Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Aura berwarna hitam mendadak bercampur dengan aura berwarna putih. Kekuatan yang keluar dari tubuh bocah itu juga semakin mengerikan.


Tanpa sadar, murid-murid Sekte Seribu Iblis yang ada di sana mundur beberapa langkah ke belakang. Semua orang terkejut. Semua kaget.


Mereka baru pertama kali melihat ada bola mata yang seperti itu. Bola mata tersebut jelas bukan menunjukan bola mata manusia normal.


Lantas, apakah anak itu iblis? Atau monster?


Tidak ada yang tahu akan hal tersebut. Hanya saja semua murid merasakan hal yang sama. Mereka merasa sedikit takut. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri sendiri.


Chen Li menggeram seperti seekor harimau yang terluka.


Tubuhnya kembali melesat ke depan lagi lalu melancarkan serangan yang lebih dahsyat daripada sebelumnya. Pedang Hitam mengeluarkan asap hitam yang lebih dekat.


Tiga kali pedang pusaka itu ditebaskan, tiga sinar hitam memanjang menerjang orang berkerudung ungu tua.


Kecepatan serangan yang dilancarkan bertambah dua kali lipat lebih cepat. Namun orang berkerudung ungu itu bukanlah orang sembarangan.


Dia melayani semua serangan Chen Li dengan dua tangannya. Kakinya tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Walaupun bocah itu berusaha untuk mendesaknya, semua usahanya ternyata tetap sia-sia.


Setiap kali pedang berkelebat menebas ataupun menusuk, orang berkerudung ungu tersebut selalu saja menahannya dengan pedang energi berwarna hitam.


Benturan keras terus terjadi sepanjang keduanya melangsungkan pertarungan tersebut.


Trangg!!! Trangg!!!


Gagal dengan serangan pedang, Chen Li lantas menyerang kembali dengan gencar. Kali ini seruling giok hijau di tangan kanannya ikut turun tangan pula.


Sinar merah berkelebat membelah udara. Dia menotok ke bagian leher orang berkerudung ungu tersebut. Namun hanya dengan sentilan jari tangan, seruling tersebut berhasil dipentalkan kembali ke belakang.


Berpuluh-puluh kali Chen Li berusaha menyerang sebisa dan semaksimal mungkin, namun hasilnya selalu tidak sesuai harapan. Diam-diam dia menyesali kemampuannya yang ternyata masih serendah ini.


Kalau dia tidak bisa memaksa mundur orang berkerudung ungu tersebut, maka nasib ketiga sahabatnya pasti akan berbeda.


Karena alasan tersebut, Chen Li membentak keras.


Pedang Hitam lenyap dari pandangan. Seruling giok hijau entah ke mana. Yang terlihat hanyalah sinar hitam pekat. Yang nampak hanyalah cahaya hijau terang.


Mulutnya berteriak keras. Teriakan yang mengandung amarah dan kepedihan.

__ADS_1


Bocah itu nekad. Dia berniat untuk mengadu jiwa supaya orang tersebut bergeser agar tiga sahabatnya disadarkan kembali.


Serangan yang datang langsung menyerbu orang berkerudung ungu. Sekali bergerak, Pedang Hitam sudah melancarkan sembilan sabetan dan tusukan dalam waktu singkat. Seruling giok hijau melancarkan hantaman dan sodokan belasan kali.


Batu kerikil mendadak bergulung membentuk sebuah pusaran. Secara tiba-tiba batu-batu tersebut melesat ke arah orang berkerudung ungu.


Blarr!!!


Ledakan terdengar. Batu tadi hancur menjadi debu-debu yang berterbangan tertiup angin senja. Chen Li sudah tidak sadarkan diri. Ternyata tepat setelah terjadi benturan barusan, orang berkerudung ungu itu langsung menotoknya sehingga bocah itu dibuat pingsan.


Setelah itu, empat orang murid pria dan wanita segera membawa empat bocah tersebut ke dalam.


Tidak berapa lama, seseorang muncul dari belakang orang berkerudung ungu itu.


"Bagaimana, sekarang Tuan pastinya percaya bukan, bahwa anak itu memang lain daripada orang lain," kata orang tersebut sambil berjalan mendekati.


"Kau benar. Bocah itu memang bocah yang luar bisa. Bocah istimewa yang pernah aku temukan seumur hidupku. Bahkan selama aku hidup di dunia persilatan, rasanya baru kali ini aku melihat ada bola mata seperti itu," mata si orang berkerudung ungu memuji Chen Li dan mengatakan keterkejutannya.


"Itulah yang kemarin aku ceritakan. Dia memiliki Mata Dewa. Hanya saja untuk saat ini, baru Mata Dewa Unsur Bumi saja yang baru berhasil dikendalikan,"


"Lalu yang empatnya?"


"Benarkah?" tanya orang berkerudung ungu agak terkejut mendengar perkataan tersebut.


"Tentu,"


"Kenapa?"


"Karen itu adalah Mata Dewa. Konon katanya, mata itu adalah simbol para Dewa. Setiap unsur melambangkan seekor naga. Unsur bumi berarti naga bumi, unsur air berarti naga air. Begitu seterusnya,"


"Hemm, sungguh anak yang beruntung sekali. Aku rasa, kelak dia akan melebihi pencapaian yang sudah diraih oleh Ayahnya sendiri," ujar orang tersebut.


"Tepat. Akupun sangat setuju dengan anggapan itu,"


###


Waktu telah menunjukan tengah malam. Chen Li, Moi Xiuhan, Yuan Shao dan Li Meng Li sudah tersadar beberapa saat yang lalu.


Mereka sendiri sempat kaget saat tersadar sudah ada di sebuah kamar. Namun kekagetan itu segera sirna, sebab murid Sekte Seribu Iblis langsung memberitahukan kejadian sebenarnya.

__ADS_1


Kini empat bocah itu sedang berkumpul di satu ruangan. Tidak berapa lama, seorang murid Sekte Seribu Iblis terlihat menghampiri mereka.


"Mari Tuan dan Nona muda sekalian. Kalian sudah ditunggu di belakang sekte," kata murid tersebut.


Anehnya, perkataan orang tersebut justru terdengar sangat ramah dan bersahabat.


"Baik, terimakasih," jawab Chen Li.


Mereka segera bangkit berdiri setelah melihat Chen Li berdiri.


Mereka berempat di bawa menuju lorong yang sedikit berkelok-kelok. Suasana di sana jauh lebih menyeramkan dari pada saat mereka baru tiba di sekte itu.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya empat bocah itu tiba juga di halaman belakang Sekte Seribu Iblis.


Di sana ada beberapa kursi kosong. Ada juga beberapa meja yang sudah tertata rapi.


Tidak seberapa jauh dari tempat tersebut, di depannya ada sebuah gunung yang sangat indah. Warnanya conelat. Atasnya sedikit berwarna putih seperti salju. Entah apakah warna putih itu memang dari salju ataukah bukan. Yang jelas, tidak ada yang tahu pasti kecuali para kepala tetua sekte.


Keempat bocah tersebut langsung terkejut ketika melihat dua orang tua yang sedang duduk di sebuah kursi yang dibuat dari pohon pilihan.


Di meja itu ada arak dan juga teh.


Di antara tiga rekannya, hanya Chen Li yang paling kaget. Dia berseru lantang dengan wajah menggambarkan kebingungan.


"Pa-paman Huang," ujarnya.


Ternyata dua orang pria tua yang sedang duduk tak jauh dari sana tadi, salah satunya adalah pamannya sendiri, Huang Taiji.


Jika melihat gelagatnya, sepertinya mereka berdua telah akrab.


"Aihh, kau sadar juga akhirnya Li'er,"


Orang itu ternyata memang benar Huang Taiji. Sejak kapan dia datang ke Sekte Seribu Iblis? Dan sejak kapal pula orang tua itu sudah tiba di sana?


"Apa yang Paman lakukan di sini?" tanya Chen Li tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Huang Taiji sebelumnya.


"Sedang menikmati pemandangan alam," jawabnya santai.


Chen Li tidak menjawab. Dia hanya menampilkan ekspresi kesal kepada Buang Taiji.

__ADS_1


"Duduklah anak-anak," kata orang berkerudung ungu tersebut.


__ADS_2