Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Si Setan Tombak Halilintar


__ADS_3

Malam semakin larut. Cahaya rembulan tertutup oleh awan mendung. Langit seperti akan menurunkan hujan. Namun setelah sekian lama, hujan belum juga turun.


Cuaca seperti ini membuat keadaan di sana menjadi lebih mencekam dari biasanya. Lolongan serigala mulai ramai, begitu pula dengan lolongan anjing. Bau amis darah dari Pendekar Pedang Tanpa Bayangan juga mulai tercium menusuk hidung.


Jika saat ini ada orang biasa di tempat tersebut, sudah pasti bulu kuduk mereka akan berdiri semua. Untungnya orang yang dimaksud tidak ada.


Lantas, apakah mereka yang hadir bukan orang?


Mereka orang. Mereka manusia. Tetapi mereka lain dari manusia lain, mereka adalah orang-orang dunia persilatan yang sudah terbiasa dengan keadaan semacam ini. Tapi walaupun begitu, tak sedikit juga para tokoh yang hadir merasa bergidik ngeri.


Mereka masih membayangkan dengan jelas bagaimana caranya Pendekar Tanpa Nama membunuh Pendekar Pedang Tanpa Bayangan yang merupakan tokoh pilih tanding.


Mereka ingat. Karena pada dasarnya mereka juga melihat pertarungan kedua tokoh itu dari awal hingga akhir.


"Kaukah si Setan Tombak Halilintar?" tanya Cakra Buana setelah sekian lama memperhatikan seoarang tokoh tua.


"Tepat. Yang disebut Setan Tombak Halilintar memang aku orangnya, tak kusangka kau mengenalku," jawab pria tua berumur sekitar enam puluh tujuh tahun tersebut.


Orang tua itu memakai pakaian biru tua. Wajahnya angker, kumisnya cukup tebal dengan sepasang sorot mata yang sangat tajam. Saat dia bicara, suaranya menggelegar seperti suara halilintar.


Di punggungnya terdapat sebatang tombak yang mempunyai ukuran panjang sekitar setengah depa. Tombaknya memang sengaja dibuat tidak terlalu panjang. Karena kalau kelewat panjang, hal itu akan mempengaruhi gerakannya.


Karena itulah, si Setan Tombak Halilintar sengaja membuat senjatanya tidak terlalu panjang agar gerakannya tidak terhambat.


"Aku rasa setiap orang-orang rimba hijau pasti mengenalmu. Jadi tidak heran kalau aku mengenalmu bukan?" jawab Pendekar Tanpa Nama dengan tenang.


"Tepat, ucapanmu memang benar,"


"Kalau benar kau si Setan Tombak Halilintar, itu artinya kau juga harus mampus," tegas Pendekar Tanpa Nama dengan suaranya yang terdengar angker.


"Apakah kita punya dendam?"


"Kalau aku tidak. Tapi guruku iya, sayangnya beliau telah tiada. Karena itulah, dendam itu aku yang akan membalaskannya,"


"Gurumu? Maksudmu Pendekar Tanpa Nama itu?"


"Benar,"

__ADS_1


"Bagus, kebetulan aku juga sudah bersumpah akan membunuh setiap orang yang dekat dengannya. Itu artinya, aku juga harus membunuhmu,"


"Silahkan. Aku tahu kedatangan mereka juga karena tujuan yang sama, karena itulah, kita selesaikan semuanya sekarang," ujar Cakra Buana sambil memandang ke sekeliling tokoh yang hadir di sana.


Si Setan Tombak Halilintar tertawa. Suara tawanya menggema ke seisi hutan tersebut. Saat orang tua itu tertawa, daun-daun rontok dan udara langsung terasa sesak.


Empat belas orang yang hadir lainnya tidak mau ketinggalan. Mereka juga tertawa sambil lantang.


Pendekar Tanpa Nama diam. Dia tetap berdiri dengan tenang tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri meskipun si Setan Tombak Halilintar dan yang lainnya mengerahkan tenaga dalam tinggi dalam setiap tawa mereka.


Wushh!!! Wushh!!!


Belum selesai suara tawa kelima belas orang tersebut, dua bayangan mendadak melesat dengan cepat ke arah Pendekar Tanpa Nama. Gerakannya sangat tiba-tiba dan tanpa diduga.


Dua kilatan perak langsung tampak menyerbu Pendekar Tanpa Nama.


Trangg!!!


Benturan terjadi, percikan api membumbung tinggi ke udara lalu lenyap terbawa oleh angin.


Tapi senyuman di wajahnya sudah berubah menjadi dingin. Senyuman itu lebih dingin dari bongkahan es di kejauhan sana. Dan lebih dingin seorang kekasih yang sedang cemburu.


Wushh!!!


Cahaya merah berkelebat.


Trangg!!! Srett!!!


Sekali cahaya merah itu bergerak, darah langsung muncrat. Kecepatan serangan tersebut tidak bisa disebutkan oleh kata-kata. Serangannya sangat tepat, tidak meleset sedikitpun.


Dua orang yang menyerang Pendekar Tanpa Nama secara tiba-tiba itu, kini sudah terkapar tanpa nyawa. Kepala mereka hampir buntung karena ditebas oleh Pedang Naga dan Harimau.


Semua kejadiannya berlangsung dengan singkat sehingga tidak ada yang pernah menduga sama sekali.


Tiga belas rekannya langsung naik pitam. Mereka mengangkat senjatanya masing-masing lalu kembali menyerang Pendekar Tanpa Nama dengan segala kekuatan yang ada.


Tiga belas batang senjata tajam telah diacungkan. Masing-masing dari senjata tersebut sudah siap untuk menebas atau memotong-motong tubuh Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


Wushh!!! Wushh!!!


Tiga belas tokoh dunia persilatan bergerak secara serempak. Serangan mereka berbeda-beda, karena pada dasarnya mereka berbeda perguruan satu sama lainnya.


Dua orang mengirimkan tebasan keras dengan golok di tangannya. Mereka datang dari arah depan. Empat orang lain mengirimkan sejumlah serangan tusukan yang tidak kalah berbahayanya, mereka datang dari sisi kanan dan sisi kiri.


Dari arah belakang juga sama, satu orang tokoh telah melancarkan sebuah hantaman dari atas menggunakan ujung tongkat besi yang digenggam dengan erat.


Tujuh macam serangan dahsyat dan berbahaya sudah mengancam Pendekar Tanpa Nama. Serangan mereka bahkan tidak berada di bawah serangan dua tokoh sebelumnya.


Bahkan jika di lihat lebih teliti lagi, tujuh serangan yang sekarang mengancam pemuda Tanah Pasundan itu jauh lebih hebat. Kalau orang lain yang menjadi sasarannya, orang itu pasti sudah panas dingin atau bahkan terkencing-kencing.


Tapi Pendekar Tanpa Nama tidak demikian. Dia bahkan masih berdiri kokoh seperti sebuah patok yang ditancapkan dengan dalam ke dasar bumi.


Pemuda itu sedang menanti datangnya tujuh serangan berbahaya tersebut. Saat semua serangan sudah hampir tiba di depannya, dia bergerak.


Sebuah gerakan yang sangat indah. Sangat lentur, namun sangat berbahaya.


Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk kembali dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Nama.


Tubuhnya mendadak menghilang. Sosok pemuda itu seperti lenyap dari pandangan semua lawannya.


Pendekar Tanpa Nama mengangkat Pedang Naga dan Harimau ke atas lalu dia langsung melancarkan serangkaian serangan kilat.


Wushh!!!


Cahaya merah menyebar luas seperti cahaya mentari di sore hari. Kecepatannya bagaikan kilat. Ketajamannya lebih tajam dari pada apapun di dunia ini. Ketepatan serangannya tidak usah diragukan lagi.


Seumur hidupnya, sepanjang pertarungan yang sudah terlewati, tujuh tokoh tersebut mungkin baru melihat dan merasakan ada serangan semacam ini.


Crashh!!!


Satu kepala menggelinding secara tiba-tiba. Pemilik kepalanya langsung ambruk tanpa mengeluarkan suara apapun. Orang itu seperti tewas begitu saja. Dia bagaikan tewas tanpa sebab yang jelas. Siapapun tidak ada yang melihatnya.


Orang-orang tersebut tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Mereka hanya tahu bahwa kini satu rekannya telah tewas menyusul dua rekan sebelumnya.


Pendekar Tanpa Nama terus bergerak dengan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Cahaya merah semakin menyeruak ke segala penjuru. Dentingan nyaring akibat senjata berbenturan mulai banyak terdengar seiring berjalannya pertarungan hebat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2