
Seluruh tubuh Pendekar Tanpa Nama terasa bergetar. Hatinya agak jeri dan bulu kuduk di tengkuknya langsung berdiri. Bagaimanapun juga, dia masih merupakan manusia. Selaku manusia, perasaan takut sudah pasti selalu tumbuh dalam diri.
Bagaimana tidak? Nama Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding adalah nama yang sudah tidak asing bagi siapapun. Setiap kalangan umat persilatan sudah tentu pernah mendengar namanya.
Jangankan melihat orangnya, saat ada orang lain yang menyebutkan namanya saja, siapapun pasti akan merasakan perasaan takut tersendiri.
Si Harimau Sakti Tiada Tanding sudah sangat terkenal di sungai telaga. Bukan terkenal karena kebaikannya. Tapi terkenal karena kekejamannya yang tiada duanya. Orang itu sangat kejam, sangat bengis, juga sangat tidak kenal kata ampun.
Setiap lawannya belum pernah ada yang dapat lari atau pulang hidup-hidup. Semuanya pulang tinggal nama. Tidak perduli baik orang itu pengusaha ataupun pejabat pemerintahan, kalau berani berurusan dengan Poh Kuan Tao, itu artinya orang tersebut sudah bosan hidup. Orang itu mungkin tidak mau melihat matahari esok pagi.
Siapapun tidak ada yang berani mencari gara-gara dengannya. Kalau ada yang berani, mungkin kalau tidak gila, maka orang itu pastilah orang bodoh.
Tapi Cakra Buana bukan orang bodoh. Lantas, apakah dia mau menyambangi tempat yang dikatakan oleh Dewi Bunga Bwee barusan?
Nama Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding tidak asing karena dia merupakan datuk dunia persilatan. Dia datuk dari Utara. Bahkan posisinya dikatakan berada dalam urutan pertama di antara empat datuk kang-ouw lainnya.
Selaku datuk yang menduduki posisi pertama, sudah tentu kemampuannya tidak diragukan lagi. Selama puluhan tahun, dia telah merajai dunia persilatan. Khususnya aliran hitam. Orang-orangnya ada di mana-mana. Hartanya juga sangat berlimpah.
"Apakah kau mengatakan yang sebenarnya?" tanya Cakra Buana masih sangsi kepada Ling Ling.
"Kau masih tidak percaya terhadap semua ucapanku? Apakah nyawaku sudah tidak berharga sehingga kau tidak mau percaya?"
"Bukan itu maksudku, hanya saja aku tidak menyangka sama sekali," kata Cakra Buana.
"Akupun begitu,"
"Lantas dari mana kau tahu tentang kabar ini?"
"Kau harus ingat bahwa aku anggota Organisasi Naga Terbang," ujar Ling Ling.
Cakra Buana mengetahui secara pasti bahwa organisasi rahasia itu sangat cepat dalam hal mendapatkan informasi. Mungkin organisasi itu bisa lebih cepat dari mata-mata pemerintahan sendiri.
"Sebenarnya, atas dasar alasan apa kau melarangku memberitahu akan hal ini?"
"Kau sungguh-sungguh ingin tahu?"
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama mengangguk perlahan. Dia tidak perlu menjawab. Karena Sian-li Bwee Hua pasti sudah mengetahui apa jawaban dirinya.
Dia meneguk arak kembali. Wanita itu juga makan daging lagi. Caranya masih sama. Gerakannya pun masih sama.
"Aku melarangmu mengatakan hal ini kepada orang lain, bahkan termasuk sahabatmu karena tidak mau mengundang bencana bagi dirimu. Setiap orang menginginkan kedua pusaka itu, kalau kau memberitahu orang lain, bukan tidak mungkin mereka akan saling bunuh. Bahkan mungkin mereka akan membunuhmu," kata Ling Ling menjelaskan.
"Tapi mereka adalah sahabatku," kata Cakra Buana menyangkal.
"Keluarga saja ada yang berkhianat, apalagi sahabat?"
Cakra Buana langsung bungkam. Dia sudah beberapa kali mendengar berita tentang seorang keluarga yang mengkhianati keluarganya sendiri. Kalau dipikir-pikir, ucapan wanita cantik itu ada benarnya juga.
"Baik, aku mengerti. Kapan aku harus ke sana?"
"Sesukamu saja," jawabnya singkat.
"Kalau begitu sekarang juga aku berangkat,"
"Sekarang?"
"Ya, sekarang. Kalau sekarang bisa pergi, kenapa tidak?"
Ling Ling pergi lebih dulu. Gerakannya sangat cepat. Jauh lebih cepat dibandingkan biasanya.
Pendekar Tanpa Nama tahu bahwa wanita itu bukan hanya ingin pergi. Di lihat dari gerakannya barusan, selain ingin pergi, diapun ingin membunuh orang.
Srett!!!
Cahaya putih kemilau menerangi malam yang gelap untuk beberapa saat. Cahaya itu tampak beberapa kali. Kecepatannya sulit untuk diceritakan.
Hawa kematian masih pekat. Hawa pembunuhan dari seluruh batang pedang milik Dewi Bunga Bwee juga masih kental.
Dua orang manusia telah rebah di tanah. Keduanya telah tewas secara mengenaskan. Tubuh mereka belepotan oleh darah merah yang amat kental. Bau amis langsung menyelimuti tempat itu.
Cakra Buana terbengong melihat dua mayat tersebut. Dia tidak tahu kapan wanita itu bergerak turun tangan. Pemuda itu pun tidak mengetahui kapan Ling Ling menebaskan pedangnya. Namun yang pasti, dua nyawa manusia telah melayang.
__ADS_1
Bagaimana wanita itu melakukannya?
Pendekar Tanpa Nama tidak dapat menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri. Namun dia yakin, kemampuan wanita itu sudah mencapai sebuah tahap yang sangat tinggi.
"Aku pergi," kata Cakra Buana setelah keduanya kembali berhadapan.
"Hati-hati, aku tidak ingin kau mati sekarang," ujar Sian-li Bwee Hua sambil tersenyum lembut penuh kehangatan.
Wanita itu mendadak mendekatkan kepalanya. Cakra Buana juga sama. Sedetik kemudian, mereka telah berciuman mesra di bawah sinar rembulan yang agak remang-remang.
###
Perkampungan Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding yang biasa disebut sebagai Perkampungan Raja Harimau ternyata sangat besar sekali. Selain besar, tempat itupun sangat indah. Lebih indah dari apa yang sudah dibayangkan oleh Cakra Buana sebelumnya.
Letak perkampungan tersebut berada di ujung sebuah desa. Luas bangunan itu entah berapa ratus meter. Namun yang pasti, keadaan di sana benar-benar mengagumkan.
Selain indah, Perkampungan Raja Harimau ternyata juga dijaga sangat ketat sekali. Setiap beberapa meter pasti ada para penjaga yang berjejer siap siaga.
Berbagai macam keindahan yang dapat memanjakan mata disuguhkan di tempat itu. Bahkan pemuda Tanah Pasundan itu merasa bukan ada di dunia. Dia malah merasa di surga karena saking indahnya.
Saat ini hari masih siang. Matahari bersinar terik memberikan sinarnya ke bumi. Suasana di Perkampungan Raja Harimau tampak sepi.
Pendekar Tanpa Nama duduk di sebuah dahan pohon sambil memegangi satu guci arak. Dia sedang memperhatikan tempat megah itu dari jarak tertentu.
Meskipun terlihat sepi seolah tidak berpenghuni, tapi Cakra Buana yakin bahwa setiap saat, puluhan tokoh sungai telaga bisa muncul kapan saja.
Dia bangkit berdiri perlahan. Sedetik kemudian, dirinya langsung meluncur deras ke depan. Tubuhnya meluncur sangat cepat, seperti sebuah batu yang dilempar sekuat tenaga.
Tujuannya yang sekarang bukan untuk menyusup ke dalam.
Niatnya saat ini adalah untuk memeriksa dan mencari tahu informasi tentang Perkampungan Raja Harimau itu.
Bukankah sebelum melangkah pergi, kita disarankan harus tahu segalanya lebih dulu?
Pemuda itu menyelinap di antara tiang bangunan megah tersebut. Tubuhnya melesat ke sana kemari. Sekalipun benar suasana masih siang hari, namun Cakra Buana tidak takut akan ketahuan.
__ADS_1
Ilmu meringankan tubuhnya sudah sangat tinggi. Orang-orang berilmu rendah hanya bisa melihat sebuah bayangan saja.
Kalau kenyataannya seperti itu, apalagi yang harus dia takutkan?