Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kemenangan


__ADS_3

Si Golok Biru segera menyalurkan hawa murninya supaya menghentikan darah yang terus keluar dari lukanya. Luka itu sangat perih sekali, dia sudah pernah merasakan luka dari berbagai senjata pusaka sebanyak ratusan bahkan mungkin ribuan kali.


Tetapi tidak ada yang sesakit dan seperih ini. Sekarang dia menjadi sangat yakin bahwa pedang yang digunakan oleh pemuda itu bukanlah pusaka sembarangan.


Rasa ingin memiliki semakin menggebu dalam dadanya. Semangat untuk bertarung sekuat tenaga menjadi membara kembali.


Darah sudah berhenti mengalir. Keringat dingin juga sudah tidak keluar lagi. Walaupun rasa sakit akibat pedang lawan belum sirna, tetapi dia tidak memusingkannya.


Dia bukan orang yang mudah mengeluh. Apalagi menyerah hanya karena hal sepele.


Prinsip hidupnya, daripada harus menyerah, lebih baik mati di tangan musuh. Dia bukan pengecut, dia juga tidak ada niat sama sekali untuk menjadi seorang yang pengecut.


Walaupun dirinya merupakan salah satu pendekar aliran sesat, tetapi prinsip pendekar terkadang selalu dipakai olehnya.


Malam semakin gelap. Angin semakin terasa sejuk. Semuanya nampak tenang. Tidak ada yang bicara di antara mereka berdua.


Pohon liu bergoyang-goyang tertiup angin Barat. Suara jangkrik memecah keheningan malam.


Tiba-tiba si Golok Biru menyerang kembali ke arah Pendekar Tanpa Nama.


Namun serangan yang dia lancarkan saat ini, jauh berbeda daripada semua serangan sebelumnya.


Gerakannya semakin lincah. Serangannya juga amat cepat. Aura pembunuhan terasa semakin kental. Hal ini bisa menjadi kemungkinan besar bahwa si Golok Biru telah mengeluarkan kekuatannya hingga ke titik tertinggi.


Bacokan golok mengarah ke leher sebalah kanan. Tapi Pendekar Tanpa Nama sudah menghindar. Belum habis serangan pertama, serangan kedua datang lagi. Kali ini berupa tusukan mengarah ke pinggang.


Pendekar Tanpa Nama tidak menghindar. Dia bukan pengecut dan bukan orang seperti itu.


Begitu golok lawan melesat untuk memberikan tusukan kepadanya, Pedang Naga dan Harimau segera bergetar keras.


"Trangg …"


Benturan terjadi. Percikan bunga api membumbung tinggi ke atas lalu lenyap seperti mimpi-mimpi.


Si Golok Biru masih tidak menyangka bahwa pendekar muda itu masih sanggup menangkis. Padahal serangan yang dia lancarkan barusan menggunakan sepuluh bagian tenaga dalam.


Tak nyana, tenaga dalam pendekar muda ini sangat sempurna. Seumur hidupnya, belum pernah dia bertemu dengan orang sepertinya.


Golok dan pedang masih menempel. Dua pendekar masih bertatap mata. Tapi tidak ada yang bicara dari mereka. Karena untuk saat ini, yang bicara bukanlah mulut.


Melainkan senjata.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama mendorong mundur golok lawan. Kaki kanannya segera menendang dada lawan.


Gerakan ini dilakukan dengan sangat cepat. Siapapun tidak akan menyangkanya. Bahkan si Golok Biru juga tidak menduga.


'Pendekar muda ini benar-benar luar biasa' batinnya sambil berusaha mendapatkan posisi kembali.


Pendekar Tanpa Nama mundur beberapa langkah. Bukan untuk mengakhiri pertarungan. Pantang baginya jika bertarung tapi tidak ada yang menang ataupun kalah.


Ini adalah sebuah awal.


Awal dari pertempuran yang dashyat.


"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"


Jurus terakhir sudah keluar. Pedang Naga dan Harimau mendadak berkilat di tengah malam. Orang-orang yang menyaksikan pertarungan ini berusaha untuk menjauh sebisa mungkin. Mereka tidak mau menjadi korban salah sasaran.


Ada yang merangkak, bahkan ada yang menggelindingkan badannya hanya demi menjauh dari pertarungan.


Mereka tahu bahwa ini adalah jurus mengerikan.


Pendekar Tanpa Nama sudah menyerang dengan jurus paling dahsyat miliknya. Pedang itu seolah mencecar dari segala sisi. Ledakan guntur terdengar tiada henti. Sambaran kilat menyambar ke segala arah. Bahkan si Golok Biru juga merasa dirinya disambar kilat itu.


Hanya dalam beberapa kali gebrakan saja, Pendekar Tanpa Nama sudah menguasai penuh keadaan.


Darah muncrat ke segala area. Pedang Naga dan Harimau telah menusuk tepat di tengah-tengah tenggorokan.


Si Golok Biru mengeluarkan suara tertahan. Dia ingin bicara, tetapi tidak bisa sebab pedang lawan masih menancap di lehernya.


Melihat itu, Pendekar Tanpa Nama segera mencabut pedangnya dari tenggorokan lawan.


"A-aku kalah, ka-kau hebat. Ha-hati-hati! Nyawamu terancam, ada orang hadir di kegelapan,"


Suaranya langsung hilang. Sebab nyawanya juga sudah melayang. Dia roboh ke tanah dalam posisi tengkurap. Darah segar masih terus keluar dari tenggorokannya.


Sepuluh orang anak buah si Golok Biru merasa sangat ketakutan sekali. Bagaimana kalau mereka dibunuh juga?


Tanpa sadar mereka menghampiri Cakra Buana untuk memohon agar tidak dibunuh. Tetapi sebelum mereka bicara, Pendekar Tanpa Nama lebih dulu bicara.


"Jangan khawatir, aku tidak akan membunuh kalian. Sebab kalian masih belum pantas mati di bawah pedangku," kata Cakra Buana dingin.


Tanpa menghentikan langkahnya, dia kembali berjalan menyusuri kegelapan hutan. Pedangnya sudah terbungkus rapi kembali. Dia tahu bahwa tadi ada orang yang hadir, sayangnya terlambat menyadari.

__ADS_1


Sepertinya orang yang hadir juga bukan pendekar sembarangan. Apalagi hingga keberadaannya hampir tidak terdeteksi.


Kalau tidak setara dengan si Golok Biru, pastilah kemampuannya di atasnya.


Pemuda serba putih itu berjalan dengan langkah tenang. Dia suka menikmati kegelapan malam. Apalagi sendiri di tempat sunyi.


Terkadang ada sebagian orang yang mungkin terdengar aneh.


Di tempat ramai mereka merasa sepi, tapi di tempat sepi mereka merasa ramai.


Malam telah berganti pagi.


Mentari baru menampakan sinarnya di ufuk timur. Suara kokok ayam jantan terdengar di kejauhan sana. Burung berkicau, para warga desa mulai mengerjakan aktivitas sehari-hari mereka.


Seorang pemuda serba putih berjalan sendirian di tengah hutan.


Dia tak lain adalah Cakra Buana.


Dia hanya tidur beberapa jam saja di atas pohon. Bukan tidak sanggup menyewa kamar, tapi justru karena semalam dia menempuh perjalanan, hutan ini terasa sangat panjang sekali.


Dia sudah mengikuti petunjuk arah yang terbuat dari papan. Dia yakin petunjuk itu benar menunjukkan jalan. Tetapi keyakinan itu sekarang luntur.


Sebab hingga detik ini, bukan perkampungan ataupun pedesaan yang dia jumpai. Melainkan hutan dan hutan lagi.


Namun Cakra Buana bukanlah pemuda yang mudah menyerah dan putus asa. Selama nyawanya masih ada dia tidak akan pernah mengenal kata menyerah dan putus asa.


Baginya, orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang lemah. Mereka tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa menggunakan akal yang diberikan oleh Tuhan. Sehingga terciptalah dua kata tersebut.


Dia masih berjalan. Di ujung sana terlihat ada bangunan tua yang cukup besar.


Pasti ada kehidupan di sana.


Cakra Buana mempercepat langkah dengan ilmu meringankan tubuh. Hanya dalam sekejap, Pendekar Tanpa Nama telah tiba di tempat tujuan.


Sebuah kuil kuno terpampang di depan matanya. Kuil itu sangat tua, bahkan beberapa sudut bangunan sudah bobrok.


"Tamu dari mana yang datang kemari?" mendadak dari dalam kuil keluar seorang pemuka agama. Seperti biksu, tapi seperti bukan biksu.


###


Barangkali ada yang ingin komentar, apakah masih ada kata-kata yang kurang cocok? Kalau iya, maaf ya.

__ADS_1


Jujur, saya meniru gaya penulisan suhu Khu Lung, meskipun tidak bisa benar-benar seperti beliau, tetapi hanya sebatas mengagumi saja. Dalam menulis, dia bebas seperti awan. Karena itulah beliau dijuluki "Si Sukma Bebas"


__ADS_2