
Cakra Buana berjalan dengan santai di tengah para warga desa yang berlalu-lalang di tengah pasar.
Pasar itu sangat ramai. Para warga yang berprofesi sebagai pedagang berteriak menjajakan barang dagangan. Bau harum sayur yang hangat dan teh yang harum, menusuk hidung Pendekar Tanpa Nama.
Tumpukkan sayur segar dan tumpukkan beras di kanan kiri menjadi pemandangan yang dia lihat selama berjalan di tengah pasar itu.
Tiba-tiba Cakra Buana merasa ada orang yang melemparkan batu ke arahnya tepat mengenai punggung. Cakra Buana membalikkan badan, dia langsung mengejar orang tersebut.
Setelah beberapa saat, akhirnya pemuda itu berhasil dia kejar. Sayangnya Cakra Buana tidak bisa berlaku lebih jauh lagi, sebab orang yang melempar batu tadi telah masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang ada di sana.
Plakk!!!
Sambaran angin tajam dan tamparan dengan telak mengenai pipi kanannya.
Bukk!!!
Tendangan dari arah belakang mengenai punggungnya. Hampir saja dia jatuh terhuyung.
Siapa yang melakukan serangan gelap barusan? Apakah mereka tidak sengaja? Atau, mereka memang sengaja? Apa tujuan mereka sebenarnya?
Cakra Buana tidak dapat melakukan apa-apa. Dia harus mencari tahu siapa pelaku yang sebenarnya.
Pemuda Tanah Pasundan itu memilih untuk berjalan kembali. Tapi sekarang dirinya berada dalam kesiapan yang benar-benar siap. Seluruh indera tubuhnya dia pasang dengan baik.
Wushh!!!
Desiran angin tajam kembali berhembus lewat di belakangnya. Cakra Buana memiringkan tubuh sedikit.
Crapp!!!
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya berhasil menangkap sebuah sesuatu.
Sebuah surat. Sebuah surat bersampul biru telah tertangkap oleh kedua jarinya. Cakra Buana segera menyingkir dari keramaian. Dia membuka surat tersebut dan ingin mengetahui apa isinya.
"Tengah malam nanti, di dekat danau di desa ini,"
Hanya tulisan itu saja yang tertulis. Tidak ada siapa pengirimnya. Tidak ada pula siapa tujuannnya. Yang ada hanyalah bercak darah di bawah tulisan tersebut.
'Siapa dan apa tujuan mereka memberikan surat ini kepadaku?' batin Cakra Buana.
Karena perutnya mulai merasa lapar, maka pemuda itu memutuskan untuk mencari sebuah warung makan sederhana.
Setelah menemukan tempat yang dicari, dia segera memasukinya lalu memesan makanan. Cakra Buana duduk di bangku pinggir pintu masuk. Dia tidak melakukan apa-apa kecuali duduk dalam diam.
__ADS_1
Benaknya sedang diliputi rasa penasaran terhadap surat bersampul biru tadi. Sampai sekarang, dia belum tahu pasti siapa pengirimnya. Bahkan dia juga belum tahu siapa yang sebenarnya harus menerima surat tersebut.
Apakah dirinya? Ataukah orang lain? Selain itu, apakah dia harus datang ke tempat yang telah ditentukan?
Pemuda itu kebingungan. Dia melamun cukup lama sehingga dirinya tidak menyadari bahwa pelayan sudah mengantarkan pesanan kepadanya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Cakra Buana memutuskan untuk tetap datang. Rasa penasarannya meningkat. Entah memang dia tujuannya atau bukan, tetapi pemuda itu harus tetap ke sana. Dia harus datang, apapun yang terjadi.
Cakra Buana baru tersadar setelah bau harum menusuk hidungnya. Pemuda itu segera menyantap makanan berupa sayur yang sudah tersedia itu.
###
Malam hari telah tiba. Rembulan berada tepat di atas kepala. Saat ini bukan bulan purnama. Rembulan hanya tampak seperti sabit yang menggantung di alam raya.
Kentongan pertama sudah lewat. Itu artinya, tengah malam telah tiba. Keadaan di sana mulai hening. Setelah makan tadi, Cakra Buana berdiam di sebuah bangunan kosong yang berada di pinggir hutan. Dia sedang menunggu waktu yang telah dijanjikan.
Begitu dirinya mendengar kentongan pertama lewat, dia langsung melesat pergi dari sana menggunakan ilmu meringankan tubuh yang hampir mencapai tahap sempurna.
Tubuhnya menembus kegelapan malam. Dia terlihat seperti hantu yang sedang mencari mangsa.
Hanya sesaat saja, pemuda itu telah tiba di lokasi. Tapi di sana belum ada siapapun. Pinggir danau itu sangat sepi. Selain suara binatang malam, tidak ada apapun lagi di sekitarnya.
Hawa dingin mulai dia rasakan. Jubah merahnya berkibar tertiup angin musim semi. Meskipun belum ada siapa-siapa, tetapi Cakra Buana tidak memutuskan untuk kembali. Dia memilih menunggu hingga si pengirim surat tiba.
"Kau sudah datang?" sebuah suara serak parau tiba-tiba terdengar dari arah belakang tubuhnya.
"Sejak tadi aku sudah datang," jawab Cakra Buana dengan tenang.
"Aii, aku telah membuatmu menunggu. Maafkan aku,"
"Tidak masalah. Bahkan jika harus menunggu sampai besok malam, aku akan tetap menunggunya,"
Cakra Buana langsung membalikan tubuh. Dia melihat di depannya ada seorang tua berusia sekitar tujuh puluh tahunan. Pakaiannya berwarna hijau tua. Kumis dan janggutnya tebal. Matanya mencorong tajam meskipun usianya sudah tua.
Di pinggangnya terdapat sebuah kipas. Kipas itu berwarna hitam bercorak merah darah. Batangnya terbuat dari baja murni sehingga mempunyai ujung yang sangat tajam.
Cakra Buana memperhatikan dirinya dengan seksama. Dia tidak mengenal orang tua di hadapannya ini, tapi apakah orang tua itu mengenalnya?
"Kau datang sendiri?" tanya Cakra Buana basa-basi.
Dia belum tahu yang sebenarnya. Karena itulah, Pendekar Tanpa Nama tidak mau melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas.
"Tidak. Aku datang dengan yang lainnya, mereka juga sudah datang,"
__ADS_1
Baru selesai ucapannya, lima orang lainnya telah tiba. Diikuti sepuluh orang di belakang mereka.
Keadaan di pinggir danau yang tadinya tampak sepi itu, kini telah mendadak menjadi ramai hanya dalam waktu singkat.
Cakra Buana memandangi semua orang yang ada di sana. Yang terkuat di antara mereka ada enam orang. Selain si kakek tua yang pertama datang, tentu saja yang lainnya adalah lima orang itu.
Sedangkan sisanya tidak lebih hanya merupakan anak buah.
"Apa tujuanmu mengundangku kemari?" tanya Cakra Buana dengan tenang.
"Aku sengaja mengundangmu,"
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin bertanya apakah Kitab 18 Rajawali Sakti ada padamu?"
"Tadinya memang ada. Namun sekarang kitab itu telah berpindah tangan,"
"Oh?"
"Aku sudah memberikan kitab tersebut kepada orang yang seharusnya memegangnya,"
"Kau bohong,"
"Aku tidak pernah berbohong,"
Si kakek tua itu tampak kesal sekali. Dia menyangka bahwa Cakra Buana telah berani berbohong kepadanya.
"Dusta. Berikan kitab itu sekarang jika kau ingin selamat,"
"Apakah kau tahu siapa aku?"
"Kau Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama, memangnya kenapa?"
"Bagus. Jika kau sudah tahu siapa aku, kau juga pasti tahu bahwa untuk membunuhku, tidak semudah membalikan telapak tangan," jawab Cakra Buana sambil tersenyum dingin.
"Di hadapan orang lain kau boleh sombong. Tapi di hadapan Kakek Kipas Badai, kau tidak bisa bicara seenaknya,"
"Oh, jadi kau yang berjuluk si Kakek Kipas Badai?"
"Kau mengenaliku juga?"
"Tidak. Aku hanya tahu barusan setelah kau memberitahu," ejek Cakra Buana.
__ADS_1