Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Anggota Kay Pang Hek dan Tujuh Perampok Berhati Kejam


__ADS_3

Li Guan tersenyum, senyuman yang hangat dan sangat lembut. Seperti senyuman seorang kekasih yang merindukan pujaan hatinya.


Pemuda itu benar-benar merasa beruntung karena dapat bertemu dengan orang seperti Li Guan. Bahkan dia merasa lebih beruntung lagi karena bisa bersahabat dengannya.


Sekarang, mungkin Cakra Buana akan merasa mudah dalam menghadapi berbagai macam masalah. Sebab walaupun dia tidak mempunyai wawasan luas, tapi selama ada si Buta Yang Serba Tahu Segalanya di sisinya, dia yakin mampu menghadapi persoalan apapun.


Dia tidak yakin betul jika Li Guan tidak pandai silat. Namun terlepas benar atau tidaknya, dia enggan untuk terlalu memikirkannya.


Yang satu ahli dalam ilmu silat, yang satu lagi ahli dalam segala hal. Bukankah ini sebuah pasangan yang sangat cocok? Masing-masing dari mereka tentunya bisa menutupi kekurangannya.


"Terimakasih, sekarang aku merasa jadi orang paling beruntung di dunia karena bisa bertemu dan bersahabat denganmu," kata pemuda itu sambil menepuk pundaknya.


Bagi sebagian orang, memutuskan seseorang untuk menjadi sahabatnya tidak selalu membutuhkan waktu yang lama. Selama masing-masing di antara mereka merasa cocok, maka mereka pasti akan menganggap sahabatnya.


Contohnya seperti Li Guan dan Cakra Buana. Walaupun keduanya baru berjumpa kali ini, bahkan waktunya sangat singkat, tetapi keduanya sudah memutuskan untuk menjadi sahabatnya.


Sahabat sehidup semati. Sahabat suka dan duka. Bukankah jika mempunyai sahabat seperti itu sangat menyenangkan?


Sayang, di zaman sekarang tidak setiap orang seberuntung Cakra Buana dan Li Guan.


"Kau terlalu berlebihan kepadaku. Aku tidak sama seperti apa yang kau bayangkan," ujar Li Guan sambil tertawa.


"Berlebihan atau tidak berlebihan sama saja. Lebih baik kita bersulang lima cawan sebagai tanda persahabatan kita ini," kata Cakra Buana sambil menuangkan araknya.


"Usul yang bagus,"


Keduanya segera menuangkan arak. Keduanya minum sekali teguk penuh kenikmatan. Begitu seterusnya hingga lima kali.


Tanpa terasa mereka tertidur di meja tempat mereka minum arak. Keduanya minum hingga mabuk.


Pada saat mereka bangun, mentari pagi sudah muncul memberikan sinarnya ke bumi. Suasana di warung tersebut juga sudah ramai oleh pengunjung.


Orang-orang telah berlalu-lalang di pasar. Keadaan seperti ini bisa disaksikan setiap pagi hari.

__ADS_1


Keduanya segera membayar biaya minum arak semalam. Setelah itu, mereka kemudian pergi ke tempat tidurnya masing-masing. Karena walaupun terlihat sederhana, ternyata warung arak tersebut menyediakan juga beberapa penginapan.


Meskipun tidak tergolong penginapan kelas atas, namun setidaknya masih mampu untuk membuat mereka tidur nyenyak dan nyaman.


Karena dalam keadaan mabuk, dua sahabat itu sudah tertidur pulas walaupun baru menempelkan kepalanya di atas bantal.


Cakra Buana sedikit mendengkur. Tidurnya benar-benar pulas. Sepertinya dia sangat kelelahan sehingga tidurnya seperti orang mati.


Namun walaupun begitu, bukan berarti dia tidak waspada. Justru dia masih waspada. Dan seluruh indera di tubuhnya masih berfungsi dengan normal.


Telinganya yang lebih tajam daripada telinga serigala, mendengar di bawah seperti terjadi kegaduhan. Cakra Buana melihat sekilas lewat jendela kamar.


Dia terkejut, ternyata di sana sudah ada kira-kira enam orang berpakaian hitam lusuh. Bajunya tambalan, wajahnya juga dekil dan rambutnya gimbal.


Tidak perlu diterangkan lagi mereka siapa. Karena pemuda itu sudah tahu siapa saja orang-orang tersebut.


Sudah pasti mereka adalah anggota Kay Pang Hek. Tidak jauh dari sisi mereka, berdiri juga empat orang yang berpenampilan seperti perampok.


Wajah orang-orang ini bengis. Seperti seorang setan yang sedang marah. Matanya mencorong bagaikan seekor kucing di kegelapan malam.


Di depan mereka, ada dua orang keamanan warung arak sekaligus penginapan ini.


"Kami mencari seorang pemuda bernama Cakra Buana. Menurut anggota kami, pemuda keparat itu ada si sini," kata seorang pengemis dengan marah.


"Di sini tidak ada yang namanya Cakra Buana. Sekalipun ada, kami tidak akan mengizinkan kalian membuat kekacauan di sekitaran tempat ini. Mohon untuk saling menghargai," kata salah seorang penjaga.


Bicaranya masih terdengar sopan. Namun suaranya sedikit ditekan, sepertinya dia juga sudah merasa kesal. Tetapi karena mengingat bahwa orang-orang itu adalah anggota Kay Pang Hek, dua keamanan tersebut jadi berpikir beberapa kali untuk mengambil tindakan kasar.


Siapa yang berani mencari masalah dengan Kay Pang Hek? Walaupun ketenaran dan kebesarannya masih kalah sangat jauh dengan Kay Pang Pek, namum ternyata Pang (perkumpulan) itu mempunyai nama yang cukup tinggi juga.


Sehingga jika tidak sedang berada dalam keadaan terpaksa, tentu siapapun enggan mencari masalah dengannya. Berani mencari masalah dengan Kay Pang Hek dan Tujuh Perampok Berhati Kejam, maka jaminan pastinya adalah kematian.


Kedua perkumpulan tersebut belakang ini memang tenar di mana-mana. Hanya dalam waktu singkat, mereka sudah mampu merekrut anggota yang tidak sedikit.

__ADS_1


Bahkan hebatnya lagi, orang-orang yang bergabung dalam dua kelompok tersebut, sebagian dari orang yang sudah mempunyai cukup nama dalam dunia persilatan. Mereka terhitung ke dalam kelompok pendekar kelas satu.


Bisa dibayangkan bagaimana mengerikannya dua kelompok sesat ini, sampai-sampai para perguruan dan pendekar golongan putih juga tidak mau bertindak secara gegabah.


"Kau berani kepada kami? Apakah nyawamu ada sembilan? Hemm, sepertinya kau memang harus diberi pelajaran,"


Seorang dari anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam segera menerjang seorang penjaga yang tadi bicara. Pukulan pertama yang dia lancarkan sangat cepat dan penuh tenaga.


Jangankan manusia, mungkin tembok pun bisa jebol jika dia pukul.


"Plakk …"


Dua tangan beradu menimbulkan suara yang nyaring.


Ternyata si penjaga tidak mundur sedikitpun. Justru sebaliknya, dia malah menyambut pukulan keras orang tadi.


Tubuh keduanya tergetar. Namun jika diperhatikan dengan jelas, anggota dari Tujuh Perampok Berhati Kejam terlihat terdorong setengah langkah. Wajahnya segera memerah seperti kepiting rebus.


Dia sendiri tidak menyangka bahwa tenaga si penjaga itu ternyata sedikit lebih tinggi daripada dirinya.


Hal ini tentu saja membuatnya marah bercampur rasa malu. Sebagai orang yang angkuh, bagaimana mungkin dia akan terima jika dipermalukan di depan rekan-rekannya?


Orang itu kembali menerjang. Kali ini lima bagian tenaga segera dia keluarkan. Pukulan keras yang sekarang membawa hawa panas.


Tapi si penjaga masih berdiri dengan tenang. Senyuman terlihat di wajahnya.


"Plakk …"


Benturan seperti sebelumnya terjadi lagi. Kalau tadi hanya terdorong setengah langkah, maka sekarang orang tersebut terdorong dua langkah ke belakang. Tangannya terasa sangat ngilu.


Tubuhnya tergetar hebat. Wajahnya semakin kelam pertanda bahwa dia tidak terima.


"Aku sarankan sekali lagi supaya kalian tidak mencari masalah di sini. Sebelum kami bertindak kejam lebih baik kalian segera angkat kaki," kata penjaga yang barusan.

__ADS_1


"Persetan. Tujuan kami bukan mencari keributan. Kami kemari hanya ingin mencari seorang pemuda bernama Cakra Buana. Tidak kurang dan tidak lebih," bentak seorang anggota Kay Pang Hek.


__ADS_2