
"Sudahlah nak, kau tidak perlu seperti itu. Kita hanya berduel untuk sekedar berlatih saja. Bukan bertanding seperti yang sesungguhnya. Namun satu tahun kemudian, aku akan bersungguh-sungguh melawanmu. Jangan lupa, saat itu akan aku tunggu," kata Raja Tombak Emas dari Utara sambil menepuk pundak Pendekar Tanpa Nama.
"Baik Paman. Aku akan berlatih sekeras mungkin supaya bisa mengalahkanmu. Dengan begitu, kau tidak akan kecewa kepadaku," timpal Cakra Buana sambil tersenyum.
Enam tokoh tersebut berjalan santai. Mereka kembali lagi ke balairung.
Malam semakin larut. Mereka semakin tenggelam dengan dunianya masing-masing.
Beberapa diskusi serius telah di bicarakan. Semua orang mempunyai tugasnya masing-masing.
"Baiklah, aku rasa aku harus kembali supaya besok bisa langsung bergerak sesuai rencana kita selanjutnya. Lebih cepat lebih baik. Sebab kalau dibiarkan terlalu lama, aku malah khawatir anggota Organisasi Tengkorak Maut yang tersisa justru berani berbuat ulah kembali," ujar Pendekar Belati Kembar.
"Apa yang dikatakannya memang benar. Aku juga harus kembali secepatnya," ucap Kakek Sakti Alis Tebal menyetujui perkataan Pendekar Belati Kembar.
"Benar, aku juga sama. Cakra, kau harus selalu mengingat janjimu. Aku menunggumu satu tahun lagi di sini," kata Raja Tombak Emas dari Utara.
"Baik paman. Sebagai pria sejati, aku akan selalu mengingat janjiku padamu," jawan Pendekar Tanpa Nama.
Ketiga tokoh tersebut berdiri. Tuan Santeno Tanuwijaya tidak menghalangi ketiga sahabatnya. Sebab orang tua itu tahu bagaimana sifat mereka. Sekali bicara, tidak mungkin dapat dicegah.
"Baiklah kalau kalian memang ingin kembali sekarang juga. Aku harap suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi. Kalau bisa bawa sekalian murid kalian, kita adakan pertandingan … hahaha," ucap Tuan Santeno sambil tertawa.
"Baik, aku setuju,"
"Aku juga,"
"Karena semua setuju, maka aku juga setuju,"
Tiga tokoh menyatakan persetujuannya. Mereka akan mengadakan pertandingan antara murid-murid intinya setahun kemudian.
"Bagus. Aku tunggu kalian bersama para murid inti," kata Tuan Santeno.
Mereka mengangguk sambil tersenyum. Setelah basa-basi sebentar, tiga tokoh tersebut langsung melesat kemudian menghilang ditelan gelapnya malam. Hanya dalam sekejap mata saja, ketiganya sudah tidak nampak lagi.
Kini yang ada di sana hanyalah Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap. Tak lupa juga sang tuan rumah.
"Paman, besok aku juga ingin pamit kepadamu. Ada tugas penting yang harus aku selesaikan,"
Sebelum orang tua itu menjawab, Bidadari meminta untuk mengundurkan diri lebih dulu. Gadis maha cantik itu merasa sangat kelelahan. Sehingga dia memilih untuk istirahat.
"Baiklah Sinta. Aku juga tidak akan lama lagi akan istirahat," kata Cakra Buana sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah tidak ada orang lagi, barulah Tuan Santeno menjawab perkataan Pendekar Tanpa Nama.
"Kalau Paman boleh tahu, tugas apa yang kau maksudkan?"
"Aku akan mengantarkan sebuah kitab ke negeri Tiongkok sana Paman. Ini perintah langsung dari mendiang Guru Pendekar Tanpa Nama dalam kitabnya. Jadi bagaimanapun juga, aku harus menjalankan tugas ini,"
"Apa? Kau akan pergi ke sana?"
"Benar Paman,"
"Kapan?
"Secepatnya. Mungkin setelah aku belajar bahasa mereka, baru aku akan berangkat,"
"Kau akan sendirian ke sana?"
"Benar Paman,"
"Hemm, baiklah. Paman hanya bisa mendoakanmu saja. Semoga kau selalu berada dalam lindungan Sang Hyang Widhi, tapi bagaimana dengan Bidadari Tak Bersayap kalau kau akan pergi sendiri?"
"Aku juga sudah bicara padanya. Dia juga mempunyai tugas khusus dari gurunya sehingga mengizinkanku untuk pergi ke sana. Mungkin setelah pulang nanti, aku baru mencarinya lagi,"
"Baiklah kalau begitu. Dunia ini memang luas, kau harus bisa mengarungi dunia. Supaya kau tahu keadaan di tempat lain. Setidaknya kau harus juga banyak melihat hal-hal di luar sana,"
"Hidup itu harus banyak tahu dan tahu banyak. Pengalaman adalah guru terbaik. Karena itu, selama kau mempunyai kesempatan untuk mencari pengalaman, maka carilah. Sebab guru terbaik dalam hidup adalah pengalaman. Selama kau berniat baik, pasti hasilnya baik pula,"
"Apapun yang kau lakukan, nikmati saja. Setiap orang sudah pasti bisa bertahan hidup, tapi tidak setiap orang bisa menikmati hidupnya. Kau harus tahu ini,"
"Baik Paman, semua ucapan Paman akan aku ingat selalu,"
"Bagus. Di mana pun kau berada, jadilah pohon yang tidak tinggi namun rindang. Pohon yang sederhana namun bisa bermanfaat, jauh lebih baik daripada pohon mahal yang hanya mendatangkan kerugian,"
"Terimakasih atas semua wejangan Paman. Seumur hidup, aku tidak akan melupakan pelajaran ini," ucap Pendekar Tanpa Nama sambil memperlihatkan rasa hormatnya kepada Tuan Santeno yang sudah dia anggap seperti paman sendiri.
"Paman, apakah aku boleh meminta tolong kepadamu?"
"Katakan saja. Selama Paman mampu, pasti akan membantumu,"
"Aku mohon supaya Paman menjaga Bidadari Tak Bersayap di mana pun dia berada," pinta Cakra Buana.
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Benar, hanya itu,"
"Baik. Paman berjanji akan menjaganya dengan cara Paman sendiri. Kau bulatkan saja tekadmu untuk menjalankan tugas dari mendiang gurumu,"
"Baik Paman. Kalau begitu, aku pamit lebih dulu,"
"Silahkan nak,"
Cakra Buana melangkah keluar dari balairung. Hatinya didera berbagai macam perasaan. Enggan berpisah dengan orang tua itu, tapi apa daya. Tugasnya jauh lebih penting.
Pagi harinya, Pendekar Tanpa Nama bersama Bidadari Tak Bersayap sudah melakukan persiapan. Seperti yang sudah di bicarakan semalam, mereka akan pergi dari Perguruan Tunggal Sadewo untuk menjalankan tugas lainnya.
"Cakra, Paman tidak bisa membekali apa-apa. Tolong terimalah ini, mungkin akan sedikit berguna di perjalanan nanti," ucap Tuan Santeno sambil memberikan dua kantong keping emas.
Setelah itu dia juga memberikan satu kantong keping emas lainnya kepada Bidadari Tak Bersayap.
"Kalau ada waktu, berkunjunglah kemari. Pintu perguruan akan selalu terbuka untukmu," kata orang tua itu kepada kekasih Pendekar Tanpa Nama.
"Baik Tuan, terimakasih atas kebaikannya," jawabnya sambil memberikan hormat.
"Kalai begitu, kami pamit dulu Paman. Sampai jumpa lagi," ujar Cakra Buana sambil melambaikan tangan kepada orang-orang yang mengantar kepergiannya.
Sepasang kekasih itu segera pergi. Hanya dalam waktu singkat, keduanya sudah tidak terlihat lagi bayangan punggungnya.
Perguruan Tunggal Sadewo kembali sepi seperti semula. Yang ada hanyalah sisa kenangan bersama.
Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap saat ini sedang berjalan perlahan. Keduanya berjalan di tengah hutan yang sepi.
"Ke mana tujuan kita sekarang Kakang?"
"Aku ingin mengantarmu ke tempat tujuanmu lebih dulu,"
"Ke Gunung Tilu Dewa?"
"Benar,"
"Aku bisa menempuhnya sendiri Kakang,"
"Memang bisa. Aku tahu itu. Tapi aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama sebelum kita berpisah untuk sementara," ujarnya sambil melirik sang kekasih.
Seketika hati Bidadari Tak Bersayap langsung berbunga-bunga. Pipinya memerah dan lesung pipi langsung muncul.
__ADS_1
"Kenapa kau malah tertawa? Memangnya ada yang lucu?" tanya Cakra Buana keheranan.
"Ada, kau memang lucu," kata si gadis lalu berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh kemudian segera dikejar oleh Pendekar Tanpa Nama.