
Ternyata hal yang sama bukan hanya dialami oleh orang itu saja. Bahkan dua rekannya juga mengalami kejadian yang sama.
Tubuh mereka terkulai secara tiba-tiba. Tidak terdengar sesuatu apapun lagi kecuali hanya erangan teramat kecil.
Sebelum mata mereka tertutup, mata tiga orang itu sempat melotot seperti ingin keluar. Kepalanya tiba-tiba berpaling ke arah kiri ke kegelapan hutan sana.
Pendekar Tanpa Nama menghela nafas. Begitu juga dengan dua orang lainnya.
Jelas, tiga dari Lima Macan Kumbang Tanah Pasundan itu sekarang telah mampus. Sebelum datangnya ajal, mereka sepertinya dikejutkan dengan sesuatu mengerikan yang tidak diduga sebelumnya.
"Mereka mati …" keluh Bidadari Tak Bersayap.
"Kita gagal lagi mendapatkan informasi," sambung Sian-li Bwee Hua.
"Jangan lupa kalau mayat juga bisa bicara …" kata Pendekar Tanpa Nama menimpali ucapan kekasihnya.
Dia langsung melangkahkan kakinya kemudian segera memeriksa mayat dari anggota Lima Macan Kumbang Tanah Pasundan.
Setelah memeriksanya, Cakra Buana kembali menghela nafas sambil mundur dan berhenti di tempat sebelumnya.
"Ada apa Kakang?" tanya Bidadari Tak Bersayap.
"Mereka tewas dengan senjata yang sama seperti sebelumnya,"
"Senjata apa?" tanya Sian-li Bwee Hua.
"Bambu kuning yang teramat kecil, namun sangat tajam," desis pemuda tampan itu.
"Hemm, ternyata mereka benar-benar tidak membiarkan informasinya bocor," desis Bidadari Tak Bersayap.
Wushh!!!
Secara tiba-tiba tubuh Pendekar Tanpa Nama melesat secepat angin ke arah yang sempat ditengok oleh lawannya tadi pada saat sebelum ajal menjelang. Bayangan merah meluncur deras.
Setelah melesat hampir beberapa puluh tombak, pemuda itu menghentikan langkahnya.
Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap ternyata sudah ada di depan dirinya.
"Kau dapat mengejarnya?" tanya Ling Ling.
"Tidak. Ilmu meringankan tubuh orang itu benar-benar hebat. Mungkin sedikit di bawahku sendiri," keluh Cakra Buana.
Dia tokoh tanpa tanding. Semua ilmu yang dimilikinya sudah pasti telah mencapai puncak.
Tapi barusan dia dibuat kaget oleh seorang yang misterius karena Pendekar Tanpa Nama tidak dapat mengejarnya, dari sini saja siapapun bakal bisa menilai bahwa orang yang dimaksud pastinya juga tokoh pilih tanding.
Sebab kalau bukan, rasanya dia tidak akan sanggup lepas dari kejaran Pendekar Tanpa Nama.
Di dunia persilatan Tanah Pasundan sekarang, rasanya tokoh yang dapat mengimbangi kecepatan ilmu meringankan tubuhnya tidaklah banyak. Mungkin bisa dihitung dengan dua jari tangan.
__ADS_1
"Ishh, tokoh itu pasti orang yang sakti," gumam Bidadari Tak Bersayap.
Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua tidak menanggapi. Keduanya sedang memandang jauh ke arah perginya orang tadi.
"Apakah kau dapat melihat bayangan tubuh orang tadi?" tanya Ling Ling.
"Dapat. Yang jelas orang itu memakai jubah kuning terang,"
"Apalagi petunjuk yang kau dapatkan?"
"Tidak ada. Hanya itu saja,"
"Hemm, baik. Itu saja sudah cukup,"
Ketiga pendekar muda tersebut harus menelan kekecewaan kembali. Lawannya kali ini sangat ahli dalam membuat bingung targetnya. Ternyata mereka sudah memperhitungkan segala macam langkahnya.
"Rencana yang benar-benar hebat. Tak kusangka, di tanah airku sendiri ada juga kejadian seperti ini," kata Cakra Buana.
"Di setiap tempat pasti terdapat tokoh sakti dunia persilatan," timbal Ling Ling.
Di mana ada dunia persilatan, maka di situ pasti ada tokoh pilih tanding, bahkan tokoh tanpa tanding sekalipun.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Menelusuri dan memecahkan persoalan ini,"
Wushh!!!
Tiga bayangan manusia meluncur deras ke depan menembus gelapnya malam. Hanya beberapa kejap saja mereka sudah tidak terlihat oleh pandangan mata.
###
Pagi hari.
Cuaca pagi ini sangat cerah sekali. Angin pagi berhembus sunyi menebarkan aroma wangi. Wangi bunga mekar dan wangi masakan dari kedai makan.
Pendekar Tanpa Nama dan dua orang kekasihnya baru saja selesai melakukan sarapan pagi di sebuah kedai. Sekarang ketiganya sedang berjalan di tengah kerumunan para warga masyarakat.
Semalam, mereka telah letih karena beberapa persoalan yang menghampiri. Hari ini, ketiganya berharap ketenangan. Mereka hanya ingin tenang walau hanya satu hari saja.
Tapi benarkah mereka bakal tenang?
"Kakang, sekarang ke mana kita pergi?" tanya Bidadari Tak Bersayap.
"Ke Perguruan Tunggal Sadewo,"
Bidadari Tak Bersayap mengerutkan keningnya. Gadis itu merasa kebingungan, padahal kekasihnya tahu bahwa dunia persilatan Tanah Pasundan sedang terancam oleh bahaya besar.
Tapi kenapa Cakra Buana justru memilih pergi ke Perguruan Tunggal Sadewo? Kenapa dia tidak memilih mengurusi tanah airnya sendiri?
__ADS_1
"Dunia persilatan Pasundan sedang terancam bahaya, kenapa Kakang justru memilih untuk pergi ke perguruan itu?" tanyanya di tengah-tengah rasa bingung tersebut.
"Sinta, bagaimana ciri-ciri seorang pendekar sejati?" tanya Pendekar Tanpa Nama
"Salah satunya adalah apa yang sudah dia janjikan maka hukumnya wajib untuk dilaksanakan,"
"Nah, oleh sebab itulah aku ingin segera menuju ke sana karena aku sudah berjanji kepada mereka,"
"Maksudmu kepada Perguruan Tunggal Sadewo?"
"Ya, lebih tepatnya kepada seorang tokoh yang mempunyai hubungan erat sengan perguruan itu,"
Bidadari Tak Bersayap merenung sekian lamanya. Dia lupa siapakah tokoh yang dimaksud oleh Pendekar Tanpa Nama.
"Aii ternyata kau sudah lupa. Apakah kau masih ingat dengan seorang datuk dunia persilatan berjuluk Raja Tombak Emas dari Utara?"
"Ah, iya, iya, sekarang aku ingat. Ishh, ternyata aku sudah pikun …" katanya sambil menghela nafas.
"Apa yang kau ingat?"
"Intinya dulu sebelum pergi dari Perguruan Tunggal Sadewo, kalian sudah setuju untuk duel beberapa tahun lagi.
"Bagus, akhirnya kau ingat juga," kata Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum.
"Kalau begitu kenapa kita tidak secepatnya berangkat sekarang?" tanya Sian-li Bwee Hua sambil memandangi keduanya secara bergantian.
"Benar, lebih cepat lebih baik …" timpal Pendekar Tanpa Nama.
Wushh!!!
Tanpa bicara lagi, ketiga orang yang merupakan kekasih itu langsung melesat pergi dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna.
Jika di malam hari mereka tampak seperti bayangan sukma yang melesat secepat kilat, maka di siang hari mereka terlihat seperti angin.
Kalau ada orang awam, jangan harap mereka bisa melihat lesatan tubuhnya dengan jelas. Paling-paling mereka hanya mampu merasakan desiran angin kencang yang lewat di sisinya.
Jarak ke Perguruan Tunggal Sadewo cukup lumayan jauh. Apalagi, letak perguruan itu sudah berada di tanah Jawa. Bukan Pasundan lagi.
Tapi walaupun begitu, ketiganya tetap bersemangat. Siang malam tiada henti kecuali hanya untuk hal-hal tertentu saja.
Tiga pendekar muda itu sengaja tidak membeli kuda. Mereka takut hal seperti hari-hari kemarin terjadi lagi. Kuda tidak mempunyai salah, tapi harus mampus mengenaskan.
Setelah melakukan perjalanan siang malam hampir seminggu lamanya, tepat pada senja hari, mereka sudah tiba di perbatasan hutan Tanah Jawa dan Pasundan.
Sian-li Bwee Hua tercengang melihat pemandangan yang amat indah ini. Pohon-pohon menjulang tinggi, air sungai berwarna hijau nan jernih menambahkan indahnya suasana senja itu.
###
Ini jatah semalam ya wkwk
__ADS_1