan, alhasil delapan orang tersebut dapat mendengarnya dengan jelas.


"Sombong sekali ucapanmu. Kau kira kau siapa?"


"Pemuda tampan dan mempesona," jawab Cakra Buana seenaknya.


Pengaruh arak sudah mulai mempengaruhi dirinya. Sehingga saat bicara pun, wajahnya sedikit memerah dan matanya sayu.


"Bangsat. Cepat serahkan gadis itu kepada kami,"


"Kalau aku tidak mau?"


"Kau cari mampus,"


Selesai berkata, seorang rekannya langsung melayangkan pukulan yang cepat dan bertenaga ke arah Pendekar Tanpa Nama.


"Aku sarankan supaya kalian pergi dan jangan mencari masalah denganku. Jangan merusak suasana hatiku yang sedang tentram," ucap Cakra Buana lali meneguk kembali guci arak.


Delapan orang tersebut adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan tindak kriminal. Mereka terbiasa hidup dengan kekerasaan. Mendengar perkataan pemuda yang ada di hadapannya saat ini, tentu saja amarah mereka segera berkobar hebat.


"Bagus. Kau punya nyali juga ternyata. Terima kembali pukulanku,"


Orang yang melayangkan pukulan sebelumnya, kini sudah menyerang lagi. Dua kepalan tangan yang kekar dan penuh tenaga kembali menghantam wajah Pendekar Tanpa Nama.


Empat pukulan beruntun meluncur dengan deras mengincarnya. Sayang, pemuda yang mereka hadapi bukanlah pemuda sembarangan. Sehingga meskipun sudah menyerang beberapa jurus, tetap saja usahanya sia-sia belaka.


Bahkan pemuda yang diincarnya masih berdiri dengan tenang. Kadang sesekali dia meneguk guci arak. Setiap pukulan yang dilancarkan berhasil dihindari dengan mudah tanpa menggeser kakinya sedikitpun.


"Siapa kau sebenarnya?" tanah seorang lainnya yang tampak lebih kesal.


"Aku? Aku adalah pria yang tidak suka melihat pria lain memaksa seorang gadis," jawab Cakra Buana sambil tersenyum bodoh.


"Omong kosong …"


Wushh!!!


Seorang menyerang sekuat tenaga. Pukulannya ini dua kali lebih berat daripada sebelumnya. Orangnya berbeda, tenaga pukulannya juga berbeda.

__ADS_1


Cakra Buana tidak terkejut. Dia justru malah cengar-cengir tak berdosa. Wajahnya polos biadab.


Plakk!!!


Entah bagaimana dia mampu melakukannya, tapi yang jelas, sebelum pukulan orang tadi mengenai wajahnya, tangan kiri pemuda itu lebih dulu menampar.


Gambar lima jari masih membekas di pipi orang tersebut.


Sekarang yang marah bukan hanya dirinya saja. Melainkan rekannya yang lain juga sama.


Mereka menerjang satu persatu ke arah Cakra Buana. Sepertinya sekarang mereka berlaku lebih serius lagi.


Gadis yang bersembunyi di belakangnya mundur beberapa langkah ke belakang.


Pemuda itu segera melayani orang-orang berangasan tersebut. Tangan kanan masih memegang guci arak. Dia meladeni orang-orang tersebut hanya dengan tangan kiri saja.


Karena menurutnya, delapan orang itu ternyata tidak lebih hanya pendekar kelas dua. Pendekar rendahan yang bisanya hanya bermodalkan tampang seram saja.


Tong kosong nyaring bunyinya.


Plakk!! Plakk!!!


Masing-masing dari orang-orang tersebut terkena tamparan yang cukup keras dari Pendekar Tanpa Nama. Setiap orang mendapatkan jatah yang sama. Satu orang, satu tamparan.


Mereka langsung tertegun. Serangan yang dilancarkan segenap kemampuan, ternyata bisa dipatahkan dengan begitu mudah.


Delapan orang itu sekarang justru sedang memegangi pipinya yang terasa sakit dan perih. Pipi mereka membengkak.


"Lebih baik kalian kembali dan laporkan kepada orang yang sudah menyuruh kalian. Katakan kepadanya bahwa gadis itu tidak mau ikut," kata Cakra Buana acuh tak acuh.


Tanpa banyak berkata lagi, delapan orang tersebut segera lari terbirit-birit seperti dikejar hantu gentayangan.


Angin berhembus lirih menerpa tubuh. Harum bunga terbawa oleh hembusan angin di hari yang cerah.


Si gadis yang tadi selalu bersembunyi karena ketakutan, kini sudah kembali ke pinggir Cakra Buana.


"Terimakasih karena Tuan sudah menolongku," katanya dengan mata yang memancarkan sinar lain.


"Tidak perlu sungkan. Membantu itu sudah menjadi kewajiban,"


"Sebenarnya kau sedang mempunyai masalah apa?" tanya Cakra Buana lebih lanjut.


Gadis tersebut mau menjawab, tapi sebelum itu, perutnya berbunyi. Seketika dia merasa malu. Kedua pipinya sedikit memerah dan tangan kanannya memegang bagian perut.


Cakra Buana tertawa dibuatnya. Gadis itu juga tertawa, tawa yang penuh rasa malu.


"Ayo kita cari tempat makan," kata pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2