
"Betul. Kau sudah tua, seharusnya cepat mampus saja," kata Huang Pangcu seakan menyetujui kalau Orang Tua Menyebalkan tewas terbunuh.
Kakek tua itu tertawa. Suara tawanya bukan tawa biasa. Sebab di balik tawa tersebut, mengandung sebuah tenaga dalam yang disalurkan lewat gelombang suara.
Hal ini menunjukkan efek menyakitkan bagi telinga siapapun yang tidak mempunyai tenaga dalam tinggi.
Untung saja dua belas orang tersebut sudah termasuk jago dunia persilatan. Sehingga mereka hanya terdiam ketika mendengar suara tawa kakek tua yang aneh itu.
"Benar, aku sendiri sudah bosan menjalani hidup yang selalu saja seperti ini. Maslaah, masalah, dan masalah. Sepertinya masalah menyukaiku, sehingga mereka selalu menghampiri walaupun aku sudah mengusirnya," ucap Orang Tua Menyebalkan kemudian meneguk arak.
Tidak ada yang menjawab ucapannya. Tiga temannya justru malah tertawa. Terkadang hanya dengan tertawa, mereka sudah mengerti bahwa masing-masing merasakan hal yang sama.
Kedua belas orang itu saling pandang sekejap. Tapi mereka belum bergerak juga. Karena mereka tahu, siapa yang berani bergerak pertama, nyawa mereka akan segera melayang.
Apalagi empat orang yang sedang duduk itu bukan orang sembarangan.
"Untungnya arak ini tidak ditaburi racun. Sehingga aku masih bisa menikmatinya dengan santai," kata Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum.
"Sekalipun ditaburi racun, aku akan tetap meminumnya," sahut Huang Pangcu.
Mereka berempat terus berbicara, seolah dua belas orang yang ada di belakangnya tidak di anggap sama sekali.
Awalnya dua belas orang tersebut tampak biasa saja. Namun karena terlalu lama diabaikan, pada akhirnya mereka mulai kesal pula.
"Tuan-tuan apakah kalian tidak menganggap kami? Apakah kalian mengira kami main-main?" tanya si orang berpakaian biru yang menyandang dua tombak.
"Aku tidak bicara kalian sedang main-main. Justru aku sedang menunggu kalian. Kapak kalian akan mulai bermain?" tanya Orang Tua Menyebalkan.
Orang tua itu kalau bicara memang suka seenak jidat. Orang bicara ke mana, dia jawab ke mana. Julukan Orang Tua Menyebalkan memang tidak salah.
"Aii, Dua Belas Siluman Berdarah Dingin memang tidak sabaran. Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa sampai kemari? Bukankah kalian sudah mempunyai kekuasaan di daerah Selatan?" tanya si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena dia si Buta Yang Tahu Segalanya," kata Pendekar Tanpa Nama menjawab dengan segera.
"Hemm, menarik. Ternyata tuan yang cacat ini sungguh istimewa,"
Brakk!!!
Meja di pinggir Pendekar Tanpa Nama terbelah menjadi dua bagian.
"Kau sudah bosan hidup?"
"Aii, kenapa Tuan marah-marah?" tanyanya agak gugup.
"Karena secara tidak langsung kau sudah menghina sahabatku. Siapapun yang berani menghina sahabat-sahabatku, orang itu harus mati," tegas Cakra Buana.
Suaranya berubah menjadi sedikit menyeramkan. Matanya menyorot tajam kepada orang yang dianggap kurang ajar olehnya.
__ADS_1
"Apakah termasuk aku juga?" tanya Orang Tua Menyebalkan sambil memasang mimik wajah polos biadab.
"Ya, siapapun dia. Siapapun yang berani menghina semua sahabatku, aku akan memberi pelajaran untuknya,"
"Ahh, dasar si buta. Huang Pangcu si kakek ompong yang akan mampus," kata Orang Tua Menyebalkan seakan tak percaya.
Plakk!!!
Plakk!!!
Dua tangan memukul kepalanya. Satu tangan Cakra Buana, satu lagi tangan Huang Pangcu.
Plakk!!!
Kali ini tangan si Buta Yang Tahu Segalanya juga ikut memukul.
"Kenapa kalian semua memukulku?" teriak kakek tua itu seakan tidak terima.
"Karena kau menyebalkan," jawab tiga orang secara serempak.
Dia langsung diam. Kemudian meminum arak di dalam cawan lalu memasang wajah tak berdosa.
Sekarang orang tua itu percaya bahwa pemuda Tanah Pasundan tersebut tidak bercanda dengan perkataannya. Diam-diam dia merasa bersyukur mempunyai teman sepertinya.
"Cabut senjatamu," bentak Pendekar Tanpa Nama.
Orang itu hanya terdiam. Seakan tidak mendengar perkataan Pendekar Tanpa Nama.
"Aii, situasai sudah keruh. Kenapa tidak dilanjutkan saja?" orang berbaju kuning tiba-tiba berkata di saat situasi sedang hening.
Sringg!!!
Cahaya pedang berkilat lalu bergerak dengan cepat. Orang yang dibentak Cakra Buana mendadak melancarkan serangan secara tiba-tiba ke arah lehernya.
Crapp!!!
Walaupun serangan tersebut sangat cepat, tapi Pendekar Tanpa Nama mampu bergerak lebih cepat lagi. Pedang itu sudah terjepit di antara kedua jarinya.
Clangg!!!
Pedang tersebut patah menjadi dua bagian.
Semua orang terbengong. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda itu mampu mematahkan pedang seperti mematahkan ranting pohon.
"Tembak!!!" seru si orang baju kuning.
Wushh!!! Wushh!!!
Puluhan anak panah yang sudah dibakar ujungnya mendadak dilesatkan. Disusul kemudian dengan puluhan anak panah lainnya yang mengarah ke tempat mereka berada.
__ADS_1
Bersamaan dengan teriakan tadi, dua belas orang tersebut langsung berlari keluar.
Kini Huang Pangcu, Orang Tua Menyebalkan, si Buta Yang Tahu Segalanya dan Pendekar Tanpa Nama terjebak di sana.
Bangunan Restoran Angin Musim Semi telah terbakar sebagian. Puing-puing bangunan jatuh menghalangi jalan keluar. Anak panah yang sudah dibakar ujungnya terus menghujani restoran tersebut. Begitu pula dengan anak panah yang lainnya.
Tak ada lagi jalan keluar. Tak ada lagi cara untuk membebaskan diri.
Gelak tawa terdengar membahana di luar sana. Dua belas orang tersebut tertawa penuh kemenangan. Mereka yakin bahwa kali ini, empat orang tersebut pasti akan tewas hangus terbakar.
Sepandai-pandainya tupai melompat, toh pasti akan jatuh juga.
Sesakti-saktinya manusia, dia tetap bukanlah Dewa.
Walaupun lebih sebagian bangunan sudah terbakar, tapi belum juga terlihat di antara mereka yang berusaha meloloskan diri.
Di dalam restoran, empat orang itu justru masih duduk dengan tenang. Keempatnya membuat dinding dengan meja-meja yang tertera di sana. Puluhan bahkan ratusan anak panah sudah menghujani meja pelindung tersebut.
Apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan?
Ternyata keempat orang itu masih saja minum arak. Mereka amat menikmati arak tersebut. Seakan tidak tahu bahwa api sudah membakar lebih dari separuh restoran.
"Arak ini sungguh lezat," seru Huang Pangcu.
"Benar. Memang sangat enak sekali," jawab Orang Tua Menyebalkan.
"Cakra, kau cari arak lainnya lalu bawa sebanyak mungkin," perintah Huang Pangcu.
"Baik,"
Cakra Buana menjejakkan kakinya ke meja. Tubuhnya langsung melesat ke gudang arak. Dia mengambil beberapa guci arak. Dalam sekejap mata, pemuda itu sudah kembali lagi.
"Kita keluar sekarang," kata Huang Pangcu.
Ketiganya mengangguk.
Brakkk!!!
Atap bangunan yang sudah terbakar karena dimakan si jago merah, ditembus oleh empat orang tersebut. Puing-puing atap restoran terpental ke segala arah. Bahkan ada juga yang hampir mengenai tubuh para pemanah.
Sehingga beberapa orang sedikit terbakar. Mereka bergulingan di tanah untuk memadamkan api tersebut.
Empat orang itu berjalan dengan santai. Seolah mereka tidak merasakan panas sama sekali.
"Mereka benar-benar bukan manusia," gumam salah seorang dari Dua Belas Siluman Berdarah Dingin.
Walaupun dalam keadaan terkejut, tetapi anggota yang bertugas melesatkan anak panah itu tetap menjalankan tugasnya. Puluhan anak panah terus melesat tanpa henti. Seolah tidak ada yang mampu menghentikan mereka.
Namun anehnya, tidak ada satupun yang dapat mengenai empat orang itu.
__ADS_1