
Orang itu memandangi Pendekar Tanpa Nama dengan seksama. Tatapan matanya amat bening dan cemerlang. Ibarat air di sebuah danau yang sangat jernih. Saking jernihnya hingga membuat setiap orang yang memandang ingin menceburkan diri ke dalamnya.
Begitu juga dengan tatapan mata itu. Pendekar Tanpa Nama balas memandangnya. Hingga beberapa saat lamanya, di antara dua orang itu tiada seorangpun yang bicara. Keduanya terdiam seribu bahasa.
Seolah mereka tidak ingin mengganggu kejadian ini. Biarlah mulut mereka tertutup. Yang bicara cukup tatapan mata itu saja.
Kentongan pertama baru saja lewat. Bau amis darah dari sembilan orang tadi tercium terbawa oleh angin musim kemarau. Darah sudah kering. Tapi rumput sudah basah oleh embun. Beberapa kelelawar terbang ke sana kemari tanpa mau berhenti.
Namun sebaliknya, dua orang yang saling berhadapan itu masih tetap diam tanpa bicara.
Sebenarnya apa yang sedang mereka rasakan? Apakah keduanya saling mengenal?
Tiada siapapun yang dapat mengetahuinya dengan pasti. Namun setelah sekian lama membungkam mulut, secara tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama angkat suara.
"Ternyata kau …" ucapnya sambil menghela nafas.
"Ya, memang aku. Apakah kau sudah menduganya sejak awal?" tanya orang yang ada di hadapannya.
Kebetulan penampilan orang itu sangatlah misterius. Dia memakai pakaian yang sama seperti sembilan orang itu. Seluruh pakaiannya berwarna hitam, cadar yang menutupi wajahnya juga hitam. Sehitam kedua bola matanya.
Dari suaranya barusan, siapapun dapat menebak kalau dia adalah seorang wanita. Tentunya wanita yang mempunyai wajah cantik.
Kalau sepasang matanya saja sudah seperti itu, apalagi wajahnya?
Wutt!!!
Sebelum Pendekar Tanpa Nama menjawab, tiba-tiba orang itu melepaskan pakaian serba hitamnya. Cadarnya juga dilepaskan dalam waktu yang bersamaan. Sesaat kemudian nampaklah penampilan sebenarnya orang itu.
Ternyata dia memang seorang wanita. Wanita cantik mempesona bagaikan sekuntum bunga mawar yang baru saja mekar. Senyumannya merekah seolah mampu membetot sukma setiap pria yang memandangnya.
Bentuk tubuhnya sangat sempurna dengan rambut yang hitam legam serta panjang. Pakaian aslinya berwarna putih. Putih seperti sajlu yang lembut, selembut kulitnya pula.
Pendekar Tanpa Nama menghela nafas dengan berat. Dia tidak habis pikir, kenapa justu malah dia? Bukan orang lain?
Apakah pemuda itu mengenalnya?
Tentu saja. Malah sangat kenal. Karena beberapa waktu silam, keduanya malah pernah melakukan hubungan badan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh mereka sendiri.
Kenangan indah itu tiba-tiba saja muncul di benak kedua orang tersebut. Mereka diam kembali. Malam semakin merayap. Rembulan semakin meninggi.
__ADS_1
"Seharusnya aku memang sudah menduga bahwa pemilik jarum bambu kuning itu adalah dirimu. Tapi ketika ada prasangka seperti itu, aku selalu menyanggahnya sendiri. Tapi siapa sangka, ternyata dugaanku memang benar. Pemilik jarum bambu kuning bukan lain adalah Sri Ningsih, murid dari Tuan Santeno Tanuwijaya," ujar Pendekar Tanpa Nama sangat menyayangkan.
Ya, memang benar. Ternyata pemilik senjata rahasia unik tapi sangat menakutkan itu adalah gadis yang dulu pernah tidur bersamanya. Gadis cantik yang dahulu berada di pihaknya.
Tak nyana, sekarang justru dia malah berada di jalan yang bersebrangan dengannya.
Sri Ningsih tersenyum simpul. Melihat pemuda tampan yang dulu sangat dia cintai kini terkejut, tiba-tiba saja dia merasa sangat gembira. Seperti ada kebanggaan tersendiri baginya.
"Agaknya semua orangpun tidak bakal menyangka,"
"Memang tidak,"
"Ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu,"
"Silahkan katakan," jawab Pendekar Tanpa Nama.
"Bagaimana kau bisa menyangka sebelumnya kalau pemilik jarum bambu kuning itu adalah aku?"
"Karena Tuan Santeno telah menceritakan kejadian pada saat hilangnya Pedang Haus Darah milik sahabatku, Pendekar Pedang Kesetanan,"
Mendengar pengakuan itu, Sri Ningsih tampak sedikit kaget.
"Jadi tua bangka itu masih hidup baik-baik saja hingga sekatang?" tanyanya sambil menatap tajam.
"Harusnya kau sudah tahu akan hal ini,"
"Tapi aku tidak percaya jika orang lain yang membicarakannya. Namun setelah kau bicara sendiri, sekarang aku baru benar-benar percaya,"
Pendekar Tanpa Nama tidak menghiraukan perkataan Sri Ningsih, dia malah mengalihkan pokok pembicaraannya.
"Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa menjadi seperti sekarang ini," katanya dengan jujur.
"Aku sendiri tidak terlalu mengerti kenapa aku begini. Hanya saja, kau juga tahu kalau di dunia ini, apapun bisa terjadi diluar dugaan kita,"
Pemuda itu mengangguk. Dia pun mengerti tentang hal tersebut.
"Sebenarnya apa tujuanmu?"
"Kau tidak perlu tahu,"
__ADS_1
"Tapi aku harus tahu. Apalagi secara tidak langsung kau sudah mencari masalah denganku. Pertama kau menyuruh Maling Sakti Seribu Wajah untuk mengambil Pedang Haus Darah. Kedua, entah sudah berapa kali juga kau ingin mencoba membunuhku,"
"Aku melakukannya karena demi sebuah tugas,"
"Tugas? Siapa yang sudah memberikan tugas itu kepadamu?" tanya Pendekar Tanpa Nama semakin merasa penasaran.
"Kau tidak perlu tahu. Sekarang kita sudahi basa-basi ini. Aku hanya ingin bicara kepadamu agar kau tidak ikut campur masalah Istana Kerajaan Kawasenan," kata Sri Ningsih.
"Kenapa tidak boleh ikut campur?"
"Karena kau bukan siapa-siapa,"
"Aku tahu. Tapi Kerajaan Kawasenan adalah tempat tinggal junjunganku. Jadi mana boleh aku berpangku tangan melihat semua masalah yang menderanya?"
"Sekali aku bilang tidak, selamanya tetap tidak,"
Pendekar Tanpa Nama mulai terbawa emosi. Selama hidupnya, dia paling tidak suka kalau diatur. Apalagi oleh orang lain. Karena itulah pada saat mendengar perkataan Sri Ningsih barusan, pemuda itu tiba-tiba tersenyum sangat dingin.
"Memangnya kau pikir dirimu siapa sehingga berani mengatur-ngatur hidupku?"
Senyuman licik Sri Ningsih tiba-tiba lenyap seketika. Semula dia sangat yakin kalau Cakra Buana bakal bertekuk lutut setelah melihat keadaan dirinya sekarang yang sudah jauh berbeda.
Tak nyana, semua keyakinannya ternyata hanyalah kekosongan belaka. Baru sekarang pula dia sadar bahwasanya tidak semua pria mau berlutut demi dirinya.
Padahal sebelumnya, setiap pria, baik itu orang-orang dunia persilatan maupun orang awam, semuanya akan menuruti setiap perkataannya setelah melihat bentuk tubuh yang padat itu.
Namun yang dia alami malam ini sungguh membuatnya terkejut. Jangankan bertekuk lutut, bahkan menurut pun tidak.
"Kau …"
"Pergi sebelum aku marah lalu membunuhmu," tegas Pendekar Tanpa Nama memotong ucapannya.
Sri Ningsih menggertak gigi. Amarahnya turut berkobar saat itu juga. Sebagai wanita yang selalu dipuja-puja oleh setiap pria, tentunya dia tidak akan terima kalau dirinya direndahkan begitu rupa.
"Kau pikir bisa membunuhku? Apakah kau yakin bisa menandingi jarum bambu kuning milikku?" tanyanya setengah berteriak.
"Jangankan satu Sri Ningsih, bahkan jika ada sepuluh Sri Ningsih sekalipun, aku dapat membunuhnya dengan mudah,"
"Bangsat jahanam!!!" kata gadis cantik tapi licik itu secara mendadak.
__ADS_1
Belum habis ucapannya, tiba-tiba dua cahaya kuning tipis memanjang melesat dengan kecepatan diluar nalar, menuju ke arahnya.