Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pertarungan Dua Datuk


__ADS_3

"Aku juga ingin ikut," kata Cio Hong yang sejak tadi berdiam diri.


Dia adalah paman guru Cakra Buana alias si Pendekar Tanpa Nama, melihat keadaan pemuda itu yang demikian mengenaskan, tentu saja dirinya tidak tinggal diam.


Selain dari itu, Cio Hong juga sekaligus ingin mencoba bagaimana hebatnya jurus-jurus yang sudah dia pelajari dari Kitab 18 Rajawali Sakti yang ditulis oleh saudara seperguruannya, Pendekar Tanpa Nama di zaman kejayaannya.


Si Buta Yang Tahu Segalanya ingin melarang, tapi tidak jadi. Entah karena alasan apa.


"Aku sahabatnya, jadi akupun tidak bisa tinggal diam," teriak Huang Pangcu sambil melompat tinggi ke depan. Dia sempat berjumpalitan dua kali sebelum sepasang kakinya mendarat di bumi.


Tiga sahabat Pendekar Tanpa Nama termasuk dirinya sendiri sudah berhadapan satu sama lain dengan musuh-musuhnya. Mereka siap melangsungkan pertarungan dahsyat yang sebentar lagi akan segera terjadi.


Angin berhembus lirih semakin dingin. Embun sudah membasahi dedaunan dan rumput yang ada di sana. Langit mulai kelam, rembulan bersembunyi di balik awan kelabu.


Lima pemimpin barisan dari para tokoh dunia persilatan sudah bersiap. Mereka telah memasang kuda-kuda yang kokoh bagaikan sebuah benteng tinggi.


Tiang Bengcu menjejak tanah, sedetik kemudian dirinya telah berada di hadapan para tokoh tersebut.


"Pertarungan ini tidak bisa dihindari lagi. Untuk saat ini, aku sendiri tidak dapat berbuat banyak. Oleh sebab itulah aku mengizinkan pertarungan ini, dengan catatan tidak ada yang boleh melukai sampai terlalu parah. Ingat, jangan sampai ada yang tewas di antara kalian. Kalau sampai ada kejadian seperti itu, maka pelakunya akan berurusan dengan aku sendiri," tegas Tiang Bengcu.


Suaranya tegas. Wibawa sebagai seorang pemimpin benar-benar dia keluarkan membuat siapapun merasa tunduk kepadanya.


"Baik. Bengcu tenang saja, kami tidak akan bertindak diluar batas," kata Tian Hoa dengan ekspresi serius. Sedikitpun dia tidak bercanda.


"Bagus. Kalau begitu, silahkan kalian mulai sekarang juga,"


Begitu dirinya selesai berkata, Tiang Bengcu langsung melompat ke pinggir untuk menyaksikan pertempuran tersebut.


Keadaan mulai dicekam oleh berbagai macam perasaan. Semua orang merasa tegang. Setiap manusia yang ada di sana sudah tidak sabar ingin menyaksikan pertempuran ini.


Wushh!! Wushh!!! Wushh!!!


Empat bayangan manusia bergerak ke depan. Kecepatan mereka sama halnya dengan angin kencang yang berhembus.


Debu mengepul tinggi ke atas. Dedaunan berterbangan berserakan ke segala arah.

__ADS_1


Huang Pangcu si Kakek Tua Tongkat Hijau melawan Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi. Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma melawan Ming Tian Bao si Raja Racun Tiada Obat. Si Buta Yang Tahu Segalanya melawan si Pedang Kelam dan seorang pemimpin lainnya yang berjuluk si Ruyung Halilintar. Sedangkan Pendekar Tanpa Nama sendiri melawan Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding.


Semua tokoh sudah mendapatkan lawannya masing-masing. Mereka sudah mulai melangsungkan pertarungan yang akan berjalan dengan sengit ini.


Semua orang menahan nafasnya masing-masing. Mereka menyaksikan pertempuran ini dengan serius. Tiada suara lain selain dari suara-suara yang ditimbulkan dari seluruh pertempuran tersebut.


Wutt!!! Wutt!!!


Bayangan beberapa orang tokoh kelas atas itu menerangi gelapnya malam. Berbagai macam pukulan dan tendangan yang mengandung kekuatan hebat telah dikeluarkan oleh mereka.


Bukk!!! Bukk!!!


Di antara empat pertarungan hebat itu, yang paling seru untuk saat ini adalah pertarungan antara Huang Pangcu melawan Tian Hoa.


Keduanya sama-sama datuk dunia persilatan. Mereka berdua mempunyai ilmu yang sama tinggi. Pengalamannya pun sama banyak. Selain itu, di antara mereka pun tadinya sudah mempunyai dendam tersendiri, sehingga pertarungan sekarang merupakan pelampiasan dari masalah mereka.


Huang Pangcu selalu membawa sebatang tongkat hijau kumala atau giok, tongkat itu merupakan pusaka kelas atas. Setiap insan persilatan pasti mengenali tongkat tersebut.


Sedangkan Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi memakai sebatang golok pendek. Sebenarnya dia tidak benar-benar ahli dalam memainkan sebuah senjata tajam, namun karena Huang Pangcu memakai senjata, mau tak mau diapun harus mengikutinya.


Wutt!!!


Tangan kiri memberikan tebasan golok yang dahsyat. Sedangkan tangan kanannya melancarkan hantaman dengan telapak tangan kanannya. Tanpa tanggung lagi, orang tua itu langsung mengarahkan sembilan bagian tenaga dalamanya.


Di posisi lain, Huang Pangcu pun tidak mau malah. Kakek tua itu sudah siap menyambut semua serangan Tian Hoa. Tangan kanannya melayangkan tangkisan menggunakan tongkat hijau miliknya. Sedangkan tangan kirinya turut melakukan gerakan yang sama dengan si Iblis Tua Langit Bumi.


Trangg!!! Blarrr!!!


Benturan senjata tajam sekaligus beradunya dua telapak tangan hampir terjadi secara bersamaan.


Tubuh keduanya bergetar hebat. Mereka terdorong dua langkah ke belakang.


Kalau bicara dalam segi sempurna atau tidaknya sebuah tenaga dalam, maka Huang Pangcu pemenangnya. Di antara empat datuk dunia persilatan, orang tua itu dikabarkan berada dalam urutan kedua yang terkuat setelah Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding.


Wushh!!!

__ADS_1


Tidak lama setelah dirinya terdorong mundur, dia lantas menyerang kembali mendahului si Iblis Tua Langit Bumi.


Tingkat hijau yang selalu dia bawa ke mana pun itu melesat seperti meteor di tengah malam.


Cahaya hijau terang memenuhi arena pertarungan mereka.


Serangan Huang Pangcu telah tiba di depan mata. Tongkat tersebut segera bergerak dengan lincah layaknya seekor ular kobra yang sedang bertarung berusaha untuk mematuk mangsanya.


Bayangan hijau semakin terlibat banyak. Semakin lama, kakek tua itu semakin menyerang dengan ganas.


Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi berada dalam posisi tidak diuntungkan. Tubuhnya tertutup oleh semua serangan yang diberikan oleh Huang Pangcu.


Mereka terus bertarung dengan jurus-jurus dahsyatnya masing-masing.


Ledakan keras terus terdengar seiring berjalannya pertarungan mereka.


Belasan jurus sudah berlalu. Pertarungan semakin hebat.


Pada saat demikian, tiba-tiba saja Huang Pangcu menggeram keras. Suaranya menggelegar di telinga kawan.


Cahaya hijau terang kembali memenuhi langit malam yang kelam. Serangan yang sekarang jauh lebih dahsyat lagi.


Sodokan yang sangat cepat dilancarkan oleh kakek tua itu.


Tian Hoa melompat tinggi, kemudian tubuhnya melayang mundur ke belakang dengan anggun.


Bukk!!! Clangg!!!


Telapak tangan kanan Huang Pangcu berhasil mengenai tepat dada Tian Hoa. Tongkat hijau kumala miliknya sukses mematahkan golok milik lawan.


Pertarungan mereka langsung berhenti saat itu juga.


Seperti persetujuan sebelumnya, di pertarungan yang sekarang tidak boleh jatuh korban. Oleh sebab itulah keduanya segera memisahkan diri. Terlebih lagi Huang Pangcu.


Pertarungan dua datuk dunia persilatan itu hanya berjalan selama lima puluhan jurus. Meskipun terbilang singkat, tapi semua jurus yang keluar merupakan jurus kelas atas.

__ADS_1


Wajah Tian Hoa menampilkan satu ekspresi yang sulit untuk dilukiskan. Entah dia merasa kesal atau merasa kagum, yang jelas, wajahnya tampak memerah seperti kepiting rebus.


__ADS_2