
Pendekar Tanpa Nama tersenyum simpul. Dia melangkah satu langkah ke depan.
"Bererti aku harus bangga karena telah menjadi orang pertama yang dapat menggagalkan lemparan pisaumu," ujarnya.
"Kau akan menjadi orang pertama sekaligus yang terakhir," kata Pendekar Pisau Terbang mulai lebih serius.
"Benarkah?"
"Tentu saja,"
"Apakah itu artinya kau ingin membunuhku?"
"Kalau aku tidak ingin membunuhmu, untuk apa aku melemparkan pisauku kepadamu?"
Cakra Buana mengangguk membenarkan. Apa yang dikatakan Sun Poan memang sangat beralasan. Kalau dia tidak menginginkan nyawanya, lantas untuk apa secara tiba-tiba dia menyerang?
"Benar. Tapi bukankah kita tidak punya masalah sebelumnya? Lalu, atas alasan apa kau ingin membunuhku?" tanya Cakra Buana ingin mengetahui alasan Pendekar Pisau Terbang.
"Ada alasan atau tidak alasan, hal itu tidak penting. Bukankah kau sendiri sudah tahu bahwa dirimu sekarang menjadi incaran semua orang persilatan,"
"Aku tahu,"
"Kalau sudah tahu, untuk apa bertanya lagi?"
Cakra Buana terdiam. Dia tidak menjawab ucapan tersebut. Karena pada dasarnya, perkataan Sun Poan memang tidak membutuhkan jawaban apapun.
Pendekar Tanpa Nama sengaja banyak bicara karena dia ingin mengukur sampai di mana kemampuan calon lawan. Jika ingin melangsungkan sebuah pertarungan kelas atas, mengetahui sampai berapa tinggi kekuatan lawan adalah menjadi alasan terpenting.
Cara bagaimana mengetahuinya bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya dari dialog yang baru saja berlangsung. Bagi orang lain mungkin percakapan tadi tidaklah penting. Tapi bagi Pendekar Tanpa Nama sendiri, dialog barusan sangatlah penting.
Karena dengan begitu, sedikit banyaknya dia sudah dapat mengetahui seberapa kuat lawannya tersebut.
"Kau sudah tahu bahwa aku akan membunuhmu, tapi kenapa kau tidak langsung mencabut pedangmu dan segera turun tangan?" tanya Pendekar Pisau Terbang dengan tatapan penuh selidik.
"Aku tidak akan turun tangan jika bukan kau yang turun tangan lebih dulu. Aku hanya memposisikan diriku sebagai pembeli, bukan penjual," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan tenang.
Watak pemuda tersebut memang seperti itu. Selamanya dia tidak akan memulai sebuah pertarungan kalau bukan lawan yang memulainya lebih dulu. Dia tidak akan mencabut senjata kalau lawannya belum mencabut. Bagi Cakra Buana, dirinya lebih baik membeli dari pada harus menjual.
"Hemm, kalau begitu baiklah. Sekarang juga aku akan menjual sesuatu kepadamu," kata Sun Poan sambil berteriak.
__ADS_1
Berbarengan dengan hal tersebut, Sun Poan langsung menjejak tanah lalu tubuhnya meluncur dengan deras ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Debu mengepul tinggi. Dedaunan kering berputar membentuk satu pusaran, hawa di tempat tersebut mendadak berubah. Hawa kematian terasa amat kental. Hawa pembunuhan lebih kental lagi.
Suara desingan angin tajam terdengar meriah. Seperti sebuah pesta besar. Desingan angin itupun mengeluarkan suara bergemuruh seperti batu di tebing yang longsor secara serentak.
Suara mendengung membayangi setiap langkah. Menggetarkan sukma. Menggetarkan gendang telinga.
Dua puluhan pisau terbang meluncur sangat deras ke arah Pendekar Tanpa Nama. Luncuran puluhan pisau itu tidak bisa dilihat jelas dengan mata telanjang. Siapapun tidak akan bisa melihatnya.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Dentingan nyaring terdengar puluhan kali. Setiap kali terdengar dentingan, setiap itu pula terlihat bunga api yang memercik ke tengah udara lalu lenyap terbawa angin.
Pendekar Tanpa Nama telah mengambil tindakan tepat. Pedang Naga dan Harimau telah dicabut keluar lalu bergerak dengan cepat untuk menangkis puluhan pisau terbang itu.
Tindakannya amat tepat. Juga sangat cepat.
Puluhan pisau terbang jatuh berhamburan. Ada yang terpental lalu menancap tepat di batang pohon. Ada pula yang jatuh berguguran tepat di hadapan Pendekar Tanpa Nama.
Puluhan pisau terbang yang membawa hawa kematian dan hawa pembunuhan itu telah rontok semuanya hanya dalam beberapa jurus saja.
Pendekar Tanpa Nama memperlihatkan kemampuan yang sesungguhnya.
Amarahnya sudah mencapai ke ubun-ubun kepala. Dadanya bergolak hebat seperti lahar dalam gunung berapi.
Wushh!!!
Segulung angin berhawa panas kembali menerjang Cakra Buana. Serangan yang lebih dahsyat kembali dikeluarkan oleh Sun Poan.
Dia adalah tokoh pilih tanding. Namanya sudah berkibar hampir di seluruh daerah Tionggoan. Setiap tindak tanduknya selalu menimbulkan keresahan banyak orang. Sepak terjangnya semakin lama semakin menggetarkan jagat.
Apa yang dia lakukan saat ini juga sama. Pertarungannya dengan Pendekar Tanpa Nama sekarang pastinya akan menggetarkan jagat persilatan. Kalah menang sama saja. Mati tidak mati sama saja.
Alasan lain dirinya ingin membunuh Cakra Buana adalah karena dia ingin mencari nama kembali. Dia ingin mengibarkan namanya lagi.
Tapi, apa alasan dia yang sebenarnya?
Serangan telah datang. Lima batang pisau terbang meluncur deras dalam jarak dekat. Dua pisau lainnya telah melesat memberikan sabetan dan tusukan yang tiada tandingannya.
__ADS_1
Srett!!!
Suara kain robek terdengar memecah udara hampa. Percikan cairan kental berwarna merah memercik ke segala arah.
Semuanya berhenti. Serangan dahsyat yang baru saja terlihat, kini sudah tiada lagi. Semua jurus hebat mendadak lenyap tanpa jejak.
Pertarungan itu seketika selesai. Karena satu orang telah ambruk di tanah. Darah telah menggenangi mayat orang tersebut.
Sun Poan telah tewas. Kematian tokoh itu tiada yang tahu kapan dan bagaimana.
Semuanya berlangsung dengan cepat. Semuanya terjadi tanpa diduga.
Kalau Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk, memangnya siapa yang dapat melihatnya dengan jelas?
Pendekar Tanpa Nama tersenyum dingin. Untuk saat ini dan selanjutnya, nama Sun Poan si Pendekar Pisau Terbang tidak akan terdengar lagi. Nama itu telah hilang ditelan bumi.
Namanya hilang. Nyawa pemilik namanya juga sudah melayang.
Cakra Buana segera pergi dari sana. Dia tidak mau terlalu berlama-lama di tempat tersebut.
Hanya sekejap, tubuhnya telah menghilang di kegelapan malam.
Satu sosok bayangan merah melesat di balik rimbunan pepohonan. Sosok itu juga terlihat seperti satu sukma gentayangan yang menyusuri rumah-rumah warga.
Tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama menghentikan gerakannya. Pemuda itu seketika berdiri mematung. Tubuhnya kembali tidak bergerak.
Ternyata di hadapannya telah berdiri satu sosok. Sosok yang anggun. Cantik jelita dan sangat kemilau di bawah kegelapan malam.
Wajah itu masih cantik. Masih menyimpan keanggunan dan masih membawa perasaan tersendiri bagi Cakra Buana.
Sian-li Bwe Huaa.
Sosok yang dimaksud memang wanita cantik itu.
"Kenapa kau menghalangi jalanku?" tanya Cakra Buana sambil memandanginya penuh perhatian.
"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan secara empat mata denganmu," katanya dengan lembut.
Tatapan matanya masih menyimpan kasih sayang. Senyuman di bibirnya masih menyimpan suatu perasaan tertentu. Entah itu perasaan cinta atau perasaan apa, karena terkait apa yang dirasakan oleh seorang wanita, siapapun tidak akan ada yang dapat mengetahuinya secara sempurna.
__ADS_1
"Hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Hal penting yang menyangkut suatu peristiwa penting juga," kata Sian-li Bwee Hua dengan raut wajah yang serius.