Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Lima Macan Kumbang Tanah Pasundan


__ADS_3

Tubuh dua orang serba hitam yang menjadi korban keganasan jarum milik Sian-li Bwee Hua mengepulkan asap putih. Semakin lama semakin tebal, setelah beberapa saat, tubuh kedua orang yang tadinya kekar itu sekarang malah tinggal tulang berbalut kulit.


Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi. Tapi yang jelas, hampir semua orang membelalakan matanya masing-masing. Kecuali Pendekar Tanpa Nama, rasanya tiada seorangpun yang terlihat tenang.


Mereka terkejut setengah mati. Bahkan Bidadari Tak Bersayap sendiri terbelalak. Antara kagum dan heran, keduanya bercampur menjadi satu.


Sekarang gadis tersebut sadar bahwa kekasih kedua Cakra Buana itu ternyata lain dari yang lain. Di balik kelembutan sikapnya, di balik rasa malunya, ternyata terkandung kekejaman yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.


Sinta tidak bicara. Dia pun tidak ingin bertanya. Sebab meski dirinya sempat heran, tapi sebagai tokoh yang sama lihai, dia sendiri segera mengerti bahwa lima batang jarum yang dilemparkan oleh Sian-li Bwee Hua tadi tentunya mengandung racun ganas.


Kalau tidak beracun, bagaimana mungkin dua orang korban itu langsung mengalami kejadian mengerikan?


"Apakah nasib kalian ingin seperti dua orang ini?" tanya Sian-li Bwee Hua menatap tajam tiga orang serba hitam sambil menunjuk ke dua korbannya.


Tiga orang itu masih ketakutan, bahkan sampai sekarang tubuhnya menggigil cukup keras. Begitu ditanya oleh Sian-li Bwee Hua seperti demikian, tentunya rasa takut mereka malah semakin menjadi.


Tapi sebagai tokoh dunia persilatan, tentunya mereka tidak mau terlihat gentar. Setelah menghela nafas beberapa kali, orang yang sejak tadi banyak bicara, sekarang kembali maju ke depan dan bicara lagi.


"Hemm, jangan karena berhasil membunuh dua orang rekanku, kau malah semakin angkuh. Kau pikir dirimu siapa?" tantang orang tersebut sambil bertolak pinggang.


Sian-li Bwee Hua tersenyum dingin. Dari dulu, dia paling suka kalau menghadapi orang sombong semacam mereka itu.


"Bagus, nyalimu besar juga ternyata. Sekarang aku beri pilihan, pilih memberitahukan siapa yang sudah memerintahkan kalian, atau pilih mampus?" tanya gadis itu sedikit membentak.


"Keduanya tidak ada yang kami pilih," jawab cepat orang itu.


"Baik, baik sekali. Kalau begitu kalian aku anggap memilih untuk mampus,"


Sian-li Bwee Hua segera bersiap untuk bergerak ke depan, tapi pada saat itu Bidadari Tak Bersayap malah langsung menahannya.


"Rai diam saja. Sekarang giliranku," katanya tersenyum manis sambil melangkah ke depan.


Wajahnya anggun. Sepasang lesung pipinya tampak. Kecantikan Sinta menjadi bertambah beberapa kali jika pada saat demikian. Bahkan tiga orang calon lawannya dibuat melongo.


Sian-li Bwee Hua meliriknya, dia pun turut tersenyum.


Dua gadis maha cantik tersenyum sangat manis, siapa yang bakal tahan melihat pemandangan seperti ini jika terjadi tepat di depan mata?


"Baiklah. Silahkan Nyimas," katanya sambil mundur beberapa langkah.

__ADS_1


Sian-li Bwee Hua sendiri merasa penasaran dengan kemampuan Bidadari Tak Bersayap. Apa yang diperlihatkan olehnya saat bertarung di Gunung Tilu Dewa, dia yakin hal itu belum seberapa.


Sementara itu, Pendekar Tanpa Nama sejak tadi justru masih berdiri dengan tenang. Mulutnya tiada henti-hentinya tersenyum. Sepasang tangannya ditaruh di belakang. Dia tidak mau turun tangan. Lebih tepatnya, sekarang bukan waktunya dia beraksi.


Biarlah dua orang kekasihnya saja yang membereskan orang-orang itu.


Dia sendiri sama seperti Sian-li Bwee Hua, Pendekar Tanpa Nama juga merasa penasaran dengan kemampuan Bidadari Tak Bersayap yang sekarang.


Apakah kemampuannya masih sama seperti dulu? Atau sudah jauh lebih sakti lagi?


"Kalian tiga tikus kusut, mari sini. Biar Ratu mu ini tunjukkan bagaimana caranya bertarung dengan benar," katanya sedikit mengejek.


Dibalik sadarnya, merah padam wajah tiga orang serba hitam itu. Seumur hidupnya, baru kali ini saja mereka mendapatkan hinaan seperti barusan. Marahnya bukain main.


"Banyak bacot, biar aku perlihatkan bagaimana kemampuan Lima Macan Kumbang Tanah Pasundan kepadamu bocah ingusan …" bentak orang itu lalu segera menerjang Bidadari Tak Bersayap bersama dua orang rekannya yang masih tersisa.


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Tiga bayangan manusia berwarna hitam melesat ke depan seperti macan kumbang menerkam mangsa. Gerakan mereka amat gesit. Lincah. Juga cekatan.


Bidadari Tak Bersayap tersenyum dingin, dia menunggu datangnya serangan lawan.


Kedua tangannya diayunkan memapak dua pukulan keras. Kaki kanannya dibenturkan dengan kaki lawan.


Bukk!!! Plakk!!! Plakk!!!


Benturan tulang beradu terdengar. Ketiga anggota Lima Macan Kumbang Tanah Pasundan menggertak gigi. Tulang-tulang yang baru saja beradu dengan Bidadari Tak Bersayap terasa amat ngilu.


Tapi mereka mencoba agar tetap terlihat tegar. Ketiganya melanjutkan serangan lainnya.


Pukulan dan tendangan beruntun segera dilancarkan secapat kilat.


Bidadari Tak Bersayap bergerak dengan gemulai dan anggun. Dia seperti sedang menari. Tubuhnya meliuk-liuk dengan lincah.


Dengan jurus Menari di Atas Awan yang merupakan salah satu jurus sakti mandraguna warisan dari gurunya, gadis itu sedang mencoba menghadapi semua lawannya.


Tarian itu awalnya pelan, tapi makin lama makin cepat. Semakin ganas serangan lawan, semakin hebat juga tarian Bidadari Tak Bersayap.


Debu mengepul tinggi memenuhi kegelapan hutan itu.

__ADS_1


Belasan jurus telah berlalu, tiga orang lawannya dibuat kelimpungan.


Plakk!!!


Tiga kali suara yang sama terdengar, tiga tubuh manusia langsung terlempar cukup jauh hingga hampir menabrak pohon di belakangnya.


"Bangsat …" teriak orang itu.


Mereka mengeluarkan senjatanya masing-masing. Tombak, trisula dan golok panjang sudah dihunus ke depan.


Mereka telah siap mencincang tubuh Bidadari Tak Bersayap.


Wushh!!!


Tiga batang senjata tajam bergerak dari tiga penjuru. Serangan mereka keji, juga kejam.


Melihat kenyataan ini, Sinta tidak mau diam saja. Dia mencabut Pedang Cantik Dari Khayangan.


Batang pedang kebiruan memancar. Cahaya biru menyeruak menerangi malam itu. Empat macam senjata pusaka telah beradu. Benturan nyaring terdengar sangat memekakkan telinga.


Trangg!!! Trangg!!!


Srett!!!


Cahaya biru melesat. Darah merah menyembur deras membasahi rerumputan yang sudah basah.


Anggota Lima Macan Kumbang Tanah Pasundan sudah terkapar roboh di tanah. Mereka bertiga mengalami luka sabetan pedang cukup panjang dan dalam di bagian dada, perut serta leher.


Ketiganya mengalami pendarahan cukup hebat. Keadaan mereka benar-benar mengemaskan dengan luka yang menganga.


Tubuh orang-orang itu langsung lemas. Wajahnya pucat pasi. Mereka tidak tahu bagaimana caranya Bidadari Tak Bersayap dapat melukai dirinya. Gerakan pedangnya terlampau cepat dan sebat sekali.


Sampai mati pun tiga lawannya tidak akan percaya kalau gadis cantik itu ternyata mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi.


"Sekarang nyawa kalian sudah berada dalam genggamanku, lebih baik beritahu siapa yang sudah menyuruh kalian dari pada maut sebagai gantinya," bentak Bidadari Tak Bersayap.


"Kau tidak akan mampu mengan-…"


Orang itu tidak dapat menyelsaikan ucapannya. Tiba-tiba tubuhnya jatuh terkulai. Golok panjang yang digenggamnya jatuh ke tanah.

__ADS_1


__ADS_2