
Hembusan angin menerpa dengan kencang. Debu di ruangan itu menggulung menjadi satu pusaran. Pandangan mata setiap orang kabur karena terutup oleh kepulan debu tersebut.
Pendekar Tanpa Nama masih berdiri di tempatnya semula. Dia tampak tidak bergerak walau sedikitpun.
Tapi pedangnya malah meneteskan darah segar. Setetes demi setetes, darah segar nan merah itu jatuh ke lantai. Darah siapa itu?
Di depannya, Ki Marta juga masih berdiri. Namun sekarang wajahnya sudah pucat pasi. Tubuhnya tiba-tiba jatuh ke lantai. Kiranya orang tua itu telah menjadi korban keganasan Pedang Naga dan Harimau.
Pedang pusaka itu kembali menelan korban jiwa.
Angin berhembus dari arah sebelah barat. Bau amis darah tercium terbawa hembusan itu. Ruangan tersebut sudah sepi sunyi. Di sana tidak ada manusia hidup, yang ada hanyalah mayat-mayat yang bernasib malang.
Pendekar Tanpa Nama sudah pergi. Entah ke mana perginya, sebab tiada seorangpun yang melihatnya.
###
Senja telah datang. Cahaya merah tembaga menyorot ke alam mayapada dengan merata. Suara kicau burung di atas dahan pohon membuat nyaman telinga yang mendengar.
Pendekar Tanpa Nama sedang duduk bersandar di bawah pohon kelapa kuning. Di sisinya juga ada dua buah kelapa yang baru saja dimakan.
Sekarang pemuda tampan dan kekar itu sedang melamun. Kebiasaan Cakra Buana adalah selalu memikirkan sesuatu. Kalau ada sesuatu yang belum tuntas dan masih membuatnya penasaran, maka dia bakal terus memikirkannya.
Dia tidak habis pikir, kenapa Ki Marta bisa tahu kalau dirinya bakal ke desa itu? Dari mana dia tahu? Padahal Cakra Buana sudah yakin kalau pada saat dia pergi, tiada seorangpun yang mengetahuinya.
Lalu dari siapa orang tua itu tahu seluk-beluknya?
Jawabannya hanya satu. Yaitu mata-mata Istana Kerajaan.
Bukankah semua orang yang menjadi mata-mata Kerajaan adalah mereka yang sudah sangat ahli di bidangnya masing-masing?
Ya, dugaan Pendekar Tanpa Nama mengarah kepada mata-mata Kerajaan. Selain daripada itu, rasanya dia tidak mempunyai jawaban lagi.
Tapi kalau benar mata-mata Kerajaan, bukankah itu artinya dia sudah diketahui oleh musuh? Dan kalau memang demikian, maka hal yang nanti bakal terjadi bisa lebih hebat dari apa yang sudah dia bayangkan semula.
Bukan hal mustahil kalau semua pendekar dijaring oleh Kerajaan hanya demi membunuhnya.
Di dunia ini, memangnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh sebuah kerajaan?
Jangankan membunuh satu orang, membunuh seribu orang pun, sebuah Kerajaan pasti sanggup.
"Persetan dengan segala yang bakal terjadi. Kalau pihak Kerajaan sudah tahu, memangnya kenapa? Bukankah itu malah bagus? Aku jadi bisa lebih mudah mencari dalang dari semua ini," gumamnya menghibur diri sendiri.
Pendekar Tanpa Nama tidak gentar sedikitpun. Dia sudah tahu kalau resiko menjadi orang baik adalah kematian.
Wushh!!!
__ADS_1
Tubuhnya melesat secara tiba-tiba. Cakra Buana melakukannya karena dia merasa penasaran, di depan sana ada beberapa puluh orang yang sedang berkumpul membentuk sebuah lingkaran manusia berukuran cukup besar.
Di tengahnya ada satu orang kakek tua renta yang memegangi tongkat.
Semua yang berkumpul menampilkan ekspresi wajah sukar dimengrti. Ada yang kesal, marah, penasaran, dan lain sebagainya.
Sebenarnya apa yang telah terjadi di tempat ini?
Pemuda itu tidak tahu. Untuk sekarang, lebih baik kalau dia diam dan mempelajari keadaan.
"Hei tua bangka busuk, kembalikan barang yang sudah kau ambil itu," bentak salah seorang warga kepada kakek tua tersebut.
"Apa maksud kalian? Aku sama sekali tidak mengerti," katanya setengah ketakutan.
"Jangan bicara omong kosong. Aku tahu kau hanya berpura-pura saja,"
"Sungguh, aku tidak tahu apa-apa," ujarnya semakin merasa takut.
Keadaan mulai ramai. Para warga itu berteriak dan mencaci maki kepada si kakek tua.
Wushh!!!
Tiba-tiba dia melemparkan sesuatu ke tanah. Asap hijau yang sangat tebal mendadak menyelimuti tempat di sekitarnya. Semua orang kebingungan. Tiada seorangpun tahu apa yang sedang terjadi.
Pemuda itu menjejakkan kakinya ke tanah. Kemudian tubuhnya segera meluncur deras ke depan sana ke arah perginya kakek tua tadi.
Dua bayangan manusia saling kejar dengan kecepatan tinggi. Mereka berlari secepat mungkin, hanya sesaat saja sudah berada jauh di tempatnya semula tadi.
Wutt!!!
Cakra Buana mengirimkan serangan jarak jauh kepada orang di hadapannya tersebut. Segulung hawa sakti menerjang deras.
Blarr!!!
Pada saat yang sangat tepat, si kakek tua tadi ternyata mendadak berbalik arah lalu segera melakukan hal serupa.
Akibatnya benturan jurus jarak jauh terjadi. Gelombang kejut membuat dedaunan berguguran tertiup angin. Tubuh si kakek tua tadi meluncur ke bawah. Untung dia bisa menguasai dirinya sehingga tidak jatuh tersungkur.
Sekarang kedua orang tersebut sudah berhadapan satu sama lainnya. Pendekar Tanpa Nama memandanginya dengan penuh selidik. Si kakek tua juga sama.
"Apa kabar?" tanya Cakra Buana sambil tersenyum simpul.
"Kabarku baik, kau sendiri?" tanya balik kakek tua itu.
"Aku baik juga. Sudah lama aku mencarimu, tak kusangka sekarang malah bertemu di sini,"
__ADS_1
"Benarkah? Memangnya kau tahu siapa aku?"
"Manusia mana yang tidak tahu Maling Sakti Seribu Wajah?"
Kakek tua itu seketika terkancing mulutnya. Wajahnya memperlihatkan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Terdengar orang itu menghela nafasnya sebelum bicara.
"Ternyata pandangan matamu sangat tajam," keluhnya.
Pendekar Tanpa Nama hanya tersenyum simpul.
Kakek tua yang berhadapan dengannya bukan lain memang si Maling Sakti Seribu Wajah. Salah satu orang yang sedang dicari-cari oleh Pendekar Tanpa Nama.
"Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa ini adalah aku?" tanya si Maling Sakti penasaran.
"Karena aku yakin,"
"Hanya itu saja?"
"Itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih,"
Maling Sakti Seribu Wajah termenung. Dia tidak mau memikirkan hal lain lagi. Perduli bagaimanapun caranya, toh Pendekar Tanpa Nama sudah mengetahui identitasnya.
"Kenapa selama ini kau mencariku?"
"Karena aku ingin meminta sesuatu darimu,"
"Apa itu?"
"Aku minta kembalikan semua barang yang telah kau curi itu. Terutama sekali Pedang Haus Darah dan Kujang Dewa Batara," tegas Pendekar Tanpa Nama.
Maling Sakti Seribu Wajah tidak menjawab. Orang itu hanya tersenyum dingin seperti merendahkan.
"Barang itu tidak ada padaku. Kalau memang kau menginginkannya, ambil saja sendiri," jawabnya.
Pendekar Tanpa Nama mengerut kening, dia merasa amat penasaran dengan jawaban Maling Sakti.
"Benarkah barang itu tidak ada padamu?"
"Meskipun apa yang aku lakukan bisa dikatakan rendahan, tapi selamanya, Maling Sakti Seribu Wajah bukanlah orang yang suka berbohong. Kepada siapapun aku selalu bicara jujur," tegasnya.
Dia bicara apa adanya. Maling Sakti memang tidak suka berbohong. Dia paling tidak suka dibohongi, oleh karena itulah dirinya juga tidak mau membohongi.
"Kalau begitu, di mana barang-barang pusaka itu?"
"Ada pada seseorang,"
__ADS_1