
Kejadian itu berjalan sangat cepat sekali. Mungkin tidak sampai lima belas jurus banyaknya. Tapi hasil dari semua itu sungguh membuat siapapun terpukau.
Seumur hidup, orang-orang itu belum pernah melihat jurus seperti barusan. Kalau boleh, mungkin mereka ingin melihat jurus itu kembali.
Tapi sayangnya sampai kapanpun, tidak bakal ada yang sanggup melihatnya dengan jelas kecuali Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap.
Sinta Putri Wulansari benar-benar kagum melihat jurus Bayangan Melesat Nyawa Melayang.
Dia pun sama dengan yang lain. Seumur hidup, baru melihat jurus seperti itu.
Kalau disuruh bertarung secara serius, di antara dua gadis maha cantik itu, siapakah yang paling kuat? Sian-li Bwee Hua, atau Bidadari Tak Bersayap?
Ki Suryo dan Whira masih terpaku. Mereka tidak percaya kalau Aswanta telah tewas di depan matanya. Bahkan kematiannya masih diragukan.
Perlahan-lahan orang tua itu melangkahkan kakinya lalu berjongkok d hadapan mayat Aswanta. Dia memeriksa denyut nadi juga detak jantung. Kemudian membuka pakaiannya.
Tiba-tiba saja dia terkejut. Di lihatnya di balik pakaian itu, dada Aswanta ternyata telah gosong. Ada bekas lima telapak tangan pula. Bahkan bekas tapak itu sedikit melesak masuk ke dalam.
Ki Suryo geleng-geleng kepala. Dia tidak habis pikir bagaimana caranya gadis itu menghantam dada orang hingga berakibat demikian.
"Benar-benar jurus yang kejam. Hemm, sepertinya dia memang bukan gadis biasa," gumamnya seorang diri lalu bangkit dan kembali menghampiri Whira.
"Apa yang kau temukan Ki?" tanyanya penasaran karena melihat wajah Ki Suryo yang kelam.
"Dia bukan wanita biasa, aku yakin, gadis itu masih menyimpan jurus-jurus aneh dan sakti lainnya," katanya sambil menghela nafas.
"Aki tidak tahu jurus apa yang dia gunakan?"
"Tidak, tapi yang pasti itu adalah jurus yang sudah mencapai tahap sempurna,"
Whiro semakin penasaran pula. Darah mudahnya bergolak naik. Pemuda itu pun merasa sangat penasaran, ingin rasanya dia menjajal ilmu silat Sian-li Bwee Hua. Namun sepertinya dia masih sedikit ragu setelah melihat rekannya tewas di tangannya.
Sementara itu, Pendekar Tanpa Nama dan dua orang kekasihnya ingin masuk kembali ke dalam restoran. Tapi baru saja beberapa langkah, ketiganya telah dihentikan oleh sebuah suara.
"Mohon berhenti," teriak Whiro tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" tanya Bidadari Tak Bersayap mewakili yang lainnya.
"Aku ingin meminta petunjuk dari Tuan Muda itu," ujarnya sambil memandang Cakra Buana.
Ki Suryo kaget lagi. Dia memandangi Whira, orang tua itu tidak habis mengerti kenapa orang muda begitu gemar mencari perkara?
Meskipun dia sendiri suka mencari masalah, namun kalau dibandingkan dengan dua orang pemuda itu, rasanya Ki Suryo jauh lebih baik. Segala tindakan yang akan dia lakukan telah diperhitungkan sebelumnya. Berbeda dengan dua orang rekannya yang masih muda. Mereka selalu ceroboh, apapun tidak diperhitungkan dengan matang.
"Apakah kau tidak salah Whira?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
"Tidak Ki, aku ingin menjajal kemampuan pemuda itu. Sejak tadi hanya dia saja yang terlihat tidak bisa apa-apa. Aku juga yakin dari tiga orang itu, pastinya ada yang terlemah," jawabnya penuh rasa yakin.
Ki Suryo ingin berkata kembali, tapi Whira sudah maju melangkah ke depan.
"Bagaimana, apakah Tuan Muda sudi memberikan petunjuk kepadaku?" tanyanya kembali kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Aihh, tidak, tidak. Aku tidak berani,"
"Hemm, apakah ilmu silat milikmu juga sama seperti milik Nyai ini? Tidak boleh diperlihatkan, dan kalau diperlihatkan harus jatuh korban?" tanyanya sedikit tidak senang.
"Hemm, tidak. Aku tidak bisa menunjukkan apa-apa kepadamu," jawab Pendekar Tanpa Nama masih berusaha sabar.
"Persetan. Kau membuatku marah, ayo perlihatkan ilmu silatmu kepadaku!!! Kalau tidak, jangan salahkan aku jika golok ini mencabut nyawamu …"
Wushh!!!
Selesai berkata, Whira segera mencabut goloknya lalu menerjang ke depan ke arah Pendekar Tanpa Nama. Satu tusukan cepat dilayangkan mengarah ke jantung.
Cakra Buana sebenarnya tidak ingin turun tangan. Terlebih lagi, dia tidak mau bertarung. Bukan karena apa, tapi karena dia tahu buntut dari semua kejadian ini bakal panjang.
Namun setelah sekarang dirinya didesak, maka secara terpkasa dia harus melayani. Mau tidak mau, Pendekar Tanpa Nama tetap harus mau.
Satu tusukkan Whira berhasil dihindari. Tubuh Cakra Buana melompat mundur ke belakang. Bukannya menyudahi serangan, Whira malah menyerang lagi.
Bahkan serangan yang sekarang jauh lebih ganas dan lebih keji. Tujuh bacokan tajam dilancarkan dengan segenap kekuatan. Sinar keperakan menyelimuti udara. Kesiur angin menggulung menerbangkan debu dan kerikil yang terdapat di sana.
__ADS_1
Wushh!!! Bukk!!!
Suara tubuh terkena pukulan amat keras terdengar satu kali. Setelah itu satu sosok terlempar seperti sebelumnya.
Semuanya sudah selesai. Tiada lagi pertarungan, tidak ada pula serangan berupa bacokan.
Ternyata Whira telah mampus. Bola matanya melotot besar seperti hendak keluar. Seolah pemuda itu tidak percaya kalau dirinya bakal tewas dalam waktu yang sangat-sangat singkat.
Apa yang dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama barusan sangat diluar dugaan semua orang. Tiada satupun yang menyangka di antara mereka kalau pemuda tampan yang sejak tadi diam itu, ternyata mempunyai kemampuan yang bahkan jauh kebih tinggi daripada dua gadis di dirinya.
Kecuali Ki Suryo dan beberapa tokoh angkatan tua lainnya, rasanya tidak ada yang dapat menduga sebelumnya kalau pemuda itu memang lebih mengerikan.
"Anak muda hanya menuruti hawa nafsu saja. Sudah diingatkan tapi masih saja bersikeras," keluh Ki Suryo.
Suasana di sana masih hening. Orang-orang itu bergidik ngeri. Kalau sebelumnya mereka masih mampu melihat beberapa gerakan silat —meskipun samar-samar—, maka barusan orang-orang tersebut tidak melihat apapun.
Mereka hanya sanggup merasakan desiran angin kencang. Selanjutnya, semuanya telah berakhir.
"Jurus yang benar-benar hebat," puji salah seorang pria tua di antara kerumunan para pengunjung restoran.
"Sangat hebat malah. Aku baru melihat ada jurus seperti barusan," timpal pria tua di sisinya.
Pendekar Tanpa Nama dan dua orang kekasihnya segera melangkahkan kaki untuk kembali masuk ke restoran. Perutnya masih lapar. Dan mereka butuh asupan makan, bagaimana mungkin ketiganya akan menyia-nyiakan kesempatan baik ini?
Halaman itu mulai lenggang. Orang-orang yang berkerumun sudah membubarkan diri satu persatu. Setiap orang membawa semacam perasaan tersendiri yang sulit untuk dijelaskan.
Ki Suryo melangkah menghampiri mayat Whira. Dia langsung mengangkatnya tanpa memeriksa luka seperti sebelumnya. Walaupun tidak diperiksa, tapi orang tua itu sudah tahu kalau luka Whira jauh lebih parah lagi.
Sekarang di kedua pundaknya sudah ada dua orang pemuda yang sudah menjadi mayat. Perlahan-lahan Ki Suryo melangkah pergi dari sana.
Dia tidak mau menengok lagi ke belakang. Seperti takut kalau selanjutnya malah dia yang menjadi korban.
Gejolak darah muda terkadang membawa suatu malapetaka.
Wushh!!!
__ADS_1
Ki Suryo menggunakan ilmu meringankan tubuh. Selang sesaat, tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.