
Sebuah rumah mewah berdiri di tengah desa yang makmur. Dinding setinggi satu tombak mengelilingi bangunan mewah tersebut. Lampu yang terang ada di setiap sudut.
Luas rumah itu cukup lumayan. Di dalam halaman banyak bunga-bunga yang sedang mekar. Bunga bwee, bunga sakura, bahkan bunga tulip, semua bunga yang indah ada di sana.
Tidak jauh dari taman bunga terdapat sebuah kolam ikan yang diisi dengan ikan-ikan cantik. Mereka berenang ke sana kemari dengan riang.
Rumah-rumah warga lainnya berjejer. Walaupun tidak sebesar rumah mewah tadi, tapi setidaknya tidak terlalu buruk juga untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan makmur.
Bulan sudah berada di tengah kepala. Bau harum bunga mekar menusuk hidung membuat nyaman perasaan setiap insan.
Kelelawar terbang mencari makan. Angin berhembus meniup debu dan daun kering.
Suasana ini amat sangat menyenangkan hati. Siapapun akan merasakan ketenangan dan kenyamanan yang sama.
Tapi, ketenangan dan kenyamanan itu harus lenyap. Sebab secara tiba-tiba sepuluh orang berpakaian hitam sedang melompat lincah seperti seekor tupai di atas atap rumah warga.
Sepuluh orang tersebut memakai cadar yang menutupi wajahnya. Sehingga tidak bisa dipastikan siapa dan dari mana asal mereka.
Saat itu, keadaan di desa tersebut sudah sunyi. Orang-orang sudah terlelap bersama mimpinya. Termasuk juga penghuni rumah mewah tadi.
Kentongan satu baru lewat. Para warga yang melaksanakan ronda malam berkeliling ke area sekitar. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat adanya sepuluh orang di atas atap rumah warga tersebut.
Kini mereka sudah berada di dalam halaman rumah mewah. Ternyata di sana ada beberapa penjaga. Melihat adanya orang asing bertamu malam-malam, para penjaga langsung waspada.
Mereka segera menyerang, walaupun takut, tapi karena sudah menjadi kewajiban, maka meraka harus memberanikan diri.
Belum sempat mencapai orang-orang berseragam hitam itu, lima penjaga rumah telah roboh. Dua jarum hitam bersarang di dada para penjaga.
Sungguh keji.
Sepuluh orang tersebut langsung membagi tugas bersama rekan-rekannya. Meraka berpencar ke segala sudut rumah. Lima orang masuk, lima orang lain berjaga di depan rumah, takut ada orang yang mengetahuinya.
Satu buah kamar besar di dobrak paksa. Orang berseragam hitam langsung mencabut goloknya.
"Serahkan semua barang kalian kalau memang masih ingin hidup," kata salah seorang dari mereka.
Golok sudah menempel di leher. Sekali di gorok, nyawa pasti melayang.
__ADS_1
Di bawah ancaman, tentu saja tuan rumah merasa sangat ketakutan. Istrinya menangis histeris. Tapi sang suami berusaha untuk tetap tegar. Dia mengambil harta yang ada di sana lalu di serahkan kepada orang asing tersebut.
"Jangan berteriak, sekali kalian berteriak, aku jamin tidak akan ada yang selamat,"
Selesai berkata demikian, mereka segera keluar menghubungi rekan-rekannya untuk memberitahukan bahwa tugasnya sudah rampung.
Mereka segera melompat pergi. Naas, para warga yang melakukan ronda malam melihatnya.
Mereka kepergok.
"Maling!! Maling!!"
Teriakan langsung menggema. Para warga lainnya segera keluar. Sepuluh orang berseragam hitam merasa sangat geram sekali.
Tanpa banyak berkata, mereka langsung melemparkan puluhan jarum beracun kepada para warga. Karena mereka tidak paham sama sekali tentang senjata rahasia dan ilmu silat, tentu saja tidak akan ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan diri.
Namun begitu puluhan batang jarum hampir mengenai para warga, mendadak ada segulung angin yang merontokkan serangan para perampok tersebut.
"Siapa kau? Kalau berani tunjukkan dirimu," bentak seorang perampok.
"Wushh …"
Di punggungnya terdapat gambar seekor naga dan seekor harimau.
Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama.
Ya benar, memang dialah orangnya. Pemuda itu datang tepat pada waktunya.
Sepuluh perampok merasa sangat terkejut melihat ada seorang pendekar tak dikenal. Mereka segera bangkit. Sepuluh golok telah dikeluarkan dari sarungnya.
"Siapa kau?" bentak seorang perampok.
"Siapapun aku tidak penting. Lebih baik lemparkan semua barang yang telah kalian ambil lalu segera pergi dari sini," jawab Pendekar Tanpa Nama dingin.
Para warga mulai mengelilingi tempat itu untuk menjaga supaya para perampok tidak bisa kabur. Keadaan seketika mendadak ramai dibuatnya.
Si tuan rumah tadi segera keluar bersama istrinya setelah mendengar keributan. Mereka juga meminta para pegawai lainnya untuk mengurus lima jenazah penjaga tadi.
__ADS_1
Semua orang tahu bahwa pemilik rumah mewah iru bernama Hartawan Tio. Dia adalah seorang pengusaha kaya. Cabangnya di mana-mana, semua usahanya lancar. Sehingga wajar jika banyak perampok yang berminat karena bisa dipastikan hartanya segunung.
Walaupun seorang yang kaya, Hartawan Tio sama sekali tidak sombong. Dia juga tidak gengsi untuk bergaul dengan para tetangganya. Sehingga warga di sana sangat menghormati hartawan itu.
"Kau kira kau siapa? Berani sekali mulutmu berkata seperti itu. Apakah kau tidak tahu siapa kami?"
"Tidak perlu diberitahu juga aku sudah tahu. Bukankah kalian anggota Tujuh Perampok Berhati Iblis?"
"Kalau sudah tahu, kenapa masih berani? Apakah kau tidak takut mempunyai masalah dengan kami?"
Mereka berkata sangat jumawa. Alsannya tentu karena nama organisasi perampok itu sangat disegani. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya. Sepuluh perampok itu beharap dengan diberitahukannya nama organisasi mereka, pendekar tak dikenal itu akan ketakutan.
Namun yang terjadi dulu sebaliknya. Pendekar itu sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi takut. Jangankan takut, merasa terkejut pun tidak.
"Justru memang aku sengaja ingin mencari masalah dengan orang-orang Tujuh Perampok Berhati Kejam. Aku ingin tahu apakah mereka benar-benar mempunyai kemampuan ataukah hanya berita kosong saja," kata Cakra Buana sengaja memancing emosi.
Ternyata niatnya berhasil. Mendengar organisasinya di hina, sepuluh orang itu langsung tersulut amarahnya.
"Bangsat, sebutkan namamu biar kami gampang memberikan nama di batu nisanmu nanti,"
Cakra Buana hanya tersenyum dingin. Jelas bahwa ucapan orang itu hanya mimpi yang tidak mungkin dapat mereka wujudkan.
"Jangan terlalu tinggi, nanti terjatuh akan sakit. Aku bukan orang-orang seperti kalian yang hanya pintar mengumbar ancaman tapi tidak memiliki kemampuan,"
"Bangsat!!!"
"Wushh …"
Satu buah sinar putih yang berasal dari kilatan golok segera berkelebat ke depan. Arah sasarannya dada Cakra Buana.
Namun dengan mudahnya dia menjepit serangan lawan. Sedikit dua jari tangannya bergerak, golok itu telah patah menjadi dua bagian.
"Mainan anak-anak," ejeknya.
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Mereka tidak pernah menyangka sama sekali.
Lima orang maju menerjang sambil mengacungkan golok yang tajam dan berkilauan. Seolah orang-orang tersebut sedang menakuti Cakra Buana.
__ADS_1
Belum tiba lima lawannya, Pendekar Tanpa Nama sudah bergerak. Lima batang golok dia patahkan kembali dalam waktu singkat dan tanpa disangka-sangka.
Semua orang dibuat tertegun kembali. Apakah kejadian ini nyata? Apakah dia memang manusia sungguhan, atau setan sungguhan?