
Wushh!!!
Sian-li Bwee Hua tidak tinggal diam begitu melihat musuhnya berlaku serius. Dia langsung mengeluarkan hawa sakti hasil latihannya selama ini.
Segulung angin keluar. Semua benda yang hancur dan mengarah ke arahnya, tiba-tiba saja rontok di tengah jalan. Semua benda itu luluh lalu jatuh begitu saja seperti menabrak sebuah dinding yang tidak bisa ditembus.
Aswanta dan orang tua yang dipanggil Ki Suryo itu membelalakkan matanya. Kedua orang tersebut kaget bercampur penasaran. Mereka belum pernah melihat gerakan yang dilakukan oleh gadis itu di dunia persilatan Tanah Jawa.
Gerakannya sederhana. Tapi akibatnya luar biasa.
Sebenarnya ilmu apa yang telah digunakan olehnya?
Sungguh, hati orang-orang yang ada di dalam restoran dibuat bertanya-tanya. Tapi bagaimanapun juga, mereka toh tepat tidak akan mendapat jawaban.
Meskipun hakikatnya sama, —berupa ilmu silat dan tenaga dalam—, tapi setiap negeri mempunyai ciri khasnya sendiri. Malah negeri ini dan negeri itu tidak akan selalu sama.
Seperti negeri Pasundan dan Tionggoan saja contohnya.
Masing-masing dari negeri tersebut mempunyai ciri khas masing-masing dalam segi ilmu silat. Oleh sebab itulah tidak heran jika semua orang merasa penasaran.
Lain lagi dengan Sian-li Bwee Hua, sedikit banyaknya dia sudah mengetahui bagaimana ilmu silat pendekar Tanah Pasundan, lebih tepatnya Pulau Jawa.
Ling Ling adalah gadis pintar dan cerdas. Kepintaran dan kecerdasannya berada di atas rata-rata. Dia juga ahli dalam segala bidang, sebab dirinya sangat suka membaca segala macam buku.
Termasuk buku sejarah tentang negeri orang.
Sebelumnya pada saat dia masih menjadi Pemimpin Organisasi Naga Tebang, Sian-li Bwee Hua telah banyak membaca buku-buku sejarah tentang Pulau Jawa. Terutama sekali Tanah Pasundan.
Oleh sebab itulah sangat wajar kalau dirinya cukup hapal dan mengerti terkait berbagai hal.
Wutt!!!
Meja makan di hadapannya juga dibuat melayang. Sian-li Bwee Hua kemudian mementalkan meja itu dengan menggunakan tenaga dalam.
Meja kayu meluncur deras ke arah Aswanta. Kesiur angin tajam terasa sangat jelas.
Keris di tangan Aswanta digerakkan kembali. Keris itu ditusukkan ke depan sehingga pusaka tersebut mengeluarkan sinar biru lagi.
Blarr!!!
Meja makan yang dilemparkan oleh Sian-li Bwee Hua sekarang telah hancur berkeping-keping.
Semua orang yang hadir menahan nafas melihat kejadian barusan. Meskipun hanya sebentar, tapi bagi orang-orang itu kejadian tersebut sangat berarti. Sedikit banyaknya mereka jadi tahu dan semakin yakin kalau gadis itu bukan berasal dari negerinya sendiri.
__ADS_1
"Benda mestika yang bagus," puji gadis itu tersenyum lembut.
Sian-li Bwee Hua paling senang kalau mendapat lawan berilmu tinggi. Sebab dirinya bisa memperoleh pelajaran ataupun pengalaman dari pertarungan itu.
"Terimakasih. Ilmu silat Nyai sangat berbeda dengan pendekar pada umumnya, aku jadi ingin meminta pelajaran lebih lanjut lagi," jawab Aswanta.
Nadanya mulai rendah. Bahkan saat bicara, terlihat seulas senyum yang dilemparkan olehnya. Aswanta juga tokoh dunia persilatan, dia tahu kebiasaan orang-orang yang sealiran dengannya.
Sebagai kaum yang berkecimpung dalam dunia penuh pertarungan, dia juga merasa senang kalau mendapatkan lawan tanggung. Perduli apakah nyawanya akan melayang atau tidak. Yang jelas dia bisa melihat dan menyaksikan ilmu baru yang ada di muka bumi ini.
Bagi sebagian tokoh, terkadang ilmu silat jauh lebih penting daripada nyawanya sendiri. Mereka hidup untuk silat. Rasanya tiada satupun sesuatu yang melebihi pentingnya ilmu silat.
"Aku tidak mau …"
"Kenapa tidak mau?" tanya Aswanta dengan kening berkerut.
"Karena ilmu silatku bukan sesuatu yang patut dicoba. Jika aku memperlihatkan ilmu silatku, maka aku tidak akan berhenti sebelum jatuh korban,"
Aswanta tersenyum kecut. Dia cukup tahu ilmu gadis cantik itu memang sangat lihai dan aneh. Tapi, dirinya sudah terlanjur. Maka selangkah pun dia tidak akan mundur.
Sedangkan Ki Suryo dan Whira melotot ke arah Sian-li Bwee Hua. Keduanya marah mendengar ucapan itu, mereka merasa dipandang hina.
"Layani dia Aswanta …" seru Ki Suro dengan suara dalam.
Setelah itu pemuda tersebut memandang kembali ke arah Sian-li Bwee Hua. Sorot matanya seperti memohon belas kasihan.
Ling Ling tidak tega melihat itu, apalagi dia pun seorang tokoh persilatan.
"Baiklah kalau memang kau mau. Yang penting aku sudah memberikan peringatan kepadamu,"
"Aku siap menerima segala macam akibatnya. Asalkan bisa mampus di bawah jurus lihai Nyai, maka aku akan mati dengan tenang,"
"Bagus. Mari kita keluar,"
Ling Ling berjalan lebih dulu. Aswanta berjalan di belakangnya, kemudian diikuti oleh yang lain termasuk Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap.
Keadaan di dalam restoran langsung kosong melompong, sebab semua orang yang tadi hadir, sekarang telah berada di halaman luar. Mereka berkumpul membentuk lingkaran.
Semua orang ingin menyaksikan pertarungan ini. Terlebih lagi, mereka juga ingin melihat ilmu tingkat tinggi Sian-li Bwee Hua.
Kedua orang bersangkutan sudah saling berhadapan. Keduanya tampak tenang. Mereka sama-sama berdiam di tempatnya.
"Silahkan keluarkan senjatamu, Nyai," kata Aswanta mempersilakan.
__ADS_1
"Aku tidak biasa pakai senjata. Kau saja yang pakai,"
"Baiklah. Kalau begitu mohon petunjukmu sekarang juga …"
Wushh!!!
Aswanta langsung menyerang ke depan. Kerisnya langsung melancarkan satu tusukan tajam teramat cepat ke arah leher Sian-li Bwee Hua. Gadis itu masih tenang. Sedikitpun belum bergerak.
Begitu keris hampir tiba di hadapan, dia menggerakan kepalanya ke samping kanan lalu tangan kirinya segera meraih keris tersebut.
Pusaka Aswanta sudah berada dalam genggaman tangannya.
Clangg!!!
Keris itu patah jadi dua bagian. Asap putih tipis mengepul, selanjutnya Sian-li Bwee Hua memukul mundur lawannya.
Aswanta sangat marah melihat keris kebanggaannya dibuat patah. Dia menerjang lagi dengan segenap kemampuan.
Wushh!!!
Bayangan merah muda melesat cepat ke depan. Debu mengepul tinggi. Dua pendekar sudah beradu jurus dengan kecepatan sangat tinggi.
Bukk!!!
Satu sosok tubuh terlempar jauh ke belakang.
Aswanta.
Tubuh yang dimaksud itu memang dirinya. Begitu tubuhnya jatuh ke tanah, dia sudah berada dalam keadaan sekarat. Pemuda itu beberapa kali batuk darah cukup banyak.
Sian-li Bwee Hua sudah berdiri di dekatnya.
"Ju-jurus apa itu?" tanyanya bersusah payah.
"Jurus dari Tionggoan. Jurus Bayangan Melesat Nyawa Melayang …"
"He-hebat. Aku bahagia bisa tewas di bawah jurus luar biasa ini …"
Begitu ucapan tersebut selesai, kepalanya langsung terkulai.
Aswanta tewas. Tewas membawa senyuman.
Orang-orang yang ada di sana masih terbengong-bengong. Mereka tidak habis pikir dengan cara apakah gadis itu membunuhnya?
__ADS_1
Setiap orang berusaha mengingat kejadian barusan, sayangnya mereka tidak bisa. Sebab gerakan Sian-li Bwee Hua terlampau cepat. Mereka hanya melihat bayangan melesat ke depan, kemudian debu menutupi jalannya pertarungan, hingga akhirnya pemuda itu terlempar kemudian mampus.