
Ratu Ayu, Dewi Bercadar Merah dan Pendekar Tanpa Nama baru saja selesai melakukan persiapan. Ketiga orang itu saat ini sedang melihat-lihat suasana di sekitar mereka. Walaupun keadaan tampak sepi sunyi, tapi dalam dunia ini, semuanya bisa saja terjadi.
Di antara ketiganya, yang paling beralaku waspada adalah Pendekar Tanpa Nama. Dia berlaku demikian tak lain adalah karena dirinya tahu kalau kapan saja nyawanya bisa terancam.
Di mana pun dirinya, ke mana pun perginya, dia yakin, mereka yang mulai terasa terancam karena kehadirannya di dunia Tanah Pasundan pasti akan memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh.
Memangnya siapa yang menginginkan nyawa Pendekar Tanpa Nama?
Banyak. Tentu saja sangat banyak.
Malah bukan tidak mungkin kalau Sepasang Pendekar Bertopeng dan selir baru sang Raja juga sama menginginkannya. Bukan suatu hal mustahil juga kalau Majikan Bertudung Hitam mempunyai keinginan serupa. Sebab Cakra Buana sadar betul kalau di antara mereka sebenarnya mempunyai hubungan yang erat.
Tapi soal apa?
Pemuda itu belum bisa memastikan jawabannya sekarang. Hanya saja, dia selalu percaya terhadap kata hatinya. Kelak akan ada masanya semua masalah pelik ini bakal terungkap dengan jelas.
Dia selalu yakin akan hal tersebut.
Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!
Tiga bayangan manusia melesat dengan cepat di tengah kegelapan malam. Suasana masih ramai, tapi mereka tidak takut akan ketahuan. Sebab orang-orang itu sangat yakin bahwa tidak banyak orang yang bisa menyaksikan luncuran tubuhnya, karena ketiganya bukanlah orang sembarangan.
Di tengah perjalanan, Pendekar Tanpa Nama dan Dewi Bercadar Merah merasa sedikit terkejut. Hal itu disebabkan tak lain adalah karena kemampuan Ratu Ayu.
Ternyata wanita yang selama ini terbaring lemah tersebut mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna. Malah Ratu Ayu bisa mengimbangi kecepatan mereka.
Di antara keduanya, yang paling terkejut adalah Cakra Buana. Seingatnya, dulu, bibinya itu belum mempunyai kemampuan setinggi ini. Tak disangka, sekarang beliau justru sudah banyak berubah.
Memang perubahan bisa datang kepada siapa saja. Selama orang itu mau berusaha, maka perubahan pasti akan datang kepadanya. Hanya butuh waktu, perduli itu waktu yang lama ataupun sebentar, maka perubahan pasti akan tiba.
Ketiga orang itu sudah berada jauh dari posisinya semula. Hanya tinggal beberapa saat lagi, mereka akan segera tiba di Istana Kerajaan. Pada saat seperti itu, insting Pendekar Tanpa Nama yang setajam harimau mendadak mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Dia merasa ada beberapa orang yang sedang mengikuti dari arah belakang. Sesaat kemudian, malah Cakra Buana merasa kalau mereka sudah terkepung oleh musuh.
"Dewi …" teriaknya.
"Aku tahu …" sahur Dewi Bercadar Merah dengan cepat
__ADS_1
Wutt!!!
Ling Ling menjejakkan kakinya di tengah udara. Dia berjumpalitan beberapa kali, kemudian dengan gerakan cepat, dirinya segera melepaskan senjata rahasia andalannya.
Jarum hitam kecil yang tidak pernah membuatnya kecewa itu sudah dilayangkan dengan segenap kemampuan.
Wutt!!!
Beberapa sinar hitam langsung menyeruak ke segala tempat yang dicurigai olehnya. Sekejap kemudian mulai terdengar teriakan kesakitan. Suara menjelang kematian berkumandang. Suara jatuhnya tubuh ke bumi juga langsung menggema.
"Bawa Ratu Ayu pergi dari sini. Nanti aku akan menyusul setelah berhasil menghadapi tamu tak diundang ini," ucap Pendekar Tanpa Nama memberikan perintah.
"Baik, semoga berhasil," jawabnya cepat.
Ratu Ayu mengerti akan keadaan yang berbahaya ini. Dia ingin membantu, tapi sayang sekali dirinya tidak bisa melakukan hal itu. Selain karena tenaganya belum pulih dengan sempurna, beliau juga tahu, kalau saja dirinya turun tangan, maka bisa dipastikan segalanya akan hancur berantakan.
"Aku percayakan mereka kepadamu …" teriaknya sambil berpaling ke belakang.
"Ratu jangan khawatir. Serahkan saja semuanya kepadaku,"
Wushh!!! Wushh!!!
Setelah keduanya menghilang dibalik kegelapan itulah, Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba menghentikan langkah kakinya secara mendadak.
Begitu membalikkan tubuh ke belakang, Cakra Buana langsung menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Wutt!!!
Segulung angin dahsyat menerjang dengan cepat.
Tapi sebelum segulung angin itu meluncur lebih jauh, tiba-tiba ada sebuah hawa sakti dari depan sana yang meluncur lalu membenturnya.
Blarr!!!
Ledakan cukup hebat terdengar. Beberapa ranting pohon dibuat patah. Tiga Batang pohon arba berdiameter cukup besar juga roboh mendadak. Suara nyaring terdengar menggelegar. Hutan belantara yang kebetulan menjadi tempat kejadian itu langsung bergetar sedikit.
Trapp!!!
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama mendarat di tanah dengan ringan dan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Gerakannya lincah seperti elang, tubuhnya enteng seperti asap.
Rembulan semakin meninggi. Semilir angin musim kemarau mendatangkan hawa dingin menusuk tulang. Daun-daun pohon di hutan itu terbang tertiup angin.
Entah sejak kapan, tahu-tahu Pendekar Tanpa Nama telah dikelilingi oleh sembilan orang berpakaian hitam dan memakai cadar. Penampilan mereka ini sama seperti orang-orang yang sebelumnya pernah dijumpai oleh Cakra Buana.
Lantas apakah mereka masih satu rumpun?
Sembilan orang tersebut menatapnya dengan tajam. Tatapan mata mereka persis seperti serigala kelaparan. Masing-masing dari orang tersebut membawa hawa pembunuhan yang pekat.
Sampai sekarang, belum ada yang bicara satu orang pun. Pada saat seperti ini, bicara menggunakan mulut memang bukan suatu hal penting.
Yang terpenting adalah bicara menggunakan senjata.
Dan sekarang sembilan orang itu sudah memulainya. Sembilan batang senjata tajam telah meluncur dengan deras dari segala penjuru mata angin. Semua serangan itu amat ganas dan keji.
Kalau orang lain pasti bakal merasa was-was. Sebab siapapun mengetahui jika sembilan serangan itu merupakan serangan yang membawa maut.
Tapi sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Pendekar Tanpa Nama. Dengan tenang sekali dia menghadapi semua serangan itu. Pada saat sembilan senjata tersebut sudah tiba di hadapan matanya, Cakra Buana langsung bergerak cepat.
Kedua tangannya meliuk-liuk bagaikan dua ekor ular kobra yang sedang berusaha mematuk mangsanya. Semua musuhnya tidak ada yang sanggup melihat gerakan itu dengan jelas.
Pusaran angin terbentuk. Pendekar Tanpa Nama langsung berlaku serius.
Jurus Tanpa Nama segera dilancarkan.
Wushh!!!
Keadaan mendadak berubah. Gerakannya secepat cahaya kilat di tengah malam.
Clangg!!! Clangg!!!
Suara senjata yang patah terdengar tanpa berhenti. Detik selanjutnya segulung hawa sakti berhembus dengan dahsyat. Sembilan orang itu terlempar ke belakang dengan senjata pusaka yang tinggal separuhnya lagi.
Begitu keadaan sudah kembali normal, semua musuh Pendekar Tanpa Nama ternyata telah mampus. Mereka mengalami luka yang teramat parah. Darah segar keluar dari seluruh lubang di tubuhnya.
Hanya beberapa gebrak, sembilan orang bercadar dan berpakaian serba hitam itu sudah meregang nyawa. Di antara mereka, tiada seorangpun yang pernah berpikir kalau dirinya bakal tewas mengenaskan seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Hahh …"
Tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama mendengar ada helaan nafas di belakangnya. Begitu dirinya berbalik, ternyata benar, seseorang sudah berdiri sambil memandangi dirinya.