
Malam telah datang kembali. Malam ini masih sama seperti malam-malam kemarin.
Bau harum bunga mekar dari semua taman di Kerajaan tercium membawa kenyamanan bagi setiap jiwa yang ada di sana.
Di ruangan itu hanya ada lima orang saja. Di depan mereka ada meja bundar dari Kayu jati yang menginap. Di atasnya terdapat banyak hidangan mewah. Beberapa guci arak yang didatangkan langsung dari Tionggoan terlihat masih tersegel rapi.
Orang-orang yang ada di sana bukan lain adalah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Prabu Katapangan Kresna serta Dua Dewi.
Mereka sedang membicarakan beberapa persoalan. Terutama sekali jabatan yang akan diterima oleh dua orang gadis cantik itu.
"Jadi sebenarnya posisi apa yang kalian berdua inginkan?" tanya Prabu Katapangan setelah meminum secawan arak.
"Apapun kami pasti mau Gusti Prabu. Yang penting kami bisa menjadi bagian dari Kerajaan," jawab Dewi Bercadar Merah.
Kalau urusan bicara, Ling Ling memang lebih hebat bagi daripada Sinta. Gadis itu tak ubahnya seperti Nenek Sakti.
Prabu Katapangan berpikir sebentar. Dia sedang mencocokkan posisi yang pas untuk keduanya.
"Ah iya, bagaimana kalau kalian berdua menjadi pengawal pribadi istriku? Kebetulan sekali saat ini dia sedang tidak sehat dan tidak ada tokoh yang menjaganya,"
Seorang Ratu harus dijaga ketat oleh seorang tokoh kelas atas. Kalau tidak dijaga, bisa-bisa sesuatu tak diinginkan bakal terjadi.
Dalam hatinya masing-masing, diam-diam Dua Dewi merasa kaget. Mereka tidak habis pikir kenapa Ratu tidak dijaga. Bukankah hal ini sedikit tidak masuk akal?
Tapi bagaimanapun juga, mereka memilih bungkam. Sebab kalau sampai bicara, bisa-bisa malah runyam urusannya.
"Dengan senang hati kami siap menerima tugas ini, Gusti Prabu," jawab Ling Ling.
"Nah, baiklah kalau begitu. Seorang pengawal Kerajaan akan mengantarkan kalian ke kamar pribadi istriku,"
Baru saja ucapannya selesai, seorang pengawal yang dimaksud sudah masuk ke ruangan itu. Dengan penuh rasa hormat orang tersebut kemudian mengantarkan Dewi Bercadar Merah dan Dewi Bercadar Biru ke kamar sang Ratu.
###
Kamar itu cukup luas. Ornamen yang ada di dalamnya sangat mewah. Kamar ini dipenuhi dengan barang-barang antik yang harganya tak ternilai. Permadani merah muda terhampar di seluruh ruangan kamar. Tempat tidur yang sangat empuk kumplit dengan selimut yang hangat dan nyaman.
Tapi semua keindahan ini langsung sirna begitu Dua Dewi melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang terbaring lemah di atasnya.
Wanita yang dimaksud bukan lain adalah Ratu Ayu Kencana Nirmala Putri, istri pertama dari Prabu Katapangan Kresna, sang Raja Tanah Pasundan.
Ratu yang harusnya mendampingi Raja itu ternyata harus rela terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidurnya. Dia harus rela menghabiskan masa-masa hidupnya di pembaringan tanpa bisa menikmati kedudukannya yang sangat tinggi itu.
__ADS_1
Harta kekayaan bergelimang, kedudukan sangat terhormat, tapi sayangnya harus rela rebah tanpa bisa berbuat apa-apa, bukankah hal ini sangat menyedihkan sekali? Kalau kau ada di posisinya, kira-kira bagaimana perasaanmu?
Di dalam kamar itu ada juga beberapa orang dayang yang sengaja dikhususkan untuk mengurusi Rati Ayu. Mereka senantiasa menjaganya siang dan malam sehingga semua keperluan sang Ratu dilakukan oleh para dayang setia itu.
Tanpa terasa Dua Dewi merasakan betapa hatinya sakit bak tertusuk ribuan batang jarum yang sangat tajam. Sakitnya bukan kepalang.
Ling Ling dan Sinta kemudian memperkenalkan diri kepada para dayang yang berjumlah tiga orang itu. Ternyata mereka ramah, kedatangannya disambut baik oleh mereka.
"Kalian pasti lelah, silahkan istirahat saja dulu. Biar kami berdua yang gantian menjaga Ratu," ucap Ling Ling.
"Tapi Nyai …"
"Sudahlah, aku tahu kalian lelah. Raja tidak akan marah, percayalah,"
"Ba-baiklah kalau begitu. Terimakasih …"
Tiga dayang itu segera keluar kamar. Sekarang yang ada di sana hanyalah Dewi Bercadar Merah dan Dewi Bercadar Biru saja.
###
Malam semakin menjelang. Rembulan perlahan meninggi. Semilir angin sepoi-sepoi berhembus menambah dinginnya suasana.
Seorang diri Abikama si Tapak Mega menembus gelapnya malam itu. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai puncak, rasanya tidak perlu waktu yang lama bagi dirinya agar bisa sampai di hutan pinggiran sebelah Utara.
Orang itu berdiri tegak di bawah pancaran rembulan. Pakaiannya berkibar tertiup angin dingin. Dia berdiri membelakangi kedatangan Tapak Mega.
Walaupun orangnya menghadap ke mana, tapi sepertinya dia sangat peka. Sebab begitu Abikama tiba di hadapannya, orang tersebut langsung membalikkan tubuhnya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," kata Abikama membuka suara.
"Tidak masalah, aku malah siap menunggumu hingga hari esok sekalipun," jawab orang tersebut.
"Kenapa?"
"Karena aku yakin kau akan datang kemari,"
"Jadi benar, kau adalah orang yang turun tangan saat pertarungan uji coba itu?"
"Benar. Memang aku orangnya,"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Karena aku tidak suka melihat ada orang yang membuat kekasihku marah,"
"Siapa kekasihmu?"
"Dua Dewi. Keduanya adalah kekasihku,"
Hampir saja jantung Abikama copot karena mendengar jawaban itu. Bagaimana mungkin orang di hadapannya saat ini merupakan kekasih dari Dua Dewi? Apakah perkataannya benar dan dapat dipercaya?
Kalau tidak mendengarnya secara langsung, Abikama tentu tidak akan percaya begitu saja. Tapi bagaimanapun juga dia harus tetap percaya. Apalagi setelah sekarang dirinya melihat jelas wajah orang itu.
Ternyata wajahnya sangat tampan. Kuktinya putih dengan kedua alis tebal mirip golok. Bibirnya selalu tersenyum lembut. Usianya masih muda. Paling banter sekitar dua puluh lima atau dua puluh enam tahun.
"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Pendekar Tanpa Nama …" jawabnya secara perlahan.
Orang itu memang Cakra Buana. Dia sengaja melakukan hal tadi untuk memancing keluar Abikama. Sebab pemuda itu tahu kalau Abikama bukanlah orang sembarangan. Lebih tepatnya lagi, dia tahu kalau si Tapak Mega bukan orang yang benar-benar mengabdi kepada kerajaan.
"Aku tidak mengenalmu. Katakan saja apa maumu sebenarnya,"
"Aku ingin tahu siapa sebenarnya Dua Pendekar Bertopeng dan Nyai Anjani Saraswati,"
"Kenapa kau bertanya padaku? Aku tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Yang aku tahu mereka hanyalah seorang selir dan pengawal pribadinya saja," tegas Abikama.
Meskipun suaranya lantang, tapi hatinya terkejut karena pemuda yang mengaku Pendekar Tanpa Nama itu ternyata mengajukan pertanyaan seperti barusan.
Dia tidak habis pikir, sebenarnya apa tujuannya?
"Kau tidak mau menjawab yang sebenarnya?"
"Aku memang tidak tahu,"
"Kau tahu orang macam apa yang paling aku benci?"
"Orang macam apakah itu?"
"Orang yang berbohong. Apalagi kalau dia pria,"
"Oh, lantas, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Membunuhmu …" jawab Cakra Buana dengan dingin.
__ADS_1
"Hahaha … kau yakin sanggup membunuhku?" tanya Tapak Mega sambil tertawa lantang.
"Kau boleh mencobanya,"