
Suasana kembali sunyi. Empat orang yang ada di sana terdiam kembali. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, tidak ada yang tahu akan hal ini.
Cakra Buana sudah menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh. Sekarang rasa sakitnya sudah hilang sama sekali.
Tosu Angin Badai dan Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur masih berdiri di posisi paling depan. Mata mereka mencorong tajam ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Walaupun dua orang tua itu terlihat tenang, tetapi kapanpun mereka siap untuk bergerak. Untuk seorang tokoh dunia persilatan, kapanpun dia bisa menyerang dan bertahan. Sekalipun sedang tidur, mereka tetap bisa bertahan.
Orang-orang yang sudah mencapai taraf seperti mereka, biasanya setiap anggota tubuh sudah mempunyai mata dan firasat tersendiri.
Kalau mereka ingin bertahan, apapun akan mereka tahan. Kalau mereka ingin bergerak, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk bergerak.
Dan sekarang dua Tosu tua itu bergerak lagi.
Tendangan yang amat dahsyat melayang ke dada Cakra Buana. Segulung angin badai menerjang secepat kilat.
Semuanya serangan ganas dan kejam. Siapapun yang terkena dua serangan ini, tidak ada jaminan bahwa nyawanya masih tetap ada.
Tapi Pendekar Tanpa Nama tidak mundur ataupun menghindar. Dia justru malah maju dengan kecepatan tinggi.
"Harimau Menyongsong Rembulan …"
Jurus kelima dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau sudah keluar.
Kedua tangan Cakra Buana terbuka layaknya cakar harimau yang siap mengait mangsanya. Gerakan itu dia lakukan lebih cepat daripada gerakan dia sebelumnya.
Hanya sesaat saja, Pendekar Tanpa Nama telah tiba di hadapan dua orang lawannya.
Segulung angin yang dilancarkan oleh Tosu Angin Badai, berhasil dia hindari dengan cara melompat tinggi ke atas.
Begitu turun ke bawah, dia telah melesat mengarah ke Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur. Dua tangannya dikembangkan. Mirip seperti harimau yang sedang menerkam.
Cakra Buana berkelit ke sebelah kanan. Tangan kirinya segera menyongsong dagu lawan. Tetapi si Tosu tua berhasil menghindar tak kalah cepatnya.
Pertempuran tidak berhenti sampai di situ saja. Dua Tosu tua kembali melancarkan serentetan pukulan yang datang tanpa henti sedikitpun.
Tendangan dan pukulan melayang bebas tanpa hambatan. Setiap saat tubuh Pendekar Tanpa Nama bisa mendadak berubah menjadi samsak dua Tosu tua.
Sayangnya pemuda itu bukan samsak yang bisa bebas dipukuli. Dengan gerakan kilat yang sulit diceritakan, Pendekar Tanpa Nama justru malah menerjang keduanya sekaligus.
__ADS_1
Dua Tosu tua itu berada dalam posisi terancam. Mereka tidak bisa lagi menghindar karena jarak Cakra Buana sudah sangat dekat.
Namun sebelum kejadian tak diinginkan terjadi, si Tosu Tangan Geledek telah turun tangan juga untuk meramaikan suasana.
Segulung angin dahsyat diiringi suara bergemuruh datang menerjang Cakra Buana dari arah kanan. Tangan itu mengeluarkan tenaga yang mengerikan sekali.
Kecepatannya lebih cepat daripada kilat.
"Blarr …"
Cakra Buana tergetar. Dia terdorong dua langkah. Si Tosu Tangan Geledek sendiri mengalami hal yang sama, dia terdorong tiga langkah. Tangan kanannya terasa kesemutan dan perih.
Ternyata saat merasa ada kekuatan hebat dari sisi kanan, pemuda serba putih itu langsung mengalihkan serangannya. Untung serangan tersebut mendadak, dan dia juga mengalihkan secara tiba-tiba.
Kalau tidak, mungkin dua Tosu akan menyerangnya begitu menyadari dia mengalihkan serangan.
Tiga Tosu sudah bergabung untuk membunuhnya.
Ini menjadi masalah baru bagi Cakra Buana. Tentu saja, sebab jika mereka sudah bergabung, maka kekuatannya sulit untuk dibayangkan.
Tokoh kelas satu saja akan kerepotan menghadapi serangan mereka. Apalagi Cakra Buana?
Ada pepatah mengatakan bahwa seekor harimau bisa menjadi penguasa jika di hutan. Namun dia belum tentu bisa jadi penguasa jika berada di air.
Begitu juga dengan Pendekar Tanpa Nama.
Apalagi dia masih baru dan pengamalan di dunia persilatan Tionggoan masih sangat cetek. Lain lagi ceritanya kalau dia sudah berpengalaman dan sudah mengetahui intisari ilmu silat.
Tapi walaupun begitu, Cakra Buana tidak merasa takut. Kalau mampu akan dia hadapi, kalau tidak maka akan mencari cara untuk melepaskan diri dari cengkeraman tiga Tosu tua itu.
"Kalau kami sudah turun tangan bersama, maka jangan pernah berharap bisa hidup lebih lama lagi," kata Tosu Tangan Geledek sambil tersenyum mengejek.
"Silahkan. Walaupun aku tidak dapat membunuh kalian semua, tapi setidaknya harus ada satu orang yang dijadikan tumbal," jawab Cakra Buana penuh percaya diri.
Tiga Tosu tua tidak ada yang bicara. Mereka hanya tersenyum sinis.
Detik berikutnya, suasana yang menyeramkan, berubah jadi lebih menyeramkan lagi.
Tiga Tosu segera mengambil posisinya masing-masing. Cakra Buana dikepung oleh mereka. Walaupun kepungannnya sekilas biasa saja, tetapi jangan di anggap enteng.
__ADS_1
Jangankan manusia, singa pun mungkin akan kesulitan untuk melepaskan diri.
Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur langsung menerjang Cakra Buana. Dia menendang sambil melayang. Tubuhnya meluncur sambil berputar.
Si Tosu Angin Badai tidak tinggal diam. Segulung angin yang jauh lebih dahsyat telah melesat bagaikan anak panah. Tubuhnya juga ikut meluncur setalah serangannya keluar.
Si Tosu Tangan Geledek mengikuti dua rekannya. Dia turut serta melancarkan serangan yang jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Dua tangannya melayangkan masing-masing satu pukulan jarak jauh.
Dua gulung angin dahsyat menerjang. Suara bergemuruh mengikuti serangannya.
Tiga serangan dahsyat datang sekaligus menuju ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Dia tidak mau menunggu datangnya kematian. Sebelum tiga jurus hebat tiba, Cakra Buana telah mengambil tindakan.
"Naga dan Harimau Bersatu Padu …"
Jurua terakhir keluar.
Satu kakinya menjejak tanah. Tangan kanannya membentuk lima cakar. Tangan kirinya membentuk tiga cakar.
Perpaduan antara cakar naga dan cakar harimau. Kekuatan dahsyat keluar dari tubuhnya. Hawa murni dihimpun. Hawa panas dan hawa dingin keluar secara berbarengan.
"Blarr …"
Benturan keras menggelegar di siang bolong. Keempatnya terdorong mundur. Tetapi mereka segera melayangkan serangan susulan berikutnya.
Semua yang keluar adalah serangan hebat yang jarang mereka keluarkan jika keadaan tidak benar-benar terdesak. Pendekar Tanpa Nama sangat geram.
Dua hawa segera menerjang tiga lawannya. Dia bergerak sangat cepat. Lincah. Juga mengerikan.
Pemuda Tanah Pasundan itu menyerang setiap lawan seperti naga yang sedang mengamuk. Atau juga seperti seekor harimau yang sedang benar-benar marah.
"Blarr …"
Bentura terjadi lebih besar daripada sebelumnya. Debu, daun kering dan bebatuan berkumpul menjadi satu menghalangi semua pandangan. Tiga Tosu tua terpental ke belakang sejauh lima tombak.
Ketiganya terluka cukup parah. Tetapi yang paling parah adalah si Tosu Tangan Geledek. Kedua tangannya terasa sangat sakit. Ada luka menghitam di sekujur lengan kanan dan luka biru di tangan kiri.
Dadanya terasa dihantam kekuatan sebesar gunung. Organ dalamnya terguncang keras. Dia memuntahkan darah kental yang cukup banyak.
__ADS_1