
Pada saat itu, Pendekar Tanpa Nama masih tetap diam di posisinya semula. Pedang Naga dan Harimau masih meneteskan darah segar dari sepuluh orang lawannya.
Pada saat seperti sekarang ini, pedang itu tampak jauh lebih menyeramkan lagi. Hawa kematian yang keluar dari seluruh batang pedangnya makin kental. Pamornya keluar hingga ke titik maksimal.
Siapapun bakal ngeri jika melihat Pedang Naga dan Harimau. Semua orang tahu, kalau pedang itu adalah pusaka yang haus darah.
Pedang Naga dan Harimau tidak akan masuk kalau belum memakan korban nyawa. Pusaka itu juga tidak pernah membiarkan musuh dari majikannya hidup.
Lalu, apakah sekarang pedang pusaka yang menggetarkan jagat itu bakal memakan korban nyawa kembali?
Wutt!!!
Ternyata kejadiannya tidak sesuai dengan apa yang digambarkan. Bukannya digunakan untuk menyerang, pedang itu justru dilemparkan sangat tinggi oleh Pendekar Tanpa Nama.
Saking tingginya, pedang itupun tidak bisa dilihat dengan jelas. Kalau ada orang lain yang menyaksikannya, niscaya orang itu hanya dapat memandang titik merah saja.
Wushh!!!
Bersamaan dengan kejadian barusan, Pendekar Tanpa Nama langsung menerjang ke depan sambil melancarkan jurus lainnya.
Jurus Tanpa Nama.
Jurus itu dilayangkan pada saat-saat yang sangat tepat. Tubu pemuda itu berkelebat di tengah deru angin yang menyayat kulit.
Dua nenek tersebut awalnya menduga kalau pemuda itu pasti kehabisan tenaga. Apalagi setelah bertempur hebat.
Sayang sekali, perhitungan mereka salah besar.
Bukan hanya tidak kehabisan tenaga, malah pemuda itu tidak terlihat kelelahan. Justru sebaliknya, Pendekar Tanpa Nama tampak semakin bersemangat.
Bukk!!! Plakk!!!
Benturan nyaring bagaikan guntur terdengar menggelegar. Dua nenek bermuka buruk terlempar jauh ke belakang. Tubuhnya meluncur dengan deras. Mereka tidak dapat melakukan apa-apa.
Sebab tepat pada saat itu, entah bagaimana caranya, tahu-tahu Pendekar Tanpa Nama telah berada di sisinya.
Kaki kanan pemuda itu diayunkan. Dia menendang punggung seorang nenek tua. Tubuhnya seketika berbalik arah sambil tetap meluncur kencang.
Setelah menendang satu orang lawannya, Cakra Buana lantas kembali melesat mendekati seorang lawannya lagi. Kalau tadi kaki kanan, maka sekarang giliran tangan kanan.
Satu buah pukulan dilayangkan sekuat mungkin. Tubuh si nenek itu mengalami hal serupa dengan rekannya.
__ADS_1
Dua tubuh yang sudah tua renta meluncur dari arah yang berlawanan. Begitu jarak mereka sudah sangat dekat, Pendekar Tanpa Nama lantas mendorong tubuh keduanya hingga melambung tinggi ke atas.
Bukk!!! Bukk!!!
Tangan kanan dan kiri Pendekar Tanpa Nama kembali melancarkan pukulan dahsyat secara bersamaan. Pukulan itu mengarah ke dada orang.
Tubuh dua nenek langsung meluncur kembali. Kali ini ke bawah. Hebatnya lagi, luncuran yang sekarang justru lebih cepat daripada sebelumnya.
Bumm!!! Bumm!!!
Dua tubuh tua renta amblas ke dalam tanah. Tubuh mereka hancur tidak karuan. Dada dua orang nenek itu jebol. Organ dalamnya pecah karena terguncang oleh tenaga Pendekar Tanpa Nama yang maha hebat.
Semuanya langsung berhenti. Keadaan berangsur normal seperti sedia kala. Yang tersisa hanyalah tujuh belas mayat manusia yang tewas mengenaskan.
wushh!!!
Berbarengan dengan itu, tiba-tiba sebuah benda merah meluncur dari atas sengan sangat cepat.
Pedang Naga dan Harimau.
Ya, memang pusaka itu. Pedang tersebut ternyata kembali tepat waktu.
Kabut gelap perlahan mulai menyelimuti alam semesta. Rembulan muncul dari timur. Ribuan bintang juga mulai menampakkan dirinya. Kerlipannya bagaikan kedipan gadis yang cantik mempesona.
Wajahnya tetap tenang. Tatapan matanya juga tenang.
Seolah pemuda itu tidak pernah menyadari kalau dirinya baru saja membunuh dua belas tokoh kelas atas dunia persilatan secara bersamaan.
Pertarungan usai. Tiada lagi korban. Tiada lagi benturan antar senjata tajam.
Akhirnya Cakra Buana melangkah perlahan. Dia ingin kembali ke tempat ramai. Mencari petunjuk untuk menemukan orang yang sedang dia cari saat ini. Selain itu, dia pun ingin mencari informasi siapakah orang yang menginginkan kematiannya.
Keadaan di padang rumput kembali sunyi. Tiada satu sosok manusia pun yang terdapat di sana. Suara jangkrik terdengar nyaring. Lolongan anjing liar mampu membuat bulu roma berdiri.
Di tempat yang sekarang telah berubah menjadi menyeramkan ini, selain mayat dan para binatang malam, benarkah masih ada manusia hidup yang terdapat di sana?
Ada. Ya, jawabannya ada.
Dua orang manusia berpakaian serba hitam tiba-tiba melompat dari balik semak belukar setelah mereka menyaksikan bahwa keadaan sudah aman. Dari gerak-geriknya, sepertinya mereka merupakan tokoh persilatan juga.
Hal ini bisa dilihat dari cara mereka bergerak amat ringan dan lincah. Persis seperti menjangan yang bisa bergerak dengan entengnya.
__ADS_1
Siapa mereka? Apa pula tujuannya? Kenapa bisa di ada di sana? Dan lagi, sejak kapan dua orang itu ada di tempat tersebut?
Tiba-tiba keduanya berdiri di tengah mayat yang berserakan tersebut.
"Apa pendapatmu tentang Pendekar Tanpa Nama?" tanya salah seorang di antara mereka. Tubuhnya tinggi kurus, di punggungnya terdapat dua kapak kembar.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa. Namun yang pasti, kemampuannya sudah tidak terukur lagi. Terutama sekali tenaga dalamnya," jawab rekannya dengan serius. Yang ini tubuhnya pendek dan sedikit gemuk. Dia tidak terlihat membawa senjata apapun. Sepertinya orang itu merupakan pendekar yang ahli dalam pertarungan tangan kosong layaknya nenek tua tadi.
"Aku tidak percaya kalau di dunia ini ada manusia yang mempunyai tenaga dalam setinggi dan semurni itu,"
"Tentu saja ada. "Dia" pun mempunyai tenaga dalam seperti Pendekar Tanpa Nama,"
"Memang, tapi tenaga dalam miliknya tidak semurni milik Pendekar Tanpa Nama,"
"Ya, aku setuju dengan pendapatmu,"
"Apalah kita harus menguburkan mayat-mayat mereka?"
"Untuk apa? Biarlah mayat mereka menjadi santapan binatang buas. Sekarang kita harus segera kembali dan melaporkan kejadian ini kepada Dewi Tanpa Hati,"
"Baiklah. Kalau begitu mari kita pergi,"
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan hitam kembali melesat di tengan kegelapan malam. Gerakan mereka sungguh cekatan, seperti seekor tupai. Keduanya melompat dari dahan pohon satu ke dahan pohon yang lain.
Hanya sekejap mata saja, bayangan dua orang itu tidak terlihat lagi.
Dewi Tanpa Hati … siapa lagi dia? Apakah dia merupakan musuh baru Pendekar Tanpa Nama?
###
Saat ini Cakra Buana sudah tiba di sebuah desa. Entah apakah desa itu masuk ke dalam wilayah Tanah Jawa atau Tanah Pasundan, dia tidak perduli lagi. Apapun tidak diperdulikan oleh Pendekar Tanpa Nama.
Sekarang ini tujuannya hanya satu. Mencari para pembunuh sahabat-sahabatnya.
Tersangka sudah ditemukan. Tapi dia tidak tahu di mana mereka berada saat ini.
Di depan sana ada kedai arak yang masih buka. Kentongan pertama baru saja lewat. Cakra Buana memutuskan untuk ke sana sekedar menghangatkan badannya.
Dia ingin mabuk. Baginya, mabuk adalah ketenangan. Mabuk bisa mendatangkan berbagai macam hal positif untuk dirinya.
__ADS_1
"Aku ingin satu guci arak," katanya begitu masuk ke dalam kedai.