Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Si Tangan Baja


__ADS_3

Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama sudah hampir tiba di tempat tujuannya. Sekarang sudah memasuki hutan yang dekat kaki bukit. Itu artinya, sebentar lagi dia akan tiba di kediaman Kakek Penyaru.


Pemuda itu semakin mempercepat ilmu meringankan tubuhnya. Menurutnya, keadaan mulai tidak beres. Firasatnya mengatakan kalau sesuatu yang tidak diinginkan bakal segera terjadi.


Diam-diam Pendekar Tanpa Nama menghela nafas dengan berat. Dia berharap kalau firasatnya tidak terbukti.


Hari sudah siang. Sebentar lagi, matahari akan berada di atas kepala. Udara panas. Hawa sejuk yang biasanya terasa di tengah hutan, sekarang tidak terasa lagi. Hawa terasa gersang. Keadaan pun semakin sepi.


Akhirnya, Pendekar Tanpa Nama tiba juga di kediaman Kakek Penyaru. Kira-kira delapan sampai sembilan tombak di depannya ada sebuah saung kecil yang terbuat kayu-kayu pohon kelapa. Dindingnya dibuat dari bilik. Sedangkan atapnya sendiri dari daun kelapa yang di anyam.


Sebuah bangunan kecil sederhana. Namun bisa membuat siapapun betah. Suasana sekitarnya sangat mendukung dengan keadaan. Di sana juga ada sebuah halaman yang lumayan luas.


Di pinggir sebelah kanan ada pemandian. Selain itu, ada juga sumur tua yang airnya sangat dingin sekaligus jernih.


Selain daripada semua itu, keadaan saung itu pun juga bersih dan terawat.


Pendekar Tanpa Nama tersenyum simpul melihat itu semua. Dia lantas melangkah dengan perlahan.


"Sampurasun …" katanya dengan suara ramah.


"Rampes …"


Dari dalam saung terdengar ada suara orang menyahut. Suara itu serak parau. Tidak berapa lama, seseorang membukakan pintu.


Seorang kakek tua renta. Mulutnya tersenyum hangat. Wajahnya dipenuhi oleh keriput.


Kakek Penyaru.


"Apa kabar, Kek?" tanya Cakra Buana begitu pintu terbuka.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu sendiri?" tanya balik Kakek Penyaru.


"Aku juga baik,"


"Angin apakah yang membuat Pendekar Tanpa Nama datang kemari?"


"Aku sengaja ingin menemui Kakek Penyaru,"


"Bukankah sekarang ini aku sudah ada di hadapanmu?" tanya Kakek Penyaru sambil mengerutkan keningnya.


"Aku tahu,"


"Lalu kenapa barusan kau berkata seperti itu?"


"Karena aku juga tahu kalau kau bukanlah Kakek Penyaru yang asli," ucap Pendekar Tanpa Nama sambil memandang tajam ke arah orang tua di hadapannya.

__ADS_1


"Apa katamu? Jadi maksudmu, aku ini orang lain yang menyamar menjadi Kakek Penyaru?"


"Tidak salah lagi,"


"Kenapa kau bisa berkata demikian?"


"Karena tatapan matamu tidak mirip dengan tatapan Kakek Penyaru yang asli," kata Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum penuh kemenangan.


Orang tua di hadapannya langsung terdiam. Untuk sesaat, suasana di sana semakin sepi. Kedua orang itu tidak ada yang bicara. Mereka hanya berhadapan satu sama lain. Cuma sepasang mata keduanya saja yang saling pandang dengan tajam.


Pendekar Tanpa Nama melihat bahwa pandangan mata orang tua di depannya sangat tajam. Tajam seperti pisau yang sanggup menembus jantung seseorang.


Hati Cakra Buana sedikit tersentak. Dari tatapan mata itu saja, dia sudah maklum kalau orang tua tersebut pastinya bukanlah orang sembarangan.


Sepasang mata itu bening bagaikan air sumur di dekat saung tersebut. Dalam dunia kanuragan, seseorang yang mempunyai tatapan mata seperti itu, dapat dipastikan kalau orang tersebut mempunyai ilmu yang sudah sangat tinggi.


Berhadapan dengan orang seperti itu, siapapun pastinya bakal merasakan hal yang sama. Begitu juga dengan Pendekar Tanpa Nama.


"Hahaha … ternyata Pendekar Tanpa Nama memang bukan orang lain. Sepertinya di dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang bisa mengelabui dirimu," katanya sambil berseru dengan lantang.


"Mungkin memang benar. Jadi, siapa kau sebenarnya?" tanya Pendekar Tanpa Nama semakin menatapnya dengan tajam.


"Si Tangan Baja …" katanya dengan suara mendalam.


Setelah berkata demikian, orang yang mengaku si Tangan Baja tersebut langsung membuka penyamarannya.


"Apakah kau masih orang-orangnya Penguasa Kegelapan?"


"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?"


Pendekar Tanpa Nama semakin kaget. Bukan karena tanpa alasan. Justru karena alasannya sangat masuk akal itulah pemuda tersebut berlaku seperti itu.


Kalau orang-orang Penguasa Kegelapan sudah mengetahui tentang dirinya yang ingin mencari gembong iblis itu, sudah pasti rencananya telah diketahui oleh musuh.


"Ternyata firasatku benar," ujar Pendekar Tanpa Nama menghela nafas dengan berat.


"Memangnya firasatmu berkata apa?"


"Sesuatu yang buruk bakal terjadi. Aii, sayang sekali,"


"Apanya yang harus disayangkan?"


"Nyawamu …"


Si Tangan Baja mengerutkan kening. Meskipun jawaban pemuda itu singkat, tapi dia sudah sangat paham apa maksudnya.

__ADS_1


"Bangsat kecil, kau harus mampus!!!" bentaknya nyaring.


Wushh!!!


Belum selesai ucapannya, tubuhnya sudah melayang lebih dulu. Sebuah pukulan keras bertenaga dahsyat sudah dilayangkan oleh orang tersebut.


Angin pukulannya tiba lebih dulu sebelum serangan aslinya menghunjam tubuh Cakra Buana.


Pemuda itu masih diam saja. Padahal jaraknya sangat dekat sekali.


Plakk!!!


Tepat pada saat pukulan itu berjarak setengah jengkal lagi, Pendekar Tanpa Nama mengangkat tangan kanannya. Dia menahan pukulan tersebut hanya dengan telapak tangannya.


Wushh!!!


Angin kencang berhembus karena dua tenaga dalam tinggi yang beradu. Hawa sakti keduanya sudah menjalar ke seluruh tempat sekitar.


Si Tangan Baja terdorong mundur dua langkah ke belakang.


Pendekar Tanpa Nama tidak mau membuang-buang waktu. Dia lantas menyerang lebih dulu. Lengan kirinya dikepalkan lalu satu buah pukulan turut dilayangkan.


Enam bagian tenaga dalam dikeluarkan.


Plakk!!!


Si Tangan Baja mencoba untuk menahan serangan lawan. Tapi sayangnya dia telah salah mengambil langkah. Ternyata pukulan Pendekar Tanpa Nama dahsyat bukan main. Tubuh tua itu terlempar cukup jauh ke belakang. Hanya sesaat saja, satu bilik telah jebol dibuatnya.


Tubuh si Tangan Baja terus melayang dengan kencang ke belakang. Dia baru berhenti pada saat menabrak satu buah pohon jati. Saking kerasnya, pohon itu sampai-sampai bergetar dan hampir roboh.


Wutt!!!


Bayangan merah terlihat meluncur kembali. Pendekar Tanpa Nama sudah tiba di hadapan si Tangan Baja. Dia lantas memberikan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.


Si Tangan Baja bertindak cepat. Kedua lengannya yang amat keras itu langsung bergerak mengikuti arah serangan lawan. Seluruh kekuatan yang dia miliki sudah dikeluarkan.


Plakk!!! Plakk!!!


Dua bayangan manusia sudah bertempur dengan hebatnya. Suara dentuman keras dan nyaring karena beradunya tulang terdengar tiada henti.


Pusaran angin tercipta. Hawa kematian dan ***** ingin membunuh terasa semakin tebal kayaknya kabut di tengah malam.


Plakk!!! Bukk!!!


Suara berat terdengar. Pertempuran langsung berhenti saat itu juga. Pendekar Tanpa Nama berdiri tegak bagaikan sebatang tombak. Sedangkan si Tangan Baja, sekarang telah ambruk di tanah.

__ADS_1


Dia ternyata telah tewas. Tewas karena keganasan Jurus Tanpa Bentuk milik Pendekar Tanpa Nama.


__ADS_2