
Beberapa hari sudah berlalu. Selama perjalanannya belakangan ini, Pendekar Tanpa Nama tidak menemukan masalah. Atau lebih tepatnya belum.
Karena sejatinya, setiap manusia yang hidup pasti punya masalah. Perduli dia kaya atau miskin, masalah pasti bakal menghampiri. Perduli apa jabatan orang itu, masalah tetap bakal menjumpainya.
Selama nyawa dikandung badan, selama itu pula masalah bakal melanda kehidupan.
Saat ini senja hari. Di hadapan Pendekar Tanpa Nama ada sebuah padang rumput yang luas. Di sana tidak ada apa-apa lagi kecuali hanya hutan yang dipenuhi oleh pepohonan dan rerumputan.
Pemuda itu berjalan dengan tenang. Tempat ini memang tidak asing lagi baginya. Dulu, dari jalan sini lah dia bangkit dari "kematian".
Di bawah sana ada tebing cukup curam. Tanpa merasa ragu lagi, Cakra Buana langsung melompat turun ke bawah. Padahal dalamnya tebing itu cukup lumayan, kalau orang lain, mungkin bakal mampus tertancap oleh batu-batu alam yang menonjol ke atas.
Tapi tidak bagi Pendekar Tanpa Nama. Di tengah udara, tubuhnya sempat berjumpalitan beberapa kali. Kemudian dia juga menginjak dahan dan bebatuan sebagai pijakan sesaat.
Setelah beberapa lama melakukan hal seperti itu, akhirnya sampai juga di dasar lembah. Lembah ini penuh dengan kenangan manis dalam hidupnya.
Dengan perasaan riang gembira, pemuda itu melanjutkan langkah kakinya kembali untuk masuk ke dalam. Dia seperti anak kecil, berlari-lari sambil mengambil buah-buahan yang terdapat di sana. Kadang-kadang melempari burung yang sedang terbang di cakrawala.
Dalam keadaan sangat gembira, kadang seorang yang sudah dewasa pun bisa mendadak berubah layaknya anak kecil.
Hampir setiap manusia pasti pernah mengalami hal yang serupa.
Setelah berjalan sekian lamanya, akhirnya Pendekar Tanpa Nama sampai juga di tujuan utamanya. Sekitar tujuh tombak di depannya ada dua buah danau kecil. Danau yang berbeda warna. Hijau dan biru. Airnya sangat jernih hingga sebagian dasar danau terlihat dengan jelas.
Selain warnanya, airnya juga mengandung hawa yang berbeda. Yang satu seperti air mendidih. Sedangkan satu lagi seperti air es yang dinginnya tiada terkira.
Danau dua warna.
Cakra Buana tentunya ingat akan danau ini. Bagaimana mungkin dia bisa lupa? Bukankah dahulu dirinya pernah digembleng oleh kera dan harimau misterius sahabatnya itu?
Malah bukan cuma dua danau itu saja, semua tempat yang ada di lembah ini, dia masih dapat mengingatnya dengan jelas. Dulu sebelum dirinya mewarisi ilmu Pendekar Tanpa Nama yang sangat digdaya itu, Cakra Buana sempat berada di sini. Di rawat oleh para kera dan harimau. Menurut perhitungannya, dia hampir satu tahun berada di sini.
Waktu yang bisa disebut lama. Juga bisa disebut sebentar.
"Kalian … aku datang," teriaknya sambil menempelkan kedua tangan di dekat mulut.
__ADS_1
Suaranya menggema ke seluruh hutan di sana. Pantulannya terdengar beberapa kali. Beberapa kali dia mencoba melakukan hal yang sama, tapi ternyata tidak ada sahutan sama sekali.
Bahkan tiada seekor binatang pun yang menghampiri dirinya.
Ke mana mereka? Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Dia tidak mau berpikir hal-hal negatif. Sebisa mungkin Cakra Buana menguasai dirinya sendiri. Pemuda itu berjalan menyusuri berbagai tempat. Tapi hasilnya tetap nihil. Tiada seekor binatang pun yang dapat dia temukan.
"Apakah kalian sudah lupa akan diriku?" teriaknya sekali kali.
Pendekar Tanpa Nama menunggu beberapa saat. Tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada satu buah sahutan yang terdengar olehnya.
Cakra Buana kemudian diam. Dia berdiri mematung. Hatinya sedang bertanya-tanya. Ke mana para sahabatnya? Kenapa mereka tidak mau keluar menemui dirinya? Apakah sesuatu telah terjadi? Tapi kalau iya, sesuatu apakah itu?
Berbagai macam pertanyaan serupa terus bermunculan di benaknya. Pendekar Tanpa Nama mulai merasa tidak enak hati. Keringat dingin telah membasahi seluruh pakaiannya.
Wushh!!!
Cakra Buana melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dia kembali memeriksa keadaan yang sebelumnya pernah diperiksa. Pemuda itu hanya ingin memastikan saja, benarkah saat ini lembah tersebut tidak berpenghuni?
Cakra Buana semakin cemas. Tapi sebisa mungkin dia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Masih ada satu tempat yang aku periksa. Aku yakin, mereka ada di sana," gumamnya perlahan.
Wushh!!!
Bayangan merah kembali meluncur deras. Pendekar Tanpa Nama menuju ke tempat terakhir. Dia yakin di sana ada yang bisa ditemui olehnya. Kalau saja di sana tidak ada, maka dirinya tak tahu harus melakukan apa lagi.
Tempat yang dimaksud olehnya adalah tempat di mana dulu dia menemukan warisan dari Pendekar Tanpa Nama.
Tempatnya masih sama. Posisinya juga sama.
Tapi pemandangannya telah jauh berbeda. Tempat itu sudah acak-acakan. Kerusakan terjadi di sana sini. Bahkan di area sekitarnya juga.
Tubuh Pendekar Tanpa Nama bergetar keras pada saat melihat sesuatu di depan sana.
__ADS_1
Sesuatu itu bukan lain adalah bangkai dari beberapa ekor kera dan satu ekor harimau. Semua binatang itu adalah sahabat-sahabatnya. Mereka lah yang merawatnya dulu selama hampir satu tahun.
Untuk sekarang dan selamanya, Cakra Buana tidak akan pernah dapat menemukan mereka lagi. Karena binatang-binatang itu telah mati.
Siapa yang telah tega membunuhnya? Apa pula alasannya?
Dia belum tahu. Cakra Buana harus melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Dia berjalan mendekati bangkai para sahabatnya itu. Posisi mereka berdekatan dengan tempat di mana waktu dulu dia membongkar pusaka Pendekar Tanpa Nama.
Setelah berpikir beberapa saat lamanya, Cakra Buana baru menemukan sebuah jawaban pasti.
Yaitu ada orang lain yang sudah mengetahui tentang tempat ini. Selain itu, mereka juga tentunya tahu bahwa di sini terkubur sebuah pusaka warisan dari Pendekar Tanpa Nama.
Terbukti sekarang. Seluruh tempat yang berhubungan dengan penyimpanan pusaka itu telah porak-poranda. Bahkan sebagian batu goa nya ada yang sudah hancur berantakan.
Tidak salah lagi. Memang itulah kejadian yang sebenarnya.
Menurut apa yang dia lihat, kejadiannya tentu belum lama. Apalagi mayat-mayat binatang itu masih utuh. Kuat dugaan Cakra Buana, kejadian ini berlangsung sekitar dua atau tiga hari yang lalu.
Dia sudah terlambat. Semuanya telah berakhir.
Tanpa terasa air matanya menetes. Amarahnya juga mendadak berkobar hebat dan membara.
Kesedihan dan kemarahan bercampur bertumpuk menjadi satu.
Kalau kau berada di posisi Cakra Buana sekarang, bukankah kau juga bakal merasakan hal yang sama?
Aaaarghhh!!!
Pendekar Tanpa Nama marah besar. Dia marah kepada diri sendiri. Marah kepada keadaan. Marah kepada semuanya.
Kenapa hal seperti ini harus terjadi terhadap hidupnya? Apa salah harimau dan kera itu sehingga seseorang tega membunuhnya? Kenapa pula Sang Hyang Widhi membiarkan manusia berhati iblis menemukan tempat ini?
Tempat di sekitar sana bergetar hebat. Goa yang berdiri kokoh di dekatnya hampir roboh karena raungan Cakra Buana yang sangat mirip dengan harimau kalap itu.
__ADS_1