
Debu tiba-tiba mengepul tinggi. Satu hawa sakti keluar dari tubuh Li Guan. Pakaian serba putihnya berkibar akibat hembusan angin yang tercipta karena hawa sakti tersebut.
Pada saat si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar melancarkan dua serangan maut, Li Guan mulai melayaninya dengan sungguh-sungguh.
Kalau tadi dia hanya diam dan menangkis semua serangan lawan, sekarang sebaliknya. Si Buta Yang Tahu Segalanya mulai bergerak melawan arus yang sejak dari awal tadi terus mendorong dirinya itu.
Tubuhnya melesat dengan kecepatan diluar batas manusia.
Bayangan putih berkelebat menghancurkan dua sinar keperakan yang berusaha melukainya. Hanya sesekali bayangan putih itu tampak melesat, berikutnya semua serangan dari dua lawannya telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Namun pada saat mengetahui serangannya gagal, si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar langsung mengeluarkan serangan terakhirnya yang paling dia andalkan. Jurus pamungkas seketika segera dilancarkan.
Jurus Pedang Kelam Membawa Kesedihan dilancarkan dengan dahsyat.
Satu tusukan pedang dan tiga tebasan dilakukan dengan kecepatan serta ketepatan yang penuh perhitungan sempurna. Arah serangannya ke bagian jantung dan leher.
Si Ruyung Halilintar pun tidak mau kalah tentunya. Melihat rekan seperjuangan mengeluarkan jurus pamungkas yang selalu dapat diandalkan, maka dia juga melakukan hal yang sama pula.
Ruyung Halilintar Membelah Bumi keluar.
Ruyung maut berwarna putih keperakan itu berputar dengan sangat cepat. Ribuan titik putih nampak menyelimuti udara malam. Desingan angin tajam seperti ribuan suara lebah terdengar sangat mendengung di telinga lawan.
Ribuan titik putih itu segera menerjang ke arah Li Guan.
Semuanya merupakan jurus pamungkas. Selama bertempur melawan setiap musuh, selama mengembara dalam dunia persilatan, belum pernah keduanya mengalami kegagalan jika sudah mengeluarkan jurus-jurus tersebut.
Kalau begitu bagaimana dengan sekarang? Apaka sekarang pun mereka tidak akan menemukan kegagalan? Mungkinkah mereka bakal keluar sebagai pemenang dari pertarungan dahsyat ini?
Si Buta Yang Tahu Segalanya langsung memperlihatkan kemampuannya yang sudah mencapai tahap sempurna.
Sepasang tangan yang disebut-sebut sebagai Tangan Dewa itu mengeluarkan hawa panas dan dingin secara bersamaan.
Wushh!!!
__ADS_1
Sosok Li Guan tampak menyambut serangan dahsyat dari dua lawannya. Tubuhnya malah sengaja memasuki sinar putih dan perak yang amat menyeramkan itu.
Ketiganya menyatu dalam satu serangan. Puluhan tokoh menahan nafas mereka. Begitu juga dengan para sahabat si Buta Yang Tahu Segalanya sendiri. Mereka pun turut merasakan hal yang sama.
Blangg!!! Blangg!!
Dua sosok tubuh manusia terlempar hingga delapan langkah jauhnya. Tubuh keduanya tampak bergetar hebat. Wajahnya pun pucat pasi bagaikan mayat.
Si Pedang Kelam dan si Ruyung Halilintar.
Kedua pemimpin barisan itu ternyata kalah di tangan seorang pendekar muda berjuluk si Buta Yang Tahu Segalanya.
Mereka tampak jeri. Wajahnya memperlihatkan sedikit perasaan takut dan rasa tidak percaya. Seumur hidupnya, kalau tidak mengalami sendiri, mungkin mereka tidak akan percaya kalau jurus pamungkasnya mampu ditebas rata oleh seorang pendekar muda yang usianya jauh di bawah mereka.
Li Guan atau si Buta Yang Tahu Segalanya berdiri dengan tenang di tempat bekas pertarungan terakhir mereka. Pakaiannya masih berkibar. Rambutnya pun sama. Pemuda itu menyimpan sepasang tangannya di belakang.
"Terimakasih atas semua petunjuk senior sekalian," katanya sambil menjura ke arah si Pedang Kelam dan Ruyung Halilintar.
"Kami mengaku kalah," kata si Pedang Kelam tidak mau banyak bicara lagi.
Tiang Bengcu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa sangat kagum terkait keahlian kemampuan Li Guan. Ternyata pemimpin rimba hijau itupun merasa amat terhibur.
Baru sekarang Bengcu rimba hijau itu melihat bagaimana hebatnya Li Guan. Bahkan dalam hatinya, dia sendiri merasa tidak yakin kalau umpamanya harus bertarung dan mengalahkan pemuda tersebut.
"Luar biasa," gumam Tiang Bengcu.
"Bengcu terlalu memujiku," jawab Li Guan yang tahu segalanya lewat ilmu mengirimkan suara jarak jauh.
Pemimpin dunia persilatan itu tersentak, padahal dirinya berkata sangat perlahan. Tak disangka pemuda serba putih itu justru mampu mendengar ucapannya. Dalam hatinya dia semakin kagum akan kemampuan Li Guan.
Bengcu hanya melirik kepada Li Guan sambil melemparkan senyuman hangat. Pemuda itu sendiri membalasnya dengan senyuman yang sama.
Sekarang semua tokoh yang hadir menatap kepada satu pertarungan yang tersisa. Pertarungan terdahsyat. Pertarungan yang paling mendebarkan dari pada semua pertarungan tadi.
__ADS_1
Sebab pertarungan sekarang adalah penentuan. Penentuan pihak mana yang menang dan pihak mana yang kalah.
Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding menggeram keras. Tubuhnya segera melompat menerjang ke depan ke arah Pendekar Tanpa Nama. Dua tangannya membentuk cakar harimau yang tajam sekaligus sangat kuat.
Jurus pamungkas miliknya segera dikeluarkan.
"Seribu Harimau Buas …" kakek tua yang merupakan datuk dari Utara itu membentak sangat keras.
Jurus itu merupakan jurus hebat dan sangat dahsyat. Keganasan dan ketangkasannya digambarkan setara dengan seribu ekor raja hutan tersebut.
Tubuhnya menerjang, melompat dan mencakar dengan cekatan sekaligus lincah. Dia adalah datuk rimba hijau, apalagi posisinya dikabarkan berada dalam urutan pertama. Secara tidak langsung, Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding merupakan datuk terkuat dari tiga datuk dunia persilatan lainnya.
Kalau merupakan datuk terkuat, maka kehebatan setiap serangannya jangan ditanyakan lagi.
Pendekar Tanpa Nama tersentak kaget. Selain ganas serta dahsyat, ternyata jurus itupun membawa sebuah perbawa dari harimau.
Harimau melawan harimau. Harimau Pasundan dan Harimau Tionggoan.
Di antara keduanya, siapa yang paling kuat? Siapa yang bakal memenangkan pertarungan penentuan ini?
Jurus Tanpa Bentuk yang merupakan salah satu jurus pamungkas dari Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama telah dikeluarkan.
Pemuda itu mendadak lenyap dari pandangan mata. Dia memburu ke depan dengan sembilan tenaga dalamnya. Hawa sakti keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya. Poh Kuan Tao merasakan adanya satu kekuatan aneh yang sedang berusaha menyedot dirinya dengan sangat kuat.
Pertarungan tersebut menjadi lebih sengit lagi. Tiada seorangpun mengetahui apa yang saat ini terjadi karena saking cepat dan kuatnya dua tenaga yang sekarang sedang beradu.
Dua pendekar tanpa tanding seperti menyatu dalam satu pusaran dahsyat. Suara raungan harimau dan suara menggelegar sangat membahana di gendang telinga setiap orang yang hadir.
Blarr!!!
Ledakan terdahsyat terjadi. Dua sosok terlempar ke belakang. Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding terpental hingga tujuh langkah ke belakang. Seluruh tubuhnya menggigil kedinginan sekaligus merasa kepanasan. Wajahnya sendiri merah padam.
Di sisi lain, Pendekar Tanpa Nama terpental hingga enam langkah ke belakang. Hampir saja pemuda itu jatuh tersungkur. Untungnya dia dapat menguasai diri sehingga masih bisa berdiri dengan benar meskipun memang kakinya sedikit goyah.
__ADS_1
Tubuhnya sedikit bergetar. Nafasnya terengah-engah, wajahnya sedikit memucat. Sepasang matanya tampak sedang menahan rasa sakit.