Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sin Jin


__ADS_3

Selama membaca surat dari sahabatnya tersebut, ekspresi wajah Cakra Buana sempat berubah beberapa kali. Antara kagum, kaget, tidak percaya dan lain sebagainya. Semuanya bercampur menjadi satu perasaan.


Dia tidak menyangka bawa Li Guan adalah keturunan gurunya. Dia pun tidak pernah menduga kalau pemuda itu mendapatkan tugas harus menjaganya.


Pemuda itu tersenyum simpul. Senyuman yang sangat mengandung arti mendalam.


Kenapa kejadian ini sedikit lucu? Dia harus menjalankan tugas terkahir dari gurunya, tapi di sisi lain, gurunya juga menitahkan orang lain untuk menjaganya.


"Aii, kejadian ini benar-benar diluar dugaanku sebelumnya. Kalau saja aku tahu bahwa dia generasi ketiga dari guruku, mungkin aku tidak akan berani kurang ajar kepadanya," katanya sambil menahan senyum.


Cakra Buana berkata yang sejujurnya, andai saja dia tahu sebelumnya bahwa Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya merupakan keturunan Pendekar Tanpa Nama, mungkin dia akan sangat menghormatinya seperti dia menghormati Cio Hong dan Nenek Tua Bungkuk.


Sayang, semuanya sudah terlanjur. Apa mau dikata, dia tahu malah sesudah dirinya mungkin tidak akan bertemu lagi dengan sahabat yang paling dekatnya itu.


"Semoga Sang Hyang Widhi kelak mempertemukan kita kembali," katanya sambil menghela nafas.


Selain dari pada itu, sekarang Cakra Buana pun tahu kenapa si Buta Yang Tahu Segalanya bisa mempunyai kemampuan tidak terukur. Meskipun tidak tahu gurunya, tapi sedikit banyak dia sudah mengerti garis besarnya.


Li Guan adalah generasi ketiga Pendekar Tanpa Nama, orang yang pernah menggetarkan langit dan bumi itu adalah leluhurnya.


Kalau leluhurnya saja sudah sangat sakti, bagaimana mungkin keturunannya tidak sakti?


Malam sudah tiba. Kegelapan mulai menyelimuti muka bumi. Sekarang yang nampak di depan matanya hanyalah kegelapan itu. Hawa dingin sangat terasa menusuk ke tulang belulang.


Pemuda itu sempat masuk ke ruangannya sendiri untuk mengambil sebuah mantel yang dibuat dari bulu domba. Warnanya biru putih. Mantel itu mantel pilihan, mantel yang sangat bagus sekaligus juga mewah.


Dia mendapatkan mantel itu dari barang-barang yang diberikan oleh para sahabatnya. Cakra Buana menemukannya tepat di samping satu krat guci arak yang harum.


Dia kembali keluar. Benar saja, di tangan kanannya sudah terdapat satu guci arak yang masih tersegel. Begitu segel itu dibuka, bau harum yang semerbak segera tercium ke seluruh bagian kapal.


Banyak para penumpang yang mencium arak itu. Sebagian dari mereka malah ada yang mengintip demi mengetahui dari mana asal bau harum tersebut.


Pemuda itu segera kembali ke tempatnya berdiam semua. Tapi ternyata tempat itu sudah ditempati oleh seseorang berpakaian biru.


Siapa dia? Apakah dia pria? Atau wanita?

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Cakra Buana lantas menghampirinya. Sebelum dia bicara, ternyata orang itu sudah berkata lebih dahulu.


"Arak wangi. Arak yang sangat bagus, minum di tengah cuaca yang sangat dingin begini, rasanya sungguh cocok sekali," kata orang tersebut. Suaranya serak parau. Namun jelas tidak bisa dibedakan apakah itu suara pria, atau wanita. Sebab suara tersebut seperti perpaduan antara keduanya.


Wajah orang itu masih tampak muda. Alis matanya seperti alis mata wanita, begitu juga dengan bulu mata. Wajahnya bulat telur, saat dia tertawa, dua lesung pipit tampak indah mempesona.


Sekilas pandang, Cakra Buana dapat melihat bahwa perawakan tubuh orang itu sangat mirip dengan Ling Ling. Sayang, dia tampaknya seorang pria. Bukan wanita.


Bicara Ling Ling, hatinya kalut kembali. Pikirannya pun langsung suram.


Di mana dia berada? Kenapa gadis itu tidak mau menemui dirinya untuk yang terakhir kali?


"Benar, sangat cocok sekali. Apakah Tuan ini mau minum bersamaku barang beberapa cawan?" tanya Cakra Buana berusaha untuk mengakrabkan dirinya.


"Usul yang bagus," jawab orang itu sambil tersenyum.


Cakra Buana mengangguk, dia masuk ke bagian dalam kapal lalu meminta dua cawan arak kepada orang-orang yang bertugas di sana. Setelah mendapatkan barang yang dicari, pemuda itu segera kembali ke tempatnya semula.


Dia langsung menuangkan arak. Mereka segera bersulang sambil tertawa.


"Benar-benar arak yang bagus," puji orang tersebut. "Dari mana Tuan mendapatkan arak ini?"


Orang itu lantas mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


"Ngomong-ngomong siapa nama Tuan ini?" tanya Cakra Buana.


"Namaku Sin Jin,"


"Aii, Tuan Sin ini apakah dari Tionggoan juga?"


"Benar,"


"Ke mana tujuan Tuan?"


"Ke mana kau menuju, ke situ pula aku pergi," katanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Cakra Buana terbengong sesaat. Pemuda itu lantas mengerutkan keningnya.


"Hahaha, sebenarnya aku ini seorang pelancong. Oleh sebab itulah aku tidak tahu tujuan pastinya. Apakah Tuan akan pergi ke TAnah Pasundan?"


"Bagaimana Tuan Sin tahu?" tanya Cakra Buana keheranan.


"Aku hanya mendengar saja saat kau baru naik ke kapal tadi,"


"Aii, kalau begitu kau sudah tahu siapa namaku,"


"Begitulah," jawab Sin Jin tersenyum hangat.


Cakra Buana berusaha untuk tersenyum pula meskipun sedikit dipaksakan. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Namun yang pasti pemuda itu sedang berusaha untuk mengakrabkan dirinya.


Cakra Buana dan Sin Jin mulai minum arak kembali. Seorang pelayan mengantarkan daging segar untuk mereka berdua. Malam yang gelap dan dingin ini semakin sempurna karena mereka menikmatinya dengan hidangan yang sangat cocok.


"Ngomong-ngomong, apakah Tanah Pasundan itu indah?" tanya Sin Jin disela mereka minum arak.


"Sangat indah malah. Di sana hampir sama seperti Tanah Tionggoan. Banyak pohon menjulang tinggi, gunung-gunung yang hijau dan sungai-sungai yang panjang," jawab Cakra Buana sejujurnya.


Pada zaman ini, meskipun kehidupan warga masih terbilang jarang karena rumah yang tidak terlalu banyak, tapi keindahan alamnya sangat-sangat indah. Keindahan Tanah Pasundan bahkan diakui oleh setiap pelancong yang sengaja datang ke sana.


Gunung yang tinggi begitu menghijau. Samudera biru terbentang sangat luas. Sungai yang airnya jernih tampak meliuk seperti ular naga jika di lihat dari atas pegunungan.


Gambaran alam seperti ini, bukankah keindahannya tidak bisa dilukiskan?


Cakra Buana mulai menceritakan keindahan negerinya kepada Sin Jin, sahabat barunya itu. Selama dia menceritakan negerinya, Sin Jin mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berhenti.


"Aii, baru diceritakan saja sudah membuatku terbuai, apalagi kalau nanti aku sudah di sana," kata Sin Jin mulai tertarik dengan cerita Cakra Buana.


"Jadi kau benar-benar akan ke sana?"


"Tentu saja, kenapa tidak? Apakah ada yang salah?"


"Ah, tidak, tidak. Malah aku bersyukur karena mempunyai teman perjalanan. Kalau sudah di sana, aku akan mengajakmu berkunjung ke tempat yang mungkin belum pernah kau kunjungi sebelumnya,"

__ADS_1


Sin Jin tersenyum gembira. Senyumannya sangat hangat, sangat menawan. Bahkan kalau di lihat semakin teliti, senyuman itu mirip seperti senyuman wanita.


Apakah sebenarnya dia juga seorang wanita?


__ADS_2