
"Terlepas berbentuk atau tidak, namun yang pasti aku sangat yakin bahwa jurus itu merupakan jurus yang sangat dahsyat dan mengerikan," ucap Bidadari Tak Bersayap.
Sinta sangat yakin akan hal tersebut. Rasa yakinnya sama seperti keyakinan keberadaan Sang Hyang Widhi yang menciptakan alam mayapada ini.
Kalau jurus kekasihnya tidak hebat dan mengerikan, bagaimana mungkin seorang pendekar muda kelas satu dunia persilatan mampu terbunuh dengan mudah di tangannya?
Bidadari Tak Bersayap sendiri tidak yakin mampu bertahan hidup kalau dirinya berada di posisi pemuda tadi.
"Malah sangat hebat. Apakah kau percaya bahwa di Tionggoan sana, entah sudah berapa banyak nyawa yang mampus di bawah jurus itu?" tanya Sian-li Bwee Hua kepada Bidadari Tak Bersayap.
"Percaya tidak percaya, aku toh tetap harus percaya. Apalagi sudah melihatnya sendiri,"
Sinta memang tidak bisa tidak percaya. Toh belum lama ini dia menyaksikannya. Namun di balik itu, dia juga merasa kaget dengan ucapan Sian-li Bwee Hua.
"Memang demikian, malah waktu kemarin di Tionggoan, Kakang kita ini sudah membunuh beberapa tokoh tanpa tanding menggunakan Jurus Tanpa Bentuk tersebut,"
"Apakah Rai melihatnya?"
"Bukan saja melihat, bahkan aku ikut bertarung melawan musuhnya,"
Sinta bertambah penasaran, dia ingin mendengar kembali bagaimana kesaksian Sian-li Bwee Hua terkait kehebatan Jurus Tanpa Bentuk itu.
"Pasti kejadian itu sangat seru,"
"Tentu saja. Apalagi yang menjadi korban keganasan Jurus Tanpa Bentuk hampir semuanya merupakan orang-orang ternama. Orang-orang yang dikenal luas di dunia persilatan,"
"Hebat, hebat sekali," puji Bidadari Tak Bersayap.
Gadis itu sangat bangga karena mempunyai kekasih seperti Pendekar Tanpa Nama ini. Sudah tampan, baik hati, sakti, tubuhnya kekar pula. Wanita mana yang tidak akan jatuh hati kepadanya?
Selama kedua kekasihnya bercerita, Cakra Buana sendiri sedang asyik bersama tuaknya. Selama berada di Tionggoan, dia sudah berubah menjadi setan arak.
Takaran minumnya di atas rata-rata orang biasa. Oleh sebab itulah, sekarang kalau sekali minum tuak, sedikitnya Cakra Buana suka menghabiskan satu atau dua guci tuak keras. Itupun belum benar-benar mabuk.
Jika bukan arak asli yang keras, rasanya tidak akan mudah kalau ingin membuat pemuda itu mabuk.
"Ini bayaran untuk biaya makan kami sekaligus untuk membayar kerusakan restoran," ucap Cakra Buana sambil memberikan dua keping emas kepada kasir restoran.
__ADS_1
Setelah itu dia bersama dua orang kekasihnya langsung keluar restoran. Di tangan pemuda tersebut ada seguci tuak yang masih utuh.
Ketiganya berjalan dengan santai. Mereka tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang di sana terhadapnya.
Rembulan sudah meninggi. Angin musim kemarau membawa hawa dingin. Tiga pendekar muda itu mencari penginapan yang cocok untuk bermalam.
"Di sana penginapan besar, apakah kita akan menginap di sana saja?" usul Bidadari Tak Bersayap sambil menunjuk ke penginapan yang dimaksud.
"Boleh, mari kita ke sana," jawab Pendekar Tanpa Nama.
Penginapan itu terbilang mewah. Lentera dipasang di setiap sudut. Banyak orang-orang yang menginap di sana. Mungkin dari berbagai macam kalangan pula.
"Siapkan kamar mewah dua buah," kata Cakra Buana begitu dirinya sudah masuk ke dalam.
Seorang wanita pegawai penginapan mengangguk. Dia segera membawa tiga orang tamunya ke kamar yang dimaksud.
Kamar itu berada di lantai atas. Tidak berapa besar, tapi cukup lumayan mewah. Segalanya sudah disiapkan oleh pihak penginapan.
"Kalau Raden dan Nyai butuh apa-apa, tinggal panggil saja. Nanti kami akan segera datang," kata pegawai tersebut.
"Baik, terimakasih,?" jawab Bidadari Tak Bersayap.
Tenaga sangat dibutuhkan. Apalagi kalau ingin melakukan perjalanan jauh. Kesiapan diri merupakan hal yang paling utama.
Cakra Buana melakukan hal seperti biasanya. Dia membuka jendela kamar lalu duduk di atasnya sambil minum tuak. Seorang diri pemuda itu memandangi rembulan yang menggantung di atas langit sana.
Hawa sejuk menusuk tulang. Malam ini masih sama seperti malam lalu. Tapi pikiran Pendekar Tanpa Nama tidak sama seperti hari lalu.
Pemuda itu sedang memikirkan berbagai macam hal. Terutama sekali hal-hal yang menyangkut dunia persilatan. Masalah yang menimpa dirinya.
Salah satunya adalah kejadian siang tadi saat di restoran. Dia yakin, buntut dari kejadian itu bakal panjang. Meskipun Cakra Buana tidak mengetahui siapa itu Tuan Gandrung Kalapati, tapi sedikit banyaknya dia sudah mendapat gambaran bahwa orang itu pasti bukan orang biasa.
Hal itu dapat disimpulkan setelah dia menyaksikan ketika semua pengunjung restoran merasa takut setelah mendengar nama tersebut.
Pemuda itu ingin bertanya, tapi entah kepada siapa. Sejatinya dia sendiri bingung, sebab di sini tidak ada kenalan lama.
Tuak dalam guci sudah habis. Dia memutuskan untuk tidur. Namun sebelum itu, pintu kamarnya mendadak diketuk oleh seseorang.
__ADS_1
"Siapa diluar?"
"Saya Den, ini ada menu makan malam,"
Cakra Buana langsung membuka pintu. Seorang pelayan wanita ternyata datang membawakan menu makan malam untuknya. Pelayan itu masih muda, cantik pula. Usianya paling banter baru sekitar dua puluhan tahun. Tubuhnya padat berisi. Buah dadanya cukup membuat setiap pria yang melihatnya ngiler.
Kalau saja tidak mempunyai wanita, atau minimal tidak ada dua harimau betina di sisinya, dapat dipastikan kalau pemuda itu akan mendekatinya.
"Terimakasih …"
Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum lembut. Senyumannya semanis madu. Kerlingan matanya mampu menggetarkan perasaan pria.
Cakra Buana menutup pintu. Dia berusaha untuk tidak membayangkan bagaimana kemolekan tubuh pelayan wanita tadi.
Di atas nampan itu bukan hanya makanan, ada juga satu guci arak mahal yang masih tersegel. Arak wangi yang didatangkan dari Tionggoan sana.
"Benar-benar penginapan yang luar biasa," gumamnya sambil tersenyum.
Dia meletakkan nampan di atas meja. Kemudian segera mengambil arak lalu langsung membuka segelnya.
Bau harum arak segera menyeruak ke seluruh ruangan kamar. Arak itu benar-benar wangi. Cakra Buana langsung mengenggaknya beberapa kali.
"Arak harum. Arak enak," katanya gembira.
Diambilnya ubi rebus yang ada di sana. Dia langsung memakannya dengan lahap.
Arak dalam guci tinggal kurang dari separuhnya. Pada saat itu kepalanya mendadak pusing. Dia serasa mabuk. Tapi bukan mabuk karena arak. Karena kalau mabuk arak, rasanya tidak sepusing ini.
Di samping itu, dirinya juga merasa mual. Seluruh makanan yang sudah dimakan serasa ingin keluar.
Pendekar Tanpa Nama keracunan. Ya, dia keracunan.
Setelah menyimpan arak di atas meja, dengan sigap pemuda itu naik ke atas pembaringan. Cakra Buana duduk bersila lalu segera memejamkan matanya.
Dia menghimpun hawa murni untuk menetralkan racun yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Walaupun dia sendiri tahu dirinya tidak akan mampus karena racun itu, tapi dia tetap harus memusnahkannya.
Sebab sedikit banyaknya racun tersebut bakal mempengaruhi jalannya tenaga dalam dan hawa sakti dalam tubuhnya.
__ADS_1
'Hanya manusia bodoh yang berpikir bahwa aku bakal mampus oleh racun,' gumamnya dalam hati.