
Semua orang yang ada di bangunan bobrok itu sama terkejut. In Sin juga terkejut. Tetapi hanya sebentar, karena detik berikutnya gelak tawa dua puluhan pengemis itu terdengar kembali.
"Hahaha, bocah asing, kalau memang sudah tahu dari awal, lantas kenapa kau mengikuti saja apa yang dikatakan oleh rekan kami?" tanya seorang pengemis kepada Cakra Buana.
"Kenapa? Niatku dari awal memang hanya ingin berbagi. Siapapun yang membutuhkan bantuanku, selama aku bisa membantu, maka pasti aku akan membantunya. Siapapun orang itu. Termasuk seperti rekan kalian ini, aku tahu dia berhati busuk. Tetapi karena meminta bantuan dengan cara baik-baik, maka aku membantunya. Masalah kebaikanku dibalas oleh air tuba, itu masalah bekakangan. Resiko berusaha menjadi orang baik memang seperti itu,"
"Hemm, bocah asing yang pandai bicara,"
"Bukankah kenyataannya begitu? Kau orang tua pasti lebih mengerti bahwa sesama manusia, kita memang diharuskan untuk membantu selagi mampu,"
"Semua ucapanmu memang benar dan tepat sekali. Hanya saja kau sedikit keliru,"
"Lanjutkan," kata Cakra Buana menyuruh orang tua itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Kau harus tahu dan harus selalu ingat bahwa orang-orang di dunia persilatan itu hampir semuanya licik. Mereka lebih mementingkan urusan pribadi daripada urusan bersama,"
"Aku sudah tahu itu. Tetapi rasanya tidak mungkin dari sekian banyak orang-orang dunia persilatan jika semuanya berhati busuk. Sepuluh dua puluh persen, pasti ada juga yang tulus,"
"Apa kau mau bicara bahwa dirimu termasuk ke dalam orang-orang seperti itu?"
"Entah. Aku tidak bisa memastikan. Sebab setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda,"
"Kau memang cerdas. Tapi terkesan polos. Mungkin kau tidak akan berumur panjang," kata seorang pengemis lainnya.
"Hidup dan matinya manusia sudah di atur. Untuk apa aku takut?"
"Kau tidak takut mati?"
"Sama sekali tidak,"
"Kenapa? Kalau kami semua maju serempak, kau masih tidak takut?"
"Tidak. Untuk apa aku takut?"
"Kenapa kau tidak takut?"
"Karena aku yakin dengan kemampuanku. Aku yakin dengan apa yang aku miliki," tegas Cakra Buana.
Jawabannya singkat, padat, jelas. Dia memang lebih suka seperti ini jika berhadapan dengan orang seperti mereka. Sengaja menyombongkan diri supaya bisa menguasai nafsu lawannya.
"Sombong sekali,"
"Memang aku sombong. Kenapa? Kalian tidak terima? Kalau iya, silahkan maju," ucap Pendekar Tanpa Nama menantang dua puluh anggota Partai Pengemis Hitam.
__ADS_1
Sontak dua puluhan orang itu merasa dada mereka panas. Bagaikan api disiram minyak. Meledaklah amarah mereka.
"Bangsat kecil, kau harus ingat bahwa ini Tiongkok. Bukan Tanah Pasundan. Sebutkan siapa namamu supaya bisa dikubur dengan nama,"
"Namaku Cakra Buana. Orang-orang biasa menyebutku Pendekar Tanpa Nama,"
"Bocah bau kencur berani memakai julukan setinggi itu. Marilah, biar tuanmu memberitahu bagaimana tingginya langit tebalnya bumi,"
Seorang kakek tua yang diduga pemimpin dua puluh orang tersebut, langsung menerjang Cakra Buana. Dia menggunakan tongkat bambu kuning yang kerasnya bagaikan baja.
Cakra Buana melompat ke tengah-tengah ruangan sambil menghindari serangan pertama yang dilancarkan kakek tua itu. Sembilan belas orang pengemis lainnya mundur dan membentuk lingkaran.
"Cabut senjatamu," bentak kakek tua itu.
"Tidak. Aku tidak mau membunuhmu. Karena kalau senjataku sudah dicabut, maka dia tidak akan mau masuk kembali sebelum memakan korban jiwa,"
"Omong kosong …"
"Wushh …"
Dia menyerang lagi. Kakinya melangkah ke depan lalu tongkat bambu itu menyapu dari bawah ke kanan dan kiri. Di susul kemudian dengan tendangan kaki kiri. Tongkat bambu menyodok bagian perut, tetapi Cakra Buana masih bisa menghindarinya dengan mudah.
Gerakannya terlihat lambat. Tetapi sebenarnya sangat cepat. Dia berhasil memapak semua serangan yang diberikan oleh kakek pengemis tua itu.
Kakek itu marah. Dia membentak nyaring lalu menerjang Pendekar Tanpa Nama. Tongkat bambu kuning berubah gerakannya. Sodokan yang diberikan oleh si kakek tua semakin menghujani tubuh pemuda tersebut.
Tetapi Pendekar Tanpa Nama masih tenang. Kakinya mengikuti irama permainan lawan selangkah demi selangkah. Kedua tangannya membentuk tapak lalu memberikan gempuran hantaman tangan kosong.
Bergulung-gulung tenaga dahsyat menerjang ke arah si kakek tua. Tetapi dia berhasil memusnahkan tenaga itu hanya dengan sabetan tongkatnya.
"Keluarkan senjatamu supaya aku bisa mengeluarkan kekuatan penuh. Aku bukan orang pengecut yang membunuh seorang tak bersenjata," ucap kakek tua itu seperti sebelumnya.
Cakra Buana hanya bisa pasrah. Sebenarnya dia tidak mau mengeluarkan pedang pusakanya. Apalagi lawannya hanya merupakan pendekar kelas menengah. Tetapi karena terus dipaksa, maka dia mengeluarkan juga.
Pedang Naga dan Harimau masih dibungkus dengan kain putih.
"Silahkan. Senjataku sudah dipegang,"
"Serang aku lebih dulu,"
"Tidak. Aku tidak ingin membunuhmu,"
"Serang aku kalau memang kau bukan pengecut," bentak si kakek tua itu.
__ADS_1
Dia amat percaya diri. Apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda asing itu tidak mampu memberikan perlawanan berarti.
Tapi sebenarnya dia telah tertipu. Bukan tidak bisa melawan, justru Cakra Buana memang sengaja.
Kain putih tiba-tiba jatuh ke lantai. Sebuah cahaya merah berkelebat membelah udara kosong. Jeritan langsung terdengar saat itu juga.
Si kakek tua tadi telah tewas.
Tenggorokannya mengucurkan darah segar yang amat banyak. Dia mati tanpa memberikan perlawanan berarti. Semua orang sangat terkejut.
Mereka tidak melihat bagaimana pemuda itu melakukannya. Apalagi dia sudah kembali persis ke posisi semula.
Pedangnya masih terbungkus rapi dengan kain putih. Posisi tubuhnya benar-benar seperti sebelumnya.
Tidak ada yang tahu bagaimana pemuda itu melakukannya.
Tidak ada benturan senjata tajam. Yang ada hanyalah kematian.
Mereka baru tahu bahwa cahaya merah tadi ternyata sinar dari neraka.
Semua orang yang hadir di sana merasakan ketakutan yang teramat sangat. Pemimpin mereka bisa dibunuh dengan sangat mudah.
Jurus macam apa itu?
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh sembilan belas orang pengemis tersebut. Lutur mereka bergetar. Terlebih lagi In Sin.
Dia menyesal. Kenapa sekarang baru menyadari bahwa dirinya telah mendapatkan korban yang salah?
"Apakah masih ada yang penasaran? Kalau ada, silahkan maju," ujar Pendekar Tanpa Nama dengan tenang.
Tidak ada yang menjawab perkataan tersebut. Lagi pula, siapa yang berani angkat suara?
Namun tiba-tiba, empat batang senjata tajam menerjang Cakra Buana dari arah belakang. Kecepatannya lumayan, namun masih sangat jauh untuk bisa melukai dirinya.
Dia membalikan badan. Cahaya merah keluar lagi. Gerakan cahaya itu sangat cepat sekali. Empat kali cahaya berkelebat, empat kepala lepas dari tempatnya.
Darah menyembur ke segala penjuru. Empat tubuh pengemis ambruk secara berbarengan.
Lima belas orang pengemis yang tersisa merasa semakin ketakutan. Seumur hidupnya, mereka baru mengalami kejadian seperti ini.
"In Sin, kau tidak penasaran denganku?" tanya Cakra Buana sambil tersenyum lembut.
"A-ampun Tuan, ampun. Biarkan aku hidup, ampun," katanya penuh ketakutan.
__ADS_1
"Aku tidak akan membunuhmu. Pedangku terlalu berharga jika digunakan untuk memenggal kepalamu. Hanya saja aku peringatkan, jangan bertemu denganku lagi di masa mendatang. Sebab kalau bertemu, itu artinya kematianmu telah tiba,"
Ucapan Cakra Buana berubah. Tidak lagi ramah. Tidak lagi ada senyuman. Yang ada justru hawa kematian.