Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Jarum Bambu Kuning


__ADS_3

Tapi lawannya kali ini bukan pendekar pedang sembarangan.


Dia adalah Cakra Buana. Pemuda yang menyandang julukan Pendekar Tanpa Nama.


Waktu kemarin di mengembara Tanah Tionggoan, siapapun tidak ada yang meragukan ilmu pedangnya. Bahkan setelah dirinya pulang, orang-orang di sana ramai membicarakan kalau dialah pendekar nomor satu. Baik itu dalam ilmu pedang, ilmu tangan kosong, maupun ilmu meringankan tubuh.


Seorang pendekar yang digadangkan luar biasa seperti itu, benarkah dia akan kalah oleh seorang wanita tua berjuluk Nenek Tanpa Hati?


Rasanya tidak mungkin.


Ya, memang tidak mungkin.


Sekarang pemuda itu sedang memperlihatkan kemampuan aslinya. Hawa pedang, hawa pembunuh dan hawa kematian, semuanya bertumpuk bercampur menjadi satu.


Hal tersebut menyebabkan keadaan yang sulit untuk diceritakan. Angin tiba-tiba berhembus besar bagaikan badai di tengah hari. Gempuran serangan Nenek Tanpa Hati mendadak melemah. Tusukan dan sabetan pedang seolah tidak membawa arti apa-apa.


Slebb!!!


Selanjutnya dia merasa gelap. Gelap sekali. Tenggorokannya terasa dingin. Sedingin es di gunung sana. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa lemas tak bertenaga. Dia ingin merebahkan dirinya di tanah, tapi sayangnya tidak bisa. Sebab sesuatu telah menahan tubuhnya dengan kuat.


Pedang di tangan Nenek Tanpa Hati mendadak jatuh ke bawah. Sekarang wanita tua itu tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


Pertarungan dua pendekar pedang telah usai. Semuanya berhenti dan kembali seperti semula.


Kiranya Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama sudah menusuk tenggorokan lawan dengan telak.


Kapan dia melakukannya?


Tiada seorangpun yang tahu. Andai kata ada orang tahu pun, niscaya dia bakal terpaku tidak percaya. Sebab selamanya, Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk tidak akan ada yang dapat menyaksikannya dengan jelas.


Jurus itu adalah jurus penyempurnaan. Jurus pedang yang tiada duanya. Bisa dibilang, itulah puncak tertinggi dalam sebuah ilmu pedang. Tapi sebenarnya masih ada satu tahapan lagi. Yaitu Tahap Tanpa Pedang.


Artinya, seorang pendekar pedang yang sudah mencapai tahap itu tidak memerlukan senjata apapun lagi. Dia tidak perlu pedang, ranting pohon, bahkan apapun itu. Sebab baginya, semuanya sudah berubah menjadi pedang.


Kedua tangannya adalah pedang. Begitu juga kakinya. Bahkan mungkin jiwanya juga pedang. Sehingga meskipun hanya dengan dua tangannya saja, orang tersebut bisa memotong apapun.


Pedang adalah dirinya. Dan dirinya adalah pedang itu sendiri. Dua nyawa dalam satu bentuk. Yaitu pedang.

__ADS_1


Dulu, ada seorang pendekar yang sudah mencapai tahapan tersebut. Tapi itu dulu, ratusan tahun yang lalu.


Lantas apakah Pendekar Tanpa Nama, kelak akan bisa mencapai Tahap Tanpa Pedang?


Rembulan sudah condong ke sebelah barat. Kira-kira tiga atau empat jam lagi, mungkin sinar mentari pagi akan muncul. Jagat raya kembali terang benderang. Nanti suasana akan segera ramai kembali.


Tapi sekarang masih tetap sunyi sepi.


Pedang Naga dan Harimau telah dicabut. Darah merah yang kental dan hangat itu masih menetes di ujung mata pedang. Nenek Tanpa Hati telah roboh ke tanah. Dia tidak mengucapkan kata apapun. Yang terdengar hanyalah suara memilukan seperti seekor sapi disembelih.


Tanah yang kering itu, kini sudah dibasahi oleh darah milik Nenek Tanpa Hati. Benar kata orang, kalau Pendekar Tanpa Nama muncul, maka Nenek Tanpa Hati pasti akan berganti nama menjadi Nenek Tanpa Nyawa.


Ternyata ucapan ini memang benar dan menjadi kenyataan.


"Jurus pedang yang bagus. Benar-benar cepat,"


Sebuah suara pria tiba-tiba muncul di depan sana. Asal suara itu persis dari dalam hutan yang gelap gulita.


Cakra Buana masih berdiri mematung di tempatnya semula. Sepasang matanya menatap tajam ke depan sana. Dia tidak bergerak. Hanya tangan yang menggenggam pedang itu saja yang terlihat semakin erat.


Di sela-sela jari tangan kanannya terselip beberapa batang senjata rahasia. Pendekar Tanpa Nama memperhatikan senjata itu lekat-lekat.


"Jarum bambu kuning," desisnya perlahan.


Melihat senjata itu, hati Pendekar Tanpa Nama sedikit bergetar. Bagaimanapun juga dia tahu sebahaya apakah senjata tersebut. Meskipun kecil, namun sangat-sangat mematikan.


"Kau mengenal senjata ini?" tanya orang tersebut.


Ternyata telinganya sangat tajam sehingga dia bisa mendengar desisan Pendekar Tanpa Nama.


"Ya, aku sangat kenal. Itu adalah jarum bambu kuning. Sebuah senjata rahasia yang menakutkan," jawab pemuda serba merah itu tanpa berbohong.


"Bagus. Sekarang jarum-jarum ini akan mencabut nyawamu," katanya penuh percaya diri.


Pendekar Tanpa Nama memundurkan langkahnya sekejap. Wajahnya sangat ketakutan.


Orang serba hitam itu semakin terlihat senang. Melihat lawannya ketakutan, dia benar-benar gembira.

__ADS_1


Wushh!!!


Beberapa batang jarum bambu kuning dilemparkan secara berbarengan. Luncurannya sangat cepat. Cahaya kuning kecil memanjang menyeruak. Si pelempar sangat yakin kalau serangannya bakal berhasil. Alasannya karena dia dapat melihat sendiri kalau pemuda di hadapannya sangat ketakutan.


Siapapun tahu, jika ada orang yang takut, maka niscaya ketakutan itu dapat mengubah segalanya. Yang kuat bisa menjadi lemah pada saat dirinya dihinggapi oleh rasa takut.


Wushh!!!


Segulung angin tiba-tiba menerjang ke depan. Beberapa batang jarum bambu kuning itu mendadak berbalik arah. Kecepatan kali ini beberapa kali lipat lebih cepat lagi.


Orang serba hitam yang melemparkan senjata tersebut sungguh tidak menyangka akan hal ini.


Slebb!!!


Beberapa kali suara yang sama terdengar. Hanya sekejap, semua jarum bambu kuning telah melesak masuk ke tubuh orang tersebut.


"Ka-kau, ke-kenapa kau bisa melakukan ini?" tanya orang gugup itu sambil menuding Pendekar Tanpa Nama.


"Tentu saja bisa, kenapa harus tidak bisa? Awalnya aku memang agak takut. Apalagi setelah menyaksikan jarum itu. Sayang sekali hal itu terjadi di awal, karena berikutnya aku sudah mengetahui sebuah rahasia," jawab Pendekar Tanpa Nama.


"Rahasia apa?" tanyanya sambil memegangi dada yang mulai dilanda rasa sakit.


"Kau bukan pemilik asli dari jarum bambu kuning. Kau hanyalah orang yang disuruh untuk mengelabui diriku agar dihantui rasa takut sehingga hilang kepercayaan diriku. Kalau sampai hal itu berhasil, maka selanjutnya kau bisa membunuhku dengan mudah. Sayang sekali, aku sudah mengetahuinya," gumam pemuda itu lalu menghela nafas.


Orang serba hitam melotot, seperti kaget, seperti juga tidak menyangka.


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Karena aku bukan orang bodoh. Seorang yang ahli dalam senjata rahasia tidak akan memperlihatkan senjatanya lebih dulu. Lagi pula, caramu melemparkan senjatanya tidak sempurna, oleh sebab itulah hasilnya tidak maksimal,"


"Ka-kau …"


Dia ingin bicara lebih jauh lagi, tapi sayangnya tidak bisa. Sebab tepat pada saat itu, setitik cahaya kuning memanjang kembali nampak dari arah belakang lalu dengan telak menyusup masuk ke punggung orang tersebut.


Orang itu langsung ambruk. Tubuhnya mengepulkan asap putih. Hanya sekejap saja keadaannya telah berubah total.


"Dia ternyata masih ada di sekitar sini …" gumam Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


__ADS_2