Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Proses Penyembuhan


__ADS_3

Tengah malam telah tiba. Malam ini rembulan hanya muncul separuhnya. Bentuknya tidak sempurna, malah terkesan mirip seperti sebuah sabit yang tajam.


Bintang-bintang yang masih nampak hanya tinggal beberapa saja. Hawa demikian sejuk. Suasana sudah sepi sunyi. Penginapan itu masih buka, tapi sudah jarang ada tamu yang datang.


Malah kebanyakan tamu-tamu mereka pun sudah tertidur seluruhnya. Di sebuah kamar remang-remang, Pendekar Tanpa Nama sudah melakukan persiapan untuk mengobati Ratu Ayu atau yang sebenarnya adalah bibinya sendiri.


Pemuda bernama Cakra Buana itu membuka pakaiannya. Dia pun menyimpan pedang pusaka miliknya. Melakukan sesuatu yang besar seperti sekarang tentunya memerlukan kesiapan matang.


Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Sebab kalau ada, maka semuanya bisa hancur berantakan. Dan kalau sampai hal itu terjadi, maka akibatnya tidak ada yang dapat membayangkan.


Kalau bukan nyawanya yang melayang, tentu nyawa Ratu Ayu sendiri yang menjadi jaminan. Malah tidak mustahil juga kalau nyawa kedua orang itu melayang secara bersamaan.


Malam semakin larut. Suasana juga semakin sepi sunyi.


Akhirnya Cakra Buana memulai langkah pertama. Dia naik ke atas pembaringan lalu bersila persis di samping bibinya saja.


Selama ini, Ratu Ayu bukannya tidak tahu apa-apa terkait sesuatu yang akan dilakukan oleh orang-orang itu kepadanya. Dia mengerti. Mendengar, bahkan melihat pula.


Tapi dengan kondisinya yang sekarang, memangnya apa yang bisa dia lakukan?


Jangankan untuk berdiri, bahkan untuk bicara pun sangat susah. Malah dia tidak bisa bicara sama sekali.


Yang dapat dilakukan oleh Ratu Ayu hanyalah mengedipkan mata, melotot atau memejamkannya. Hanya itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.


Jika seorang rekan ataupun keluargamu berada dalam posisi Ratu Ayu, bukankah hal itu amat sangat menyedihkan dan menyakitkan?


Kalau jawabannya iya. Maka hal itu juga yang sekarang sedang dirasakan oleh Pendekar Tanpa Nama.


Keponakan mana yang tidak sakit melihat bibinya tak berdaya?


Akhirnya proses penyembuhan dimulai. Pendekar Tanpa Nama mendekatkan kedua telapak tangannya di dada Ratu Ayu. Wanita terpandang itu mengerti apa yang harus dilakukan olehnya.


Ratu Ayu memejamkan mata lalu mulai menenangkan pikirannya. Seluruh jiwanya, seluruh kehidupannya dia pasrahkan kepada pemuda tampan yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Dalam hati kecilnya, wanita maha cantik itu seperti mengenali pemuda yang sekarang sedang mengobatinya. Hatinya berkata bahwa pemuda itu bukan orang lain.


Lalu siapakah dia? Apakah sanak saudaranya? Atau siapanya?


Ratu Ayu tidak tahu. Dia sangat lupa. Tapi sungguh, hatinya berkata kalau pemuda itu adalah orang yang mempunyai hubungan dekat dengannya. Hatinya pasti tidak salah.


Bukankah hakikatnya hati adalah letak kejujuran?


Terlepas siapapun pemuda tampan tersebut, yang jelas Ratu Ayu benar-benar mengucapkan banyak terimakasih kepadanya.


Aura berwarna merah terang tipis mulai keluar dari kedua telapak tangan Pendekar Tanpa Nama. Hawa yang terasa hangat dan membawa perasaan nyaman segera menjalar ke seluruh tubuh Ratu Ayu.


Semakin lama semakin nyaman hingga akhirnya dia mulai tertidur. Sebelumnya, belum pernah Ratu Ayu merasakan perasaan semacam ini.


Apakah kenyamanan dapat membuat seseorang melupakan segalanya?


Sepeminum teh berlalu. Kentongan kedua terdengar dipukul oleh para warga yang meronda. Di luar, tampak beberapa orang warga berjalan beriringan bersama rekannya sambil memakai sarung kotak-kotak yang diselendangkan.


Setiap malam para peronda itu pasti bergantian. Mereka akan keliling untuk memberitahukan pukul berapa kepada semua orang sambil memeriksa keamanan.


Meskipun sekilas dia tampak tanpa persiapan, namun sebenarnya Dewi Bercadar Merah sudah sangat siap. Jangankan orang lain, kasarnya, nyamuk pun akan ketahuan jika berniat mengganggunya.


Bagi seorang pendekar tanpa tanding, tenang sebenarnya waspada. Kewaspadaannya itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Setiap seorang pendekar tanpa tanding mempunyai satu ciri khas tersendiri. Siapapun orangnya, selama dia sudah berada di posisi ini, maka pendekar itu pasti mempunyai ciri yang sama.


Yaitu diam menakutkan. Bergerak menghancurkan.


Diamnya mereka mampu menakuti setiap orang. Dan bergeraknya mereka sanggup menggetarkan alam mayapada.


Oleh sebab itulah kenapa semua pendekar di bawahnya pasti takut kalai berhadapan dengan orang-orang yang sudah mencapai puncak. Sayang, dalam dunia ini banyak sekali manusia yang berlaku nekad. Terutama sekali kalau di dalam dunia persilatan.


Kadang mereka sudah tahu jika calon lawannya seorang pendekar tanpa tanding, tapi orang-orang itu tetap bernekad untuk membunuhnya.

__ADS_1


Bukankah kejadian ini amat lucu dan menggelikan?


Tapi memamg begitulah kenyataannya. Dunia persilatannya para pendekar tidak sama dengan dunianya orang awam. Selamanya, dua dunia itu tidak akan pernah sama walaupun berdampingan satu sama lainnya.


Satu orang akan saling cemooh menurut dunianya masing-masing.


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Pada saat Dewi Bercadar Merah sedang melamun sambil tetap minum arak, tiba-tiba saja telinganya yang sangat tajam mendadak mendengar sebuah sesuatu dari arah belakangnya.


Begitu dia membalikkan tubuhnya dan memandang ke asal suara, tiba-tiba saja dilihatnya tujuh batang pisau terbang sedang melesat cepat ke arahnya bagaikan burung elang menyambar mangsa.


Wutt!!!


Cahaya putih keperakan memancarkan hawa pembunuhan yang pekat.


Dewi Bercadar Merah segera bereaksi. Dia tahu ada seseorang yang mencoba untuk membunuhnya dengan cara keji. Naas, orang itu salah memperhitungkan satu hal.


Dia pasti tidak akan pernah mengira kalau gadis cantik yang sedang duduk diatas atap itu merupakan gadis berbeda dari lainnya. Gadis yang terlihat lemah itu justru malah sebaliknya. Dia mempunyai kemampuan yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun.


Wushh!!!


Belasan bayangan hitam berupa titik-titik kecil di tengah kegelapan meluncur dengan deras. Belasan titik hitam itu melesat lebih cepat dan lebih kuat daripada delapan pisau terbang tadi.


Kecepatannya bagaikan kilat. Siapapun tidak akan ada yang menyangkanya.


Trangg!!! Trangg!!!


Benturan dua benda keras yang sama terbuat dari baja segera terjadi. Benturan itu sangat hebat sebinggga menciptakan gelombang kejut. Beberapa atap penginapan jebol. Ditambah lagi delapan batang pisau terbang itu ternyata sekarang jumlahnya bertambah menjadi enam belas batang.


Bukan bertambah karena pemiliknya menyambitkan kembali. Hal itu terjadi karena delapan pisau terbang tadi telah berhasil dipatahkan oleh Dewi Bercadar Merah menggunakan jarum hitam andalannya.


Setelah berjumpalitan beberapa kali di udara, akhirnya Dewi Bercadar Merah langsung turun kembali ke atap. Gerakannya amat ringan dan enteng seperti asap.

__ADS_1


"Tunjukkan batang hidungmu sebelum aku menurunkan tangan lebih kejam lagi," kata Dewi Bercadar Merah dengan suara mengandung kemarahan luar biasa.


__ADS_2