
Tiga serangan maha dahsyat datang membawa kabar kematian. Serangan-serangan itu merupakan wakil dari Malaikat Pencabut Nyawa.
Sedikit saja Pendekar Tanpa Nama melakukan kesalahan, walaupun itu kesalahan kecil, niscaya nyawanya tidak akan tertolong lagi.
Di kolong langit ini, belum ada yang mampu bertahan walau beberapa jurus dari tiga serangan mereka. Alasannya karena tiga serangan itu bukanlah serangan biasanya.
Semuanya serangan kelas atas. Semuanya merupakan jurus pamungkas yang jarang dikeluarkan oleh tiga tokoh tersebut. Mereka mengeluarkan jurus-jurus itu jika menghadapi lawan yang menurutnya sangat tangguh.
Kalau sekarang ketiganya memilih untuk melancarkan jurus itu, siapapun sudah tentu bakal tahu jawabannya.
Setiap umat persilatan dewasa ini pasti pernah mendengar tentang sepak terjang Pendekar Tanpa Nama. Apalagi sudah beberapa kali pemuda itu melakukan sesuatu yang menggemparkan jagat persilatan.
Di lihat dari segi ini saja, siapapun dapat menebak bahwa dia adalah lawan tangguh.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama mengambil langkah cepat. Dia tidak mau bertele-tele ataupun bercanda dalam pertarungannya saat ini. Sebab pertarungan yang sekarang sedang dia lakukan bukan pertarungan biasa.
Pertarungan ini adalah penentuan. Penentuan antara hidup dan mati.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk sudah dikeluarkan hingga ke titik tertinggi.
Kalau sampai Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan jurus itu, maka setiap lawannya pasti akan merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk adalah intisari dari jurus dahsyat di masa lalu. Kalau bukan jurus intisarinya saja sudah menggetarkan jagat, maka bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya jurus intisari tersebut.
Pedang Naga dan Harimau menghilang dari pandangan mata setiap lawannya. Pemilik dari pedang itu juga lenyap entah ke mana. Pemuda itu seperti ditelan oleh bumi. Siapapun tidak ada yang sanggup melihatnya dengan jelas.
Si Pedang Angin, Pedang Putih Bangau Merah dan si Rantai Besi Kumala hanya dapat melihat dua bayangan merah yang melesat dengan sangat cepat. Kecepatan keduanya tidak bisa dibayangkan lagi. Seumur hidupnya, mereka baru melihat kecepatan secepat ini.
Wushh!!! Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Percikan api tampak tiga kali memercik ke udara. Hawa pembunuhan semakin kental. Hawa kematian juga semakin pekat. Bersamaan dengan bunyi nyaring tadi, tiga sosok telah terlempar enam langkah ke belakang.
Pertarungan mereka baru berjalan belasan jurus. Namun ketegangan dan kengeriannya tidak bisa disamakan dengan pertarungan apapun.
Sebuah pertarungan kelas atas biasanya tidak memerlukan banyak waktu. Mereka yang melangsungkan pertarungan tersebut hanya memerlukan waktu sedikit.
__ADS_1
Meskipun begitu, namun apapun yang diluar nalar bisa saja terjadi setiap saat.
Yang banyak bisa jadi sedikit. Yang sedikit bisa jadi banyak.
Wutt!!! Crashh!!!
Satu tubuh kembali melayang ke belakang dengan cepat. Begitu tubuh itu tiba di tanah, nyawa si pemilik tubuhnya telah melayang. Dia tewas. Tewas tanpa kaki dan tangan. Lehernya tergorok oleh Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama. Yang lebih ngeri lagi, lidah orang itu terjulur ke depan dan matanya melotot dengan tatapan tidak percaya.
Kematian memang selalu membayangi setiap makhluk bernyawa. Hanya saja orang itu tidak pernah membayangkan bahwa kematiannya semengenaskan ini.
Korban pertama adalah si Besi Rantai Kumala. Pemiliknya tewas, senjata uniknya dibuat putus menjadi tiga bagian.
Slebb!!!
Suara yang paling menyeramkan dari segala macam suara di dunia ini terdengar lagi. Satu sosok telah tertusuk oleh pedang pusaka milik Pendekar Tanpa Nama.
Pedang sakti itu menusuk tepat di kerongkongan lawan. Suara tertahan terdengar berbarengan dengan darah yang menyembur deras.
Korban kedua adalah si Pedang Putih Bangau Merah.
Salah satu pendekar pedang tersohor telah tewas di tangan seorang pendekar muda.
Sasarannya tinggal si Pedang Angin seorang.
Wuttt!!!
Pedang Naga dan Harimau kembali menghilang. Suara mendengung terdengar sangat keras. Hawa kematian menyelimuti tubuh Cakra Buana. Dia bergerak secepat angin. Dia melesat seperti kilat.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk memperlihatkan taringnya kepada lawan. Hanya beberapa kali pedang itu bergerak, satu nyawa manusia kembali melayang.
Nyawa pemiliknya melayang. Pedangnya patah menjadi dua bagian.
Ternyata Pedang Naga dan Harimau sempat tertahan oleh pedang lawan. Sayangnya si Pedang Angin masih kalah jika dibandingkan dalam hal tenaga.
Karena kalah dalam tekanan, akhirnya pedang pusaka tersebut patah tepat di tengah-tengah. Detik selanjutnya adalah senjata milik Pendekar Tanpa Nama telah menembus jantungnya.
Si Pedang Angin ambruk ke tanah. Pedangnya juga jatuh.
__ADS_1
Pendekar pedang disebut-sebut mempunyai dua nyawa. Nyawa dirinya dan nyawa pedangnya. Jika pedang ada, maka pemiliknya ada. Namun jika pemiliknya tewas, maka pedangnya pun mampus.
Semua kejadian yang baru saja diterangkan terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Berbeda dengan menerangkannya yang membutuhkan waktu cukup lama.
Darah dari tiga lawan tanggung Pendekar Tanpa Nama masih menetes di ujung Pedang Naga dan Harimau.
Hawa pembunuhan dari pedang itu sangat pekat. Tapi hawa kematian yang keluar dari tubuh Pendekar Tanpa Nama jauh lebih pekat lagi.
Tidak berapa jauh dari Cakra Buana, ada si Buta Yang Tahu Segalanya. Pemuda itu sedang bertarung dengan sengit melawan tiga tokoh. Mereka adalah Manusia Kerbau, si Tua Bangka Langkah Petir, Totokan Tanpa Tanding dan si Cakar Beracun.
Keempatnya adalah tokoh yang sudah sangat ahli dalam bertarung tangan kosong. Li Guan juga ahli memainkan kedua tangannya.
Kalau lima tokoh sealiran bertemu dalam satu pertarungan, maka yang terjadi selanjutnya pasti akan jauh diluar dugaan semua orang.
Si Buta Yang Tahu Segalanya masih tenang dan santai. Meskipun dirinya digempur dari empat penjuru mata angin, dan satu dari depan, namun pemuda itu tidak takut sedikitpun.
Li Guan bertarung dengan hati dan pikiran yang sejalan. Setiap langkah dan setiap apa yang dia lakukan, pasti telah melalui sebuah perhitungan matang.
Wushh!!!
Satu tangan terjulur dari arah depan. Kecepatan serangan itu sulit dibayangkan. Satu totokan dahsyat datang tanpa diduga mengincar ulu hati.
Kalau lawannya bukan si Buta Yang Tahu Segalanya, sudah pasti serangan itu tidak akan gagal. Apalagi serangan tersebut dilancarkan oleh seorang tokoh yang namanya menggetarkan jagat.
Totokan itu tiada tandingannya di kolong langit ini. Siapapun mengakui kehebatannya. Baik jurusnya maupun pemiliknya, sama-sama mengerikan.
Sayang, sekarang dia menghadapi situasi yang lain dari pada biasanya.
Wutt!!! Plakk!!!
Sebelum totokan tokoh yang berjuluk Totokan Tanpa Tanding itu mengenai ulu hati si Buta Yang Tahu Segalanya, sebuah tamparan amat keras telah mendamprat wajahnya lebih dulu.
Tubuhnya melayang ke samping dengan amat deras. Tubuh itu bahkan menabrak satu batang pohon cukup besar hingga membuatnya roboh.
Tubuh si Totokan Tanpa Tanding mengejang untuk beberapa saat. Detik berikutnya, tubuh itu telah berhenti bergerak.
Dia tewas hanya dalam beberapa kali gebrakan jurus Li Guan.
__ADS_1
Kalau tidak menyaksikan secara langsung, siapa yang akan percaya akan kejadian barusan?