
Pemakaman itu tidak terlalu besar. Luasnya paling-paling hanya tiga ratusan meter saja. Semuanya makam kuno. Semua makam yang ada di pekuburan ini setidaknya sudah berumur puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun lamanya.
Cakra Buana sudah melangkah memasuki gerbang kuburan makam kuno tersebut. Meskipun dia seorang pendekar, namun dia juga masih manusia. Selaku manusia, rasa takut pasti selalu ada.
Tapi apa yang dia takutkan? Takut mayat-mayat itu bangkit lagi? Atau takut ada setan gentayangan yang tiba-tiba mencekik lehernya?
Bukan, bukan itu yang dia takutkan. Pendekar Tanpa Nama hanya takut ada musuh lainnya yang akan muncul secara tiba-tiba.
Apalagi saat di restoran, ketua cabang Kay Pang Pek mengatakan bahwa di Perkampungan Raja Harimau ada sekelompok orang yang sudah ahli dalam memainkan Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala.
Namun hingga saat ini, orang-orang tersebut belum juga memunculkan dirinya.
Apakah mereka tidak tahu akan kedatangannya? Ataukah mereka sengaja menunggu saat yang tepat untuk menyergapnya?
Pemuda itu tidak tahu. Cakra Buana tidak tahu apa-apa tentang tempat besar ini.
Dia melangkah semakin ke dalam pemakaman. Perduli setan apakah orang-orang itu bakal muncul atau tidak, yang jelas dia sudah siap menghadapi segala macam rintangan.
Tubuhnya mulai melejit dari satu batu nisan ke batu nisan lainnya.
Saat sampai di makam yang agak tengah, Cakra Buana mulai merasakan bahwa bulu kuduknya semakin berdiri. Bulu di tangan dan kakinya ikut berdiri pula. Hawa semakin dingin. Begitu juga dengan hembusan angin.
Malam yang mencekam. Malam yang menyeramkan.
Deretan makam kuno berjejer rapi. Mereka yang dimakamkan di sini berasal dari berbagai macam kalangan. Ada yang dari kalangan warga biasa, ada pejabat, bahkan ada juga yang dari kalangan dunia persilatan.
Mereka berbeda kalangan, tapi saat sudah mati, ternyata mereka berada di tempat yang sama.
Tempat gelap, kotor dan menjijikan.
Bukankah itu artinya manusia tiada bedanya?
Jika sudah mati, semua manusia sama saja. Tapi kenapa saat semasa hidup mereka mengaku berbeda?
Sebuah bangunan tua terlihat dalam jarak dua puluh langkah dari dirinya. Bangunan tua itu sangat seram. Lumut hijau sudah tumbuh di sana sini. Rerumputan sudah tinggi sekitar satu meter lebih.
Dia mulai melangkah ke sana. Langkahnya mantap. Tapi hatinya dicekam rasa takut. Wajahnya terlihat tenang, tapi benaknya tidak tenang.
Pada saat hampir memasuki bangunan tua tersebut, mendadak Cakra Buana mendengar suara ganjil.
Srekk!!! Srekk!!!
__ADS_1
Sebuah suara terdengar di belakangnya. Suara apa itu? Apakah suara binatang malam yang sedang bercanda dengan sesamanya? Atau, suara apa?
Saat menoleh, pemuda itu tidak melihat apapun di belakangnya.
Cakra Buana kembali melangkah. Dia tidak mempedulikan suara tersebut, tapi sebelum itu, sebuah suara lain tiba-tiba terdengar di belakangnya.
"Apa yang sedang kau cari?"
Suara itu serak parau. Terdengar pelan, tapi sangat jelas di telinga Pendekar Tanpa Nama.
Tanpa sadar tubuhnya berbalik ke belakang. Di lihatnya sekarang di hadapannya telah ada seorang tua yang sedang berdiri sambil tersenyum misterius kepada dirinya.
"Maaf, siapakah Tuan ini?" tanya Cakra Buana dengan sopan.
"Justru aku yang seharusnya bertanya. Kau ini siapa dan mau apa malam-malam begini ada di sini?" tanya si kakek tua tersebut.
Orang tua itu bertampang keriput. Wajahnya sudah terlihat sangat tua. Rambutnya memutih, pakaiannya abu-abu lusuh. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat kayu berwarna hitam.
Sepasang matanya selalu memandang tajam. Mulutnya selalu memberikan senyuman misterius.
"Apapun tujuanku, apapun yang aku lakukan, hal itu bukan menjadi urusanmu," jawab Cakra Buana.
"Tentu saja urusanku, karena aku menjamin keamanan di tempat ini,"
Cakra Buana tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdehem satu kali, pemuda itu bingung mau bicara apa.
"Lekas pergi sebelum terlambat," kata si kakek itu.
"Aku tidak akan pergi,"
"Kenapa?"
"Karena tujuanku belum tercapai,"
"Sudah tercapai atau belum tercapai, kau tetap harus pergi jika ingin nyawamu selamat," ucapan si kakek tua semakin tajam. Matanya juga sama. Jelas, dia tidak suka dengan kehadiran Cakra Buana.
Suasana di dalam bangunan tersebut mendadak hening. Bangunan itu lumayan besar, setidaknya cukup untuk melangsungkan sebuah pertarungan.
Pendekar Tanpa Nama membalas tatapan tajam si kakek tua itu.
"Kalau sudah diperingati tidak lekas dilaksanakan, lebih baik habisi saja. Dia pikir tempat ini milik nenek moyangnya?" sebuah suara tiba-tiba terdengar dari luar.
__ADS_1
Seorang pria bercodet tiba-tiba masuk ke dalam bangunan. Tangannya menggenggam sebatang pedang pendek. Pedang itu dia putarkan tanpa berhenti.
"Pemuda asing berani masuk tanpa permisi, aii, sungguh tidak sopan sekali," suara lainnya terdengar.
"Sepertinya dia sudah bosan hidup,"
"Kalau memang bosan, kita tanya saja apa keinginannya,"
Satu persatu beberapa orang mulai bermunculan dari luar. Jumlah mereka ada sembilan orang. Semuanya memakai pakaian seragam. Pakaian mereka sepertinya terbuat dari kulit binatang. Lebih tepatnya kulit harimau.
Jumlah mereka sembilan, pakaian mereka dari kulit harimau, apakah mereka adalah orang-orang yang sudah ahli dalam Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala?
Cakra Buana tersentak kaget saat melihat tampang mereka. Semuanya bertampang seram. Masing-masing matanya mencorong tajam, persis seperti mata seekor harimau.
Sembilan orang itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang memotong kuku jari, ada yang memainkan senjatanya, ada juga yang sibuk mengasah gamannya.
Sikap setenang ini, biasanya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang ilmunya sudah sangat tinggi, lalu seberapa tingginya masing-masing dari mereka?
Hanya sesaat, Pendekar Tanpa Nama telah dikepung oleh sepuluh orang. Ruangan dalam bangunan yang tadinya lenggang itu, sekarang mendadak ramai dipenuhi oleh orang-orang tersebut.
Meskipun mereka terlihat tenang, namun pemuda itu tahu bahwa setiap saat mereka siap untuk bergerak.
Cakra Buana hanya bisa mengeluh dalam hatinya. Kenapa dia harus selalu menghadapi pertarungan? Kenapa pertarungan tiada habisnya? Malam ini, sudah berapa kali dia bertarung? Sudah berapa banyak tenaga pula yang telah dia keluarkan?
Pendekar Tanpa Nama tahu, mau tidak mau dia harus siap menghadapi segalanya. Pertarungan dahsyat pastinya tidak bisa terhindarkan lagi.
Dalam pertarungan yang akan berlangsung nanti, apakah dia bakal bernasib mujur seperti sebelum-sebelumnya?
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Cakra Buana sambil memandangi mereka.
"Bukankah tadi sudah dikatakan?" jawab dari sembilan orang yang baru datang itu.
"Kalau aku tidak mau?"
"Terpaksa kau harus pulang tinggal nama," jawabnya dingin.
"Hemm, sebelum itu, aku ingin tahu siapakah kalian ini?"
"Kami Sembilan Harimau Pengepung, dan dia adalah Tongkat Tua,"
Pemuda itu semakin terkejut setelah mengetahui siapa saja sepuluh orang itu. Ternyata dugaannya tidak salah. Mereka inilah orang-orang yang dimaksudkan oleh ketua cabang Kay Pang Pek.
__ADS_1
Mereka lah penjaga yang terkenal dengan barisannya yang sukar untuk ditembus.
Apakah Pendekar Tanpa Nama bisa menembusnya?