Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Peringatan Terakhir


__ADS_3

"Seumur hidup, baru kali ini ada orang yang berani menghina Empat Golok Dua Pedang secara langsung," kata seseorang yang menggunakan golok kembar sebagai senjatanya.


"Berarti aku harus bangga karena menjadi orang pertama yang berani melakukan hal ini,"


"Benar. Selain itu, kau juga harus bangga karena bisa mati di ujung senjata kami,"


"Asal kalian bisa membuktikan ucapan itu, tentunya aku akan bangga sekali. Tapi kalau tidak, hemm, pasti aku sangat kecewa,"


"Kau tenang saja. Barisan Empat Golok Dua Pedang Penghancur pasti bisa menewaskanmu,"


"Baik. Silahkan dimulai,"


"Cabut senjatamu,"


"Tidak,"


"Kenapa?"


"Kalian belum pantas untuk mati di ujung pedangku,"


"Omong kosong …"


Wushh!!! Wushh!!!


Empat kali bunyi terdengar sama. Empat orang sudah melesat memberikan serangan kepada Pendekar Tanpa Nama. Empat golok sudah dicabut dari sarungnya.


Empat golok menyerang ke seluruh tubuh. Berbagai macam titik mematikan menjadi incaran utama mereka.


Dua pengguna pedang berada di posisi depan dan belakang. Sedangkan pengguna golok berada di samping kanan dan samping kiri.


Ini adalah jurus pembuka dari Barisan Empat Golok Dua Pedang Penghancur.


Delapan orang lainnya hanya berdiri menyaksikan pertarungan yang sebentar lagi akan terjadi. Mereka tidak berani ikut campur karena sadar akan kekuatan sendiri.


Wutt!!!


Serangan pertama telah dilancarkan. Dari arah kiri Cakra Buana, terasa ada segulung gelombang dahsyat menerjang. Tidak lama kemudian, di susul dari sebelah kanannya terdengar desingan angin tajam.


Dua pedang telah mengancam tubuhnya.


Mereka langsung memainkan pedangnya dengan berbagai macam gerakan. Cepat, tangkas, tepat sasaran, semuanya menjadi satu.


Wutt!!!

__ADS_1


Pemegang golok kembar yang di belakang turut serta. Dua goloknya menyerang dengan ganas seperti dua ekor ular yang mengincar mangsanya. Disusul kemudian orang yang didepannya ikut turun tangan pula.


Anggota Empat Golok Dua Pedang sudah turun tangan mengurung Pendekar Tanpa Nama. Tubuhnya diselimuti oleh empat serangan yang ganas dan kejam.


Gerakan mereka sangat teratur rapi. Berbagai macam gaya serangan dikerahkan sekuat tenaga. Tusukan maut dan tebasan hebat telah dilancarkan.


Semua gerakan yang mereka perlihatkan sangat cepat.


Tetapi Pendekar Tanpa Nama lebih cepat lagi. Tubuhnya melejit ke atas menghindari semua serangan yang diberikan oleh lawan. Kaki tangannya bergerak memberikan serangan balasan.


Walaupun serangan yang dia lancarkan terlihat pelan, tapi hasilnya sungguh mengejutkan.


Setiap kali tangannya bergerak, selalu datang segulung gelombang yang besar dan membawa kekuatan dahsyat. Empat Golok Dua Pedang merasakan tekanan hebat yang diberikan oleh lawannya.


"Naga Terbang di Angkasa …"


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Nama berputar mengelilingi empat lawannya. Kecepatannya sulit untuk diikuti oleh mata biasa. Tangan kanannya bergerak melancarkan pukulan ke beberapa titik penting di tubuh lawan.


Sentilan tangannya membuat semua senjata mereka begetar keras. Untungnya tenaga dalam orang-orang tersebut terbilang cukup lumayan. Sehingga senjata mereka tidak sampai dibuat patah menjadi dua bagian.


Tetapi tetap saja, empat orang itu merasa keheranan bagaimana pendekar muda tersebut mempunyai sentilan yang demikian hebat.


Trangg!!!


Mereka tidak pernah menyangka bahwa barisan yang biasa mereka andalkan, ternyata mampu dipecahkan dengan mudah oleh seorang pendekar muda.


"Harimau Bertempur Liar …"


Wushh!!!


Jurus keempat keluar. Gerak serangan yang dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Nama semakin dahsyat dan berbahaya. Tangan kanannya menyambar tubuh lawan sambil memberikan cakaran yang keras.


Wutt!!!


Guci arak yang tadi dia genggam dilemparkan setinggi mungkin.


Sekarang kedua tangannya telah terbebas. Karena itu, tangan kiri yang tadi memehamh guci arak pun, kini telah bergerak juga.


Serangan yang datang kebih hebat lagi. Bergulung-gulung tenaga sakti keluar seperti deburan ombak yang menabrak batu karang tiada hentinya.


Empat lawan Pendekar Tanpa Nama mulai merasa kewalahan.

__ADS_1


Trangg!!!


Enam kali bunyi yang sama terdengar. Masing-masing senjata dari Empat Golok Dua Pedang dibuat patah hanya dalam waktu singkat. Kutungan senjatanya mencelat ke berbagai tempat. Ada juga yang menancap di batang pohon.


Bukk!!! Bukk!!!


Pendekar Tanpa Nama melancarkan hantaman dengan kedua tangannya. Kedua lawan lainnya diserang dengan cakaran yang dahsyat.


Semuanya terpental hingga lima langkah ke belakang. Empat Golok Dua Pedang tidak pernah menyangka bahwa pemuda itu mempunyai ilmu yang sedemikian tingginya.


Mereka tidak dapat bangun kembali untuk selamanya. Sebab hantaman dan cakaran yang baru saja diberikan adalah serangan terakhir Pendekar Tanpa Nama.


Dia tidak mau terlalu berlama-lama.


Begitu pertarungannya selesai, guci arak yang tadi dia lemparkan ke atas juga sudah turun lagi ke bawah dan ditangkap olehnya. Hebatnya, arak di dalam guci tersebut tidak tumpah walau hanya setetes.


Delapan orang terbengong. Walaupun seperti hal sepele, tetapi Pendekar Tanpa Nama sudah membuktikan seberapa tinggi tenaga dalamnya bisa diukur lewat guci arak.


Empat Golok Dua Pedang mengalami luka yang parah. Organ dalam mereka hancur sehingga darah yang keluar juga lebih banyak.


Bau amis terbawa oleh hembusan angin. Hanya dalam tiga puluhan jurus, Pendekar Tanpa Nama sudah menyelsaikan pertarungannya melawan Empat Golok Dua Pedang.


Padahal empat orang itu termasuk ke dalam pendekar kelas satu. Tetapi karena Cakra Buana mengeluarkan tenaga dalam hingga delapan bagian, maka semua lawannya tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.


Apalagi tenaga dalamnya yang sekarang begitu murni dan hampir mencapai puncak kesempurnaan.


Delapan orang yang dari tadi menyaksikan pertarungannya masih terpaku di tempat mereka berdiri.


"Pergilah. Bilang kepada majikan kalian jangan pergi mencari Liu Bing lagi jika tidak mau menerima akibat seperti mereka," kata Cakra Buana sambil menunjuk empat korbannya.


"Ba-baik Tuan," jawan seorang penuh rasa takut.


"Bawa mereka sebagai bukti. Ini merupakan peringatan terakhir. Sekali lagi aku melihat tampang kalian, maka kalian akan bernasib lebih buruk dari mereka," ujar Cakra Buana dingin.


Tanpa banyak berkata lagi, delapan orang itu segera membawa mayat Empat Golok Dua Pedang berikut dengan senjata mereka. Orang-orang itu lari terbirit-birit saking takutnya kepada Cakra Buana.


Suasana di sana kembali sepi sunyi. Yang terdengar hanyalah desiran angin menggoyangkan pepohonan dan daun-daun. Yang ada hanyalah bekas pertarungan dan genangan darah.


Cakra Buana hanya bisa menghela nafas. Terkadang dia merasa lelah. Entah sudah berapa banyak dirinya membunuh manusia. Kadang dia ingin tidak membunuh lawannya.


Tetapi, pemuda itu juga sadar. Kalau tidak berlaku kejam terhadap iblis, maka sudah tentu bahwa mereka tidak akan merasa jera. Sudah banyak contoh yang terbunuh saja masih ada yang berani berlaku nekad. Apalagi jika tidak dibunuh?


Apakah manusia ditakdirkan hanya untuk saling bunuh membunuh? Apakah manusia memang selalu seperti itu? Selalu merasa benar, merasa kuat dan mementingkan ego sendiri?

__ADS_1


Cakra Buana melesat pergi dari sana. Dia tidak ingin membuat Liu Bing menunggu terlalu lama.


__ADS_2