
Malam. Malam semakin larut. Bau harum bunga mekar tercium terbawa angin musim semi. Suara jangkrik dan kelelawar terdengar saling bersahutan.
Binatang malam mulai keluar mencari nafkah. Para manusia sebagian besar telah masuk ke rumahnya untuk melangsungkan istirahat.
Suasana di warung arak itu sudah mulai sepi. Kecuali hanya beberapa orang saja yang masih duduk di bangku mereka masing-masing. Itupun para pengunjung yang belum lama datang. Para pengunjung warung arak itu telah berganti pilihan kali.
Pengunjung yang datang sejak siang hari sudah tidak ada lagi. Hanya Cakra Buana saja yang masih duduk di sana. Dia masih minum arak, entah sudah berapa guci arak yang sudah dia habiskan. Entah sudah berapa banyak pula daging yang turun ke perutnya.
Jiak seorang setan arak sedang merasakan perasaan yang berkecamuk, adakah hal lain yang mampu membuatnya bahagia kecuali arak?
Cakra Buana minum dengan tenang. Secawan demi secawan dia teguk secara perlahan. Cara minum arak yang paling baik adalah meminumnya dengan perlahan. Jika meminum dengan cepat, maka orang itu pastilah bukan peminum arak.
Nenek Tua Bungkuk sudah pergi sore hari tadi. Entah ke mana perginya wanita tua itu. Cakra Buana tidak tahu, karena pada dasarnya pemuda jtu tidak ingin tahu.
Tekadnya untuk bertemu dengan maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti masih menggebu seperti deburan ombak di lepas pantai. Tidak berkurang sedikitpun.
Sejak dari siang mula, Cakra Buana memang hanya diam minum arak. Tapi meskipun begitu, bukan berarti dia benar-benar diam. Otaknya berputar mencari cara terkait bagaimana agar dirinya bisa bertemu maha guru Perguruan Rajawali Sakti.
Jika kau selalu berusaha mencari cara untuk memecahkan sebuah persoalan, maka sudah pasti kau akan menemukan jalannya.
Apapun persoalan itu, jalan keluarnya pasti ada. Di dunia ini, tidak ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan. Kau harus percaya, karena ini merupakan kepastian dalam kehidupan.
Begitu juga dengan Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama. Setelah beberapa lama berpikir memeras otaknya, akhirnya dia menemukan juga jalan keluarnya.
Menurutnya, hanya cara itu saja yang bisa mengantarkan dirinya ke hadapan maha guru Perguruan Rajawali Sakti.
"Berapa biaya semuanya?" tanya Cakra Buana kepada kasir.
"Semuanya 87 perak Tuan muda," jawab si kasir yang merupakan wanita berumur sekitar dua puluh delapan tahun itu.
"Ini, kembaliannya ambil saja," kata Cakra Buana sambil memberikan seratus keping perak.
Setelah itu, pemuda tersebut segera melangkah pergi sambil membawa satu guci arak yang masih tersisa setengah.
__ADS_1
Kentongan kedua sudah terdengar beberapa saat yang lalu. Suasana di sekitar desa sudah sangat sepi. Tidak ada orang lewat kecuali para warga yang bertugas meronda malam.
Cakra Buana mencari toko pakaian yang masih buka. Untungnya dia berhasil menemukannya, pemuda itu langsung membeli satu stel pakaian serba hitam berikut dengan cadarnya.
Pendekar Tanpa Nama mencari tempat gelap dan sepi. Setelah menemukan tempat yang dimaksud, dia langsung mengganti pakaiannya dengan segera.
Sesosok bayangan hitam melesat dengan cepat dari balik pepohonan di hutan itu. Cakra Buana mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya hingga ke titik tertinggi.
Hanya sesaat saja, dia telah jauh dari tempat sebelumnya.
Tujuannya sekarang tentu saja ke Perguruan Rajawali Sakti. Kalau bukan ke tempat itu, memangnya ke mana lagi dia akan pergi?
Sebenarnya pemuda itu merasa risih. Bahkan sangat risih. Dalam sejarah hidupnya, baru sekarang saja dia melakukan hal pengecut seperti ini. Ini adalah pengalaman pertamanya menyamar seperti seorang perampok saat ingin menyambangi sebuah tempat.
Cakra Buana sudah berada di dekat Perguruan Rajawali Sakti. Keadaan di sana masih sama seperti siang tadi. Masih sepi, masih sunyi.
Tapi walaupun begitu, Cakra Buana tidak mau bertindak gegabah. Dia tahu bahwa Perguruan Rajawali Sakti adalah tempatnya naga bersembunyi. Di sini, sudah pasti banyak tokoh dunia persilatan yang berdiam.
Tubuhnya melesat lagi. Dia masuk dari arah belakang. Cakra Buana mendarat di bagian gudang belakang perguruan. Pemuda itu mengendap-endap berjalan dari tempat satu ke tempat lainnya.
Jalan itu kecil dan berliku-liku. Cakra Buana terus berjalan menyusuri jalan selebar satu kaki tersebut. Beberapa lorong dia lewati dengan mudah. Sejauh ini, belum ada kejadian apapun yang menghalangi langkah kakinya.
Tanpa terasa, setelah beberapa lama Cakra Buana berjalan, akhirnya dia tiba di sebuah halaman. Sekeliling halaman itu adalah pohon yang menjulang tinggi. Seperti pohon cemara dan lain sebagainya.
Pemuda itu memandang ke sekelilingnya. Dia melihat ada beberapa jalan bercabang. Cakra Buana termenung, dia kebingungan.
Jalan mana yang harus dia pilih? Yang kiri? Yang kanan? Atau yang tengah?
Cakra Buana masih bingung terkait jalan mana yang akan dia ambil.
"Aku akan mengambil jalan tengah saja," gumam Cakra Buana seorang diri.
Kakinya mulai melangkah. Baru saja berjalan tiga langkah ke depan, Cakra Buana mendadak menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Puluhan pisau terbang mendadak bermunculan dari berbagai penjuru. Kecepatan pisau-pisau terbang itu sangat cepat sekali. Persis seperti petir yang menyambar bumi. Jika sekarang melihat pisau itu masih jauh, maka saat mengedipkan mata, pisau itu sudah tiba di depan mata.
Cakra Buana tidak mau diam saja. Dia memutarkan kedua tangannya dengan gerakan tertentu untuk menangkis puluhan pisau terbang tersebut. Kedua tangannya diputarkan dengan gaya menolak air bah.
Satu persatu dari pisau terbang tersebut mulai rontok di tengah jalan. Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan seperempat kekuatannya untuk menangkis hujan pisau terbang itu.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Benturan antara pisau terbang satu dengan pisau terbang lainnya terdengar memekakkan telinga. Semakin lama, suara nyaring itu semakin terdengar keras.
"Haaa!!!"
Cakra Buana berteriak keras lalu menghentakkan kakinya ke bumi.
Wushh!!!
Segulung angin dahsyat menerjang ke semua penjuru. Hanya dalam waktu singkat, serangan dari puluhan pisau terbang itu berhasil ditangkis semuanya oleh Pendekar Tanpa Nama.
Suasana yang tadi bising karena suara kecepatan pisau terbang, sekarang tiba-tiba menjadi sunyi seperti sebelumnya.
Cakra Buana masih berdiri dengan kokoh. Matanya memandang ke sekeliling pepohonan tersebut.
Tidak ada seorangpun yang dia lihat. Keadaan di sana sangat-sangat sunyi.
Tapi Cakra Buana tahu bahwa di balik kesunyian ini, ada keramaian yang kapan saja bisa muncul secara tiba-tiba.
Wushh!!!
Clangg!!!
Seorang murid perguruan menyerangnya dengan cara membokong. Satu tusukan pedang mengarah ke punggung Pendekar Tanpa Nama. Tetapi sebelum tusukan itu benar-benar menembus punggungnya, pemuda Tanah Pasundan itu lebih dahulu menangkisnya.
Pedang yang bergerak menusuk mendadak berhenti di tengah jalan. Saat suara nyaring terdengar, saat itulah pedang si murid perguruan dibuat patah menjadi beberapa bagian.
__ADS_1